#ESSAY / / / Skripsi itu F.I.K.S.I [!]

Friday, 31 January 2014


Di jurusan Arsitektur UGM, ada sebuah sistem yang sangat ribet hingga saya sendiri malas menerangkan kepada orang yang bertanya apakah sudah skripsi atau belum. Menjawab sudah atau belum pun tidak sesingkat itu, karena harus menjabarkan sistem pendidikan di Arsitektur UGM dari awal hingga akhir. Karena panjang, jadi saya singkat saja. Dua tahap yang ribet itu bernama Pra-Tugas Akhir dan Tugas Akhir. Yang pasti, Tugas Akhir baru bisa diambil setelah menuntaskan Laporan KP hingga dikumpulkan ke Perpus dan sudah menyelesaikan semua mata kuliah teori. Kalau di kampus lain mungkin harus dibuktikan dengan surat bebas teori. Tugas Akhir ditempuh setelah menyelesaikan dan dinyatakan lulus di pra-Tugas Akhir. Tahap ribet Tugas Akhir dibagi menjadi 2 yaitu Transformasi Desain dan Pengembangan Desain, full-time studio dari senin sampai sabtu (ingat, senin sampai sabtu) dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore (waktu menyesuaikan). Sistem ribet ini, mulai dari Pra-TA, TD, PD, ini kira-kira berlangsung 10 bulan. Yah, belum terhitung dengan molor gara-gara nggak cocok dengan dosen, yang belum sreg sama konsep, atau yang belum selesai meski di kasih perpanjangan waktu, revisi-revisi-revisi yang tiada ujung, dll. Biasanya, tahap Pra-TA ini dianggap nyusun Skripsi-nya anak Arsitektur UGM karena memang menulis menulis dan menulis. Setelah menulis-menulis-menulis ini selesai, 'Sudah mau wisuda dong?', Tidak! Kami jauh dari itu, masih ada tahap lain yang menanti.

One does not simply to pass undergraduate program in Architecture Department, UGM.

*

skrip·si n karangan ilmiah yg wajib ditulis oleh mahasiswa sbg bagian dr persyaratan akhir pendidikan akademisnya
fik·si n 1 Sas cerita rekaan (roman, novel, dsb); 2 rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan: nama Menak Moncer adalah nama tokoh -- , bukan tokoh sejarah; 3 pernyataan yg hanya berdasarkan khayalan atau pikiran
(sumber : KBBI Online)

*

Kalau di jurusan lain, skripsi itu sangat terbantu ketika seorang mahasiswa dekat dengan dosen dan ditawari untuk membantu penelitian sang dosen. Karena, biasanya, meski tidak berbayar dengan uang, sang dosen memberikan data-data penelitiannya itu untuk dijadikan skripsi bagi si mahasiswa, yang tentunya dengan rumusan masalah yang berbeda. Kalau di Arsitektur UGM, tidak. Semua itu tidak berlaku.

Langkah awal adalah menentukan bangunan apa yang mau dibuat. Biasanya, biar bergengsi sedikit bikin bangunan yang belum pernah dibikin tugas akhir, atau yang kayaknya keren banget gitu. Contohnya teman saya ada yang mau bikin penjara vertikal, tapi nggak tahu kenapa di akhir-akhir diubah deh menjadi penjara horizontal. Jadi, judul itu krusial. Karena dari judul semua ditentukan. Mulai dari dosen yang milih kita, atau yang diacak sesuai kapasitasnya kira-kira bisa membimbing atau tidak, hingga kelangsungan hidup Tugas Akhir selama (kalau memang cepat dan lancar) ya 10 bulan itu. Yang penting adalah senang terhadap jenis bangunan itu. Ini sangat berpengaruh dalam proses pengerjaan ke depannya. Perihal dosen, dapat yang enak dan memudahkan, itu hanya sebuah bonus saja. Ah, tapi saya tidak akan membahas ini, tapi mengenai seberapa ilmiahkah atau seberapa fiksikah pra-tugas akhir anak arsitektur UGM itu.

*

Mengapa dinamakan skripsi, karena memang dalam penyusunannya dilakukanlah sebuah proses semacam penelitian yang menjadikan hasilnya itu dapat disimpulkan melalui metode-metode ilmiah. Ilmiah di sini bukan seperti percobaan-percobaan kimia fisika biologi, tetapi, melalui metode-metode penelitian yang sesuai dengan keilmuannya. Misalnya yang jurusan fisika ya dengan metode penelitian fisika, yang jurusan pendidikan ya dengan metode penelitian pendidikan, tergantung kepada subjek yang diteliti.

Nah, kalau pra-TA arsitektur?

Saya kira tidak dapat dimasukkan dalam kategori skripsi karena pra-TA itu bukan hasil dari sebuah penelitian. Pra-TA itu tahap dimana mahasiswa arsitektur menuliskan latar belakang pemilihan judul, kasus, dan tipologi bangunan yang ingin diangkat dan dijadikan Tugas Akhir, yang disertai dengan teori-teori terkait tipologi dan pendekatan bangunan yang hendak di rancang di tahap selanjutnya, dan yang paling penting dan jadi gong, adalah konsep dari bangunan yang mau dirancang. Disusun tanpa melakukan sebuah penelitian yang menggunakan metode-metode ilmiah seperti yang kebanyakan jurusan lainnya lakukan. (Lagipula, selama ini tak ada mata kuliah yang menjurus pada metode penelitian)

Kalau dilihat lagi dengan rujukan arti kata fiksi dari KBBI, maka kalau menurut saya, pra-TA itu mungkin 80%-nya itu adalah fiksi. Dan saya mengalaminya sendiri sampai kemarin pertengahan Januari. Karena memang pra-TA itu adalah sebuah landasan konseptual untuk perancangan Tugas Akhir. Dan itu berarti memang konseptual yang dalam artian memang berasal dari pemikiran si penulis sendiri plus diserta gambar-gambar ilustrasi. Beberapa orang yang saya temui dan saya bilang saya baca lho, pra-TAmu, dia bilang bahwa itu adalah tulisan paling abal. Karena percayalah, beberapa orang mengerjakan itu dalam waktu singkat, beberapa hari, seminggu dua minggu saja.

Dan, meski menguras pikiran hingga waktu itu saya tak napsu makan (ini lebay tapi benar terjadi pada saya, karena takut tak selesai tepat waktu, hehe :p ), menulisnya benar-benar seperti menulis sebuah cerita! Seriously! Coba kamu tanya orang-orang yang sudah melampaui pra-TA. Entah mengapa saya jadi ingat episode Spongebob yang mendapat PR untuk menuliskan 'Apa yang Tidak Boleh Kau Lakukan di Lampu Merah'. Dan, memang pada akhirnya, saya rasa, bab terakhir yang berisi konsep itu memang dapat kau isi apapun. Apapun! Bahkah khayalan terliarmu sekalipun. Ingat lhoh, ini hanya landasan pemikiran. Dan toh, meski memepertimbangkan keterbangunan suatu bangunan yang kau desain, bukankan sekarang teknologi itu sudah berkembang sekali. Dan bangunanmu yang kau rencanakan itu adalah sebuah fiksi, sebuah hayalan konseptual yang berdasarkan pada deep thinking selama, yah, kurang lebih 2-3 bulan belakangan. (Tapi ada sih, yang membutuhkan saktu lebih dari itu).

