#ESSAY / / / Gombale Mukiyo

Tuesday, 29 October 2013

Sebenarnya postingan ini sama sekali nggak mutu dan kurang bisa disebut sebagai essay. Tapi nggak cukup random pula untuk di-labeli sebagai #random. Ah ya sudah lah. Kalau memang kau-kau sekalian berfirasat ini benar-benar tidak bermutu, yah, memang sebaiknya abaikan saja dan cari bacaan lain di blog ini. Tapi kalau kau bersikeras, maka baiklah. Saya akan meneruskan tulisan tak penting ini. Sebelumnya, saya mohon maaf kepada pihak-pihak yang mungkin (akan) tersinggung dengan tulisan yang ada di sini. Sesungguhnya tulisan ini benar-benar tidak penting dan bila ada kesamaan nama tokoh, tempat dan waktu kejadian sepenuhnya tanggung jawab Yang Maha Kuasa (eh?).

*

Jadi, postingan ini sebenarnya terinspirasi oleh kejadian di kampus sore tadi selepas studio tematik 2. Beberapa orang teman saya sedang bercanda ketika saya datang dan nimbrung obrolan mereka. Mereka asyik sekali entah membicarakan obrolan yang nggak jelas sambil ketawa-ketawa. Lalu saya yang menyimak omongan yang gombal nggak jelas itu meraih jaket teman saya yang tergeletak lalu membantingnya sambil berkata, 'Dasar gombal amoh!' Lalu sebagian yang orang Jawa ngakak mendengar istilah yang kupakai itu. Yang bukan orang Jawa berkerut nggak ngerti sambil (pura-pura) marah-marah minta dijelasin.

Gombal amoh itu adalah sebuah istilah untuk menyatakan suatu kain yang bentuknya jelek banget. Gombal itu adalah kain lap yang sudah kucel dekil banget. Amoh itu artinya tua, sudah rusak, atau robek. Jadi Gombal amoh itu adalah kain lap yang juelek buanget yang sudah rombeng banget lah pokoknya, yang seratnya sudah mbedel yang sekali tarik bisa sobek. Nah, kita mengenal kata gombal lewat 'Ah, jangan gombal deh!' yang dipergunakan mengatai kata-kata orang yang sedang menggoda dirimu, meski dalam hati sambil malu-malu mau (*peace bro!).

Lalu salah seorang teman saya yang Jawa disela tertawa bilang mengenai 'Gombale Mukiyo'. Saya yang kenal dengan istilah yang kurang lebih artinya sama dengan Gombal amoh tertawa. Gombale Mukiyo juga biasanya dipergunakan untuk mengolok-olok perkataan orang yang sedang bermulut manis, semacam orang yang sedang mbajul gebetannya bahkan sampai seorang intelektual calon ketua anu, atau calon dewan ini, atau calon presiden itu yang mengobral janji dimana-mana tapi ada 'tapi'nya. Istilah tersebut rasanya sudah lama banget tidak saya dengar di kalangan saya. Yah, makhlum, di kuliah kan banyak yang bukan dari Jawa. Yang dari Jawa pun tak ada jaminan kenal istilah ini. Jadi saya tertawa karena geli dengan istilah tersebut dan juga senang karena bernostalgia sesaat.

Tapi kalau dipikir-pikir, istilah 'Gombale Mukiyo' itu asalnya dari mana ya? Maksud saya begini. Kalau istilah gombal kan memang sering dipakai untuk mengatai (secara halus) orang yang lambe manis. Istilah gombal amoh juga semacam ungkapan pe-lebai-an dari istilah gombal. Yah, dirasa-rasa, gombal amoh kan terdengar lebih dramatis dibanding hanya memakai istilah gombal saja. Tapi kalau gombale mukiyo? Dalam bahasa jawa, imbuhan 'e diakhir kata dapat diartikan sebagai milik. Kalau gombal'e itu artinya gombal milik. Nah, Mukiyo di sini jelas banget nama orang. Secara harafiah, gombal'e mukiyo itu berarti kainnya Mukiyo. Tapi yang jadi pertanyaan saya adalah kenapa harus gombal-e (baca:kain milik) mukiyo? Kenapa bukan gombal-e mukidi? Atau gombal'e tukijo? Gombal'e tukiyem? Kenapa harus mukiyo? Siapakah sebenarnya mukiyo itu?

Nah, saya jadi penasaran banget. Saya riset tentang istilah ini, via Google sih. Dan, hasilnya sungguh di luar dugaan. Jadi ada beberapa versi dari pencarian saya. Versi pertama adalah bahwa dahulu kala di sebuah daerah bernama Nganjuk hiduplah seorang laki-laki kaya raya banget semacam Bill Gates Indonesia (lebai sih, tapi dia beneran kaya kok) bernama Mukiyo. Tapi meski kaya ia orang yang sombong akan kekayaannya. Konon kabarnya, ketika lengsernya Orla, Mukiyo ini tiba-tiba jatuh miskin. (Ya, pas jatuhnya Orla kan yang kaya raya jadi kaya, yang kaya jadi miskin, yang miskin jadi miskin banget, jadi, logika Mukiyo jadi miskin, boleh lah ya, masih masuk akal.) Nah, karena jadi miskin, Mukiyo ini syok dan jadi gila. Katanya, dia membawa semua uangnya dalam buntalan kain bercampur dengan daun-daun dan berjalan sepanjang jalan tak tentu arah sambil menyeret-nyeret kainnya itu sampai sobek di sana sini. Makin lama buntalan kain ini makin banyak dan makin bau. Namanya juga orang gila, pasti tidak tidak mandi tidak mengurus diri dan bicaranya nglantur ngalor ngidul. (sumber : Melacak Gombal Amoh dan Gombal Mukiyo oleh Iwan M Muljono ditulis Mei 2013)

Versi yang kedua ini saya nemu di Kaskus. Jadi, ketika jaman dulu masih belum dikenal KB dan aturan usia nikah, orang-orang banyak yang nikah muda. Anak-anak SD pun karena himpitan biaya akhirnya putus sekolah lalu menikah. Nah, katanya dulu ada anak SD yang karena orang tuannya nggak mampu ia putus sekolah dan menikah dengan seorang kaya bernama Mukiyo. (Oke, dari dua cerita Mukiyo sepertinya memang benar-benar kaya) Kemudian, suatu hari si anak perempuan ini akhirnya mendapatkan (maaf) datang bulan yang pertama. Dia bercerita kepada Mukiyo dan diberi kain sebagai ganti pembalut. (Maaf ya, mungkin menjijikan tapi begitulah ceritanya. Nggak usah dibayangkan, hehe.) Yah, dulu kan belum ada pembalut. Lalu katanya di kaskus itu, kain bekas itu kemudian dijadikan jimat bagi Mukiyo. Mukiyo lalu jadi kaya raya.

Sampai di sini kok saya malah jadi mikir jangan-jangan versi kedua dan versi pertama itu nyambung. (hehehehe . . .) Jadi karena jimat kain (maaf) berdarah itu, Mukiyo jadi kaya. Tapi saat kejatuhan Orla, ia pun ikut jatuh dan jadi gila?!

