#FIKSI / / / 30 Hari Janji Bertemu

Friday, 3 January 2014

Pukul setengah 7, pameran resmi dibuka. Ramai sekali. Tapi aku tak melihat sosokmu diantara orang-orang yang berkerumun di depan karya-karya pameran. Seorang turis asing bersama pemandu pameran menghampiriku dan bertanya mengenai lukisan-lukisan yang kuikutsertakan dalam pameran ini. Sambil menerangkan dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, sesekali aku mengerling arah pintu masuk, tetapi lagi-lagi aku tak menemukanmu. Sedikit gugup, aku mengakhiri penjelasanku itu dengan senyum terbaikku. Turis itu menyalami menyelamati. Mungkin, ia menyukai karyaku.

Hampir dua jam aku menunggumu, tapi kau tak juga muncul. Email undanganku sudah kau balas pula. Kalau sempat. Ya, kalau sempat katamu. Aku menghela napas sambil menatap para pengunjung yang lalu lalang keluar masuk ruang pameran. Masihkah kau tak mau bertemu denganku ?

*

Aku masih jadi mahasiswa semester 5 ketika temanku mengajakku datang ke pertunjukan teatermu yang diadakan di TBY. Temannya temanku itu adalah temanmu. Selepas pertunjukan sendratari yang membuatku jatuh cinta pada keluwesan gerak tarimu, kita bertemu, berkenalan dalam jabat tangan sekejap tapi mampu membuat kembang api di dalam dadaku. Ini, baru pertama kalinya. Selama ini aku tak percaya tentang cinta pada pandangan pertama. Terlalu klise. Bagaimana bisa seseorang jatuh cinta pada orang asing yang tak ia kenal sebelumnya? Takdir baru akan dimulai pada pertemuan kedua! Tapi malam itu, takdir berkerja lebih cepat dari biasanya.

*

Setiap hari aku datang ke pameran. Terus menerus berada di ruang pameran sampai aku bosan dan hafal dengan seluruh karya yang ada. Aku hanya sesekali keluar untuk merokok. Itu pun hanya di sebuah kedai kecil di dekat parkiran yang tak jauh dari pintu masuk. Tapi kau tetap tak datang. Ini sudah hari ke-23 pameran. Dan aku seperti orang bodoh yang terus mengharapkanmu sekedar datang ke pameran nasional pertamaku ini!

*

Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Maksudku dengan benar-benar di sini adalah karena aku belum pernah merasakan yang seperti ini. Setiap ada kesempatan, aku selalu pergi ke jurusan Tari untuk mencarimu. Ah iya, aku baru tahu dari temannya temanku itu kalau kau juga ikut bengkel teater di luar rutinitas kampus. Berkat dia, si temanmu yang temannya temanku itu, aku berhasil tahu jadwal pentasmu tiap jum'at malam dan minggu malam.

Aku seperti orang gila. Pontang panting aku pasti datang ke pentasmu hingga melupakan tugas-tugas kampus. Ah, tapi aku memang bukan anak rajin. Tidak berangkat kuliah dan tak mengumpulkan beberapa tugas kuliah teori sudah biasa bagiku. Tapi berkat kesungguhanku itu, hatimu pun luluh ketika aku datang ke pentasmu di TBY saat festival sendratari Yogyakarta sambil membawakan rangkaian bunga krisan putih kesukaanmu itu.

*

Hari ke-25 pameran, dan aku masih belum melihatmu datang. Tak ada kabar darimu. Aku terus bergeming tak menghubungimu lagi. Aku sudah berjanji padamu, dulu sekali. Bahwa aku akan menunggu, dan membuktikan padamu, bahwa aku sekarang telah berubah, seperti permintaanmu dulu.

*

Malam gerimis, tapi pertunjukanmu malam ini di TBY benar-benar sukses besar. Penonton yang datang banyak sekali, melebihi kapasitas tempat duduk yang tersedia. Yang berangkat cepat sepertiku, kebagian kursi depan yang sangat dekat dengan panggung, dan yang tak dapat kursi, duduk di bagian belakang teater yang dibikin seperti undak-undakan.

Selesai pertunjukanmu malam itu, yang juga jadi proyek tugas akhir angkatanmu, aku buru-buru menyela lautan manusia yang beriringan keluar bangunan, buru-buru aku menuju balik layatasar, bertemu denganmu, menyelamatimu atas pertunjukan yang gemilang.

Dan kau tersipu malu melihatku memegang 3 tangkai krisan putih, bunga kesukaanmu, yang akhir-akhir in jadi bunga kesukaanku juga. Teman-temanmu menyoraki kita, membuatmu dengan kikuk menerima bunga itu dan berbisik terimakasih padaku. Malam itu, aku bersyukur, aku jatuh cinta kepadamu. Bukan orang lain.

*

"Bas, sebaiknya kita berhenti bertemu untuk sementara waktu." ujarmu malam itu, ketika kita sengaja pergi ke malioboro setelah melihat pentas akhir temanmu. Aku kaget memandangmu yang berjalan di sampingku. Lalu aku diam, tak tahu apa yang harus aku katakan.

"Temanku bilang, kau terancam tak lulus mata kuliah Seni Lukis Akhir. Dosenmu sudah berusaha untuk membantumu dengan memberikanmu waktu yang lebih longgar daripada teman-temanmu." lanjutmu lalu diakhiri dengan keheningan yang tak aku suka.

