HAPPY NEW YEAR

Saturday, 31 December 2016


Welcome, another 365 days!
May it will be more adventurous and joyful ahead.

#ESSAY / / / The Importance of Traveling and Communicating with Community. Encouraging Young Architect to Work along with the Community

Tuesday, 27 December 2016

Architecture belongs to the community. As a part of the culture, yet architecture is rarely attributed to a person. Architecture is a real evident, a result of a process of cultural revolution, which blatantly represent the community existence, its technology, indigenous knowledge, craftsmanship and social structure. In the context of Southeast Asia culture, architecture manages to be cultural heritages. Architecture as a building is built by the community altogether, as a product of social-evolutions, economics, politics, beliefs, and traditions. It is complex. Each architecture from the different community is so distinct yet looks familiar to each other.

As a cultural product, architecture is an outcome from the dialogue between every aspect of the society. Technological limitation is influenced by the material resources. The craftsmanship is passing trough of each generation. The process repeats and readjusts to the socio-evolutions and technology updates. Working in the community, each member confronts each other. They have to cooperate their idea before they make a decision. It defines the sense of belonging. So that’s why interaction is the most important thing. This is the thing you will only get when you are travelling.

I consider it is really important to interact and communicate the diverse idea by the opportunity to travel. By travelling abroad, you will meet new various people from different backgrounds and experience new cultures. You will probably expose to new things you’ve never done in your life and manage to deal it by yourself. This experience is not every day you can do. Not only because it will broad your knowledge, but also manage an opportunity to build an international relationship. It also may allow cultural exchanges.

The concept ‘architecture as a community culture’ is lessening, when the new term ‘architecture’ was brought by colonialism. Architecture is being attributed to an individual or a group, we call ‘architect’. During making architecture, architect and the community are distant. Sometimes, the community only contributes in the building process. The result may still be a part of the culture, but community no longer has the sense of belonging anymore. It is a challenge for a modern generation, to bridge this gap. How we have to approach the community and work together, making architecture not only one person’s knowledge, but also in term of a desirable form of society, a cultural artefact belongs to a community. 

Volunteering as an architect can be really an interesting experience. The product is built altogether by the process of dialogue between architect and the community. The impact is direct. The sense of belonging can be increased. The important trough this approach is we manage to build a relationship with the community. Volunteering as an architect also gives another opportunity to have a dialogue with the workers, transfer the knowledge, and try dealing with the design limitation which we rarely meet working in the office.


 [ ]

#FILM / / / Lemantun, Makna Sebuah Warisan

Saturday, 5 November 2016

Saya habis pergi menonton pemutaran 5 film pendek karya Wregas Banutedja di FIB UGM yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Antropologi UGM kemarin malam. Sebenarnya, teman saya yang mengajak karena dia ingin menonton Prenjak yang katanya dapat penghargaan Leica Cine Discovery Prize  di Festival Film Cannes, 2016. Kabar ini sebenarnya hanya samar-samar saja saya lihat di social media saya. Saya penasaran tetapi rasa penasaran saya tidak hingga membuat saya ingin sekali melihatnya. Ya kalau ada kesempatan bisa nonton ya nonton, kalau enggak, ya sudah, mungkin cari lain waktu.

Tapi sebenarnya alasan saya menulis ini bukan karena film Prenjak itu. Melainkan disebabkan oleh impresi mendalam saya terhadap film garapan Wregas Banutedja sebagai tugas akhirnya di IKJ. Film ini berjudul Lemantun.


*


Lemari-lemari dan Kursi Jengki
(sumber gambar : https://www.insgy.com/tag/lemantun)

Suatu ketika saya dan keluarga saya sedang berkumpul dan makan malam bersama di meja ruang makan kami, ayah saya tiba-tiba berkata,

"Nak, sesungguhnya kelak aku tak bisa mewarisimu apa-apa. Hanya ilmu pengetahuan yang aku usaha untukmu yang akan jadi bekalmu di masa depan."