Sampai sekarang, mungkin yang tinggak di lingkungan Jawa, akan masih mendengar istilah gombal'e mukiyo ini yang sering digunakan untuk mengatai kata-kata manis yang ternyata hanya janji palsu saja.


*


"Ah, kok nggak bisa lihat bintang jatuh ya, di sini? Padahal langit cerah banget."
"Ada kok. Barusan aja aku lihat."
"Mana?"
"Itu di matamu."
 *badumdes



Dasar gombal amoh! Gombal'e Mukiyo!



[ ]

#ESSAY / / / Hantu

Monday, 28 October 2013

Sebelumnya, mungkin isi dari tulisan ini akan menyinggung aliran dan kepercayaan seseorang, oleh karena itu saya mohon maaf. Tapi perlu digaris bawahi bahwa saya tak bermaksud untuk menyinggung agama manapun karena perlu anda semua pahami, bahwa aliran dan kepercayaan itu berbeda dengan agama. Orang mungkin memiliki aliran dan kepercayaan yang berbeda dengan orang lain meski agamanya sama. Jadi, kalau memang tidak suka topik ini, saya sarankan, untuk tidak meneruskan membaca.


*


Hantu, siapa yang tak kenal hantu? Ketika kita kecil, orang tua kita sering menakut-nakuti kita kalau kita tak segera pulang jika sudah maghrib. Atau dari film-film horor jaman dulu yang banyak dibintangi oleh Suzana. Hantu bukan setan. Setan itu ada dalam masing-masing diri manusia. ( quote: Hendro Prasetryo ). Dalam Islam, (aduh, maaf menyinggung agama tertentu, tapi saya nggak bisa nggak menyinggung soal ini. Ah, lupakan!), Hantu itu adalah wujud jin yang menjelma, yang nyiluman. Hantu adalah suatu entitas yang bias nyata atau tidak. Saya pribadi, tidak percaya hantu. Tapi saya percaya ada dunia lain selain dunia fisik, yaitu dunia metafisik. Dunia bagi setan, bagi jin, bagi malaikat, bagi yang tak wujud.

Dalam sebuah jurnal berjudul The Ghost in the Machine yang diterbitkan oleh the Journal of the Society for Psychical Research Vol.62, No 851 April 1998 (bisa kau download di link ini ), beberapa orang mencoba untuk menggambarkan kejadian alam yang belum pernah terdokumentasikan mengenai hubungan gelombang udara pada keadaan tertentu yang akan menciptakan fenomena 'hantu'. Di paper ini dicontohkan mengenai seseorang yang merasakan tanda-tanda hantu seperti . . . a feeling of depression, occasionally a cold shiver, . . .  di sebuah ruang kerjanya. Usut punya usut, ternyata di ruangannya itu terdapat gelombang suara dengan fekuensi rendah. Tapi apa hubungannya gelombang infrasonik itu dengan fenomena 'hantu'?

Dalam buku berjudul the Tempest (1976), jika seseorang terpapar gelombang infrasonik dalam sebuah ruangan di waktu yang cukup lama, akan menyebabkan telinga yang nyeri, mata yang mulai berair, kesulitan bernapas, sensasi ketakutan yang membuat gugup, berkeringat, dan gemetar. Gelombang infrasonik tidak dapat ditangkap oleh telinga dan diterjemahkan otak ke dalam suara dan dapat kita dengar. Tetapi gelombang tersebut tetap dapat mempengaruhi kinerja otak dan mengganggu organ-organ dalam tubuh. Itulah mengapa anjing-anjing, ayam, dan hewan-hewan tertentu berbunyi dan berisik dan selalu diasosiasikan dengan adanya 'hantu' padahal yang dialami mereka adalah mendengar gelombang bunyi yang tak dapat telinga kita tangkap suaranya.

Terlepas dari semua percobaan dan penelitian ilmiah tersebut, hantu-hantu adalah bagian dari budaya masyarakat (myth) yang saat ini mulai di tinggalkan. Hantu adalah salah satu local wisdom, gejala budaya masyarakat yang muncul akibat norma-norma dan tradisi masyarakat setempat. Yang mungkin saya lancang, saya bisa katakan bahwa hantu adalah bagian dari intangible heritage assets. Pengetahuan tentang hantu secara turun temurun menjadi bagian dari suatu masyarakat, yang melegenda, yang menjadi lingkar pagar terluar dari norma-norma masyarakat setempat. 'Hantu' itu diciptakan masyarakat untuk menjadi tameng terakhir dari pelanggaran norma.

Contohnya, "Nak, kalau sudah surup jangan main di luar! Cepat pulang! Nanti digondol Wewe!!" Wewe itu sejenis hantu wanita tua ber-(maaf)-payudaya yang terlihat panjang dan menggantung dengan rambut panjang ngandan-ngandan. Menurut cerita, mitos Wewe Gombel dipercayai digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak agar mereka tidak berkeliaran di waktu malam hari. Sebab pada masa lalu, keadaan gelap amat berbahaya karena hewan buas mungkin memasuki kawasan perkampungan dalam kegelapan malam. Atau suatu analisis logis mengenai salah satu bentuk motivasi orang-orang dulu (tatanan masyarakat primodial) untuk mengantisipasi tindakan yang mengundang kebiasaan-kebiasaan buruk yang berpotensi melanggar aturan. Misalnya anak-anak yang seharusnya belajar di malam hari atau berkumpul bersama keluarga tapi malah bermain diluar rumah dan tanpa pengawasan orang. Oleh karena itu, Wewe Gombel diciptakan untuk menyelamatkan mereka dari ancaman tersebut.(sumber wikipedia dengan penyempurnaan)

Atau "Nak, kalau bedhug-bedhug jangan main ke mana-mana! Nanti kamu ketemu Banaspati!!" Banaspati itu sejenis hantu berbentuk kepala dengan rambut api. Ia digambarkan seperti barong bali dengan lidah yang menjulur. Ia tinggal di kedalaman hutan atau alas gung kiwang liwungi yang tak berpenghuni. Ia sering memangsa manusia denga menghisap darahnya hingga habis. Mitos Banaspati ini seperti halnya Wewe Gombel, digunakan oleh para orang tua untuk melarang anaknya bermain saat tengah hari karena adalah waktu beristirahat bagi kebanyakan orang.

Contoh lain adalah seperti pohon yang dikeramatkan dengan tujuan agar tidak ditebang. Atau sebuah sumber air yang dikatakan memiliki penunggu agar orang tidak seenaknya mengambil sumber air atau mengotori sumber air karena dipergunakan oleh orang banyak. Atau kita harus meng-klakson ketika lewat jembatan, ya tujuannya adalah siapa tahu ada orang lain dari arah yang berseberangan dan mengantisipasi agar tak terjadi kecelakaan hingga terjun ke sungai. 