Kau memang benar. Aku hanya bisa diam karena aku tak bisa menyangkal. Kita terus berjalan dalam keheningan hingga sampai di depan Gedung Agung.

"Bas, setelah malam ini, tolong jangan temui aku lagi sampai kau bikin pameranmu sendiri. Aku akan berhenti menghubungimu, menemuimu, hingga saat itu tiba."

*

Hari terakhir pameran. Dan aku seperti halnya orang bodoh karena tiap hari datang ke pameranku sendiri, menunggu selama 12 jam pameran, mencarimu di antara setiap orang yag melangkahkan kaki ke pintu masuk, mengecek buku tamu takut-takut kalau kau ternyata datang ketika aku pergi keluar merokok. Tapi nihil. Kau tak datang. Atau tak mau datang? Padahal kau dulu sudah janji padaku.

"Bas, kok kuliatin dari kemarin-kemarin kau bengong ngeliatin pintu masuk mulu deh." kata Remi. Ia mengenggam apel hijau dengan tangan kanannya. Kepalanya miring aneh, seorang mencari sisi dimana ia hendak melakukan gigitan pertama untuk apelnya itu.

Aku hanya meliriknya sekilas lalu mendengus.

"Ke kantin depan yuk. Nanti kuceritain di sana." kataku sambil bangkit dari kursi sambil mengeloyor pergi. Kulihat mbak-mbak yang menjaga buku tamu berekspresi kecewa karena tak berhasil mencuri dengar obrolan kami. Remi mengekor di belakangku sambil menggigit apelnya. Bunyi gigitan itu membuatku bergidik.

"Bu, es kopi ya. Kaya biasanya." kataku kepada penjual di kantin depan gedung TBY. Remi sudah duduk di bangku. Aku menyusulnya dan tak lama kemudian pesananku muncul.

"Jadi? Ini pasti soal Saras ya." tanya Remi langsung ke pokok masalah. Kadang aku suka pada sifatnya yang tak pernah pakai basa-basi, frontal dan to the point itu. Tapi saking jujurnya, perkataannya benar-benar menamparku telak.

Aku hanya mengangguk sambil menyeruput es kopi hitamku.

"Sudah kau hubungi lagi?"

Aku menggeleng lemah. Dia malah menatapku seolah bilang nah!

"Dia sudah janji akan datang. Dan aku sudah janji tak akan menghubunginya sampai ia menghubungiku."

Ia malah tertawa senyah sekali. "Mungkin memang ia tak mau datang?!" katanya menggodaku.

"Sialan kau!" makiku kepadanya yang malah membuatnya semakin tertawa.

Setelah menyelesaikan 2 batang rokok, kami kembali menuju ruang pameran untuk persiapan penutupan hari ini. Dan aku sudah pasrah, mungkin memang saat ini kita tidak bisa bertemu. Belum waktunya. Di depan emperan TBY seorang anak kecil berbaju lusuh menggenggam bungkusan es teh hampir menabrakku karena dikejar temannya. Aku hanya bisa tersenyum setelah ia meminta maaf padaku.

"Mas Ibas, ini ada titipan." kata mbak-mbak penjaga buku tamu. Ah iya, namanya Ersa. Ia menyerahkan 3 buah tangkai bunga krisan putih yang dibalut plastik bermotif bunga-bunga kecil berwarna biru. Ada amplop berwarna biru muda terselip di sana.

"Dari siapa, Sa?" tanyaku sambil membuka amplop itu. Remi ikutan mengintip di sampingku.

"Tadi anak kecil. Katanya dititipi oleh mbak-mbak cantik di luar sana."

Selamat atas pameranmu. Maaf, aku tak bisa bertemu denganmu. S

Rangkaian bunga itu jatuh di lantai tepat ketika aku buru-buru membuka pintu kaca dan berlari menuju jalan depan TBY. Ersa dan Remi bergeming menatapku menuju halaman yang terang oleh cahaya matahari sore. Aku berhenti di samping gerbang dan menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosokmu yang siapa tahu masih berada di sekitar TBY Shoping Taman Pintar.

"Pak, nuwun sewu, badhe nyuwun pirsa. Tadi lihat perempuan berambut sebahu yang memberikan bunga ke anak kecil nggak?" tanyaku pada seorang tukang becak yang sedang mengkal di depan TBY.

"Wah, mboten'e mas."

"Makasih, pak."

Aku menatap sekeliling, tak menemukanmu dimana pun. Lalu semua orang yang lalu lalang, kendaraan yang berseliweran di depanku serasa bergerak dalam gerak lambat. Suratmu yang masih aku pegang, tanpa sengaja teremas di dalam genggamanku.

Ras, apa yang sedang kau rencanakan?


**

Aku terdiam melihatmu, yang kuyakin, sedang mencari sosokku diantara semua lalu lalang sore ini. anak-anak kecil yang kuminta mengirimkan bingkisanku untukmu di hari terakhir pameranmu sudah menghilang ke lingkungan Shoping. Bas, maafkan aku. Meski tiap hari aku datang ke TBY tetapi aku tak pernah berhasil meyakinkan diriku untuk keluar dari mobilku ini dan berani bertemu denganmu. Maaf. Tapi aku..., takut bertemu denganmu.


1 comment :

  1. bagus niis! mulai cerita galau galau juga nih haha

    ReplyDelete