Ngomong-ngomong soal Fiksi, saya rasa, pra-TA saya benar-benar 99% fiksi. (Karena, memang sepertinya Museum Hutan itu belum pernah ada yang bikin dan selama ini ada di imajinasi saya saja.) Bagi saya, porsi Bab 1 Latar Belakang, Bab 2 Teori, dan Bab 3 Analisa Site itu sedikit sekali, semacam hanya Prolog untuk menghantarkan pembaca ke dalam sebuah narasi cerita. Yang paling penting adalah Bab Pendekatan dan Bab Konsep. Isinya (yang kemarin saya tulis) itu lebih mirip seperti essay (yang Bab Konsep malah seperti sedang bikin cerita bergambar, hehehe..). Saya belum akan cerita di sini, tapi nanti kalau sudah dijilid dan di kumpulkan ke perpus Arsitektur UGM, bisa di baca ditempat dan dinikmati dengan senyum-senyum.

Kenapa saya katakan Fiksi juga dalam kaitan bagaimana kita menulis sebuah tulisan yang dapat membuat pembaca mengikuti si alur cerita. Eit, jangan salah lho, menulis karya tulis itu mirip menulis fiksi. Kalau saya bilang, ini penting sekali. Karena saya pribadi sudah malas kalau harus membaca karya tulis ilmiah. Nah, bagaimana caranya membuat orang tak bosan membaca laporan yang tebalnya biasanya 60 lembar lebih itu? Ya, satu-satunya jalan adalah membuat alur cerita yang menarik dari laporan itu. Kalau bisa menghanyutkan pembaca sampai pada klimaks cerita di bab 5, Konsep. Beberapa referensi saya mengenai gaya tulisan pra-TA malah menyediakan konflik yang bertentangan di setiap Bab. (Waktu itu saya melihat pra-TA dari anak Arsitektur UGM 2006, Stephanus Ivan Theodorus Suhendra). Keren gitu jatuhnya. Semacam timbul pertanyaan, sebenarnya, mau dibawa kemanakah tulisan ini. (Padalah orangnya sendiri bilang pra-TA-nya abal dan gagal)

Ah, tapi, meski menurut saya pra-TA itu fiksi, masih tak bisa masuk dalam jajaran karya sastra. Yah, kembali lagi ke isinya yang biasanya abal banget. Nanti kalau kamu menulis pra-TA, juga akan tahu sendiri seberapa fiksi isinya. Jadi ingat Spongebob yang pada akhirnya menulis ngasal banget di PR 'Apa yang Tidak Boleh Kau Lakukan di Lampu Merah'. Kalau dipikir-pikir, yang ditulis Spongebob itu ada benarnya juga karena memang tak boleh dilakukan. Aduh, ngelantur. Eh, tapi kalau dipikir-pikir, tulisan ini juga bisa dimasukkan dalam kategori fiksi.


[ ]


#ARCHITECTURE / / / Architect[ure] and F.A.M.E

Wednesday, 15 January 2014

Sebenarnya sudah lama banget saya pengen nulis ini tentang Architect[ure] and Fame, tentang Arsitekt[ur] dan Popularitas. Karena satu dan banyak hal, akhirnya baru sempat saya tuangkan sekarang. Yah, ini hanya sebuah opini saya saja lho, bukan berarti saya anti-pati terhadap popularitas atau orang yang besar karena popularitas. Bukan, tapi saya hanya ingin menuangkan sedikit pikiran saya.

*
fame /feɪm/ [U] the state of being known by many people.   
Origin : Middle English (also in the sense 'reputation', which survives in house of ill fame): via Old French from Latin fama.

famous /ˈfeɪməs/ adj known about by many people. 
Origin : late Middle English: from Old French fameus, from Latin famosus

popular
 /ˈpɒpjʊlə(r)adj 1. liked or admired by many people or by a particular person or group,
2. [attributive] (of cultural activities or products) intended for or suited to the taste, understanding, or means of the general public rather than specialists or intellectuals, 3. [attributive] (of political activity) carried on by the people as a whole rather than restricted to politicians or political parties
Origin : late Middle English (in the sense 'prevalent among the general public'): from Latin popularis, from populus 'people'


Kamus Besar Bahasa Indonesia
terkenal :  v dikenal atau diketahui umum; termasyhur; tersohor: kemanjuran obat ini telah ~ di seluruh dunia

populer 1 dikenal dan disukai orang banyak (umum): lagu-lagu --; sesuai dng kebutuhan masyarakat pd umumnya; mudah dipahami orang banyak: ilmu pengetahuan --; 3 disukai dan dikagumi orang banyak: pahlawan yg --;


**

Sebenarnya, dua kata yang berkaitan diatas, famous and popular, atau terkenal dan populer memang semakna tetapi memiliki arti yang berbeda. Dari http://english.stackexchange.com, dijelaskan bahwa perbedaan kedua kata tersebut adalah pada intensitasnya. ".... popular may mean "famous, but not quite enough to be called famous".....". Jika famous lebih berarti well-known, maka popular berarti well-liked.

*

Arsitek[tur] dan Popularitas.

Saya selalu bertanya-tanya, mengapa arsitektur sangat berkaitan dengan popularitas? Mengapa banyak arsitek-arsitek luar negeri yang berusaha mem-branding dirinya besar-besaran? Mengapa para arsitek itu sampai membikin video diri mereka sendiri dan mengunggahnya ke channel youtube? Di Indonesia sendiri, iklan-iklan televisi pernah beberapa kali menayangkan sesosok arsitek yang cukup terkenal yang ngiklan merk tertentu. Di saluran tivi swasta juga kadang-kadang tiap hari minggu jam 10-an siang ada yang menayangkan mengenai bincang-bincang mengenai real estate yang ternyata sarana iklan juga. Di Facebook, mahasiwa arsitektur yang gencar bersayembara (motifnya karena mengincar hadiah uang yang lumayan banyak dan [bisa jadi] juga popularitas mendadak) sering sekali menge-post foto dirinya membawa tulisan menang (biasanya juga disertai link mengenai karya yang membuat mereka menang). Bahkan, yang sudah ngarsitek juga ikut-ikutan posting karya terbaru mereka (biasanya renderan atau foto in-progress). 

Yang jadi pertanyaan saya, apa yang orang-orang tersebut harapkan dari keterkenalan mereka (being famous, and popularize by the media) ? Mungkin kamu melihat saya sebagai orang yang iri, atau syirik terhadap mereka karena saya tidak mampu seperti mereka. Bukannya berkarya dengan baik, malah mencemooh mereka seperti ini. Tidak, bukan begitu. Ini bukan sebuah cemoohan. Ini hanya opini saya mengenai pupularitas. Yah, tapi terserah sih.

Balik lagi ke topik. Saat ini, baik di dunia maupun di Indonesia, bagi saya, arsitek sudah menjadi artis. [artist /ˈɑːtɪst/ n [with modifier] informal a person who habitually practices a specified reprehensible activity.]  Artis di sini dikembalikan ke makna aslinya yang berarti pekerja seni. Termasuk makna artis yang sudah mengalami penyempitan makna menjadi ahli seni; seniman, seniwati (spt penyanyi, pemain film, pelukis, pemain drama), yang dipersempit lagi menjadi orang yang sering nampang di media terutama televisi.