Langsung, saya jadi tak berniat meneruskan makan saya. Saya merasa tak nyaman terseret dalam melankoli yang tiba-tiba ayah saya hidangkan di atas meja. Saya sendiri lupa mengapa ayah saya berkata seperti itu, entah obrolan apa yang kami bicarakan sebelumnya hingga ia memutuskan menyelipkan kalimat yang menggerus perasaan saya. Setelahnya, seperti biasa, ayah saya langsung berkelakar menyemarakkan suasana lagi. Adik saya menyahuti kelakar itu dengan kelakarnya sendiri. Seperti biasa ibu saya yang pendiam itu tetap diam. Sementara, saya menelan susah payah sisa-sisa makanan yang ada di piring saya hingga tandas meski lezatnya berkurang setengah.

Malam itu, sebelum tidur sembari menatap usuk, reng, dan genteng rumah di kegelapan kamar, saya merasa seperti ada beban baru saja masuk dalam keranjang pikulan saya.


*


Menjadi sangat sensitif menurut saya, manakala selepas umur 20-an, kebanyakan orang mengusik tentang hal-hal yang berbau keluarga. Sensitif baik secara emosional dan personal. Lebih khususnya karena, ada semacam kewajiban moral yang terbangun dari hubungannya timbal balik terhadap diri anak dan keluarganya yang suatu ketika harus ditunaikan. Mungkin seperti itulah yang menyebabkan saya merasakan kedekatan emosional terhadap film Lemantun. Film yang berdurasi 20 menit ini mampu membuat saya kembali teringat-ingat pada keluarga besar saya di kampung halaman.

Mengisahkan, 5 orang anak yang mendapatkan warisan lemari (lemantun, dalam Bahasa Jawa Halus bermakna lemari) dari Ibunya. Dalam cerita itu, sang ibu yang selalu membeli satu lemari saat setelah melahirkan anak-anaknya, ingin mewariskan lemari-lemari tersebut, karena mungkin ia merasa sudah terlalu tua. Anak-anaknya diminta untuk mengambil undian untuk menentukan siapa mendapat lemari yang mana. Singkat cerita, masing-masing dari anak akhirnya menemukan lemari yang sesuai dengan nomor undian mereka. Menjadi menarik ketika sang ibu kemudian meminta masing-masing dari anaknya untuk membawa pulang lemari itu. Para anak itu pun akhirnya mengusahakan segala cara untuk bisa mengangkup pulang lemari warisan. Kecuali satu orang.

Ada satu adegan yang membekas dalam benak saya setelah menonton film ini. Sang anak tengah yang di dalam cerita tinggal bersama sang ibu, tidak dijelaskan apakah ia belum menikah atau sudah bercerai, merangkak masuk ke dalam lemari warisannya, seperti dulu ketika lima bersaudara itu masih kecil dan sering main petak umpet. Ia termenung, memikirkan 'rumah'nya sendiri.


*


Lemari dalam film ini dikatakan Wregas sebagai gambaran dari rahim ibu. Ibu mengandung anaknya selama 9 bulan di dalam rahimnya, dan membeli satu lemari sebagai penanda kelahiran anaknya. Lemari menjadi sebuah simbolik wujud fisik kasih sayang seorang ibu dan parameter kebendaan -bebondo-. Ketika seorang anak lahir, kasih sayang ibu selalu menyertainya sampai dengan waktu yang tak terbatas. Kasih sayang adalah bilangan infinitif. Di dalam film ini, ketika seorang ibu mewariskan lemarinya, mengambarkan restu dan kasih sayang Ibu yang diturunkan kepada anak-anaknya yang telah berkeluarga masing-masing.

