#ART / / / Hope or Dream ?

Monday, 12 December 2011

Well, after the second tired display, I felt so down because of my lecturer comment. And so I didn't want to do anything except though about my design. Saya merasa tak mengerti dan tak pernah paham apa yang dipikirkan oleh dosen saya yang satu itu. sebuah tanda tanya besar muncul di benak saya, seperti sebuah kalimat yang ada di desain saya 'Can you find me?'. Seolah pelajaran yang harusnya bisa saya ambil denga mudah dari introspeksi diri, malah bersembunyi dan main petak upet dengan saya, kemudian berteriak kepada saya, 'Can you find me, buddy?'


Well, kadang memang apa kita harapkan mungkin tidak terkabul meski kita telah berusaha maksimal untuk mendapatkannya. Saya yakin selalu ada faktor 'x' yang mempengaruhi hasil akhir walaupun kita telah dengan susah payah berusaha 100%. Seperti kata teman saya mengenai 'proposal to be somebody girl/boy friend'. Dia berkata, meski sejak awal kita telah menyiapkan diri untuk mengatakan tidak, tapi saat 'hari h' pasti ada faktor 'x' yang akan membuat jawaban tidak itu menjadi ya. Nah, ibaratkan hal tersebut, display ya seperti itu. meski sekuat tenaga sudah 100% berusaha, pasti ada faktor 'x' yang memperngaruhi hasil display.

Setelah merasa begitu frustasi, akhir-akhir ini saya mengalihkan rasa frustasi saya ke gambar. Akhir-akhir ini, saya sering iseng menggambar hal-hal yang tak jelas dan saya upload ke deviantart saya yang sudah lama terbengkelai. Dan berikut ini gambar yang saya maksud.


And I spent one night to do some finishing process. Something like this



Saya membuat begitu banyak alternatif untuk fiuplod ke deviantart saya, tetapi pada akhirnya saya bingung hendak memilih yang mana dari 2 gambar berikut;


( hope or dream? )

Pada akhirnya saya memilih gambar yang terakhir karena saya suka pada konsepnya.
Jadi gambar ini bercerita mengenai harapan dan mimpi. Mengapa saya gambarkan sebagai tangan yang membawa burung kertas? Di jepang, burung kertas adalah simbol burung bangau yang merupakan perlambangan harapan. Mengapa bangau? Di jepang, ada sebuah kepercayaan bahwa bangau bisa hidup ratusan tahun. Nah, oleh karena itu, harapan yang dimaksud semoga bisa tercapai dan bertahan ratusan tahun.

Di gambar ini, saya ingin menjelaskan bahwa apapun itu, our dream or our hope are in our hand. It depends on us, it will come true or still in your dream. 

I believe, everybody has something that he/she want so much in his/her life. But what kind of this thing? Something that you really want until you want to do anything to get it? Or something that you want to realize, you hold and live by no matter what others are saying? So, which one is yours? Hope or dream?
Whatever the kind of yours, you must fight for it. No matter the result, you must fight for it. 


Everyday is fighting day. Fight for yours, because I'm going to fight for mine.

Thursday, 1 December 2011

( out of criteria )

She is the only one, whom you are looking for.
And I, who do (not) always look at you.

Friday, 21 October 2011

" dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah"

#ARCHITECTURE / / / Code River Side

Sunday, 9 October 2011

Tak kenal maka tak sayang.




Sebagai seorang mahasiswa jurusan arsitektur, sungguh sangat memalukan kalau tidak mengenal siapa Romo Mangun. Beliau adalah seorang arsitek jogja yang terkenal di dunia lewat karyanya di bandaran kali Code sebelah barat McD jalan Sudirman, Jogja. Berkat beliau, perumahan kumuh di daerah itu dulu tak jadi digusur oleh pemerintah. Beliau membantu sekaligus mengajak penghuni bantaran kali Code itu untuk berbenah diri mnjadi perumahan yang sehat sehingga tak dipermasalahkan lagi oleh pemerintah kala itu. Dan usaha beliau berhasil, perumahan itu tidak jadi digusur dan pada tahun 1992, Romo Mangun mendapatkan penghargaan bergengsi di dunia arsitektural, Aga Khan atas karyanya itu. Ada dua karya di pinggir sungai yang menjadi trendmark tempat itu, yaitu museum Romo Mangun yan berupa rumah singgah dengan fasilitas ruang baca, serta sebuah banggunan multi fungsi sebagai tempat pertemuan warga setempat.


