#ART / / / Sendratari Sabtu Malam saat Bulan Purnama Jingga, Dua Bule, Manusia Gadget, Si Anak Brebes dan Para Wanita Gunungkidul

Saturday, 19 October 2013

Berawal dari kecerobohan saya karena tak bangun dari tidur siang untuk segera bergegas menunaikan weekly mudik ke rumah, saya malah terdampar di sebuah pertunjukan festival sendratari yang diadakan di TBY malam ini. Seorang teman saya mengajak saya ke TBY untuk menyaksikan sendratari yang ia dengar sebagai sendratari ratu boko. Karena tak ada yang saya kerjakan, saya mengiyakan saja.

Sampai ternyata, di sana sudah mulai, telat 1 jam membuat saya dan teman saya mendapatkan tempat duduk lesehan di dekat pintu masuk. Lumayan, pertunjukan terlihat jelas, malah kaya dapat bangku deretan B di bioskop. Saat saya dan teman saya datang, yang sedang pentas ternyata kontingen dari Sleman. Usut punya usut, ternyata festival sendratari ini dipersembahkan oleh 5 kabupaten di DIY dan dilangsungkan selama 2 hari. Dan sepertinya dilombakan. Untuk hari sabtu yang pentas adalah dari kontingen Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Untuk hari Minggu 20 Oktober 2013 akan dibawakan oleh Bantul dan Kota Jogja.

(Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul) (photographer: Mega)

Saya tak begitu menangkan untuk sendratari dari Sleman karena datang di tengah akhir cerita. Yah, yang pasti ceritanya agak sedih karena berakhir tragis. Untuk yang sendratari Kulon Progo, yang berjudul Heru Cakra, berkisah tentang anak Pangeran Diponegoro dan Gubernur Jendral Belanda yang terlibat dalam persengketaan wilayah. Dan lagi-lagi, akhirnya berbeda dari dugaan. Kebaikan akan selalu menang terhadap keburukan. Tapi hal itu terlalu mainstream. Di sendratari ini malah sebaliknya, akhirnya menyedihkan dengan si anak Pangeran Diponegoro itu dibunuh dan kepalanya dipenggal oleh si Gubernur Belanda.

Dan pentas dari Gunungkidul akhirnya tiba juga. Saya agak was-was ketinggalan yang satu ini. Yah, secara saya adalah anak Gunungkidul yang tak ingin diragukan ke-Gunungkidulannya, hehe. Judulnya saya kurang tahu karena keburu ditepuk tangani oleh orang-orang. Dan, ceritanya adalah (sepertinya) mengenai perebutan kekuasaan. Anggap ada sebuah kerajaan atau kadipaten atau sejenisnya, yang pemimpinnya tidak ada karena telah wafat. Sang ayah yang wafat itu punya 2 anak laki-laki yang sama-sama punya ambisi untuk berkuasa. Yang satu digambarkan sebagai the loner, yang berjuang sendiri memimpin pasukannya. Yang satu digambarkan sebagai laki-laki beristri beranak yang mendidik anaknya supaya memperjuangkan hak tahta untuknya. Yang mana yang baik dan yang jahat?Menurut saya, tak pasti. Yang jelas, aslinya adalah cerita klasik sih, dan saya yakin kau kau sekalian pasti sudah tahu jalan ceritanya seperti apa. Para keluarga berperang untuk memperebutkan kekuasaan, pertumpahan darah saudara sedaging. Endingnya? Diluar dugaan. Si Kakak hendak dibunuh oleh anak si Adik atau malah si Adik hendak dibunuh oleh anak si Kakak? Intinya, salah satu dari dua bersaudara itu hendak dibunuh keponakannya dengan sebuah keris. Lalu ketika si keponakan menghujamkan keris itu ke arah si satu saudara itu, ketika sudha dekat, lampu panggung jadi gelap, muncullah sebuah cahaya menyorot terang dari balik yang hendak . The End. Lalu yang hendak dibunuh terbunuh atau tidak? Yah, kalau pendapat saya, yang nulis script bagus, karena menimbulkan ending yang nggak bisa ditebak, yang kemudian dikembalikan kepada penonton memandangnya seperti apa. Penonton suka kalau salah satu tokoh mati? Baiklah, anggap begitu. Atau lebih suka kalau tidak mati dan cerita masih ada kelanjutannya? Okey, saya sih lebih suka tidak terbunuh. Seperti cerita ini belum selesai. Ini hanya sepenggal kisah dunia, hanya secuplik cerita dari keseluruhan hidup seseorang.

