#CULTURE / / / Grebeg Ruwah

Sunday, 15 June 2014

Entah, saya juga tak tahu mengapa tiba-tiba saya terdampar dan melihat grebeg ini berlangsung.

*

Sabtu 14 Juni harusnya saya ikut workshop di Tembi (read my related post), tapi ternyata gagal akrena harus ngurus regristasi ulang yang saya lewatkan di hari Kamis di Kampus Widya Mataram, Ngasem ke Barat. Sempat temangsang (lagi) di Seminar Culture and Future karena materinya yang lumayan bagus. EH, pas pulang entah mengapa tiba-tiba bapak tukang jga parkir kampus bilang kalau sebentar lagi akan ada grebeg apeman yang lewat di jalan depan kampus.

"Pasti ini ada artinya, bapak-bapak tukang parkir itu memberitahu kita tentang grebeg apeman. Kita harus melihat grebeg ini. Mungkin ini pertanda dari alam semesta." begitu kata teman saya. Eh, serius lhoh, dia memang berkata seperti itu kepada saya. Alhasil saya dan teman saya, berhenti sejenak untuk melihat grebeg apeman ini. Dan, setelah agaknya setengah jam, rombongan grebeg apeman ini akhirnya terlihat juga.

(pembersihan jalur parade)

(barisan awal mulai terlihat di belakang mobil patroli)

(barisan pembawa dupa)
(barisan penabuh gamelan)

(mungkin semacam tetua kaena pakaiannya beda sendiri)






Sayangnya, parade orang-orang yang mengarak gunungan apem ini tidak terlalu ramai. Jadi ya, sekitar sepuluh menit parade ini pun lewat begitu saja dari hadapan saya dan teman saya. Kami pun menertawakan hal konyol ini dan bergegas pergi ke TBY, untuk menikmati perhelatan seni di Jogja yang satu ini. Ah, tapi maaf, saya cuma posting dikit tentang ArtJog 2014 karena saya tak begitu menikmati pameran yang satu ini.

*

Grebeng adalah prosesi adat sebagai simbol sedekah dari pihak Kraton Yogyakarta kepada masyarakat berupa gunungan. (sumber: link ini). Di Jogja sendiri, grebeg dilakukan 3 kali dalam setahun, grebeg mulud (awal bulan Maulud) atau terkenal sebagai grebeg Sekaten, grebeg Syawal (ketika menjelang Idul Fitri) dan grebeg Besar (ketika menjelang Idul Adha). Kata grebeg berasal dari kata gumrebeg yang memiliki filosofi sifat riuh, ribut dan ramai.

Untuk grebeg Ruwah ini sebenarnya dulu sekali pernah diadakan. Tetapi kemudian terhenti dan mulai tahun ini katanya akan mulai dilaksanakan kembali. Saya kurang tahu sih mekanismenya gimana. Tetapi, yang saya tangkap, grebeg ini dilakukan oleh semua desa yang ada di dalam jeron benteng kraton. Prosesi ini dilakukan sendiri-sendiri oleh tiap desa. Padahal kalau dikoordinasikan dengan baik antar satu desa dengan desa lain, grebeg ini pasti akan ramai dan meriah sekali.

[ ]

No comments :

Post a Comment