Di dalam kajian pewarisan budaya di dalam masyarakat, mewariskan benda kepada anak cucunya adalah bagian dari usaha untuk mewariskan masa lalu. Di dalam masyarakan Jawa di tempat saya dibesarkan, memberikan lemari kepada anaknya sesaat setelah pernikahan adalah hal yang wajar. Lemari-lemari yang diwariskan ini kadang memang sengaja dibuat dari kayu jati kualitas tinggi. Atau kadang malah diberikanlah lemari tua yang tak kalah antep -besar dan berat karena materialnya yang berkualitas-. Itulah mengapa, kebanyakan lemari tua dibuat dengan kayu kualitas paling bagus sehingga mampu diberikan turun-temurun selama beberapa generasi. Budaya ini sering dilakukan oleh keluarga anak perempuan. Sang ibu akan memberikan lemari dan set alat makan kepada anak perempuannya yang barusan menikah.

Menurut saya, terlepas dari pemaknaan Wregas Banutedja yang menganggap lemari adalah gambaran simbolis dari rahim ibu, jelas ada makna lain yang lebih besar mengenai posisi lemari dalam sebuah rumah yang menggambarkan hubungan antara orang tua dan anak, posisi ibu dalam keluarga. Sejak dulu, lemari digunakan sebagai tempat penyimpanan. Kita menyimpan baju-baju bagus di dalam almari, perkakas-perkakas yang jarang dipakai dan bahan makanan yang tahan lama persedian hari depan, berkas-berkas, uang maupun barang-barang berharga kalung, gelang, dan pusaka keluarga. Lemari menyimpan apa-apa yang penting dan berharga, yang tak perlu lah tetangga  melihatnya.

Lemari yang paling terpercaya menyimpan rahasia. Lalu, bagaimana bisa sebuah rumah tanpa lemari-lemari?

Sosok ibu dalam keluarga mungkin ibarat lemari. Ketika sang anak gadis rewel minta baju baru, ia bisa saja mengeluarkan bajunya yang jarang sekali ia pakai dan berikan kepada anaknya, mengaku kalau itu baju baru. Ketika si anak pertama memelas minta uang untuk membayar keperluan sekolah, ia akan berlari ke lemari dan berharap selembar uang merah yang ia selipkan di bawah tumpukan bajunya masih utuh. Ketika si bungsu merengek masih lapar, ia menyelinap mengambil kue bolu di dalam almari dan diam-diam memberikannya ke anaknya. Ia jarang memakai gelang dan kalungnya, tetapi ketika diperlukan, ia siap mengeluarkannya untuk digadaikan sementara. Di dalam lemari itu pula lah, pusaka keluarga di simpan, simbol kelaki-lakian suaminya. Ia pula yang merawat pusaka itu, seperti ia merawat suami dan anak-anaknya. Perempuan menyimpan segala sesuatu, menjaganya agar tetangga tak perlu tahu keluarganya kurang atau berlebihan sesuatu.

Mungkin itulah mengapa, ibu memberikan lemarinya kepada anak perempuannya yang barusan menikah. Ia ingin mewariskan pengetahuannya.


*


Pagi setelahnya, saya terbangun dengan perasaan biasa saja. Seperti biasanya, pagi itu ibu saya sudah pergi ke pasar, ayah saya sudah berangkat kerja bakti dengan warga, dan adik saya sudah pergi bermain. Saya beranjak menuju kamar mandi dan setelahnya mendapati sepochi teh hangat siap tuang dan sedikit gorengan ada di meja makan. Sambil membawa secangkir teh hangat dan menggigit bakwan saya kembali ke kamar, memilih-milih buku yang hendak saya baca sembari duduk di kursi rotan di samping jendela.

Saat itu, pandangan mata saya tertuju pada sebuah lemari tua besar berwarna kopi gelap bergaya sederhana yang saya ingat-ingat lagi entah kapan mulai ada di kamar saya. Dua, tiga tahun barang kali? Lemari saya sudah berpindah ke kamar adik saya, entah siapa yang memindahkan lemari ini masuk ke kamar saya setelah perbaikan rumah beberapa tahun lalu. Lalu saya ingat, lemari besar ini dulu dipakai oleh ibu saya untuk menyimpan berbagai barang pecah belah miliknya yang jarang dipakai. Lemari besar ini diperolehnya dari nenek buyut saya, ibu dari ibunya ibu saya. Terlepas dari besarnya, pemberian itu rahasia karena langsung diberikan ke ibu saya tanpa melewati nenek saya. Kata nenek buyut saya itu, ia sudah membagikan semua harta ke anak-anaknya dan baginya itu sudah cukup. Tetapi lemari itu ingin ia berikan ke cucu kesayangannya, ibu saya.