Pengandaian arsitek itu artis bisa diterjemahkan ke dalam arti paling harafiah. Artis itu makin sering muncul di media, baik itu karena prestasinya atau karena sensasinya, akan makin terkenal. Semakin terkenal itu berarti akan membuat tawaran banyak berdatangan. Entah yang diwawancarai di acara buka-buka rahasia di stasiun televisi, dijadiin bintang iklan, main di film, atau jadi pemain sinetron. Yang pasti semakin terkenal semakin banyak  job berdatangan. Makanya, banyak artis yang cari sensasi. Dan menurut saya hal ini relevan dengan yang arsitek sekarang lakukan.

Sudah jadi rahasia umum, kalau di dunia arsitektur pamor itu penting. Begini contoh mudahnya. Dari mahasiswa, kebiasaan untuk self-branding sudah dimulai. Seorang mahasiswa yang rajin akan disukai dosen. Ia akan jadi dekat dengan dosen. Dan, suatu ketika akan direkrut untuk ikut proyek dosen. Dari proyek-proyek itu ia akan mendapat banyak keuntungan selain uang saku dan juga pamor. Contoh lainnya, kamu adalah seorang mahasiswa arsitektur. Lalu om atau tantemu ingin bikin rumah atau toko. Kamu yang akan diminta untuk mendesainkan. Lalu om atau tantemu itu akan mempromosikanmu kepada kenalannya. Kenalannya akan mengkontakmu untuk meminta di desain. Kenalannya itu kemudian mempromosikanmu kepada kenalannya yang lain. Begitulah seterusnya mitos popularitas di arsitektur mulai tercipta. Contoh lain di tempat kerjaan. Survey membuktikan bahwa mahasiswa arsitektur fresh graduate akan lebih mudah masuk ke sebuah biro apabila punya kenalan yang kerja di biro itu.


Architecture [is] fame. inevitable. 

Mindset ini yang kini banyak berkembang di mahasiswa arsitektur jaman sekarang. Bahkan sampai ada buku judulnya An Architect's Guide to Fame! Teman saya saja yang diluar arsitektur yang saya ceritakan mengenai hal ini berkata bahwa betapa mudahnya mendapatkan kerja bagi mahasiswa arsitektur, tinggal kontak alumni saja katanya. Entah itu sebuah pujian atau sebuah sarkasme?

Sebenarnya, manakah yang lebih penting diantara self-branding atau karya yang orisinil dan diterima oleh masyarakat luas ? Ingat, di sini self-branding berarti si arsitek menjadi terkenal, being famous, dan belum tentu karyanya diterima di masyarakat. Begini, menjadi terkenal bisa karena sensasi bisa karena prestasi. Contoh yang kemarin ini adalah mengenai MVRDV yang mau membangun bangunan di Jakarta. Nah, dia jelas-jelas ceri sensasi saja karena dari awal tak ada rencana pemerintah Indonesia mengontak MVRDV untuk membangun bangunan seperti itu di Jakarta. Sedang untuk konteks karya yang orisinil dan diterima di masyarakat berarti karyanya yang populer. Di sini lebih ditekankan kepada penggalian karya yang dilakukan terus menerus tanpa memandang apakah akan jadi terkenal atau tidak.

[ ]

#JALAN-JALAN / / / Museum Sangiran

Tuesday, 14 January 2014

zRasanya sudah lama sekali saya tak posting mengenai kegiatan jalan-jalan. Lalu ketika buka album lama saya nemu foto-foto lama dan memang dulu belum sempat saya ceritakan disini. Kan sekalian saya dokumentasikan ke intenet kalau-kalau foto-nya saya hapus dari laptop saya. Ah, lupakan. Yang pasti kali ini saya mau cerita mengenai pengalaman saya jalan-jalan ke Sangiran.

*

Suatu ketika saat semester lalu, pas awal-awal mengerjakan Studia Tematik 1 saya yang temanya adalah Museum Paleoantropologi dan Biologi, ada rencana untuk melakukan perjalanan ke Sangiran. Saya nggak adakan cerita bagaiama ribetnya ngurusin 8 orang yang mau berangkat ke Sangiran ini, 7 orang mahasiswa dan seorang dosen. Yang pasti, akhirnya setelah berangkat kira-kira pukul 8 pagi itu, kita akhirnya sampai juga di Sangiran kira-kira jam 11-an. Sampai di sana langsung menuju ke bagian administrasi karena memang tujuannya adalah survey museum. Karena membawa nama UGM, akhirnya langsung dipersilahkan dengan baik. Malah, diberi tour guide oleh pegawainya di sana.

Tour itu dimulai dengan melihat film animasi mengenai kompleks Sangiran. Jadi intinya begini. Sangiran adalah salah satu situr purbakala terbesar di Indonesia, selain di Trinil, Ngandong, dll. Sangiran terletak di kabupaten Sragen Jawa Tengah, di kaki Gunung Lawu. Pada tahun 1996 tercatat sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Disebut situs purbakala karena di sana banyak ditemukan fosil-fosil manusia purba dan binatang purba lainnya.

Jadi dulu ketika Bengawan Solo masih mengalir ke selatan karena daratan di Jawa miring ke selatan, manusia purba hidup di wilayah ini. Selama beratus tahun manusia purba dari berbagai spesies tinggal di sini. Mulai dari Meganthropus palaeojavanicus hingga Homo Erectus. Manusia-manusia purba itu dikatakan kemudian punah karena berbagai hal seperti bencana letusan Gunung Lawu, dll. Selama beratus-ratus tahun tertutup oleh tanah yang terus mengendap hingga berbagai lapisan tanah. Lalu ketika terjadi pengangkatan bagian sebelah selatan Jawa karena lempeng benua Australia yang mendesak ke utara, timbullah patahan tanah yang menciptakan perbukitan-perbukitan. Bukit tersebut lalu terkena erosi. Menyebabkan tersingkapnya beberapa lapisan tanah di bukit tersebut. Lalu, fosil-fosil yang terkubur lama tersebut mulai menampakkan diri.

Sebenarnya kegiatan penggalian di situs Sangiran telah berlangsung lama, sejak zaman kolonial. Antropolog luar yang melakukan ekskavasi di situs ini adalah von Koenigswald. Dibantu oleh penduduk setempat, ia berhasil menemukan berbagai fosil manusia purba dari berbagai zaman dan juga hewan-hewan purba, yang kebanyakan adalah vertebrata. Di Museum Purbakala Sangiran, yang terletak di wilayah ini juga, dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar dua juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Yang tertua adalah formasi "kalibeng" formasi ini diperkirakan berumur 3 juta - 1,8 juta tahun yang lalu. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak (hominid) yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat dipamerkan fosil berbagai hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut, serta alat-alat batu. (sumber wikipedia.com)

Nah, begitulah sejarah singkat Sangiran. Setelah menonton film berdurasi setengah jam itu, kami diantar keliling-keliling oleh seorang pegawai Sangiran. Hari itu lumayan sepi (atau memang seringnya sepi ?), jadi rasanya lebih leluasan untuk mengamati dan menfoto benda pajangan.







