#ESSAY / / / Ibu kota

Friday, 25 October 2013

Ibu kota : kota tempat kedudukan pusat pemerintahan suatu negara, tempat dihimpun unsur administratif, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif; kota yg menjadi pusat pemerintahan
(sumber : http://www.artikata.com/arti-330306-ibu.html)



Terlepas dari arti kata-nya, kita mengenal ibu kota sebagai sosok yang konon katanya lebih kejam daripada seorang ibu tiri. Tapi sebentar, saya ingin bertanya, siapa yang bilang ibu tiri itu kejam? Ah, kau kau sekalian sepertinya telah termakan stereotipe kisah roman sinetron di tivi-tivi mengenai betapa kejamnya ibu tiri. Oke, ayo kita kembali ke pokok bahasan.

Ibu kota, kota induk, tapi menginduki siapa? Menginduki kota-kota lain kan? Tidak, saya lebih suka menyebutnya kota utama. Ibu kota jangan hanya dimaknai sebagai Jakarta, ibu kota Negara Indonesia tapi bukannya luas? Semarang juga ibu kota, ibu kota provinsi Jawa Tengah, Surabaya itu ibu kota provinsi Jawa Timur. Kota Jogja adalah ibu kota provinsi D.I.Yogyakarta, yah, kebetulan saja namanya sama. Wates itu juga ibu kota lho, ibu kota kabupaten Kulon Progo. Wonosari itu ibu kota kabupaten Gunungkidul. Antara kota-kota 'induk' ini tak jelas siapa menginduki siapa. Yang jelas hubungan induk menginduk ini, berkaitan dengan induk menginduk tatanan politik pemerintahan. Di kota yang lebih induk, di sanalah terdapat jajaran kantor pemerintaha yang lebih induk.

Dalam pandangan saya, ibu kota bukanlah menjadi induk dari kota-kota kecil lain di sekitarnya. Ibu kota lebih merujuk kepada kawasan geografis yang berkaitan dengan keberadaan dan posisi komponen pemerintahan. Dalam bahasa Inggris, ibu kota disebut sebagai The Capital City atau The Capital Town, tak ada embel-embel ibu dalam bahasa inggris. Tapi oleh orang Indonesia, frasa itu diartikan sebagai ibu kota, yang kemudian kita asosiasikan dengan induk, ibu, emak, mama, biyung, karena pengertian kata 'ibu' dalam ingatan bawah sadar yang telah terbangun sejak lahir.

The Capital City, yang sebagai orang Indonesia kita sebut ibu kota, menurut saya, tidak ada kaitannya dengan induk menginduk yang saya sebutkan di awal. Pemilihannya lebih kepada kepentingan ekonomis dan politik. The Capital City jadi bagian penting dari kegiatan ekonomi dan politik. Di sini, ekonomi dan bisnis dijalankan, uang berputar dengan cepat, politik dijalankan di dalam gedung-gedung pemerintahan, di dalam gedung-gedung tinggi berkaca ber-AC, seperti dalam etalase mall. Di kota ini saya pastikan, ada pasar utama, ada masjid utama, ada gereja utama, klenteng utama, kuil utama. Ah, tapi tak ada pura utama di kota. Bukannya saya SARA lhoh, tapi pura seperti halnya candi-candi, memilih tempat yang lebih tinggi, diukur dari permukaan air laut.

Tapi Ibu kota, dengan konsep yang sama, menjelma jadi sebuah ekosistem baru bagi manusia. Di ibu kota, semua suku ras dan agama berkumpul, bercampur aduk tak kelihatan lagi yang mana s yang mana r yang mana a. Bangunan ibarat rimba beton dan kaca. Mungkin secara naluriah, ingatan bawah sadar yang diturunkan secara genetis muncul, dan tertuang dalam keinginan membentuk ekosistem yang serupa dengan nenek moyang, rimba.

Kata seorang teman, Ibu kota adalah sebuah habitat, habitat tiruan kalau menurut saya, yang menjadi tempat manusia tumbuh dan belajar dalam bimbingan 'ibu'. Ya, di ibu kota, manusia seperti dilepas sendirian di dalam rimba. Insting nalurian (baca: hewani) mau tak mau mengambil kendali. Yang kuat yang bertahan hidup. Yang tak kuat, akan kalah, tergerus seleksi alam. Atau yanga bisa saya bilang, yang mau berselaras akan bertahan. Selaras di sini dapat diartikan sebagai bio-mimicry, bio-mimicry dengan alam, atau yang paling kasar, mengimitasi spesies yang bertahan dari seleksi alam. Lalu mungkin sama seperti yang dikatakan teman saya itu, Ibu kota akan 'melahirkan' sebuah generasi yang sama. Sama dalam artian sejenis, setipe, seperti ratusan tentara yang berbaris dengan seragam yang sama, gerakannya, helaan napasnya, dan pikirannya.

Ya, karena manusia secara tak langsung akan merasa aman bila mengimitasi norma-norma yang telah diterima dalam sistem sosialnya. Contohnya, cewek cantik itu digambarkan dengan cewek berkulit putih bebas bulu, berambut panjang tergerai di tiup angin entah dengan poni atau tanpa poni, bermata agak sipit, deretan gigi yang rapi dibalik senyumnya yang manis, dengan bentuk wajah huruf V, berhidung mancung, bertubuh langsing, berkaki jenjang dengan ukuran sepatu mungkin berkisar 37 38, berdandan tipis, berbaju merk X yang berbahan halus dan berkibar-kibar. Akibat komersialisasi iklan, semua cewek yang ingin dibilang cantik secara naluriah mengimitasi semua hal itu. Hasilnya, tentara!

Saya tak bilang itu semua salah. Semua jenis hewan tumbuhan jamur dan mikrobiologi pasti memiliki cara tertentu untuk mempertahankan hidupnya dalam sebuah ekosistem yang membentuk rantai makanan yang tiada putus-putusnya. Saya kira, Ibu kota menjadikan manusia lebih 'manusiawi' secara naluriahnya. Seperti halnya pohon yang menjadi 'pohoni' ketika tumbuh di hutan belantara.

Kembali ke Ibu kota. Sebagai sebuah ekosistem baru yang 'betoni' dan 'kacani', yang bisa saya bilang imitasi palsu dari ekosistem alam rimba, Ibu kota dihuni oleh satu spesies yang terobsesi pada bio-mimicry dan terlalu banyak menghasilkan 'sistem-sistem'. Yang menurut saya, bukannya malah semakin menjadikan manusia jadi 'manusiawi' tapi malah jadi membangkitkan naluri bawah sadar manusia, bahwa manusia itu juga hewan yang hidup dalam sebuah ekosistem 'rimba'

[ ]

No comments :

Post a Comment