( sumber : www.indonesiadesign.com )

( sumber : uniekpratiningrum.blogspot.com )
( sumber : gelaranalmanak.com )

Well, saya sebelumnya memang belum pernah mengunjungi tempat itu juga. Dan setelah mendengar tentang hal itu dari dosen saya, saya jadi ingin sekali pergi ke tempa itu.Nah, kebetulan ada seorang teman yang mengajar anak-anak di sana dan tahu tempatnya. Alhasil sore yang aneh itu, saya memutuskan untuk ke sana, bersama teman saya, Riri.

Sampai di sana, kami malah membeli es krim ke pak penjual es krim yang ada di dekat kami parkir. Dulu waktu saya kecil, saya sering sekali makan es itu. Dan di daerah saya, es itu di sebut es dong dong, karena dulu saat lewat, penjual es krimnya selalu membunyikan seperti gamelan dan bunyinya dong dong. Lumayan mahal juga sih, tapi tak apalah untuk melapaskan rindu masa lalu.

( pak penjual es krim )

Kami lalu jalan terus ke bawah sampai pinggiran kali code dan menuju museum Romo Mangun yang entah sialnya saya waktu itu, museum sedang tutup. Dan akhirnya kami hanya menikmati suasana code sore itu.

( pemandangan jembatan dari samping museum )
( selasar depan museum Romo Mangun )
Setelah puas karena tak ada yang bisa di kerjakan di museum Romo Mangun, Riri mengajak saya untuk menuju tempat yang sering disebut sebagai balai dan temapt kumpul warga. Bangunan itulah tempat dimana piagamAga Khan di pajang. Hehehehe, keren sekali. Terpiikirkan oleh saya, apakah saya akan jadi arsitek seperti Romo Mangun? Ataukah saya akan jadi arsitek yang berkarya untuk uang? Dan sejak saat itu, terbesit di pikiran saya tentang architecture for humanity yang dibicarakan oleh seseorang bernama Reza Arlianda.

Well, saya tidak terlalu banyak engambil foto dengan kamera mainan saya, karena memang saat itu sudah sore dan kurang cahaya sehingga saya kurang yakin apakan foto yang akan dihasilkan baik atau tidak. Dan berikut ini adalah foto-foto yang saya ambil ketika berkunjung di Code sore itu.

( senja di atas Code )
( diorama warna )
 Nah, foto ini saya ambil di depan balai-balai tempat ngumpul-ngumpul warga.

( langit terakhir sore itu )

Well, sampai di sini akhir cerita saya mengenai kunjungan saya ke bangunan Romo Mangun. Sampai jumpa di jalan-jalan arsitektur lainnya.

#PHOTOGRAPHY / / / Architentografi

Saturday, 8 October 2011

Well, ternyata punya toy cam ada hikmahnya juga.

Sudah cukup lama juga sejak saya sering membawa kamera mainan saya ke kampus dan suatu hari saya minta tolong kepada teman saya, Fani, untuk memasangkan film di kamera saya. Saat itu beberapa teman saya bertanya-tanya mengenai kamera saya itu. Wal hasil architen penasaran dan minta difotoin dengan kamera saya itu. Dan ini lah hasilnya, hanya beberapa saja karena keburu masuk kuliah studio. hehehehe,

( jepretan pertama di roll kali ini )





Saya pribadi sih, cenderung suka jepretan yang pertama. Meski ada bekas kebakar, tapi bekas kebakarnya itu lumayan bagus ditimbang bekas kebakarnya yang dulu. Oh iya, awalnya yang minta foto beberapa anak saja. Tapi lama kelamaan yang minta foto jadi banyak dan mukanya jadi tak terlihat dengan jelas. Dan mereka malah menertawakan suara kamera saya yang memang aneh karena suara perputaran penutup lensa. Sialan, tapi tak apa lah.