Lalu lemari itu kini ada di kamar saya, secara tidak sengaja.

[ ]

#RANDOM / / / LAWU, SUDAH LIMA TAHUN

Friday, 21 October 2016

Apa yang memotivasi seseorang untuk melakukan sebuah perjalanan pendakian?

*

Gunung rasanya dulu terdengar asing. Tapi kini bertahun-tahun setelah pendakian itu, saya malah benar-benar lupa rasanya seperti apa. Kata-kata gunung dan pendakian terasa familiar, tetapi seperti sedang mengingat-ingat nama. Ia terasa jauh. Sementara menggali ingatan rasanya seperti mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali saya teringat peristiwa itu.

Lima tahun sudah setelah Lawu.
Lalu?

*


[ ]

#PUISI / / / Derai-Derai Cemara

Wednesday, 7 September 2016

-Chairil Anwar


Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada satu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

Sebelum pada akhirnya kita menyerah

#ART / / / The Art of Selling Artworks

Wednesday, 31 August 2016

(Installation by Paul Mondok, Art Exhibition, Pelampung di Bawah Kursi Anda - Livejacket Under Your Seat, LAF)


How to sell artworks?

No, you don't sell art.


#RANDOM / / / A GLIMPSE OF OHD HOUSE

Tuesday, 23 August 2016

(Monday morning at OHD dining room)


Two years ago, you were just be able to enter OHD museum. That was only because your boss paid your ticket. But, did you imagine at that time that you would come back to OHD museum years after and entered it for free in the Monday morning? Even you also entered the very own OHD house?

*

And at the day you enter his house, you can't even speak a single words because of what you see inside.

[ ]

#RANDOM / / / The Sallow Sea

Thursday, 7 July 2016


The Sallow Sea




I'd been standing in this bay for almost more than an hour. The streets behind my back were rather busy than usual. Cars passed by in a minute. People were walking and riding their bikes on the sidewalk. It was so busy in the early evening yet so quite. No horn sound, no people chattering. But sometimes, I heard the bike bell rang gently. I didn't understand why all of them could be look so obedient.

Not so far from my place, I could see the harbour. The sun had not set yet. The horizon was still clear. But maybe in 15 minutes or so, the sun was going to touch the thin border of the sea and the sky. Ships were moving slowly to the port. The wind blew my hair and the cold started creeping my neck. The temperature started to drop due to the end of the day. I pulled up my coat collar and let my face sank into it.

I saw a seagull fly, created a big curve then dived in; let his wing dipping in the water while flown over it. He looked like testing the sea water, and then made a notch up to the sky. I saw him fly away at a distance. And because of that, I realised the sun just sank into the sea horizon. I dazed, let the moment took away my mind. A moment of solitude felt so last. The traffic was getting busier. But I just could hear the sound of the wind creating low whistle; the horn of the ships blew once or twice in the far away, the sounds of the wave met the land, and the seagull was calling each other.

The sea rippled in a small wave. It was full of twilight glitter which started to dim. I amazed and wondered how deep the gulf bellows this bridge. It hypnotised me. I saw the darkness spread from the deep. It was so tantalising. I felt the emptiness take all of my problems in which my mind was full of. It was so hard recently this day. Many things happened in my life and I just couldn’t find any reason to share it with others. Yet also I was not sure anyone wants to hear my problems. They were too busy with their own business. And this just made me felt so empty and desperate inside. I wanted someone to take this burden. But, human used their mask in front of everyone to be as perfect as possible. It was shameful letting others knew your agony. What a ridiculous norm! But, since small, it was what everyone taught me.

