#ARCHITECTURE / / / Architect[ure] and F.A.M.E

Wednesday, 15 January 2014

Sebenarnya sudah lama banget saya pengen nulis ini tentang Architect[ure] and Fame, tentang Arsitekt[ur] dan Popularitas. Karena satu dan banyak hal, akhirnya baru sempat saya tuangkan sekarang. Yah, ini hanya sebuah opini saya saja lho, bukan berarti saya anti-pati terhadap popularitas atau orang yang besar karena popularitas. Bukan, tapi saya hanya ingin menuangkan sedikit pikiran saya.

*
fame /feɪm/ [U] the state of being known by many people.   
Origin : Middle English (also in the sense 'reputation', which survives in house of ill fame): via Old French from Latin fama.

famous /ˈfeɪməs/ adj known about by many people. 
Origin : late Middle English: from Old French fameus, from Latin famosus

popular
 /ˈpɒpjʊlə(r)adj 1. liked or admired by many people or by a particular person or group,
2. [attributive] (of cultural activities or products) intended for or suited to the taste, understanding, or means of the general public rather than specialists or intellectuals, 3. [attributive] (of political activity) carried on by the people as a whole rather than restricted to politicians or political parties
Origin : late Middle English (in the sense 'prevalent among the general public'): from Latin popularis, from populus 'people'


Kamus Besar Bahasa Indonesia
terkenal :  v dikenal atau diketahui umum; termasyhur; tersohor: kemanjuran obat ini telah ~ di seluruh dunia

populer 1 dikenal dan disukai orang banyak (umum): lagu-lagu --; sesuai dng kebutuhan masyarakat pd umumnya; mudah dipahami orang banyak: ilmu pengetahuan --; 3 disukai dan dikagumi orang banyak: pahlawan yg --;


**

Sebenarnya, dua kata yang berkaitan diatas, famous and popular, atau terkenal dan populer memang semakna tetapi memiliki arti yang berbeda. Dari http://english.stackexchange.com, dijelaskan bahwa perbedaan kedua kata tersebut adalah pada intensitasnya. ".... popular may mean "famous, but not quite enough to be called famous".....". Jika famous lebih berarti well-known, maka popular berarti well-liked.

*

Arsitek[tur] dan Popularitas.

Saya selalu bertanya-tanya, mengapa arsitektur sangat berkaitan dengan popularitas? Mengapa banyak arsitek-arsitek luar negeri yang berusaha mem-branding dirinya besar-besaran? Mengapa para arsitek itu sampai membikin video diri mereka sendiri dan mengunggahnya ke channel youtube? Di Indonesia sendiri, iklan-iklan televisi pernah beberapa kali menayangkan sesosok arsitek yang cukup terkenal yang ngiklan merk tertentu. Di saluran tivi swasta juga kadang-kadang tiap hari minggu jam 10-an siang ada yang menayangkan mengenai bincang-bincang mengenai real estate yang ternyata sarana iklan juga. Di Facebook, mahasiwa arsitektur yang gencar bersayembara (motifnya karena mengincar hadiah uang yang lumayan banyak dan [bisa jadi] juga popularitas mendadak) sering sekali menge-post foto dirinya membawa tulisan menang (biasanya juga disertai link mengenai karya yang membuat mereka menang). Bahkan, yang sudah ngarsitek juga ikut-ikutan posting karya terbaru mereka (biasanya renderan atau foto in-progress). 

Yang jadi pertanyaan saya, apa yang orang-orang tersebut harapkan dari keterkenalan mereka (being famous, and popularize by the media) ? Mungkin kamu melihat saya sebagai orang yang iri, atau syirik terhadap mereka karena saya tidak mampu seperti mereka. Bukannya berkarya dengan baik, malah mencemooh mereka seperti ini. Tidak, bukan begitu. Ini bukan sebuah cemoohan. Ini hanya opini saya mengenai pupularitas. Yah, tapi terserah sih.