Belakangan saya baru tahu kalau ternyata teman saya, Tirta, punya diana. Saya sendiri kurang tahu sih bentuknya seperti apa. Tapi dari penjelasannya, kameranya keren deh, gambar yang diambil bisa dibikin numpuk-numpuk gitu. Selain itu, saya baru tahu kemarin kalau ternyata Fika juga punya aquapic, kamera bawah air yang dia peroleh dari seseorang. Selain itu, suatu ketika Tami pernah cerita kalau dia ternyata punya kamera analog, dan Fani juga punya. Jadi saya berencana sih, mungkin architen bisa jalan-jalan sambil hunting pake kamera masing-masing.

#PHOTOGRAPHY / / / Toy Cam Second Snap

Monday, 19 September 2011

Well, I come back to show you my toy cam second album.

Jadi, setelah cukup belajar banyak tentang seberapa banyak cahaya yang dibutuhkan saat pengambilan gambar, saya sekarang belajar untu mengetahui seberapa cepat putaran penutup lensa kamera saya. Nah, di roll film kali ini memang banyak yang hasilnya kurang memuaskan, tapi ada beberapa foto yang bener-bener saya sukai, yaitu foto-foto sunset. Warnanya benar-benar bagus sekali. Nah, ini dia album action sampler saya yang ke dua.



Jadi dua foto di atas adalah foto teman-teman saya saat kami berwisata ke Hutan Pinus di Ponjong dekat perbatasan dengan Wonogiri. Jadi, dari puncak hutan itu kita bisa melihat waduk Gajah Mungkur yang ada di Wonogiri. Keren nggak sih tempat itu!



Ya, dua foto di atas adalah foto yang kuambil di hutan pinus itu. Kira-kira begitu lah suasananya. Sedikit kurang cahaya gitu. Dan karena kontrasnya keadaan di dalam hutan itu, foto-foto hutan yang diambil jadi ada efek flare-nya. 


Ini adalah foto teman saya. Efeknya lumayan nggak sih? Jadi dia berdiri di atas batu dengan background siluet hutan pinus. Lalu sosok teman saya itu seolah-olah menggenggam 'matahari' gitu. Hahahahaha, keren sih niatnya, tapi menurut saya, seharusnya perbandingan ojek harus dibesarin lagi, biar jelas.


Ini adalah foto sunset yang saya ambil ketika ada di alun-alun Kabupaten Gunungkidul. Waktu itu saya tak sengaja melewati alun-alun dan melihat betapa kerennya pemandangan sore kali itu. Niat mau memotret layang-layang yang ada di langit sore itu. Sayangnya lensa Action Sampler-ku nggak mungkin bisa menjangkau keadaan sore itu kan, jadi saya memilih memotret sunset sore itu. Dan ternyata, hasilnya ( menurutku ) keren sih.








Well, foto-foto di atas adalah foto-foto yang saya ambil ketika saya dan teman saya bermaksud untuk berburu sunset sore itu. Jadi saya dan teman-teman saya memutuskan untuk pergi ke Pantai Sundak untuk berburu sunset. Sayangnya sore itu langit sama sekali tidak cerah alias berawan dan hasilnya, tentu saja seperti yang kalian duga, saya tak berhasil mendapatkan sunset sore itu, dan kamera saya malah jadi ajang foto narsis teman-teman saya yang sore itu ikut berburu sunset.


Foto ini adalah foto teman baik saya di kampus. Dari kiri ya, ada Nuzuli, Noya, Nuci, dan juga Riani. Backround foto ini tentu saja innercourt Arsi yang sekarang sudah bisa dibanggakan karena 'kecantikannya'.