Kalau boleh saya bilang, hantu itu 'diciptakan' masyarakat untuk mengikat masyarakat. Hantu jadi cara terakhir untuk mengatur masyarakat. Karena masyarakat takut kepada hantu. Orang-orang awam takut pada hal-hal yang tak dapat mereka jelaskan dengan pengetahuan mereka (yang terbatas), yang tak dimengerti oleh pikiran mereka (karena tak mau berpikir lebih jauh). Sampai sekarang pun bukankah masih banyak orang-orang yang takut pada 'hantu', yang juga masih memegang 'legenda-legenda' yang ada dalam masyarakat.


Bagaimana pun juga hantu-hantu itu akan punah di era digital yang canggih ini. Anak-anak cucu kita mungkin tak akan lagi mengenal apa itu hantu kecuali dari koleksi-koleksi dokumentasi, dan yang pasti mereka takuti dan tak mau kenal (bukan begitu?). Mereka tidak akan tahu lagi bagaimana wujudnya dan sensasi ketika bertemu ' hantu-hantu' itu. Kecuali, ada suatu tempat yang mewadahi hantu-hantu itu agar tetap lestari.

Tapi apakah, melestarikan 'hantu-hantu' itu termasuk wujud kesyirikan? Syirik itu berarti menyekutukan Allah. Apakah dengan melestarikan 'wujud hantu-hantu' itu dalam masyarakat bisa dikatakan syirik?
Wallahu a'lam kan? Yang ingin saya katakan di sini adalah, bukan tradisi menyembah dan mempercayai 'hantu' yang perlu kita lestarikan. Tetapi melestarikan 'wujud hantu-hantu' itu sebagai bagian dari tradisi-tradisi masyarakat, genius loci, local wisdom, yang boleh saya katakan termasuk ke dalam intangible heritage assets of traditional community, yang kini hampir punah di era yang serba virtual ini. 

Bukankah Mochtar Lubis mengatakan, tak kenal maka tak sayang? Dan bukankah meski kita mengenal, kita tak harus mempercayai-nya? Seperti kita bebas memilih untuk mempercayai cerita di dalam buku Da Vinci Code karya Dan Brown. Ya, yang diamini tak selalu harus kita imani. Tapi yang diimani, sudah sepantasnya kita amini.




Tiba-tiba saya jadi ingat pusi kontroversial karya Remy Sylado berjudul Gap (Mantra).
Ya
Tuhan
Tuhan Tuhan
Tuhan Tuhan Tuhan 
Tuhan Tuhan 
Tuhan
Tu
Han
Tu
Han
Tu
Hantu
Hantu Hantu
Hantu Hantu Hantu
Hantu Hantu
Hantu
Ay



[ ]

#BOOK / / / Orang-Orang Proyek

"Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal-hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?" (Orang-orang Proyek, Ahmad Tohari)



Di sebuah obralan besar-besaran di sebuah toko buku obral di awal tahun lalu, saya tiba-tiba tertarik dengan sebuah buku yang berjudul Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Waktu itu, saya baru saja menamatkan bukunya yang lain yaitu Ronggeng Dukuh Paruk dan mulai suka dengan gaya penulisannya. Ketika melihat bukunya terobral murah sekali saya langsung ambil. Ah, kalau tak salah waktu itu dihargai 15.000 rupiah. Sungguh menyedihkan kalau dipikir-pikir ketika terbit mungkin bisa mencapai 40.000 hingga 50.000 rupiah. Hingga beberapa bulan lalu buku itu masih tak saya sentuh dan saya tumpuk saja di jajaran novel-novel saya. Akhirnya, selama seminggu ini buku tersebut tamat juga saya baca.



Cerita ini berlatar pada tahun awal 1990-an di daerah Jawa Barat dekat Cirebon pada masa pembangunan jembatan Sungai Cibawor. Tokoh utamanya adalah seorang Insinyur bernama Kabul, yang mantan aktivis kampus. Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa sungguh suatu perkerjaan yang membawa beban psikologis yang berat baginya.

'Pemainan' yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannnya dan masyarakat kecillah yang menjadi korban. Permainan yang dipunggawai oleh manajer proyeknya sendiri, yang dulu merupakan kakak angkatan dari almamater yang sama, Ir. Dalkijo. Dalkijo yang telah bersumpah tobat mlarat, berpikir prakmatis yang menghalalkan segala cara untuk mentas dari kemiskinan, termasuk menjimpit dari proyek yang sedang ia borong.

Belum lagi permasalah pribari Kabul, yang meski sudah berkepala tiga belum juga menikah. Slentingan-slentingan dari Mbok Sumeh, penjaja warteg yang membuka kedai di sekira proyek, men-comblanginya dengan Wati, seorang gadis sarjana anak anggota DPRD yang karena masih menganggur melamar menjadi sekertaris proyek. Meski awalnya tak tertarik dengan Wati, tapi Kabul mulai merasakan getaran saat melihat Wati merengut pura-pura sebal. Wati yang sudah memiliki pacar seorang mahasiswa semester 5 di sebuah perguruan tinggi di Jogja pun sepertinya ada hati terhadap Kabul.

Dengan keuangan yang compang camping akibat dipotong sana-sini dan bahan baku yang tidak standard yang disediakan oleh Dalkijo, Kabul bersikukuh untuk tetap bisa membangun jembatan sungai Cibawor dengan mutu tinggi paling tidak bisa bertahan 10 tahun. Tapi, HUT partai GLM hendak diadakan di desa itu. Teman Kabul yang menjadi kepala desa, teman mantan aktivisnya dulu, Basar, juga mau tidak mau mengalah ada idealismenya ketika muda, yang mengecam rezim partai GLM. Seorang kader GLM yang juga takmir masjid bersama Basar suatu ketika datang ke tempat Kabul untuk minta bahan bangunan guna membangun masjid yang katanay hendak digunakan sholat jumat ketika HUT GLM.

Puncak dari cerita ini adalah ketika Yos, pacar Wati datang ke proyek untuk mempertanyakan mengapa Wati menuntutnya menikahi Wati padahal tahu bahwa Yos tidak bisa karena harus menyelesaikan sekolahnya. lalu Dalkijo yang memasok besi-besi bekas jalan tol untuk pekerjaan lantai jembatan. Habis sudah kesabaran Kabul. Ia keluar dari proyek itu. Ia memilih mempertahankan idealismenya. Kepergiannya disetai tangis orang-orang proyek yang tak tahu apa-apa dibalik kepergiannya.

Bagi saya, cerita ini cukup membuat saya galau. Sebagai seorang Insinyur, sudah kewajibannya membangun bangunan dengan mutu yang sebaik-baiknya. Tetapi, sudah jadi rahasia umum bahwa pemborong sering kali melakukan kecurangan-kecurangan untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya. Karena, meski pekerjaan Insinyur cukup bergengsi setara dengan Dokter, tetapi bayarannya sungguh sangat jauh. Tapi apa iya, keinginan untuk mentas dari kemiskinan membuat kita menjadi mempertaruhkan hak dan keselamatan orang lain? Tapi bukankah para Insinyur yang lebih pandai dalam bidang ini berkewajiban untuk mengamalkan ilmunya dengan sebaik-baiknya, bukan malah melakukan perbuatan sontoloyo, membodoh-bodohi rakyat yang sudah bodoh?