Pada dasarnya koleksi di Sangiran dibagi menjadi 3 bagian. Yaitu adalah Fosil-fosil temuan terbaru, Sejarah Sangiran, dan Kejayaan Manusia Purba. Di awal-awal diorama terdapat fosil-fosil temuan terbaru yang dipajang dengan tata lampu yang bagus. Di diorama kedua diterangkan mengenai sejaran Sangiran mulai dari bagaimana terbentuknya Sangiran, geologi tanah Sangira, ekskavasi Sanggiran dengan menggunakan media yang interaktif dan menarik. Di bagian yang terakhir, ada sebuah diorama yang sangat luas, mungkin seluas panggung atas TBY yang di dalamnya ada diorama sepanjang (mungkin ada kali) 15 meter, di dalamnya terdapat tiruan manusia purba lengkap dengan tiruan habitat asli di masanya dulu. Di diorama ini juga terdapat 2 replika manusia purba yang didatangkan (kalau tidak salah) dari Perancis. Merupakan karya dari seorang arkeolog yang membuat replika Manusia Purba semirip mungkin.















Setelah jalan-jalan itu, kami kembali ke kantor administrasi untuk bertemu dengan pimpinan Museum Sangiran dan melakukan dialog. Diakhir dialog itu kami diperbolehkan untuk masuk ke laboratorium yang dipakai untuk memproses fosil-fosil temuan terbaru dari masyarkat setempat. Setelah itu, dapat pula 3 buku tentang Manusia Purba dan Sangiran. Bukunya keren banget. Sayangnya, buku itu tentu diberikan kepada bapak dosen kami.








Lalu setelahnya kami pulang dan mampir ke Solo dulu. Di Solo mampir ke kawasan nol KMnya Solo untuk liat bangunan BI Solo yang Baru. Katanya yang dibangun adalah hasil dari sayembaran yang dimenangkan oleh Han Awal. Wooow.



 




Dan, berakhir sudahlah perjalanan hari itu. Menyenangkan sekali karena bisa datang ke Sangiran, pakai duit kampus pula! Oke, sampai jumpa lain kesempatan jalan-jalan saya.
[ ]

#FIKSI / / / Jatuh Cinta-lah

Tuesday, 7 January 2014

Akhir pekan, seperti biasa kita berempat berjanji untuk bertemu di Semesta. Sudah pukul 8 dan kalian bertiga, seperti biasa, belum juga datang. Aku keburu lapar hingga memesan nasi goreng duluan malam itu. Aku harus mampir Burjo sebelum pulang. Sambil buru-buru menyelesaikan porsi nasi goreng yang kurang, aku akhirnya terdistraksi oleh orang-orang yang bergerombol ngobrol di berbagai sudut cafe. Sepasang lawan jenis di meja sebelah membuatku iri. Memang nasib, menjomblo di akhir masa kuliah itu sulit.

Akhinya di suapan yang terakhir kau dan Abi datang bersamaan. Selalu. Memang, diantara kita berempat, kau memang paling dekat dengan Abi sejak dulu, padahal aku yang lebih dulu mengenalmu.

"Hei, Bim, udah dari tadi banget?" tanyamu sambil mengendik ke arah piringku yang sudah kosong. kau duduk di hadapanku, di seberang mejaku. Senyumanmu seakan mengejekku. Aku mendengus kesal sambil menyingkirkan piring yang diambil oleh waiters yang kebetulan lewat.

"Mau pesan apa, mbak, mas?" tanya petugas berkemeja putih klimis berjelanan hitam licin habis disetrika itu kepadamu dan Abi yang baru datang.

"Hot chocholate sama spagetinya satu. Kau apa Bi?" tanyamu kepada Abi.

"Kopi Semesta satu sama kentang goreng special." jawab Abi dengan sebatang rokok putih terselip di bibirnya.

"Oke, saya ulanggi pesanannya ya, Hot chocholate, spageti, Kopi Semesta, dan kentang goreng specialnya masing-masing satu, ya. Mohon langsung bayar di kasir ya, mbak, mas."

"Oke mas, jangan lama-lama ya." kata Abi bercanda. Ia sibuk mencari korek api. Lalu kau dengan cekatan mengambil lighter dari kantong tasmu dan menyalakannya untuk Abi.

"Aku baru tahu kalau sekarnag kamu ngrokok" kata Abi singkat. Asap rokok mulai mengepul dari hidung dan bibir Abi.

"Sialan, emang kalau bawa lighter pasti ngrokok?!" protesmu bersungut-sungut kesal. Abi hanya mendengus menahan tawa.

Aku mengetuk-ngetukkan jariku ke meja, tak sabar menunggu seorang lagi. Ada sedikit rasa gatal ingin merokok. Kau sepertinya menangkap gelagatku.

"Ya udah sih, Bim, ngrokok aja. I don't mind. Mumpung Ria belum datang." ujarmu sambil mengangsurkan lightermu.

Abi meletakkan bungkus rokoknya di atas meja yang kemudian ku sambar dan mengambilnya satu. Dalam sekali tarikan napas, nikotin terbakar itu memasuki paru-paruku dan membuatku lebih rileks. Batuk-batuk kecilmu membuyarkanku dari kenikmatan sejenak yang tadi kurasakan.

"Sorry, sorry! Asapnya kena kamu ya, Za. Maaf ya!" kataku panik sambil menggapai-gapai asap rokok yang tersisa di sekitarmu. Tapi kau malah tertawa sambil batuk-batuk kecil.

"Meski sudah lama bareng kalian aku masih belum terbiasa menghirup asap rokok."

Belum sempat aku menanggapi, Ria datang menginterupsi.

"Sorry guys, telat banget ya. Tapi teleponan dulu sama yayang." kata Ria dengan nada centil yang diakhiri dengan kikikan tawa yang terdengat aneh. Aku mengernyit tapi sepertinya dia tak peduli dan duduk di kursi di samping ku, menggenapi lingkaran kami berempat dengan meja sebagai pusatnya.

Dan, dimulailah rutinitas akhir pekan kami berempat. Menjadi satu-satunya sekelompok sahabat sejak SMA yang sama-sama sedang merantau untuk menuntut ilmu, kami sering berkumpul untuk menjalin tali silaturahmi dan juga ajang untuk bertukar kabar. Yang dibahas biasanya seputar kampus karena memang kami tidak jadi satu jurusan. Aku dan Abi memang satu Fakultas tapi beda jurusan dengan Ria dan Oza jadi memang jarang sekali bertemu satu sama lain meski di kampus yang sama. kalau perihal kampus selesai di bahas, pasti akan masuk fase dimana kami akan menginterogasi Ria dan bagaimana hubungannya dengan sahabat kami yang lain. Mereka memang sedang LDRan, jadian selepas kelulusan SMA, sempat menggemparkan anak-anak sekelas karena sungguh tak terduga. Kalau Ria sudah selesai, pasti akan menginterogasi Abi dan cewek-cewek yang menjadi korbannya. Abi memang terkenal. Meski nggak keren-keren amat atau ganteng-ganteng amat (bahkan aku lebih ganteng daripada dia!), cukup banyak cewek-cewek yang klepek-klepek karena memang Abi pandai mendapatkan hati cewek-cewek. Entah ia berguru kepada siapa, tapi memang sejak SMA ia terkenal dekat dengan beberapa it's girls type di SMA.