The night came and the street light lit up. But the light never reached the sea bellow. Was it made of darkness? I could still hear the sea wave and the wind. I saw nothing bellow. And let this moment take me into silence. Suddenly, my body felt so light. I heard something big hit the water, created a loud smash. Just then I felt my body was engulfed by something cold. It dragged me to nowhere I knew. I tried to move but I thought I was paralysed or rather something hugged me from behind. I held my breath. I heard nothing except my heart beat which was getting slower. Emptiness filled my head. I felt someone just swapped away my burdens. I tried to open my eyes. I saw white glitters in the far high. Was it snow? No snow in November. The white glitter rippled in a slow motion and it was getting far. Ah, so was it how it looked like when the street light reach the sea? I smiled. I didn’t hold back my breath anymore. The small bubbles escaped from my nose and mouth. I smiled. So, it was the end. I was drowning and let the darkness engulfed me.

Raito-kun?”

Just before sleepiness took over my body, my eyes snapped open. I turned my head to my right side. I saw a pair of eyes, worry and pity reflected on it. I hated that kind of eyes.

Hime-chan, Hi! What are you doing here?” I smiled playfully and moved closer to her. She didn’t answer and dazed in a moment.

“I am … going to go to campus.” She answered, hesitated. She looked up and I caught her worry and pity. My smile was getting wider.

So ka, so ka! Jya, ikko, ka?” I put both of my hand inside on my jeans pocket and bounced on my toes.

E?

“I want to go to campus actually. But when I passed this bridge, I saw the sun set. Then I stopped to enjoy the moment.”

Hime-chan nodded without making any eye contact with me.

“So, do you want to go to campus together?”

Hime-chan looked so surprised. I could see her ear redden. “Su, sure.”

We walked together in a silence. But I was okay with that. She was a kind of shy girl in our class. I hardly remember I talked to her in our classes. And she also wasn’t a kind of girl who talked a lot with boys. I liked her companion, just like today. But I thought today was different. I could feel something bother her. Did she saw what I want to do just back then?

Raito-kun?”

“Hm?”

Ano, are you okay?”

“E, why did you all of sudden ask me that? Of course, am okay!” I let a small laugh escape my lips. I saw her move uncomfortable.

“Really?” She looked up and our eyes met. I saw a concern there.

I chuckled and nodded. 

So desu ka.” She looked relieved and her face softened with a small curve of her lips. I felt a small thump in my chest.

Ne, hime-chan, why do you look so concern?”

She looked at me then avoided me as soon as she caught my gaze. I saw her cheek redden. Something squeezed my stomach. I couldn’t hold my smile.

“It is, um, I was just thinking that, just before I called you, you will jump off the bridge.”

My smile disappeared all of sudden. There was a silence between us. She didn’t look at me. She looked like uneasy about what she’d said.

Eeee, nani kore?! Why shall I jump off the bridge?” I acted like she was kidding me.

She looked at me and started to be panicking.

“No, of course, I don’t want you to jump off. And you better shall not. I can’t imagine it happens in front of me. But, but when I found you standing there, you looked like, what can I say, looked like unusual. I don’t know how to call it. But you looked like holding on something, looked like in pain. It was like you will break into a piece in a second. When I saw you grip the bridge wall, something bothered me. Just that moment I thought you will jump off. So that is why I called you.” She mumbled, talked furiously; worry and pity. I found her concern really pure. It was really touching. It was the first time someone looked so concern about me.

I laughed, bitterly. What on earth should this girl I hardly talk to even know what I hide behind my laugh and smile so easily?

I didn’t realise we stopped walking. Hime-chan looked so confused. Her eyebrow was furrowed. I might be looked so pathetic.

Raito-kun?”