Ah, membaca novel ini membuat saya jadi merenung, diujung waktu belajar yang tinggal sejengkal ini, saya mau jadi apa?


[ ]

#ESSAY / / / Ibu kota

Friday, 25 October 2013

Ibu kota : kota tempat kedudukan pusat pemerintahan suatu negara, tempat dihimpun unsur administratif, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif; kota yg menjadi pusat pemerintahan
(sumber : http://www.artikata.com/arti-330306-ibu.html)



Terlepas dari arti kata-nya, kita mengenal ibu kota sebagai sosok yang konon katanya lebih kejam daripada seorang ibu tiri. Tapi sebentar, saya ingin bertanya, siapa yang bilang ibu tiri itu kejam? Ah, kau kau sekalian sepertinya telah termakan stereotipe kisah roman sinetron di tivi-tivi mengenai betapa kejamnya ibu tiri. Oke, ayo kita kembali ke pokok bahasan.

Ibu kota, kota induk, tapi menginduki siapa? Menginduki kota-kota lain kan? Tidak, saya lebih suka menyebutnya kota utama. Ibu kota jangan hanya dimaknai sebagai Jakarta, ibu kota Negara Indonesia tapi bukannya luas? Semarang juga ibu kota, ibu kota provinsi Jawa Tengah, Surabaya itu ibu kota provinsi Jawa Timur. Kota Jogja adalah ibu kota provinsi D.I.Yogyakarta, yah, kebetulan saja namanya sama. Wates itu juga ibu kota lho, ibu kota kabupaten Kulon Progo. Wonosari itu ibu kota kabupaten Gunungkidul. Antara kota-kota 'induk' ini tak jelas siapa menginduki siapa. Yang jelas hubungan induk menginduk ini, berkaitan dengan induk menginduk tatanan politik pemerintahan. Di kota yang lebih induk, di sanalah terdapat jajaran kantor pemerintaha yang lebih induk.

Dalam pandangan saya, ibu kota bukanlah menjadi induk dari kota-kota kecil lain di sekitarnya. Ibu kota lebih merujuk kepada kawasan geografis yang berkaitan dengan keberadaan dan posisi komponen pemerintahan. Dalam bahasa Inggris, ibu kota disebut sebagai The Capital City atau The Capital Town, tak ada embel-embel ibu dalam bahasa inggris. Tapi oleh orang Indonesia, frasa itu diartikan sebagai ibu kota, yang kemudian kita asosiasikan dengan induk, ibu, emak, mama, biyung, karena pengertian kata 'ibu' dalam ingatan bawah sadar yang telah terbangun sejak lahir.

The Capital City, yang sebagai orang Indonesia kita sebut ibu kota, menurut saya, tidak ada kaitannya dengan induk menginduk yang saya sebutkan di awal. Pemilihannya lebih kepada kepentingan ekonomis dan politik. The Capital City jadi bagian penting dari kegiatan ekonomi dan politik. Di sini, ekonomi dan bisnis dijalankan, uang berputar dengan cepat, politik dijalankan di dalam gedung-gedung pemerintahan, di dalam gedung-gedung tinggi berkaca ber-AC, seperti dalam etalase mall. Di kota ini saya pastikan, ada pasar utama, ada masjid utama, ada gereja utama, klenteng utama, kuil utama. Ah, tapi tak ada pura utama di kota. Bukannya saya SARA lhoh, tapi pura seperti halnya candi-candi, memilih tempat yang lebih tinggi, diukur dari permukaan air laut.

Tapi Ibu kota, dengan konsep yang sama, menjelma jadi sebuah ekosistem baru bagi manusia. Di ibu kota, semua suku ras dan agama berkumpul, bercampur aduk tak kelihatan lagi yang mana s yang mana r yang mana a. Bangunan ibarat rimba beton dan kaca. Mungkin secara naluriah, ingatan bawah sadar yang diturunkan secara genetis muncul, dan tertuang dalam keinginan membentuk ekosistem yang serupa dengan nenek moyang, rimba.

Kata seorang teman, Ibu kota adalah sebuah habitat, habitat tiruan kalau menurut saya, yang menjadi tempat manusia tumbuh dan belajar dalam bimbingan 'ibu'. Ya, di ibu kota, manusia seperti dilepas sendirian di dalam rimba. Insting nalurian (baca: hewani) mau tak mau mengambil kendali. Yang kuat yang bertahan hidup. Yang tak kuat, akan kalah, tergerus seleksi alam. Atau yanga bisa saya bilang, yang mau berselaras akan bertahan. Selaras di sini dapat diartikan sebagai bio-mimicry, bio-mimicry dengan alam, atau yang paling kasar, mengimitasi spesies yang bertahan dari seleksi alam. Lalu mungkin sama seperti yang dikatakan teman saya itu, Ibu kota akan 'melahirkan' sebuah generasi yang sama. Sama dalam artian sejenis, setipe, seperti ratusan tentara yang berbaris dengan seragam yang sama, gerakannya, helaan napasnya, dan pikirannya.

Ya, karena manusia secara tak langsung akan merasa aman bila mengimitasi norma-norma yang telah diterima dalam sistem sosialnya. Contohnya, cewek cantik itu digambarkan dengan cewek berkulit putih bebas bulu, berambut panjang tergerai di tiup angin entah dengan poni atau tanpa poni, bermata agak sipit, deretan gigi yang rapi dibalik senyumnya yang manis, dengan bentuk wajah huruf V, berhidung mancung, bertubuh langsing, berkaki jenjang dengan ukuran sepatu mungkin berkisar 37 38, berdandan tipis, berbaju merk X yang berbahan halus dan berkibar-kibar. Akibat komersialisasi iklan, semua cewek yang ingin dibilang cantik secara naluriah mengimitasi semua hal itu. Hasilnya, tentara!

Saya tak bilang itu semua salah. Semua jenis hewan tumbuhan jamur dan mikrobiologi pasti memiliki cara tertentu untuk mempertahankan hidupnya dalam sebuah ekosistem yang membentuk rantai makanan yang tiada putus-putusnya. Saya kira, Ibu kota menjadikan manusia lebih 'manusiawi' secara naluriahnya. Seperti halnya pohon yang menjadi 'pohoni' ketika tumbuh di hutan belantara.