"Ah, bosen deh, aku sama Abi mulu yang cerita soal kisah cinta kami." kata Ria lalu mengambil kentang goreng dan mencocolnya ke sambal tomat. Aku sebenarnya sedikit geli dengan pemilihan kata 'kisah cinta' yang dipakai Ria. Entah mengapa dalam bayanganku yang muncul itu malah adegan-adegan film India dimana si cowok bintang utama mengejar cewek bintang utama di tengah padang bunga, lalu mereka nyanyi-nyanyi dibawah rinai hujan, lalu di cowok menangkap selendang sari si cewek yang berkibar terbawa angin, lalu si cewek itu berhenti berlari lalu si cowok itu menarik si cewek itu ... Tawamu memecah imajinasiku, membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sepertinya aku terlalu berlebihan.

"Memang kenapa si, Ri?" tanyamu dengan nada geli. Aku melirik Abi yang terdiam menyimak dengan ekspresi serius dan, tunggu, penasaran ?

"Ya, kan aku pengen gitu, sekali-kali mendengerkan ceritamu soal cowok. Aku pengen liat seperti apa ketika kamu jatuh cinta sama orang lain, Za." kata Ria gemas.

Kau kembali tertawa lepas. Ekspresi tertawa memang cocok untukmu.

"Memangnya aku sedang tidak jatuh cinta?" tanyamu dengan nada jahiil. Alis kirimu terangkat satu senti. Ah, aku suka ekspresi jahilmu itu. Entah sejak kapan.

"Mana ada orang yang lagi jatuh cinta kaya kau ini!" protes Ria yang kau dan Abi sambut dengan tawa.

"Hei, mending nanggap Bimo aja tuh daripada memojokanku." ujarmu sambil menatapku jahil. Aku gelagapan ditatap seperti itu olehmu.

"Heh, apaan sih, Za!?" protesku kepadamu senatural mungkin. Aku tak mau terlihat mencurigakan di depan kalian semua.

"Ah, Bimo itu nggak asyik. Dan dia tuh bakalan masih dalam keadaan jomblo dalam waktu lama. Jadi nggak ada bahan buat menginterogasi dia!" kata Ria meyakinkan.

"Sialan banget sih! Jomblo dalam waktu lama apaan. Gini-gini banyak yang bilang aku keren loh." protesku kepada Ria. Dan kau tertawa puas melihatku yang berusaha sekuat tenaga bersikap biasa.

"Cukstau deh, Bim." kata Abi sambil mesem dan menyeruput kopinya. Yah, Abi memang tahu segalanya.  Ya, ia tahu aku suka padamu sejak lama.


**

"Si Oza kenapa sih nggak jadi bisa ikut ngumpul bareng kita bertiga?" tanya Ria saat kami berkumpul di parkiran sekaten Alun-Alun Lor.

"Dia ada acara sama temen-temen kampusnya." kata Abi terdengar dewasa ketika kami bertiga berjalan dari parkiran ke area pasar malam. Ria kemudian tak banyak bertanya dan protes kepada Abi karena ia mulai terdistraksi dengan berbagai jajanan yang dijual di pasar malam. Sedang aku, kali ini aku menjadi sosok yang pendiam. Untungnya, kecerewetan Ria mengisi kekosongan yang kamu ciptakan karena tak datang di acara mingguan kita.

"Eh, naik kora-kora yuk yuk!" kata Ria semangat banget sambil menarik lenganku dan Abi. Pasar malam cukup ramai, meski begitu berkas Ria yang menggandeng kami, kami bisa dengan cepat menyelip diantara orang-orang dan mulai mengantri di urutan ke 5 untuk bisa naik kora-kora.

Abi mulai merokok karena bosan menunggu. Aku mengeluarkan rokokku lalu ikut-ikutan merokok. Ria cemberut melihat kami berdua merokok. Ia memang tak suka ketika kami merokok di depannya. Seperti biasa, ia mulai berceloteh mengenai bagaimana efek rokok terhadap organ tubuh. Aku dan Abi hanya mengiyakan tanpa menghentikannya yang mengeluarkan seluruh kemampuan kedokterannya.

Aku baru saja menghisap rokokku dalam hisapan yang dalam ketika aku melihatmu diantara kerumunan orang-orang. Tak salah lagi, itu kamu. Memang dirimu. Aku mematung di tempatku.

Kamu sedang berdiri diantara gerombolan anak kampusmu mungkin ? Kalian sedang mengantri untuk membeli permen kapas. Kau sedang berbicara kepada seseorang. Seorang laki-laki yang tinggi. Kamu terlihat hanya sebahunya, terlihat kecil sekali. Dari caramu mengobrol, dari gestur tubuhmu, dari tatapan matamu, dari caramu tertawa, aku merasa, kau ada sesuatu dengannya. Mungkinkah ia adalah orang yang saat ini sedang kau sukai? Aku menghisap rokokku lalu mengeluarkan dalam hembusan panjang, masih tak melepaskan pandanganku darimu, dari kau dan laki-laki itu, dari rombonganmu.

"Hei, itu kan, Oza. Iya kan?" tiba-tiba Ria menyeletuk. Aku masih bergeming tak menjawab.

"Oh, jadi dia pergi ke Sekaten bareng anak kampusnya. Eh, dia lagi ngobrol sama cowok. Siapa ya? Jangan-jangan! Kita samperin yuk?" kata Ria.

Entah mengapa tanpa pikir panjang aku memegangi tangan Ria, mencekalnya untuk menghampirimu.

"Bi, Bim, kok kalian kompak banget sih mencegatku!" protes Ria heran.

Aku menoleh. Dan ternyata Abi juga mencekal Ria.

"Jangan. Kau tahu Oza itu seperti apa kan. Kalau dia tidak bercerita berarti memang tak ada apa-apa. Besok kalau sudah jelas pasti dia mau cerita." kata Abi terdengar dewasa.

Aku menatap Abi. Abi menatapku dengan tatapan prihatin, seolah berkata "Sorry to say. But I know that feel bro."

Lalu aku jadi ingat sepenggal kalimatmu yang kau katakan seminggu lalu.


"Memangnya aku sedang tidak jatuh cinta?" 

#FIKSI / / / 30 Hari Janji Bertemu

Friday, 3 January 2014

Pukul setengah 7, pameran resmi dibuka. Ramai sekali. Tapi aku tak melihat sosokmu diantara orang-orang yang berkerumun di depan karya-karya pameran. Seorang turis asing bersama pemandu pameran menghampiriku dan bertanya mengenai lukisan-lukisan yang kuikutsertakan dalam pameran ini. Sambil menerangkan dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, sesekali aku mengerling arah pintu masuk, tetapi lagi-lagi aku tak menemukanmu. Sedikit gugup, aku mengakhiri penjelasanku itu dengan senyum terbaikku. Turis itu menyalami menyelamati. Mungkin, ia menyukai karyaku.

