#SASTRA / / / WANA GITA

Monday, 30 May 2016



Saya pergi ke Padepokan Seni Bagong Kusudiarja beberapa waktu lalu untuk datang ke Jagongan Wagen. Hari itu, materi Jagongan Wagen adalah pementasan dari sepenggal pemaknaan kisah Ramayana.

Malam itu, sekembalinya dari menonton Jagongan Wagen, saya jadi teringat puisi karya Sapardi.


*

Benih

               Sapardi Djoko Damono



"Cintaku padamu, Adinda," kata Rama, "adalah laut yang pernah
bertahun memisahkan kita, adalah langit yang senantiasa
memayungi kita, adalah kawanan kera yang di gua Kiskenda.
Tetapi . . .," Sita yang hamil itu tetap diam sejak
semula, "kau telah tinggal dalam sangkar raja angkara itu
bertahun lamanya, kau telah tidur di ranjangnya, kau bukan lagi
rahasia baginya."

Sita yang hamil itu tetap diam: pesona. "Tetapi Raksasa itu
ayahandamu sendiri, benih yang menjadikanmu, apakah ia juga
membenihimu, apakah . . . " Sita yang hamil itu tetap diam,
mencoba menafsirkan kehendak para dewa.


1981


[ ]

#ESSAY / / / Bunga

Sunday, 15 May 2016

Petang selepas Maghrib, di sebuah persimpangan menuju kampus kerakyatan, sekelompok pemuda dan pemudi yang masih begitu muda menghampiri sebuah mobil yang melambat karena lampu lalu lintas yang berubah dari kuning menjadi merah. Sebuah sepeda motor nekad menerabas lampu merah dan diberondongi suara klakson pengendara sepeda motor dari arah timur yang telah melaju sebelum hijau. Beberapa pengendara sepeda motor melambat dan berhenti di depan lalu lintas yang telah merah itu. Sekelompok pemuda pemudi mengetuk-ngetuk jendela mobil, menawarkan kuncup-kuncup mawar yang siap rekah.

“Pak bunganya pak, sepuluh ribu saja.” Ujar seorang pemudi berkerudung sambil menawarkan mawar dan senyuman. Suaranya terdengar renyah. Pengemudi mobil itu menggeleng di balik kaca mobil yang tidak diturunkan. Kelompok pemuda pemudi itu bergerak menuju mobil yang lain, menawarkan mawar lebih semangat lagi. Mereka sumringah ketika kaca di samping kemudi mobil itu diturunkan.

“Berapaan?” Tanya laki-laki paruh baya itu kepada mereka.

“Sepuluh ribu saja, pak. Ini memang masih kuncup, tapi nanti pasti di rumah sudah mekar. Bunganya bisa awet sampai 3 hari asal ditaruh di dalam vas.” Ujar pemudi yang berkerudung tadi. Kalimat itu begitu lancar seolah ia telah mengulang-ngulangnya selama berbulan-bulan, setiap hari.

“Apa tidak bisa kurang?”

“Wah, sudah pas pak. Ini kami sedang cari dana pak lewat jualan bunga.” Celetuk seorang pemuda di gerombolan itu.

Laki-laki di dalam mobil itu tersenyum lalu mengeluarkan dompetnya.

“Saya beli satu ya.” Ujar laki-laki itu sambil mengulurkan uang sepuluh ribu yang ditukar dengan setangkai bunga mawar.

“Terimakasih, pak.” Ujar mereka serentak penuh suka cita yang dibuat-buat.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Kelompok pemuda pemudia itu menepi di dekat separator jalan yang penuh dengan bebungaan rendah sambil bercanda satu sama lain. Pengemudi mobil itu tersenyum kepada kelompok itu lalu menaikkan kaca samping kemudi dan bergerak pelan mengikuti kedaraan-kendaraan lain.

Sementara itu, di dekat lampu lalu lintas, dua orang anak kecil ikut menepi. Di dekapannya ada setumpuk koran edisi hari ini. Tatapan mereka kosong terarah pada kelompok pemuda pemudi penjual kuncup mawar. Mereka terduduk di separator yang sama. Sementara malam semakin larut, dan orang-orang yang melintas di persimpangan itu pun mulai berkurang.


***


Kita lebih bahagia membeli setangkai bunga daripada membeli koran basi tadi pagi. Bukankah kini, apa apa bisa kita buka lewat lini masa? Tak perlu lagilah menumpuk sampah.

Seseorang dapat tersenyum menatapi bunga, sementara berita membawa resah. Dunia ini penuh dengan darah tumpah. Sedang mata-mata yang menangis darah, mulut yang penuh serapah, pemuda yang tergopoh-gopoh belok kiri ada pak polisi. Dan adikku, ya, adikku yang berdiri di kanan jalan mewarta untuk makan malam.

Di balik tembok sebelah, ada pemuda yang memetik bunga sebelum kuncup, mencerabutnya dari akar. Sementara bebungaan yang sedang mekar, memang selalu sedap di dalam pandangan. Dipetik lebih cepat, dipangkas beramai-ramai. Syahdan sangka, begitu layu ia dibuang ke jurang. Dan bunga palsu berjejer di atas trotoar, buket buket yang cantik, rangkaian yang menarik. Memang bagus ya ia dipajang kamar. Kalau sudah bosan, tinggal dijual ulang saja di lapak maya.

Di lepas pantai, ada petani bercerita menyundul angkasa soal kebun bunga. Dicangkulinya muara, yang kelak rekah kelabakan mereka memanen laba. Seperti tidak terima, yang lain mogok di muka Istana, via nirkabel juga bisa, mengadu aduh berhari-hari, lini masa gaduh.

Ibu-ibu maju ke depan, duduk dan hanya diam. Kakinya dicelupkan, persis seperti kakiku yang kucelupkan jikalau capai seharian jalan. Bapak-bapak di belakang, berpose membawa clurit dan parang di balik badan. Mereka mengeluh, duh, bukit-bukit pekarangan hendak dijadikan rata kebun bunga. Para bapak-bapak lain duduk di muka jendela, menonton drama pementasan sastra kesenian rakyat, sementara beberapa akhirnya nyenyak didongengi revisi revisi revisi revisi revisi perah-tuan, eh, peraturan.

Lalu, di pagi hari setelahnya, adiku yang itu bolos sekolah, juga besok, dan hari hari setelahnya. Mau jualan bunga katanya.
Hari ini, si bunga jadi warta utama. Lalu setelahnya. Dan setelahnya. Dan setelahnya. Setelahnya.


[ ]


#PUISI / / / Mura

Saturday, 7 May 2016



Betapa jauh bumi terbelah satu muara samudra
Awang-awang tentang hati yang tertinggal di antara hari yang tanggal
Panas dingin berganti semusim, dan surat pun berhenti
Sepertinya kata tak menemukan lagi cara bicara
Dan rindu, ia dingin bersama air mata yang didih

Pagi, seolah aku bermimpi, semalam kau diantara lelap dan senyap

[ ]