Kembali ke Ibu kota. Sebagai sebuah ekosistem baru yang 'betoni' dan 'kacani', yang bisa saya bilang imitasi palsu dari ekosistem alam rimba, Ibu kota dihuni oleh satu spesies yang terobsesi pada bio-mimicry dan terlalu banyak menghasilkan 'sistem-sistem'. Yang menurut saya, bukannya malah semakin menjadikan manusia jadi 'manusiawi' tapi malah jadi membangkitkan naluri bawah sadar manusia, bahwa manusia itu juga hewan yang hidup dalam sebuah ekosistem 'rimba'

[ ]

#ART / / / Sendratari Sabtu Malam saat Bulan Purnama Jingga, Dua Bule, Manusia Gadget, Si Anak Brebes dan Para Wanita Gunungkidul

Saturday, 19 October 2013

Berawal dari kecerobohan saya karena tak bangun dari tidur siang untuk segera bergegas menunaikan weekly mudik ke rumah, saya malah terdampar di sebuah pertunjukan festival sendratari yang diadakan di TBY malam ini. Seorang teman saya mengajak saya ke TBY untuk menyaksikan sendratari yang ia dengar sebagai sendratari ratu boko. Karena tak ada yang saya kerjakan, saya mengiyakan saja.

Sampai ternyata, di sana sudah mulai, telat 1 jam membuat saya dan teman saya mendapatkan tempat duduk lesehan di dekat pintu masuk. Lumayan, pertunjukan terlihat jelas, malah kaya dapat bangku deretan B di bioskop. Saat saya dan teman saya datang, yang sedang pentas ternyata kontingen dari Sleman. Usut punya usut, ternyata festival sendratari ini dipersembahkan oleh 5 kabupaten di DIY dan dilangsungkan selama 2 hari. Dan sepertinya dilombakan. Untuk hari sabtu yang pentas adalah dari kontingen Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Untuk hari Minggu 20 Oktober 2013 akan dibawakan oleh Bantul dan Kota Jogja.

(Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul) (photographer: Mega)

Saya tak begitu menangkan untuk sendratari dari Sleman karena datang di tengah akhir cerita. Yah, yang pasti ceritanya agak sedih karena berakhir tragis. Untuk yang sendratari Kulon Progo, yang berjudul Heru Cakra, berkisah tentang anak Pangeran Diponegoro dan Gubernur Jendral Belanda yang terlibat dalam persengketaan wilayah. Dan lagi-lagi, akhirnya berbeda dari dugaan. Kebaikan akan selalu menang terhadap keburukan. Tapi hal itu terlalu mainstream. Di sendratari ini malah sebaliknya, akhirnya menyedihkan dengan si anak Pangeran Diponegoro itu dibunuh dan kepalanya dipenggal oleh si Gubernur Belanda.

Dan pentas dari Gunungkidul akhirnya tiba juga. Saya agak was-was ketinggalan yang satu ini. Yah, secara saya adalah anak Gunungkidul yang tak ingin diragukan ke-Gunungkidulannya, hehe. Judulnya saya kurang tahu karena keburu ditepuk tangani oleh orang-orang. Dan, ceritanya adalah (sepertinya) mengenai perebutan kekuasaan. Anggap ada sebuah kerajaan atau kadipaten atau sejenisnya, yang pemimpinnya tidak ada karena telah wafat. Sang ayah yang wafat itu punya 2 anak laki-laki yang sama-sama punya ambisi untuk berkuasa. Yang satu digambarkan sebagai the loner, yang berjuang sendiri memimpin pasukannya. Yang satu digambarkan sebagai laki-laki beristri beranak yang mendidik anaknya supaya memperjuangkan hak tahta untuknya. Yang mana yang baik dan yang jahat?Menurut saya, tak pasti. Yang jelas, aslinya adalah cerita klasik sih, dan saya yakin kau kau sekalian pasti sudah tahu jalan ceritanya seperti apa. Para keluarga berperang untuk memperebutkan kekuasaan, pertumpahan darah saudara sedaging. Endingnya? Diluar dugaan. Si Kakak hendak dibunuh oleh anak si Adik atau malah si Adik hendak dibunuh oleh anak si Kakak? Intinya, salah satu dari dua bersaudara itu hendak dibunuh keponakannya dengan sebuah keris. Lalu ketika si keponakan menghujamkan keris itu ke arah si satu saudara itu, ketika sudha dekat, lampu panggung jadi gelap, muncullah sebuah cahaya menyorot terang dari balik yang hendak . The End. Lalu yang hendak dibunuh terbunuh atau tidak? Yah, kalau pendapat saya, yang nulis script bagus, karena menimbulkan ending yang nggak bisa ditebak, yang kemudian dikembalikan kepada penonton memandangnya seperti apa. Penonton suka kalau salah satu tokoh mati? Baiklah, anggap begitu. Atau lebih suka kalau tidak mati dan cerita masih ada kelanjutannya? Okey, saya sih lebih suka tidak terbunuh. Seperti cerita ini belum selesai. Ini hanya sepenggal kisah dunia, hanya secuplik cerita dari keseluruhan hidup seseorang.

Ah, saat melihat sendratari ini saya terlalu terpesona dengan semua gerakan tari-tarian di depan mata saya itu. Gerakan kaku tapi luwes tapi bertenaga milik penari laki-laki, atapun gerak lemah tapi gemulai tapi menahan tenaga oleh penari wanita, membuat saya bertanya-tanya, seperti apa rasanya belajar menari yang seumur hidup belum pernah saya lakukan. Terlepas dari itu, saya akhir-akhir ini juga suka akan intrumen tradisional gending jawa yang berpadu dengan alat musik kontemporer yang membuat sebuah harmoni yang terdengar energik tapi juga mistis, merasuk dalam pikiran saya, menyiram hati saya, dan membangkitkan memori ketika saya masih kanak-kanak dan menyaksikan kakek dan ayah saya ndalang di balai desa di desa kecil tempat saya tumbuh. Apalagi para penyanyi yang diiringi oleh intrument tradisional jawa, menyanyikan geguritan dengan bahasa ibu saya, yang saya mengerti tetapi tak saya mengerti, mengingatkan saya kepada hakikat diri saya sebagai seorang Jawa yang telah hilang Jawa-nya. Perasaan kagum, takjub, terhenyak, dan sedih bercampur dalam diri saya malam ini. Entah, saya jadi merasa terpanggil untuk menumbuhkan ke-Jawa-an saya.

Terlepas dari semua yang saya tulis di atas, malam ini bulan purnama terbit jingga, terasa mistis diantara awan abu-abu yang bergerak cepat sekelebat. Di sendratari ini, saya belajar hal lain selain menikmati sendratari. Ketika saya datang, saya dan teman saya memang dapat tempat di belakang, tapi masih bisa duduk. Di depan saya awalnya ada beberapa orang tetapi di pertengahan babag dari Kulon Progo, orang-orang mulai berkurang dan tersisa ruang kosong yang membuat saya leluasa menatap panggung. Di bawah depan kami, lebih tepatnya sebelah kanan depan teman saya, terdapat segerombolan anak muda yang tidak fokus nonton sendratari. Sepanjang pertunjukan Sleman sampai selesai mereka ngobrol asyik sekali, agak berisik, mengganggu saya yang meniatkan diri untuk beribadah menonton pertunjukan seni. Seorang dari gerombolan itu, malah sibuk mainan tablet yang cahayanya terang, mengganggu mata saya untuk melihat ke panggung. perlu diketahui, saat pertunjukan berlangsung lampu dimatikan kecuali di panggung. Jadi, cahaya tablet orang itu sungguh menganggu mata saya. Saya pikir, orang-orang ini salah fokus, bukannya nonton pertunjukan malah sibuk mainan tablet, lihat foto-foto lama, dan main game. Aneh sekali mengapa datang ke TBY dan berada di tempat ini.