Hampir dua jam aku menunggumu, tapi kau tak juga muncul. Email undanganku sudah kau balas pula. Kalau sempat. Ya, kalau sempat katamu. Aku menghela napas sambil menatap para pengunjung yang lalu lalang keluar masuk ruang pameran. Masihkah kau tak mau bertemu denganku ?

*

Aku masih jadi mahasiswa semester 5 ketika temanku mengajakku datang ke pertunjukan teatermu yang diadakan di TBY. Temannya temanku itu adalah temanmu. Selepas pertunjukan sendratari yang membuatku jatuh cinta pada keluwesan gerak tarimu, kita bertemu, berkenalan dalam jabat tangan sekejap tapi mampu membuat kembang api di dalam dadaku. Ini, baru pertama kalinya. Selama ini aku tak percaya tentang cinta pada pandangan pertama. Terlalu klise. Bagaimana bisa seseorang jatuh cinta pada orang asing yang tak ia kenal sebelumnya? Takdir baru akan dimulai pada pertemuan kedua! Tapi malam itu, takdir berkerja lebih cepat dari biasanya.

*

Setiap hari aku datang ke pameran. Terus menerus berada di ruang pameran sampai aku bosan dan hafal dengan seluruh karya yang ada. Aku hanya sesekali keluar untuk merokok. Itu pun hanya di sebuah kedai kecil di dekat parkiran yang tak jauh dari pintu masuk. Tapi kau tetap tak datang. Ini sudah hari ke-23 pameran. Dan aku seperti orang bodoh yang terus mengharapkanmu sekedar datang ke pameran nasional pertamaku ini!

*

Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Maksudku dengan benar-benar di sini adalah karena aku belum pernah merasakan yang seperti ini. Setiap ada kesempatan, aku selalu pergi ke jurusan Tari untuk mencarimu. Ah iya, aku baru tahu dari temannya temanku itu kalau kau juga ikut bengkel teater di luar rutinitas kampus. Berkat dia, si temanmu yang temannya temanku itu, aku berhasil tahu jadwal pentasmu tiap jum'at malam dan minggu malam.

Aku seperti orang gila. Pontang panting aku pasti datang ke pentasmu hingga melupakan tugas-tugas kampus. Ah, tapi aku memang bukan anak rajin. Tidak berangkat kuliah dan tak mengumpulkan beberapa tugas kuliah teori sudah biasa bagiku. Tapi berkat kesungguhanku itu, hatimu pun luluh ketika aku datang ke pentasmu di TBY saat festival sendratari Yogyakarta sambil membawakan rangkaian bunga krisan putih kesukaanmu itu.

*

Hari ke-25 pameran, dan aku masih belum melihatmu datang. Tak ada kabar darimu. Aku terus bergeming tak menghubungimu lagi. Aku sudah berjanji padamu, dulu sekali. Bahwa aku akan menunggu, dan membuktikan padamu, bahwa aku sekarang telah berubah, seperti permintaanmu dulu.

*

Malam gerimis, tapi pertunjukanmu malam ini di TBY benar-benar sukses besar. Penonton yang datang banyak sekali, melebihi kapasitas tempat duduk yang tersedia. Yang berangkat cepat sepertiku, kebagian kursi depan yang sangat dekat dengan panggung, dan yang tak dapat kursi, duduk di bagian belakang teater yang dibikin seperti undak-undakan.

Selesai pertunjukanmu malam itu, yang juga jadi proyek tugas akhir angkatanmu, aku buru-buru menyela lautan manusia yang beriringan keluar bangunan, buru-buru aku menuju balik layatasar, bertemu denganmu, menyelamatimu atas pertunjukan yang gemilang.

Dan kau tersipu malu melihatku memegang 3 tangkai krisan putih, bunga kesukaanmu, yang akhir-akhir in jadi bunga kesukaanku juga. Teman-temanmu menyoraki kita, membuatmu dengan kikuk menerima bunga itu dan berbisik terimakasih padaku. Malam itu, aku bersyukur, aku jatuh cinta kepadamu. Bukan orang lain.

*

"Bas, sebaiknya kita berhenti bertemu untuk sementara waktu." ujarmu malam itu, ketika kita sengaja pergi ke malioboro setelah melihat pentas akhir temanmu. Aku kaget memandangmu yang berjalan di sampingku. Lalu aku diam, tak tahu apa yang harus aku katakan.

"Temanku bilang, kau terancam tak lulus mata kuliah Seni Lukis Akhir. Dosenmu sudah berusaha untuk membantumu dengan memberikanmu waktu yang lebih longgar daripada teman-temanmu." lanjutmu lalu diakhiri dengan keheningan yang tak aku suka.

Kau memang benar. Aku hanya bisa diam karena aku tak bisa menyangkal. Kita terus berjalan dalam keheningan hingga sampai di depan Gedung Agung.

"Bas, setelah malam ini, tolong jangan temui aku lagi sampai kau bikin pameranmu sendiri. Aku akan berhenti menghubungimu, menemuimu, hingga saat itu tiba."

*

Hari terakhir pameran. Dan aku seperti halnya orang bodoh karena tiap hari datang ke pameranku sendiri, menunggu selama 12 jam pameran, mencarimu di antara setiap orang yag melangkahkan kaki ke pintu masuk, mengecek buku tamu takut-takut kalau kau ternyata datang ketika aku pergi keluar merokok. Tapi nihil. Kau tak datang. Atau tak mau datang? Padahal kau dulu sudah janji padaku.

"Bas, kok kuliatin dari kemarin-kemarin kau bengong ngeliatin pintu masuk mulu deh." kata Remi. Ia mengenggam apel hijau dengan tangan kanannya. Kepalanya miring aneh, seorang mencari sisi dimana ia hendak melakukan gigitan pertama untuk apelnya itu.

Aku hanya meliriknya sekilas lalu mendengus.

"Ke kantin depan yuk. Nanti kuceritain di sana." kataku sambil bangkit dari kursi sambil mengeloyor pergi. Kulihat mbak-mbak yang menjaga buku tamu berekspresi kecewa karena tak berhasil mencuri dengar obrolan kami. Remi mengekor di belakangku sambil menggigit apelnya. Bunyi gigitan itu membuatku bergidik.

"Bu, es kopi ya. Kaya biasanya." kataku kepada penjual di kantin depan gedung TBY. Remi sudah duduk di bangku. Aku menyusulnya dan tak lama kemudian pesananku muncul.

"Jadi? Ini pasti soal Saras ya." tanya Remi langsung ke pokok masalah. Kadang aku suka pada sifatnya yang tak pernah pakai basa-basi, frontal dan to the point itu. Tapi saking jujurnya, perkataannya benar-benar menamparku telak.

Aku hanya mengangguk sambil menyeruput es kopi hitamku.

"Sudah kau hubungi lagi?"

Aku menggeleng lemah. Dia malah menatapku seolah bilang nah!

"Dia sudah janji akan datang. Dan aku sudah janji tak akan menghubunginya sampai ia menghubungiku."

Ia malah tertawa senyah sekali. "Mungkin memang ia tak mau datang?!" katanya menggodaku.