I tried to stop my laugh, whipping my tears in the corner of my eyes. This was the first time I felt so amused because of my irony. What was more irony than someone’s talking about your true self behind the usual mask you put every day, just like she read a story from her favourite book?

“Sorry, Hime-chan.” I tried to stop my laugh but I just could not. I giggled in advance, trying holding back my laugh and tears, perhaps. Hime-chan still looked so confused. I never knew she can express such a worry look for someone like me, a class clown.

“It is so funny, you know, what you’ve said to me.” But Hime-chan was not laughing.

Instead, she reached her hand and whipped my tears. I stack. My body went rigid and I didn’t ever know that I held my breath.

“Are you sure you’re okay? Because I see you as you want to cry.” Hime-chan asked me once again. Her worry was pure. Her motherly looks melted my heart. My eyes met her worry eyes. She looked like want to cry as well. Did she pity me?

She pulled her hand hesitantly. I didn’t want to admit it, but I wanted her hand caressing my check longer.

“Thank you, Hime-chan. But, I am okay.” I smiled as gently as I could do, for now, tried reassuring her.

She didn’t talk back. We continued walking to campus in silence. But I could say that she was upset. Maybe because I didn’t tell her the truth?  Or, I was just not ready to open myself to someone else anytime soon.


[ ]

#SASTRA / / / WANA GITA

Monday, 30 May 2016



Saya pergi ke Padepokan Seni Bagong Kusudiarja beberapa waktu lalu untuk datang ke Jagongan Wagen. Hari itu, materi Jagongan Wagen adalah pementasan dari sepenggal pemaknaan kisah Ramayana.

Malam itu, sekembalinya dari menonton Jagongan Wagen, saya jadi teringat puisi karya Sapardi.


*

Benih

               Sapardi Djoko Damono



"Cintaku padamu, Adinda," kata Rama, "adalah laut yang pernah
bertahun memisahkan kita, adalah langit yang senantiasa
memayungi kita, adalah kawanan kera yang di gua Kiskenda.
Tetapi . . .," Sita yang hamil itu tetap diam sejak
semula, "kau telah tinggal dalam sangkar raja angkara itu
bertahun lamanya, kau telah tidur di ranjangnya, kau bukan lagi
rahasia baginya."

Sita yang hamil itu tetap diam: pesona. "Tetapi Raksasa itu
ayahandamu sendiri, benih yang menjadikanmu, apakah ia juga
membenihimu, apakah . . . " Sita yang hamil itu tetap diam,
mencoba menafsirkan kehendak para dewa.


1981


[ ]

#ESSAY / / / Bunga

Sunday, 15 May 2016

Petang selepas Maghrib, di sebuah persimpangan menuju kampus kerakyatan, sekelompok pemuda dan pemudi yang masih begitu muda menghampiri sebuah mobil yang melambat karena lampu lalu lintas yang berubah dari kuning menjadi merah. Sebuah sepeda motor nekad menerabas lampu merah dan diberondongi suara klakson pengendara sepeda motor dari arah timur yang telah melaju sebelum hijau. Beberapa pengendara sepeda motor melambat dan berhenti di depan lalu lintas yang telah merah itu. Sekelompok pemuda pemudi mengetuk-ngetuk jendela mobil, menawarkan kuncup-kuncup mawar yang siap rekah.

“Pak bunganya pak, sepuluh ribu saja.” Ujar seorang pemudi berkerudung sambil menawarkan mawar dan senyuman. Suaranya terdengar renyah. Pengemudi mobil itu menggeleng di balik kaca mobil yang tidak diturunkan. Kelompok pemuda pemudi itu bergerak menuju mobil yang lain, menawarkan mawar lebih semangat lagi. Mereka sumringah ketika kaca di samping kemudi mobil itu diturunkan.

“Berapaan?” Tanya laki-laki paruh baya itu kepada mereka.

“Sepuluh ribu saja, pak. Ini memang masih kuncup, tapi nanti pasti di rumah sudah mekar. Bunganya bisa awet sampai 3 hari asal ditaruh di dalam vas.” Ujar pemudi yang berkerudung tadi. Kalimat itu begitu lancar seolah ia telah mengulang-ngulangnya selama berbulan-bulan, setiap hari.