Ketika pertunjukan dari Kulon Progo hendak dimulai, muncul 2 bule duduk di samping kiri saya yang kebetulan kosong, bule perempuan dan laki-laki. Entah dari negara mana, tapi mereka berdua berbicara dengan bahasa inggris yang samar-samar bisa saya dengar ketika jeda antar pertunjukan. Di tengah-tengah pertunjukan Kulon Progo itu, muncul sepasang kekasih akamsi (baca : anak kampung situ) penduduk setempat lah yang mengganggu pemandangan saya. Saya harus beringsut mlipir karena kepala mereka yang goyang goyang, sok-sokan kepala mau bersandar di pundak. Saya tidak iri, tapi ayolah! saya mau nonton pertunjukan di depan sana, kalau kepala mereka tak stabil bolah balik berdiri bersandar berdiri bersandar, saya kan jadi terganggu. Mau sandara ya silahkan, tapi ya sandaran aja terus, gitu aja galau. Yah, intinya, keberadaan mereka berdua di depan saya sungguh menganggu. Lalu, si perempuan mengeluarkan tabletnya, yang sekali lagi, cahayanya sungguh menganggu mata. Saya agak kesal juga. Dua bule di samping saya juga ikut ngrasani. Bule cewek itu berkata bahwa ia terganggu dengan cahaya lampu itu ke si bule cowok. Dia bilang, orang-orang sini kenapa ya, mereka terlalu bersemangat (too exciting) menonton sendratari gratis hingga foto-foto dokumentasi dan update status atau cuma mau sok-sok-an aja pamer di dunia maya. Untungnya si mbak depan saya itu segera menurunkan tabletnya sehingga cahayanya nggak mengganggu mata saya. Lalu, gerombolan di kanan depan masih sibuk berkutat dengan smartphone touch screen, BB, tablet, ah, sekalian saja laptop komputer kalkulator apalah itu. Dasar manusia gadget! Ah, foto di atas juga hasil dari manusia gadget karena saya tak membawa HP atau kamera untuk mengabadikan momen tadi. Hahaha.

Ada satu hal menarik lagi. Ada seorang anak aneh yang duduk di samping kanan teman saya. Anak aneh yang melihat ke orang-orang di kanan depan saya ketika mereka menggunakan gadget mereka. Anak itu terlihat gumunan. Sempat saya pikir anak itu kurang pikir alias agak tidak (maaf) waras. Penampilannya seperti anak-anak kampung kota biasa. Ia seperti memakai seragam sekolah batik biru dengan paduan celana biru SMP panjang dan tak beralas kaki. Saya tak mengindahkan anak itu yang mengerecoki teman saya karena saya sedang begitu khidmat melihat sendratari. Saat jeda, tahu lah saya dari teman saya, anak aneh itu siapa. Memang saya tak tahu namanya, tapi ia berasal dari Brebes, datang ke sini sendirian. Sendirian lhoh, anak kecil loh, umurnya paling belum 12 tahun loh, kau bisa bayangkan siapa anak ini? Ah, awalnya saya menduga jangan-jangan ia 'diambil' dari tempat tinggalnya dan 'di-drop' ke Jogja dalam sebuah sindikat pengamen dan pengemis. Tapi tak saya ambil pusing karena pertunjukan dimulai lagi. Pas selesai dan mau pulang, eh, saya lihat ke kanan anak itu tidur dan menghalangi jalan orang-orang. Ketika dibangunin, saya jadi agak kasihan. Anak itu, mengikuti teman saya sampai ke parkiran tempat kami parkir motor. Saya pikir ngapain sih anak aneh ini mengikuti kami, agak annoying saya rasa, tapi akhirnya ia mau pergi setelah diberi uang oleh teman saya. Ah, sepertinya sejak awal anak itu memang sengaja. Di jalan saya pikir betapa kasihan anak itu. Ia sepertinya telah lama mengemis, meninggalkan sekolah karena keluarganya tak punya uang, ibunya sepertinya menikah lagi dan sibuk dengan suami barunya dan tak mengurus anak itu. Anak itu mengemis dan mungkin secara bergantian naik kendaraan seperti bis dan akhirnya sampai di Jogja.

Tentang sendratarinya sendiri ada hal lain yang saya tangkap. Entah hal ini terpikirkan oleh orang lain atau tidak tetapi hal ini telintas dalam benak saya ketika melihat babag yang dimainkan oleh Gunungkidul. Dalam babag itu, si saudara the loner beserta pasukannya perlahan tapi pasti di serbu oleh seorang assasin. Assasin ini membunuh pengawal the loner satu-satu dan berniat membunuh the loner. Tapi the loner ini terlalu sakti dan akhirnya membuka cadar assasin tersebut. Ternyata assasin tersebut adalah seorang wanita dan yang mengagetkan lagi adalah istri dari saudaranya. Yah, meski sebenarnya saya tahu kalau assasin ini perempuan dan istri saudaranya lewat pakaian yang ia kenakan. Tapi tetap saja bagi saya ini menakjubkan, wanita mendapatkan porsi dalam peperangan laki-laki!

Peran wanita si istri saudara yang menjadi assasin dan bukan anak laki-laki si saudara malah membuat saya berpikir lain. Ketika di dua sendratari lainnya wanita digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut gemulai cantik dan anggun, di sendratari Gunungkidul ini wanita malah mendapat peran merangkap sebagai istri dan assasin. Sebenarnya mungkin cerita ini terlepas dari Gunungkidul sendiri. Tapi saya mengasosiasikan wanita yang ada di sendratari itu ya menggambarkan sosok wanita-wanita Gunungkidul. Sosok wanita yang meskipun lembut lemah gemulai cantik anggun dan bersahaja sebagai wanita yang ngayahi kewajibannya sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, yang wanita banget, pun juga dapat menjadi sosok yang nglaki-laki, yang kuat, pemberani, dan mampu berperang untuk apa yang ia yakini, yang digambarkan pada tokoh asassin. Menurut saya, benar atau tidaknya pemikiran saya ini, ini sungguh keren banget. Dan kalau pemikiran saya benar, akan lebih keren lagi. Terbukti lagi, ketika wanita asassin ini ketahuan jati dirinya, ia digepung oleh pengawal dan muncullah prajurit wanita yang tak kalah berani ikut memerangi pengawal itu. Yah, seperti yang saya bilang, para wanita Gunungkidul itu keren banget, wanita yang wanita tetapi juga nglaki-laki.