"Sialan kau!" makiku kepadanya yang malah membuatnya semakin tertawa.

Setelah menyelesaikan 2 batang rokok, kami kembali menuju ruang pameran untuk persiapan penutupan hari ini. Dan aku sudah pasrah, mungkin memang saat ini kita tidak bisa bertemu. Belum waktunya. Di depan emperan TBY seorang anak kecil berbaju lusuh menggenggam bungkusan es teh hampir menabrakku karena dikejar temannya. Aku hanya bisa tersenyum setelah ia meminta maaf padaku.

"Mas Ibas, ini ada titipan." kata mbak-mbak penjaga buku tamu. Ah iya, namanya Ersa. Ia menyerahkan 3 buah tangkai bunga krisan putih yang dibalut plastik bermotif bunga-bunga kecil berwarna biru. Ada amplop berwarna biru muda terselip di sana.

"Dari siapa, Sa?" tanyaku sambil membuka amplop itu. Remi ikutan mengintip di sampingku.

"Tadi anak kecil. Katanya dititipi oleh mbak-mbak cantik di luar sana."

Selamat atas pameranmu. Maaf, aku tak bisa bertemu denganmu. S

Rangkaian bunga itu jatuh di lantai tepat ketika aku buru-buru membuka pintu kaca dan berlari menuju jalan depan TBY. Ersa dan Remi bergeming menatapku menuju halaman yang terang oleh cahaya matahari sore. Aku berhenti di samping gerbang dan menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosokmu yang siapa tahu masih berada di sekitar TBY Shoping Taman Pintar.

"Pak, nuwun sewu, badhe nyuwun pirsa. Tadi lihat perempuan berambut sebahu yang memberikan bunga ke anak kecil nggak?" tanyaku pada seorang tukang becak yang sedang mengkal di depan TBY.

"Wah, mboten'e mas."

"Makasih, pak."

Aku menatap sekeliling, tak menemukanmu dimana pun. Lalu semua orang yang lalu lalang, kendaraan yang berseliweran di depanku serasa bergerak dalam gerak lambat. Suratmu yang masih aku pegang, tanpa sengaja teremas di dalam genggamanku.

Ras, apa yang sedang kau rencanakan?


**

Aku terdiam melihatmu, yang kuyakin, sedang mencari sosokku diantara semua lalu lalang sore ini. anak-anak kecil yang kuminta mengirimkan bingkisanku untukmu di hari terakhir pameranmu sudah menghilang ke lingkungan Shoping. Bas, maafkan aku. Meski tiap hari aku datang ke TBY tetapi aku tak pernah berhasil meyakinkan diriku untuk keluar dari mobilku ini dan berani bertemu denganmu. Maaf. Tapi aku..., takut bertemu denganmu.


#FIKSI / / / Malam Rabu Kliwon

Wednesday, 1 January 2014



Malam tahun baru, kos-kosan sepi. Beberapa teman sekos-an memang sedang libur minggu tenang, sebagian yang masih bertahan memang sudah memiliki acara sendiri-sendiri, dengan teman maupun dengan pacar. Kecuali aku. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang yang lagi LDR-an? Paling juga di kos-an, duduk di kursi, di depan laptop, mantengin Facebook dan Twitter, nunggu telepon dari pacar, sambil mendengarkan parade kembang api malam tahun baru.

"Naya, lagi ngapain? Kamu di kos-an aja?" tanya teman sekos-ku, Dira yang berdiri di depan pintu kamar. Aku selalu membiarkan pintu kamarku terbuka jikalau aku sedang ada di kos-an. Aku menoleh kepadanya dan tersenyum. Ia membalas senyumku dan masuk ke kamar lalu duduk di tempat tidurku.

"Yah, beginilah nasib orang yang sedang LDR-an." jawabku sambil tersenyum kecut lalu kembali ke layar laptopku. Barusan aku belum selesai membaca berita di laman resmi CNN.

"Lhoh, Anggi nggak balik ke Jogja? Bukannya anak ITB udah libur ya?"

"Iya, tapi tau tuh, katanya mau balik tanggal 3 besok. Eh, kamu nggak ada acara? Jam segini masih di kos-an aja." kataku membelokkan arah pembicaraan sambil menatap jam di pojok layar laptop, 08.36 pm. Dan satu hal lagi, aku tak begitu suka membicarakan hubunganku dan Anggi kepada orang lain meski kepada teman karibku sendiri. Apa ya? Rasanya risih dan malu. Ora ilok, dalam bahasa jawanya.

"Lagi nunggu jemputan." jawabnya sambil tersenyum malu.

"Ih, malu-malu." godaku lalu tertawa melihat reaksinya.

"Nay, tapi nanti bukain ya pintu depan? Kayaknya aku bakalan pulang habis tengah malam. Kamu nggak langsung tidur, kan?" pintanya.

Aku tertawa. "Ya enggak lah. Masa tidur cepet di malam tahun baru. Entar aku bukain deh. Kalau nggak, habis kamu pergi, kuncinya aku taruh di atas pintu. Jaga-jaga aku ketiduran di depan laptop."

"Makasih, Nay!"

Di luar, terdengar suara deru motor yang khas. Aku dan Dira menoleh ke arah jendela kamarku yang terbuka. Angin sepoi-sepoi menggerakkan gorden putih berenda. Tak lama HP Dira berbunyi.

"Kayaknya jemputan udah datang ya?" tanyaku sambil mesem. Ia tertawa renyah lalu pamit pergi sambil mengingatkanku agar tak lupa soal kunci.

Setelah Dira pergi, aku beranjak untuk menutup jendela karena udara semakin dingin. Lalu pergi ke pintu depan untuk mengunci pintu dan meletakan kunci di atas kusen pintu. Aku berbalik dan mendapati lorong sempit di antara kamar terlihat hening. Lampu TL model lama berkedip-kedip karena kabel di atas plafon yang mungkin digigiti tikus. Sepi sekali kos-kos-an ini. Aku menghela napas sambil berjalan menuju kamar.

Menjelang malam tahun baru, Facebook dan Twitter penuh dengan orang-orang yang live post dari tempat mereka menghabiskan malam tahun baru. Aku melirik jam di pojokan layar laptop, 11.05. Kira-kira masih ada waktu 55 menit sebelum tahun berganti. Tapi sekitar pukul 11.50 kembang api mulai dinyalakan dari berbagai sudut kota. Dan aku hanya terdiam sambil membaca twitt teman-teman sambil sesekali melirik HP yang tergeletak di atas meja, sedikit sebal karena orang sialan itu belum menghubungiku sejak bilang tadi sore mau berangkat ke Lembang untuk tahun baruan.

Sekitar 10 menit kemudian, nama orang sialan itu berkedip ke layar HPku sementara di luar sana orang tak henti-hentinya menyalakan kembang api. Seolah sedang maraton kembang api, atau malah sedang berlomba siapa yang bisa bertahan sampai akhir dan masih bisa menyalakan kembang api.

"Halo." sapaku kepada orang sialan itu.

"Selamat tahun baru!" teriak banyak orang dari seberang telepon sana sambil diiringi suara terompet dan gaduh. Aku tertawa.