“Apa tidak bisa kurang?”

“Wah, sudah pas pak. Ini kami sedang cari dana pak lewat jualan bunga.” Celetuk seorang pemuda di gerombolan itu.

Laki-laki di dalam mobil itu tersenyum lalu mengeluarkan dompetnya.

“Saya beli satu ya.” Ujar laki-laki itu sambil mengulurkan uang sepuluh ribu yang ditukar dengan setangkai bunga mawar.

“Terimakasih, pak.” Ujar mereka serentak penuh suka cita yang dibuat-buat.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Kelompok pemuda pemudia itu menepi di dekat separator jalan yang penuh dengan bebungaan rendah sambil bercanda satu sama lain. Pengemudi mobil itu tersenyum kepada kelompok itu lalu menaikkan kaca samping kemudi dan bergerak pelan mengikuti kedaraan-kendaraan lain.

Sementara itu, di dekat lampu lalu lintas, dua orang anak kecil ikut menepi. Di dekapannya ada setumpuk koran edisi hari ini. Tatapan mereka kosong terarah pada kelompok pemuda pemudi penjual kuncup mawar. Mereka terduduk di separator yang sama. Sementara malam semakin larut, dan orang-orang yang melintas di persimpangan itu pun mulai berkurang.


***


Kita lebih bahagia membeli setangkai bunga daripada membeli koran basi tadi pagi. Bukankah kini, apa apa bisa kita buka lewat lini masa? Tak perlu lagilah menumpuk sampah.

Seseorang dapat tersenyum menatapi bunga, sementara berita membawa resah. Dunia ini penuh dengan darah tumpah. Sedang mata-mata yang menangis darah, mulut yang penuh serapah, pemuda yang tergopoh-gopoh belok kiri ada pak polisi. Dan adikku, ya, adikku yang berdiri di kanan jalan mewarta untuk makan malam.

Di balik tembok sebelah, ada pemuda yang memetik bunga sebelum kuncup, mencerabutnya dari akar. Sementara bebungaan yang sedang mekar, memang selalu sedap di dalam pandangan. Dipetik lebih cepat, dipangkas beramai-ramai. Syahdan sangka, begitu layu ia dibuang ke jurang. Dan bunga palsu berjejer di atas trotoar, buket buket yang cantik, rangkaian yang menarik. Memang bagus ya ia dipajang kamar. Kalau sudah bosan, tinggal dijual ulang saja di lapak maya.

Di lepas pantai, ada petani bercerita menyundul angkasa soal kebun bunga. Dicangkulinya muara, yang kelak rekah kelabakan mereka memanen laba. Seperti tidak terima, yang lain mogok di muka Istana, via nirkabel juga bisa, mengadu aduh berhari-hari, lini masa gaduh.

Ibu-ibu maju ke depan, duduk dan hanya diam. Kakinya dicelupkan, persis seperti kakiku yang kucelupkan jikalau capai seharian jalan. Bapak-bapak di belakang, berpose membawa clurit dan parang di balik badan. Mereka mengeluh, duh, bukit-bukit pekarangan hendak dijadikan rata kebun bunga. Para bapak-bapak lain duduk di muka jendela, menonton drama pementasan sastra kesenian rakyat, sementara beberapa akhirnya nyenyak didongengi revisi revisi revisi revisi revisi perah-tuan, eh, peraturan.

Lalu, di pagi hari setelahnya, adiku yang itu bolos sekolah, juga besok, dan hari hari setelahnya. Mau jualan bunga katanya.
Hari ini, si bunga jadi warta utama. Lalu setelahnya. Dan setelahnya. Dan setelahnya. Setelahnya.