[ ]

(bulan jingga dan lampu merah berdansa)
 
 
 
Bulan purnama terbit berwarna sendu mistis jingga di antara mendung abu-abu
 
Meski gagal menyaksikan gerhana bulan terakhir tahun ini, tapi tak apa, bisa melihat sisa-sisa jejak penumbra malam ini ketika bulan baru terbit 

#BOOK / / / Rumah Lebah

Wednesday, 16 October 2013

"Jiwa kita adalah rumah tanpa jendela pun pintu, anehnya kita pasti bisa keluar untuk berlarian di padang rumput, membebaskan tubuh kita, dan menyanyikan lagu para ilalang."



Saya pikir ini takdir. Jadi, saya sebenarnya telah lama ingin beli novel ini, Rumah Lebah. Beberapa tahun lalu, saya melihat buku ini terpampang di sebuah toko buku kecil langganan saya di Wonosari, perlu digaris bawahi, di toko buku satu-satunya di Wonosari waktu itu! Saya melihatnya di jajaran novel baru. Tapi waktu itu saya sedang tak punya uang dan saya tak jadi beli. Berminggu-minggu saya ndeleki novel ini sambil mengumpulkan sisa uang jajan yang masih di bawah standar sangu minimal. Entah kunjungan keberapa, saya dapati novel itu telah terjual. Saya kecewa.

Lalu, beberapa hari lalu ketika saya sedang iseng main ke bazar buku Gramedia, saya menemukan novel ini dalam tumpukan buku-buku terbitan gagasmedia yang terobral 10k saja. Langsung, saya ambil novel ini. Saat itu rasanay saya beruntung banget, semacam takdir, saya dipertemukan kembali dengan novel ini. Kalau jodoh, pasti bertemu kok. Eh, salah fokus.

Tentang novel ini sendiri, berkisah tentang seorang anak kecil yang dicap aneh, bahkan setengah indigo, bernama Mala. Mala tinggal bersama kedua orang tuanya, Nawai dan Winaya di sebuah rumah di kaki perbukitan Putri Tidur, di sebuah vila di dekat danau. Mala dicap sebagai anak berjiwa ganjil meski memiliki kecerdasan diatas rata-rata anak normal. Di rumah itu, tanpa di ketahui Nawai dan Winaya, hiduplah 6 orang asing yang keberadaannya disaksikan oleh gadis cilik genius berjiwa ganjil itu. Keenam orang itu adalah abuela, seorang wanita tua berwajah patriarki berbahasa spanyol yang terobsesi pada kebersihan dan keteraturan, Wilis si laki-laki berkulit hijau dan berambut ganggang yang selalu berwajah sedih, Satira si gadis cilik nakal yang selalu menjahili Mala, Ana Manaya seorang perempuan penggila dua gemerlap, dan juga si kembar alter yang tahu segalanya tetapi tak dapat berbicara. Mala dapat melihat segalanya yang dianggap Nawai dan Winaya sebagai imajinasi masa kecil yang akan hilang ketika dewasa. Ia melihat apa yang tak diketahui dan tak dilihat orang. Atau tepatnya, tak boleh ada seorang pun yang mengetahui itu semua. Sebab, itu justru akan menjadi gladi kotor kematian bagi sang ratu lebah. Sosok yang seharusnya tak boleh diganggu keberadaannya.

Novel ini sungguh menarik. Sungguh alur ceritanya tak dapat ditebak. Sesuai dengan dugaan saya bertahun-tahun lalu, novel ini pasti bagus. Dan terbukti benar, novel ini memang jempolan. Dan saya merasa beruntung karena dapat membaca novel ini setelah penantian bertahun-tahun. Saya pribadi, menyarankan novel ini bagi pecinta serial thriller. Keren banget pokoknya.

Oke, sampai jumpa di review buku selanjutnya.

#ESSAY / / / J(ogj)akarta

Wednesday, 9 October 2013














Sudah sore, jalanan padat kendaraan motor dan mobil. Udara begitu panas dan kering. Rasanya gerah, sampai-sampai aspal pun meleleh ke udara. Mobil-mobil mengantri tak teratur. Motor-motor main selip sana sini masuk ke sela-sela sempit. Persimpangan itu padat, padat sekali, sampai-sampai ia tak dapat masuk ke sela-sela yang tersisa. Ia berdecak agak kesal. Ruas jalan itu memang selalu padat di jam-jam berangkat dan pulang kantor. Ia agak menyesal juga memilih lewat jalan itu padahal sudah tahu persimpangan di depan sana membuat macet. Teman yang membonceng di belakangnya diam saja, autis dengan HP-nya yang begitu pintar.
Ia menatap jam tangannya sambil gelisah. Di kanan kirinya, ia mendapati orang-orang bermuka masam tak sabaran, sudah capek di tempat kerjaan, ingin segera pulang ke rumah. Dari belakang ada motor yang nekat mlipir naik ke trotoar untuk maju ke depan persimpangan. Seorang pejalan kaki buta terpekik hampir terserempet pengendara yang nekad itu. Bukannya minta maaf tapi pengendara itu malah mengumpat tak sopan. Ia bergerak-gerak tak sabar di motornya, teman yang memboncengnya masih anteng.
Suara music mancanegara sayup-sayup terdengar dari mobil di samping depannya. Ia mengernyit melihat plat nomor B dengan tahun kadaluarsa 2018. Di dalam mobil itu ada seorang anak kurus berkacamata berkulit pucat dengan kedua tangan yang penuh, tangan kanan memegang iPhone, yang tangan kiri memegang iPad, sebuah games bernama Fruit Ninja sedang ter-pause karena si pemilik sedang membalas Whats App. Ia berdecak lagi. Jengkel. Temannya masih saja tak ngeh, duduk di belakang sibuk dalam dunianya sendiri.
Antrian itu mulai bergerak sedikit tapi baru 3 meter ia berhenti lagi. Mobil di depannya berhenti mendadak. Tiba-tiba, seperti sebuah koor diberi aba-aba satu dua tiga, dimulai dari antrian paling depan terdengar ribut. Klakson motor dan mobil bersahut-sahutan. Ia jengkel ketika mobil dan motor di belakangnya ikut bermain klakson. Ia pusing dalam koor itu. Karena jengkel, ia berdiri dan melongok apa yang mengaba-aba koor klakson di hari yang panas ini.
Di depan sana, di persimpangan itu, semua mobil dari keempat arah bertemu, seperti sebuah anyaman. Seorang polisi dengan perut buncit sibuk mengabani agar simpul bolah undet itu sedikit terurai. Polisi itu hanya sendirian saja. Sesekali terlihat mengelap keringat dengan saputangan yang ia masukkan kembali ke sakunya setelah memakainya. Dua orang teman polisi itu duduk-duduk saja berteduh di sebuah emperan pos polisi yang ada di pojok perempatan itu, ngisis dibawah lindungan pohon kersen yang tak berbuah.
“Sejak kapan jalan Kaliurang jadi kaya jalan Sudirman! Baru juga kutinggal 2 bulan magang ke Bali, makin parah saja!” gerutunya.
Temannya bergerak di belakangnya. “Lhoh kamu nggak tahu?”
Ia menoleh. “Hah?”
“Kan akibat Sekutu yang datang kembali mengagresi sector ekonomi nusantara sehingga mengancam NKRI, ‘si Karno dan Hatta’ naik kereta api luar biasa dan ibukota jadi dipindahkan ke Jogja!”

