#ESSAY / / / J(ogj)akarta

Wednesday, 9 October 2013














Sudah sore, jalanan padat kendaraan motor dan mobil. Udara begitu panas dan kering. Rasanya gerah, sampai-sampai aspal pun meleleh ke udara. Mobil-mobil mengantri tak teratur. Motor-motor main selip sana sini masuk ke sela-sela sempit. Persimpangan itu padat, padat sekali, sampai-sampai ia tak dapat masuk ke sela-sela yang tersisa. Ia berdecak agak kesal. Ruas jalan itu memang selalu padat di jam-jam berangkat dan pulang kantor. Ia agak menyesal juga memilih lewat jalan itu padahal sudah tahu persimpangan di depan sana membuat macet. Teman yang membonceng di belakangnya diam saja, autis dengan HP-nya yang begitu pintar.
Ia menatap jam tangannya sambil gelisah. Di kanan kirinya, ia mendapati orang-orang bermuka masam tak sabaran, sudah capek di tempat kerjaan, ingin segera pulang ke rumah. Dari belakang ada motor yang nekat mlipir naik ke trotoar untuk maju ke depan persimpangan. Seorang pejalan kaki buta terpekik hampir terserempet pengendara yang nekad itu. Bukannya minta maaf tapi pengendara itu malah mengumpat tak sopan. Ia bergerak-gerak tak sabar di motornya, teman yang memboncengnya masih anteng.
Suara music mancanegara sayup-sayup terdengar dari mobil di samping depannya. Ia mengernyit melihat plat nomor B dengan tahun kadaluarsa 2018. Di dalam mobil itu ada seorang anak kurus berkacamata berkulit pucat dengan kedua tangan yang penuh, tangan kanan memegang iPhone, yang tangan kiri memegang iPad, sebuah games bernama Fruit Ninja sedang ter-pause karena si pemilik sedang membalas Whats App. Ia berdecak lagi. Jengkel. Temannya masih saja tak ngeh, duduk di belakang sibuk dalam dunianya sendiri.
Antrian itu mulai bergerak sedikit tapi baru 3 meter ia berhenti lagi. Mobil di depannya berhenti mendadak. Tiba-tiba, seperti sebuah koor diberi aba-aba satu dua tiga, dimulai dari antrian paling depan terdengar ribut. Klakson motor dan mobil bersahut-sahutan. Ia jengkel ketika mobil dan motor di belakangnya ikut bermain klakson. Ia pusing dalam koor itu. Karena jengkel, ia berdiri dan melongok apa yang mengaba-aba koor klakson di hari yang panas ini.
Di depan sana, di persimpangan itu, semua mobil dari keempat arah bertemu, seperti sebuah anyaman. Seorang polisi dengan perut buncit sibuk mengabani agar simpul bolah undet itu sedikit terurai. Polisi itu hanya sendirian saja. Sesekali terlihat mengelap keringat dengan saputangan yang ia masukkan kembali ke sakunya setelah memakainya. Dua orang teman polisi itu duduk-duduk saja berteduh di sebuah emperan pos polisi yang ada di pojok perempatan itu, ngisis dibawah lindungan pohon kersen yang tak berbuah.
“Sejak kapan jalan Kaliurang jadi kaya jalan Sudirman! Baru juga kutinggal 2 bulan magang ke Bali, makin parah saja!” gerutunya.
Temannya bergerak di belakangnya. “Lhoh kamu nggak tahu?”
Ia menoleh. “Hah?”
“Kan akibat Sekutu yang datang kembali mengagresi sector ekonomi nusantara sehingga mengancam NKRI, ‘si Karno dan Hatta’ naik kereta api luar biasa dan ibukota jadi dipindahkan ke Jogja!”

[ ]

2 comments :

  1. tapi bukannya ibukota adalah ibu dari para kota, dan ibu merupakan habitat termudah untuk anak mempelajari perjalanannya, hingga akhirnya semua adalah serupa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. telepas dari pernyataanmu mas,
      sakjane meh ngomong wajah kota jogja sekarang saru dengan jakarta. aku ngritik lalu lintasnya sih. pengalam pribadi terjebak macet simpang anyam undet di perempatan *piiiiiiiiiip (sensor)
      aku setuju dengan pernyataanmu mengenai ibukota. aku jadi pengen nulis kan. sesuk jawabane neng postinganku selanjutnya ya

      Delete