"Hai, selamat tahun baru, ya!" ujarnya setelah sepertinya berlari menjauhi kerumunan. Aku tertawa sambil membayangkan ekspresi wajah dan tingkah laku konyolnya. Dan selama satu jam itu aku dan Anggi mengobrol banyak sekali sampai kira-kira jam 1 hujan rintik-rintik mulai turun.

Lalu ada seseorang yang mengetuk jendela kamarku dari luar membuatku kaget.

"Nay, bukain pintunya dong!" ujar Dira dari luar.

"Kuncinya di atas pintu kok, Ra." kataku.

"Nggak ada tahu! Bukain dong! Hujan nih!" rengek Dira.

"Oke, oke." kataku sambil bangkit dari duduk dan menuju pintu depan.

"Dira baru balik?" tanya Anggi dari seberang sana.

"Iya, sama pacarnya ke ..." kataku terpotong dan tertegun ketika sampai di depan pintu. Kunci pintu depan masih berada dalam slotnya. Aku mengernyit heran. Perasaan tadi sudah kutaruh di atas kusen pintu.

"Kenapa, Nay?" tanya Anggi.

"Enggak, kayaknya aku memang pelupa banget deh." gumamku padanya. Anggi tertawa renyah sekali. Aku kesal ditertawakan, tapi aku senang mendengar caranya tertawa.

Aku segera membuka pintu, diam sejenak. Dira di luar sana terdengar pendiam sekali. Tidak seperti dia. Ah, mungkin saja dia capek gara-gara pergi ke Bukit Bintang. Jogja-Bukit Bintang memang lumayan jauh.

"Ra, udah kubukaan nih, buruan masuk!" ujarku. Tapi Dira tak menyahut. Aku mengernyit lalu membuka sedikit gorden yang ada di samping pintu depan untuk mengintip ke luar. Tak ada siapa-siapa. Apa Dira masih menunggu di samping kamarku ya? Aku balik ke kamar sementara Anggi masih bercerita di seberang telepon.

"Dira, buruan masuk, pintunya udah ku bukain tuh!" kataku di ujung jendela. Tak ada sahutan lagi. Apa Dira jalan ke pintu depan pas aku jalan ke kamar ya? Kok jadi kaya kucing-kucingan gini sih?

"Kenapa Nay?" tanya Anggi lagi.

"Bentar deh."

Aku berjalan ke ambang pintu kamar. "Ra, pintu udah kubukain. Buruan masuk. Ntar dikunci lagi ya kalau udah masuk!"

Tak ada yang menyahut. Lalu hujan gerimins di luar sana mulai disertai angin. Daun-daun pohon mangga di samping kos-an rontok di atas genting menimbulkan suara gemerutuk. Tiba-tiba, gorden di samping pintu depan tersingkap menampakkan remang-remang jalan depan kos-an yang gelap dan senyap. Aku mengernyit bingung. Aku berjalan ke pintu depan dan membukakannya agar Dira segera masuk. Tapi di sana tak ada siapa-siapa.

"Nggi." kataku pelan.

"Ya? Apa Nay?"

"Yang tadi bukan Dira." kataku dengan perasaan was-was dan cemas.

"Hah, maksudmu?" Lalu tiba-tiba sambungan terputus. HPku mati. Low bat ternyata. Sambil buru-buru mengunci pintu lagi dan meletakannya di atas kusen, aku memasukkan HP ke kantong celana pendekku. Aku berbalik dan sekelebat melihat bayangan melintas di ujung lorong. Lampu TL di atas lorong berkedip-kedip lemah. Aku buru-buru masuk ke kamar lalu mengunci pintu.

Ketika berbalik, aku mendapati seorang perempuan berambut panjang dengan gaun putih duduk di kursi sambil membelakangiku yang membeku di depan pintu. Sekuat tenaga aku berteriak lalu tiba-tiba semua gelap. Lalu sekonyong-konyong badanku membentur bidang datar yang terasa dingin. Suara decit kursi terdengar tak berapa lama kemudian. Aku membuka mata dan menatap lampu di tengah ruangan, berkedip-kedip sambil mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.

Aku bangkit dari lantai tempatku jatuh barusan sambil celingukan mencari HP dan meraihnya. Pukul 03.04 am 01-01-2013. Hari sudah berganti, berarti yang barusan itu aku hanya bermimpi? Kupandangi HP yang baterainya masih penuh. Ada sms, satu pesan dari nomer tak dikenal dan 2 pesan Dira.


"Nay, kamu kenapa?" tanya Dira tiba-tiba dari balik pintu kamarku.

"Ah, enggak nih, ketiduran dan jatuh dari kursi." kataku lalu tertawa bodoh.

"Ya ampun, kamu ketiduran di meja lalu jatuh. Teledor banget sih kamu!"

Aku tertawa. "Kamu balik kapan, Ra? Barusan?" tanyaku.

"Em, 5 menit lalu sih. Pas mau masuk tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari kamarmu. Eh, makasih ya kuncinya di taruh di atas pintu."

"Sama-sama. Udah sana istirahat, kamu pasti capek, kan."

"Oke, Nay. Selamat Tahun Baru."

"Selamat Tahun Baru juga."

Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar yang tertutup. Dan aku pun beranjak ke tempat tidur. Tiga sms di HPku masih bisa menunggu sampai besok siang, ah, maksudku, siang nanti.

Paginya, sekitar pukul 7 aku berniat untuk membuang sampah ke tempat sampah di luar kos sebelum petugas pengambil sampah datang. Dira sedang sibuk memakai sepatu di depan kamarnya.

"Udah mau pergi aja pagi-pagi gini." sapaku di depan pintu kamarku.

"Mau pergi? Aku baru pulang kali." jawabnya sambil nyengir dengan alis yang mengernyit.

"Baru pulang? Bukannya semalam kamu jadinya pulang?" tanyaku setengah kaget dan heran.

"Aku kan sms lagi ke kamu aku nggak jadi balik, Nay. Udah ah, aku mau mandi nih." Katanya selesai mencopot sepatu dan meletakannya di rak lalu masuk ke kamarnya. Ia meninggalkanku yang tertegun di depan pintu kamar. Tiba-tiba ada semriwing angin yang masuk melewati lorong dan menyibakkan gorden jendela di samping pintu depan. Mobil pengangkut sampah berhenti di depan gerbang kos-kosan, petugasnya mengangkuti keranjang sampah yang dipenuhi sisa-sisa selongsong kembang api.


________________________

Ditulis dalam rangka ikut menyemarakkan Kompetisi #NulisKilat yang diadakan oleh Bentang Pustaka dan Plotpoint. Untuk ikut kompetisi ini, saya sampai bikin account twitter. Karena pada dasarnya saya nggak punya account twitter.

(Lets say hi to 2014)

 

There is no place in nostalgia
And certainly no nostalgia in the future of the past
Now, the corner cigarette-seller is gone, is perhaps dead
No, definitely dead, he would not otherwise be gone
He is replaced by the stamp machine
The old cook by the pressure cooker
The old Trisha-rider's stand by fire hydrant
The washer-woman by a spin dryer

And it goes on

In various variations and permutation
There is no future in nostalgia


Poem by Arthur Yap in The Space of City Trees