[ ]

#KRITIK / / / Bakpia 75

Monday, 7 October 2013


*) sebuah rekayasa untuk tugas kritik interpretatif, tanpa narasi, silahkan dimaknai


#ESSAY / / / Tentang Simpul dan Pusat

Wednesday, 2 October 2013



Ini sebenarnya tulisan tak begitu penting, yang menurut saya terlalu berat. Tetapi hari ini ada seseorang yang meminta saya untuk paling tidak menuliskan apa yang ada di pikiran saya, karena ia tak yakin saya tipe pemikir. Sebenarnya saya malas, tapi saya sungguh niat menulis kali ini. Tiba-tiba, gagasan ini muncul ketika saya sedang mengerjakan mahakarya tulis. Mungkin apa yang saya sampaikan ini pernah orang lain sampaikan, saya juga tak tahu. yang pasti, tulisan ini adalah hasil dari perasan memori kolektif saya. Masih ebrkaitan dengan postingan ini, saya sarankan untuk membaca Lalita karya Ayu Utami. Oh iya, yang menyuruh saya sepertinya ulang tahun hari-hari ini. Jadi anggap saja ini kado ya.




ketika tidak semua simpul adalah titik, ketika tidak semua titik adalah pusat.


Apa itu simpul? Apa itu pusat?
Sebagian keduanya adalah titik. Tapi tak seperti sebuah penarikan kesimpulan melalui deduksi atau induksi, simpul yang saya maksud di sini tidak sama dengan pusat.

Simpul adalah sebuah jalinan, pertalian,  pertemuan, persinggungan, persatuan sebelum melebur, persentuhan, titik. Pusat adalah pertemuan, perpotongan, center, pusar, poros, titik. Analoginya adalah sebuah polygon dengan sisi terhitung. Anggap saja polygon itu dibuat dari berbagai titik yang ditebar secara acak. Pilih titik-titik tertentu yang ada di samping dekat dan hubungkan dalam sebuah garis. Maka terciptalah polygon. Dari titik-titik itu tariklah garis lagi menuju titik-titik yang berlawanan dari bentuk polygon itu. Garis-garis itu akan memiliki kecenderungan untuk berpotongan dalam sebuah area tertentu. Area ini adalah pusat. Titik-titik awal dan akhir garis itu adalah sebuah simpul. Garis yang kita tarik untuk membentuk polygon itu pun adalah simpul.


Nah ?

#FIKSI / / / Pesawat Terbang Pagi Ini






“Selamat pagi!” sapaku kepadamu yang meregang menggeliat di hadapan daratan yang tetutupi semburat awan. Matahari masih belum muncul, ini masih pukul 4 pagi. Kau terlihat terkejut mendapatiku berdiri di sampingmu sambil memegang cangkir steinless berisi kopi yang masih panas. Kopi itu mengepul bersatu dengan udara dingin pagi sekaligus menggodamu dengan aromanya yang memabukkan. Udara dingin sekali membuat wajahmu memerah karena darah yang terpompakan ke pipimu.

“Selamat pagi.” Jawabmu sambil menggosok-gosokkan tanganmu pada lengan.

Aku mengulurkan cangkir kopi itu kepadamu dan kau tersenyum malu-malu kepadaku sambil menerima kopi itu. Kau menutup mata sambil menghirup aroma kopi dan kau terlihat sangat menikmatinya. Lalu kau menyeruputnya dikit-dikit karena masih agak panas. Kau mengerjap-ngerjap agak kepanasan lalu menyerahkan cangkir itu kepadaku.

“Pagi sekali kau bangun. Yang lain masih tidur di tenda, kan?”

Kau mengangguk bersemangat lalu mencondongkan tubuhmu ke arahku.

“Sssttt, jangan keras-keras! Kau bisa membangunkan mereka!” bisikmu kepadaku. Aku terkekeh pada leluconmu.

“Kau tahu mengapa aku memaksa kalian semua untuk ikut naik gunung bersamaku pada hari ini?” tanyamu dengan kerling jenaka. Aku menggeleng saja. Kau tahu, aku selalu suka matamu yang begitu hidup itu, kadang berkilat marah jika kau marah, kadang sendu ketika kau sedih, dan kadang tertawa ketika kau sedang senang. Matamu itu bahkan lebih ekspresif daripada wajahmu!

Kau menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ada orang yang sedang mengintai kita berdua. Aku mengikuti gerakanmu dan tak menemukan siapapun. Tingkahmu membuatku ingin tertawa, terlihat mencurigakan tapi aku ikut berdebar menanti apa yang hendak kau lakukan. 

Kau mengambil sesuatu dari dalam saku jaketmu lalu membenarkan lipatannya. Benda itu adalah sebuah pesawat kertas berwarna merah muda. Aku menatapmu penuh pertanyaan tetapi tak mengatakannya. Kau sibuk membenarkan lipatan kapal terbang kertas itu, melirikku sesekali sambil menyeringai bahagia. Aku menanti apa yang hendak kamu lakukan sambil bertanya-tanya apa kertas itu.

Kau selesai dangan kesibukanmu lalu membawa pesawat itu ke hadapanmu dan meniup ujungnya pelan-pelan. Pada hitungan ketiga, kau melemparkannya ke hamparan daratan di bawah sana. angin berhembus semilir menerbangkan pesawatmu itu jauh, jauh sekali sampai hilang diantara kabut awan di bawah sana.

“Apa itu?” tanyaku.

Kau menoleh kepadaku dan mencondongkan tubuhmu lagi. “Su.rat cin.ta.” ujarmu sok misterius.

Aku tertawa tak percaya kepadamu. Tapi kau tidak menyanggah atau mengiyakan, malah ikut tertawa bersamaku. Lalu aku diam, kupikir kau tak bercanda barusan.

Lalu tiba-tiba ada yang merasukiku, mungkin karena efek kurang tidur, lelah, dingin, dan kopi. Aku meraih tanganmu yang dingin dan membuatmu menatapku heran. Jantungku berdebar keras sekali memompakan darah ke wajahku. Aku menelan ludah susah payah.

“Kenapa tak kau berikan saja surat itu kepadaku?” tanyaku dengan nada canggung. Aku was-was menanti jawabanmu. Meski aku mengutuki diriku mengapa aku sebegitu bodoh mengatakannya di tempat ini. Aku melengos karena malu.

Lalu kau berjinjit lalu berbisik di telingaku.

“Sepertinya suratku tersampaikan.”

Aku menatapmu yang nyengir lebar ke arahku dengan muka yang berseri-seri.




*ditulis sambil mendengarkan Gunung dan Laut Payung teduh