#ARCHITECTURE / / / Bamboo Bienale, Solo 2014

Friday, 19 September 2014

Akhirnya ada waktu buat nulis perjalanan mbolang ke Solo ini.

*

Suatu ketika saya sedang KKN di perbatasan, teman saya memberi tahu saya kalau dia mendaftarkan saya dan dia untuk ikut seminar Bamboo Biennale di Solo yang sebenernya sudah lama saya pengen main dan lihat pamerannya. Saya sempet nggak mau jadi karena barusan banget pagi itu pulang dari Jakarta dan sorenya ada hajatan di tempat simbah. Tapi lalu saya pikir, ah, sekalian aja capeknya. Sebenarnya, saya nggak begitu ngerti seminar ini siapa pembicaranya. Ya karena sudah didaftarkan oleh teman saya itu, karena sayang uang, saya akhirnya berangkat. Yah, lumayan lah dapat sertifikat dan sekalian main ke Solo.

Kami naik prameks yang jam 8. Di perjalanan ketika petugas menanyakan tiket, ada ibu-ibu dan seorang anak yang naik dari stasiun yang dekat bandara, tiba-tiba diminta untuk turun di stasiun selanjutnya karena hm, entahlah, tiketnya bermasalah mungkin. Setelah sampai di stasiun di Klaten, ibu dan anaknya itu diturunkan dengan paksa.

Sebenernya, saya nggak tahu lokasinya seminar itu dimana dan mengandalkan teman saya saja untuk itu. Alhasil, kamu berdua nyasar di Solo Baru, sampai ke Hartono Mall. Gila sih, jauh banget dan ngehabisin duit banyak karena becak. Jadi ceritanya kami ditipu oleh tukang becak gitu. Akhirnya mutung dan jalan mau ke Vastenburg buat lihat pamerannya saja. Tapi saya ngajak mampir buat sarapan di kedai soto yang enak banget (serius, ini efek lapar mungkin). Habis itu baru lah kami ke pameran.

*

Siang itu pameran karya bambu di Vastenburg sepi sekali. Serius, yang datang berkunjung cuma saya dan teman saya itu, lalu ada satu adik tingkat yang sepertinya sedang kencan dengan pacarnya. Beberapa orang bapak-bapak sedang bekerja untuk memasang instalasi bambu yang baru.



Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Ada satu karya kenalan saya, 'Cak Cak' Andrea Fitrianto dipamerkan di sini. Kemarin sempat lihat di FB dia upload dan jadi kepikiran untuk datang ke pameran ini. Untungnya, saya sempatkan untuk datang. Ada juga karya milik Yu Sing, Budi Pradono, dan juga 'Mamo' Adi Purnomo, yang saya tahu namanya. Menarik, tapi paling suka karya milik Adi Purnomo karena berasa lebih nyeniman.

(karyanya Yu Sing)
(Karyanya Cak-cak, judulnya Tempat Piknik)
(masih karyanya pak Mamo)
(Cocoon karya Adi Purnomo)
(masih sama, karya pak Mamo)
(fotogenik sekali ya, karyanya pak Mamo ini)
(teman saya)
Ada sebuah tangga putar yang dapat dinaiki dan dijadikan menara untuk mengamati sekitaran Vastenburg. Saat naik, saya sarankan untuk satu persatu karena agak ringkih. Kalau sudah sampai di atas akan terasa sekali goyangnya menara pandang ini.


(view dari menara pandang)
Sebenarnya ada satu karya lain yang cukup fotogenik. Entah karya siapa yang pasti konsepnya sudah pernah saya lihat di situs-situs arsitektur. Konsepnya tentang labirin dengan menyusun batang bambu secara vertikal dan membautnay terlihat acak tetapi sebenarnya tidak acak.



Lalu ketika mau balik ke Jogja, eh, ternyata tempat seminarnya deket sama Vastenburg. Ah, tau gitu kan langsung ke daerah deket Vastenburg aja ya. Hm, akhirnya, kami berdua pergi masuk ke semianr tersebut. Sekitaran pukul 3 lebih, saya sudah nggak nyaman berada di ruang seminar. Karena saya harus balik ke rumah karena di rumah ada hajatan simbah. Dan saya pun langsung ngacir meninggalkan teman saya itu untuk pergi ke stasiun Purwosari.

Sampai di stasiun Purwosari sudah setengah lima dan kereta sudah berangkat. Saya dapat tiket jam 7. Kalau dipikir-pikir, karena kelamaan, saya memutuskan untuk berangkat ke terminal dan naik bus saja. Pas lagi nawar ojek buat ke terminal, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak masih diawal umur 30an menawari saya tumpangan ke Jogja pakai mobil. Tanpa saya pikir panjang saya iya-kan saja tawaran tersebut. Ternyata bapak-bapak tersebut mau pergi ke Jogja jalan-jalan karena istrinya yang bosan di rumah. Kebetulan waktu itu ia juga mengantar keponakannya yang mau beli tiket buat balik ke Purworejo. Karena antri yang sangat panjang itu, entah mengapa kami jadi bertemu.

Sudah beberapa kali saya berkenalan dengan orang baru dan pergi begitu saja dengan orang itu tanpa pikir panjang. Sepanjang perjalanan menuju Jogja saya jadi kepikiran yang tidak-tidak. Tapi entah mengapa feeling saya mengatakan all is well  jadi saya tenang-tenang aja. Begitu baiknya orang itu hingga saya diantar ke stasiun Tugu buat ambil motor yang saya titipkan. Memang sih mereka mau jalan-jalan sekitaran Malioboro Kraton Alkid sekalian cari bakpia buat keponakannya yang seumuran sama saya (percaya deh, keponakannya itu nggak cakep kok, hehe). Yang pasti, kejadian ini sebaiknya tidak ditiru. Yah, mungkin saja kamu tidak seberuntung saya ketemu orang baik-baik. Lain kali, saya juga akan hati-hati sekali. Kalau tidak kepepet, saya juga nggak bakalan mau menumpang kok.

Oke, sekian dulu cerita saya ini. Maaf diselingi cerita yang nggak jelas. Sampai jumpa di jalan-jalan arsitektur lainnya.




[ ]

No comments :

Post a Comment