Ah, saat melihat sendratari ini saya terlalu terpesona dengan semua gerakan tari-tarian di depan mata saya itu. Gerakan kaku tapi luwes tapi bertenaga milik penari laki-laki, atapun gerak lemah tapi gemulai tapi menahan tenaga oleh penari wanita, membuat saya bertanya-tanya, seperti apa rasanya belajar menari yang seumur hidup belum pernah saya lakukan. Terlepas dari itu, saya akhir-akhir ini juga suka akan intrumen tradisional gending jawa yang berpadu dengan alat musik kontemporer yang membuat sebuah harmoni yang terdengar energik tapi juga mistis, merasuk dalam pikiran saya, menyiram hati saya, dan membangkitkan memori ketika saya masih kanak-kanak dan menyaksikan kakek dan ayah saya ndalang di balai desa di desa kecil tempat saya tumbuh. Apalagi para penyanyi yang diiringi oleh intrument tradisional jawa, menyanyikan geguritan dengan bahasa ibu saya, yang saya mengerti tetapi tak saya mengerti, mengingatkan saya kepada hakikat diri saya sebagai seorang Jawa yang telah hilang Jawa-nya. Perasaan kagum, takjub, terhenyak, dan sedih bercampur dalam diri saya malam ini. Entah, saya jadi merasa terpanggil untuk menumbuhkan ke-Jawa-an saya.

Terlepas dari semua yang saya tulis di atas, malam ini bulan purnama terbit jingga, terasa mistis diantara awan abu-abu yang bergerak cepat sekelebat. Di sendratari ini, saya belajar hal lain selain menikmati sendratari. Ketika saya datang, saya dan teman saya memang dapat tempat di belakang, tapi masih bisa duduk. Di depan saya awalnya ada beberapa orang tetapi di pertengahan babag dari Kulon Progo, orang-orang mulai berkurang dan tersisa ruang kosong yang membuat saya leluasa menatap panggung. Di bawah depan kami, lebih tepatnya sebelah kanan depan teman saya, terdapat segerombolan anak muda yang tidak fokus nonton sendratari. Sepanjang pertunjukan Sleman sampai selesai mereka ngobrol asyik sekali, agak berisik, mengganggu saya yang meniatkan diri untuk beribadah menonton pertunjukan seni. Seorang dari gerombolan itu, malah sibuk mainan tablet yang cahayanya terang, mengganggu mata saya untuk melihat ke panggung. perlu diketahui, saat pertunjukan berlangsung lampu dimatikan kecuali di panggung. Jadi, cahaya tablet orang itu sungguh menganggu mata saya. Saya pikir, orang-orang ini salah fokus, bukannya nonton pertunjukan malah sibuk mainan tablet, lihat foto-foto lama, dan main game. Aneh sekali mengapa datang ke TBY dan berada di tempat ini.

Ketika pertunjukan dari Kulon Progo hendak dimulai, muncul 2 bule duduk di samping kiri saya yang kebetulan kosong, bule perempuan dan laki-laki. Entah dari negara mana, tapi mereka berdua berbicara dengan bahasa inggris yang samar-samar bisa saya dengar ketika jeda antar pertunjukan. Di tengah-tengah pertunjukan Kulon Progo itu, muncul sepasang kekasih akamsi (baca : anak kampung situ) penduduk setempat lah yang mengganggu pemandangan saya. Saya harus beringsut mlipir karena kepala mereka yang goyang goyang, sok-sokan kepala mau bersandar di pundak. Saya tidak iri, tapi ayolah! saya mau nonton pertunjukan di depan sana, kalau kepala mereka tak stabil bolah balik berdiri bersandar berdiri bersandar, saya kan jadi terganggu. Mau sandara ya silahkan, tapi ya sandaran aja terus, gitu aja galau. Yah, intinya, keberadaan mereka berdua di depan saya sungguh menganggu. Lalu, si perempuan mengeluarkan tabletnya, yang sekali lagi, cahayanya sungguh menganggu mata. Saya agak kesal juga. Dua bule di samping saya juga ikut ngrasani. Bule cewek itu berkata bahwa ia terganggu dengan cahaya lampu itu ke si bule cowok. Dia bilang, orang-orang sini kenapa ya, mereka terlalu bersemangat (too exciting) menonton sendratari gratis hingga foto-foto dokumentasi dan update status atau cuma mau sok-sok-an aja pamer di dunia maya. Untungnya si mbak depan saya itu segera menurunkan tabletnya sehingga cahayanya nggak mengganggu mata saya. Lalu, gerombolan di kanan depan masih sibuk berkutat dengan smartphone touch screen, BB, tablet, ah, sekalian saja laptop komputer kalkulator apalah itu. Dasar manusia gadget! Ah, foto di atas juga hasil dari manusia gadget karena saya tak membawa HP atau kamera untuk mengabadikan momen tadi. Hahaha.