Balik lagi ke topik. Saat ini, baik di dunia maupun di Indonesia, bagi saya, arsitek sudah menjadi artis. [artist /ˈɑːtɪst/ n [with modifier] informal a person who habitually practices a specified reprehensible activity.]  Artis di sini dikembalikan ke makna aslinya yang berarti pekerja seni. Termasuk makna artis yang sudah mengalami penyempitan makna menjadi ahli seni; seniman, seniwati (spt penyanyi, pemain film, pelukis, pemain drama), yang dipersempit lagi menjadi orang yang sering nampang di media terutama televisi.

Pengandaian arsitek itu artis bisa diterjemahkan ke dalam arti paling harafiah. Artis itu makin sering muncul di media, baik itu karena prestasinya atau karena sensasinya, akan makin terkenal. Semakin terkenal itu berarti akan membuat tawaran banyak berdatangan. Entah yang diwawancarai di acara buka-buka rahasia di stasiun televisi, dijadiin bintang iklan, main di film, atau jadi pemain sinetron. Yang pasti semakin terkenal semakin banyak  job berdatangan. Makanya, banyak artis yang cari sensasi. Dan menurut saya hal ini relevan dengan yang arsitek sekarang lakukan.

Sudah jadi rahasia umum, kalau di dunia arsitektur pamor itu penting. Begini contoh mudahnya. Dari mahasiswa, kebiasaan untuk self-branding sudah dimulai. Seorang mahasiswa yang rajin akan disukai dosen. Ia akan jadi dekat dengan dosen. Dan, suatu ketika akan direkrut untuk ikut proyek dosen. Dari proyek-proyek itu ia akan mendapat banyak keuntungan selain uang saku dan juga pamor. Contoh lainnya, kamu adalah seorang mahasiswa arsitektur. Lalu om atau tantemu ingin bikin rumah atau toko. Kamu yang akan diminta untuk mendesainkan. Lalu om atau tantemu itu akan mempromosikanmu kepada kenalannya. Kenalannya akan mengkontakmu untuk meminta di desain. Kenalannya itu kemudian mempromosikanmu kepada kenalannya yang lain. Begitulah seterusnya mitos popularitas di arsitektur mulai tercipta. Contoh lain di tempat kerjaan. Survey membuktikan bahwa mahasiswa arsitektur fresh graduate akan lebih mudah masuk ke sebuah biro apabila punya kenalan yang kerja di biro itu.


Architecture [is] fame. inevitable. 

Mindset ini yang kini banyak berkembang di mahasiswa arsitektur jaman sekarang. Bahkan sampai ada buku judulnya An Architect's Guide to Fame! Teman saya saja yang diluar arsitektur yang saya ceritakan mengenai hal ini berkata bahwa betapa mudahnya mendapatkan kerja bagi mahasiswa arsitektur, tinggal kontak alumni saja katanya. Entah itu sebuah pujian atau sebuah sarkasme?

Sebenarnya, manakah yang lebih penting diantara self-branding atau karya yang orisinil dan diterima oleh masyarakat luas ? Ingat, di sini self-branding berarti si arsitek menjadi terkenal, being famous, dan belum tentu karyanya diterima di masyarakat. Begini, menjadi terkenal bisa karena sensasi bisa karena prestasi. Contoh yang kemarin ini adalah mengenai MVRDV yang mau membangun bangunan di Jakarta. Nah, dia jelas-jelas ceri sensasi saja karena dari awal tak ada rencana pemerintah Indonesia mengontak MVRDV untuk membangun bangunan seperti itu di Jakarta. Sedang untuk konteks karya yang orisinil dan diterima di masyarakat berarti karyanya yang populer. Di sini lebih ditekankan kepada penggalian karya yang dilakukan terus menerus tanpa memandang apakah akan jadi terkenal atau tidak.

[ ]

No comments :

Post a Comment