Masih hari yang sama ketika saya memotret teman-teman baik saya di Jutap, saya memutuskan untuk pulang karena saat itu masih masa liburan. Nah, selama perjalanan, saya mencoba-coba memotret ketika saya naik motor. Sebagian besar hasilnya blur karena kecepatan saya yang terlalu cepat. Dan foto-foto yang saya cantumkan di sini adalah foto-foto yang bisa saya bilang lumayan lah. Ngomong-ngomong, saya juga sangat suka foto yang paling atas dari ketiganya. Warna langitnya entah kenapa keren.



Masih di hari yang sama juga nih, sore harinya saya basket bersama teman-teman saya yang masih tersisa di Gunungkidul dan memotret beberapa. Dari dua foto di atas, foto paling bawah adalah hasil jepretan saya. Niatnya adalah saya mau memotert dengan keadaan seolah-oleh bulan yang ada di langit ( difoto terlihat seperti titik putih saja), seolah-olah masuk ke dalam keranjang basket. Nah, kalau foto yang pertama di atas adalah hasil jepretan teman saya yang bernama Ilham. Dia adalah teman yang mendorong saya untuk menggeluti lagi dunia perfotografian. Menurut komentarnya sih, gambar di foto itu tidak sesuai dengan apa yang ia lihat di dalam finder. Ya tentu saja, karena dia baru pertama kali itu menggunakan kamera saya.




Setelah lama menunggu momen untuk memotret sunset, akhirnya saya menemukan momen yang tepat itu! Yeah, hari itu saya pergi ke rumah teman saya untuk menggarap mural dinding di kamarnya. Setelah paginya berbasket ria, siangnya saya dan dua teman saya langsung menuju ke teman saya itu. Sorenya kami pulang sekitar pukul 5 sore dan kami berhenti di sebuah tempat bernama Ngingrong. Ngingrong adalah sebuah 'grand canyon' mini yang ada di Tepus Gunungkidul. Menurut salah satu teman saya, katanya Ngingrong itu adalah bekas Bengawan Solo purba. Dan memang tempatnya keren abis. Untungnya, sore itu sepertinya langit berpihak kepada saya. Meskipun berawan, nyatanya saya bisa mengambil gambar sunset. Dan dua foto terakhir di atas adalah foto teman saya yang menemani saya menunggu sunset di Ngingrong.

( sunset in the end of bloody sunday )

Well, ini adalah foto sunset yang saya ambil ketika saya sore itu memutuskan untuk mulai pergi merantau ke Jogja untuk mencari ilmu. Dan saya sedikit kecewa dengan foto sore itu, karena sunset-nya tidak sesuai dengan sunset yang saya lihat sore itu. Dan sebenarnya foto sunset sore itu adalah sunset yang mengakhiri hari itu, hari yang saya sebut sebagai Bloody Sunday.


Oke, sampai di sini dulu saya berbagi mengenai hasil jepretan saya dengan action sampler saya. Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

#PHOTOGRAPHY / / / My New Camera

Thursday, 15 September 2011

Well, I do a lot of thing when I was in holiday.


I want to introduce to you my new camera. Taraaaa!!!


( my action sampler )
Ini adalah kamera saya yang belinya di Bandung dan nitip sama teman saya yang masih ada di sana. Berawal dari sebuah percakapan singkat dengan seorang teman mengenai per'kamera'an, saya jadi tahu kalo di Bandung ada yang jual macam-macam toy cam. Karena saya nggak tahu dimana beli toy cam di Jogja, alhasil saya minta titip sama teman saya yang masih ada di Bandung untuk membelikan saya kamera ini.


Ada sedikit cerita menarik tentang pembelian kamera ini. Jadi saat teman saya mau membelikan kamera ini, teman saya sampai keliling bandung dengan bermodal petunjuk 'beli kamera lomo'. Nah, kayaknya penjualnya tidak begitu paham, kan, alhasil ditawari kamera analog model jadul yang mahal banget. Katanya sih, mereka hampir nyerah dan akhirnya nggak sengaja melihat kamera saya ini di sebuah toko mainan anak-anak.