Ada satu hal menarik lagi. Ada seorang anak aneh yang duduk di samping kanan teman saya. Anak aneh yang melihat ke orang-orang di kanan depan saya ketika mereka menggunakan gadget mereka. Anak itu terlihat gumunan. Sempat saya pikir anak itu kurang pikir alias agak tidak (maaf) waras. Penampilannya seperti anak-anak kampung kota biasa. Ia seperti memakai seragam sekolah batik biru dengan paduan celana biru SMP panjang dan tak beralas kaki. Saya tak mengindahkan anak itu yang mengerecoki teman saya karena saya sedang begitu khidmat melihat sendratari. Saat jeda, tahu lah saya dari teman saya, anak aneh itu siapa. Memang saya tak tahu namanya, tapi ia berasal dari Brebes, datang ke sini sendirian. Sendirian lhoh, anak kecil loh, umurnya paling belum 12 tahun loh, kau bisa bayangkan siapa anak ini? Ah, awalnya saya menduga jangan-jangan ia 'diambil' dari tempat tinggalnya dan 'di-drop' ke Jogja dalam sebuah sindikat pengamen dan pengemis. Tapi tak saya ambil pusing karena pertunjukan dimulai lagi. Pas selesai dan mau pulang, eh, saya lihat ke kanan anak itu tidur dan menghalangi jalan orang-orang. Ketika dibangunin, saya jadi agak kasihan. Anak itu, mengikuti teman saya sampai ke parkiran tempat kami parkir motor. Saya pikir ngapain sih anak aneh ini mengikuti kami, agak annoying saya rasa, tapi akhirnya ia mau pergi setelah diberi uang oleh teman saya. Ah, sepertinya sejak awal anak itu memang sengaja. Di jalan saya pikir betapa kasihan anak itu. Ia sepertinya telah lama mengemis, meninggalkan sekolah karena keluarganya tak punya uang, ibunya sepertinya menikah lagi dan sibuk dengan suami barunya dan tak mengurus anak itu. Anak itu mengemis dan mungkin secara bergantian naik kendaraan seperti bis dan akhirnya sampai di Jogja.

Tentang sendratarinya sendiri ada hal lain yang saya tangkap. Entah hal ini terpikirkan oleh orang lain atau tidak tetapi hal ini telintas dalam benak saya ketika melihat babag yang dimainkan oleh Gunungkidul. Dalam babag itu, si saudara the loner beserta pasukannya perlahan tapi pasti di serbu oleh seorang assasin. Assasin ini membunuh pengawal the loner satu-satu dan berniat membunuh the loner. Tapi the loner ini terlalu sakti dan akhirnya membuka cadar assasin tersebut. Ternyata assasin tersebut adalah seorang wanita dan yang mengagetkan lagi adalah istri dari saudaranya. Yah, meski sebenarnya saya tahu kalau assasin ini perempuan dan istri saudaranya lewat pakaian yang ia kenakan. Tapi tetap saja bagi saya ini menakjubkan, wanita mendapatkan porsi dalam peperangan laki-laki!

Peran wanita si istri saudara yang menjadi assasin dan bukan anak laki-laki si saudara malah membuat saya berpikir lain. Ketika di dua sendratari lainnya wanita digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut gemulai cantik dan anggun, di sendratari Gunungkidul ini wanita malah mendapat peran merangkap sebagai istri dan assasin. Sebenarnya mungkin cerita ini terlepas dari Gunungkidul sendiri. Tapi saya mengasosiasikan wanita yang ada di sendratari itu ya menggambarkan sosok wanita-wanita Gunungkidul. Sosok wanita yang meskipun lembut lemah gemulai cantik anggun dan bersahaja sebagai wanita yang ngayahi kewajibannya sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, yang wanita banget, pun juga dapat menjadi sosok yang nglaki-laki, yang kuat, pemberani, dan mampu berperang untuk apa yang ia yakini, yang digambarkan pada tokoh asassin. Menurut saya, benar atau tidaknya pemikiran saya ini, ini sungguh keren banget. Dan kalau pemikiran saya benar, akan lebih keren lagi. Terbukti lagi, ketika wanita asassin ini ketahuan jati dirinya, ia digepung oleh pengawal dan muncullah prajurit wanita yang tak kalah berani ikut memerangi pengawal itu. Yah, seperti yang saya bilang, para wanita Gunungkidul itu keren banget, wanita yang wanita tetapi juga nglaki-laki.


[ ]

No comments :

Post a Comment