Tentang kamera saya, kamera saya adalah model Action Sampler yang lensanya ada 4 buah. Jadi sekali jepret akan ada 4 buah gambar yang tercetak di lembar film yang ada di dalam kamera. Kamera saya ini tidak perlu baterai. Nah loh, gimana cara pakainya tuh? Jadi, karena tanpa baterai, kamera ini hanya bisa digunakan di luar ruangan dan tempat-tempat yang terkena sinar matahari. Masih tak mengerti? Oke, apakah kalian tahu mengenai cara kerja kamera lubang jarum? Yak, mekanisme kerja kamera saya ini hampir mirip dengan kamera lubang jarum. Dan benar-benar hanya bisa digunakan di luar ruangan karena membutuhkan cahaya matahari. Kalau cahaya mataharinya kurang, ya hasilnya akan banyak noise-nya bahkan benar-benar tak jadi.


"Kalau kamu punya kamera baru,
          apa yang akan kau foto dengan first film-mu?"


Ya, pertanyaan itu sempat membuat saya bingung, karena bagi saya, objek foto pertama adalah objek yang istimewa, bagus, dan tentunya meninggalkan kesan tersendiri terhadap saya. Dan ini lah hasil jepretan pertama saya kali itu. Sedikit terbakar sih, tapi lumayan lah.


( jepretan pertama )

Karena belum tahu kamera ini modelnya kaya gimana karena 4 lensanya, jadi saya nyoba-nyoba nggak jelas. Mulai dari foto saat saya sedang di perjalanan, ataupun ngefoto di dalam ruangan. Alhasil, foto-fotonya banyak yang nggak jadi.


"Jika film di kameramu tinggal satu,
                                 apa yang akan kau foto?"

Pertanyaan itu terlintas dipikiran saya ketika pada akhirnya saya sadar bahwa film saya tinggal beberapa helai lagi. Lantas saya (entah mengapa ) jadi kalut sendiri, bingung karena pendapat saya sendiri mengenai the last roll yang tentunya harus istimewa. Yah, saya sendiri sih yang membesar-besarkan hal tersebut, tapi saya malah jadi tergerak untuk tidak memubazirkan helai-helai film saya yang terakhir. Well, setelah berhari-hari hunting sendirian, hampir pergi main tiap hari, dan akhirnya saya memutuskan untuk tak menggunakan the last  roll. Pengecut mungkin, tapi saya tidak menggunakan film terakhir itu. Dan jepretan saya yang terakhir ternyata malah tak jadi sama sekali.


Dan, inilah hasil jepretan saya dengan gulungan film pertama saya. Karena memang waktu itu kepasan mau buber ma temen-temen kelas di SMA, jadi harap maklum apabila foto-fotonya banyak foto-foto narsis


( ini foto jembatan yang saya lewati saat mau buber )

( teman saya nih, entah mengapa dia menghindar,
atau saya saja yang nggak jago memotret? )

( sun in the west )

( teman saya yang mbeliin kamera di bandung nih )

( teman saya nih, hehehehe )

( teman-teman sekelas nih,'keluarga' saya )

( yang memotret bukan saya nih. Lumayan ya?
Tapi objeknya kurang gedhe dikit )

( Ini nih orang yang menganjurkan saya untuk beli kamera saya itu )

( Kurang gimana gitu ya? Nggak jago yang ngefoto )

( uji coba saja )

( hime, :3 )

( duo ponjong )

( ini temenku yang motret. Kurang geser kanan, kan ya? )

( perjalanan menuju tempat buber )

( uji coba lagi, dengan objek yang sama tentunya )

( missing place )


Yak, sampai di sini galeri percobaan roll film pertama saya. Sampai jumpa di postingan berikutnya.