[ ]


#PUISI / / / Mura

Saturday, 7 May 2016



Betapa jauh bumi terbelah satu muara samudra
Awang-awang tentang hati yang tertinggal di antara hari yang tanggal
Panas dingin berganti semusim, dan surat pun berhenti
Sepertinya kata tak menemukan lagi cara bicara
Dan rindu, ia dingin bersama air mata yang didih

Pagi, seolah aku bermimpi, semalam kau diantara lelap dan senyap

[ ]

#RANDOM / / / Sadness from Kumamoto

Saturday, 16 April 2016

I've got some news from Japan that 2 days ago (April 14th, 2016) there was earthquake in Kumamoto city, a centre part of Kyushu island. I don't realise that it was quite big after my Sensei shared news about it. It was to be said that the earthquake magnitude was 6.2 from its maximum scale of Japan Meteorology Agency. Seven is the maximum. Aftershocks have been recorded from its first earthquake. Several aftershocks were on scale 6 of its maximum. Last night, the 7 magnitude earthquake occurred, the initial warning of the tsunami was alarmed but then cancelled. The tremor can be felt until Fukuoka and Oita. The aftershocks continue until today (live report from my Sensei update on Facebook). After last night earthquake, at least 19 people to be confirmed died, 1000 injured, and about 97 people trapped inside of collapsed building.



I visited Kumamoto 2 times when I was in Japan, the first was with second year student on architecture trip, and the second time was with my Suehiro-laboratory member to attend Kumamoto Artpolist Symposium. I didn't have much time to wonder around the city. But it was a really beautiful small city in the centre of Kyushu. One of my best-friends in Suehiro-laboratory was born and grew up in this city. He helped me a lot during my stay in Fukuoka. His big family (both parents, 2 younger sister and 1 younger brother) lives in Kumamoto. Last night, after I realised what really happened in Kumamoto (well, tsunami alarm means it really serious thing, right?), I texted him to confirm his family safety. Gladly to hear that they are safe.

Couple months ago, when the Paris tragedy happened, there was earthquake in Kagoshima. My two Parisian friends and one of my best-friends in Suehiro-laboratory who join exchange program were safe during the tragedy. But, some friends of one of my Parisian friend were being past of the victims. While my best-friends (in Suehiro-laboratory who join exchange program in Paris) family also lives in Kagoshima. My tutor during my stay in Kyushu University moved to Kagoshima after graduation to work there. To be confirm that both my tutor and my friend family were safe and nothing really bad happen during the earthquake in Kagoshima.

But, the earthquake in Kumamoto is different. It to be said in NHK that the second earthquake on April 16th, 2016 was as strong as the earthquake in Kobe on 1995 which is the second worst earthquake ever happen in Japan. Well, not so many death tolls in Kumamoto. But, much historical building around Kumamoto and Aso was in danger (some part was reported collapsed). Transportation was stopped due to the effect of the earthquake (landslide and damaged road). Kumamoto Airport closed. Shinkansen and train delayed.

#RANDOM / / / Sakura

Thursday, 7 April 2016

“So, what kind of Japanese trees do you like?” a friend asked me in the middle of our way to the airport. It was my departing day. My student exchange program was ended. I had to go back to Indonesia. The car was full of my friends, 8 peoples went to the airport to send me away.

“Hm, it is a hard question,” I responded it, thinking. I never thought that somebody will ask me that. But they chuckled because of my answer.

“It is an easy question!” my friend protested me.

“Hm, if you insist me to answer, maybe I like Momiji and gingko trees,” I answered while remembering golden carpets of fallen gingko leaves in front of Kumamoto city hall and the patch of fallen Tsubaki flower petals in between.

“Why?” other friend asked me.

“I think it is beautiful. I never see it in Indonesia.” I remembered a street full of Momiji near Osaka University, the red colour contrasted with the early winter blue sky.

“But I think, Sakura is more beautiful, isn’t it?” I asked my Japanese friends.
“I never see sakura before,” I added it sadly.

*

(Sakura besides river bank in Kyoto. Photo credit: A.D)

It is April, already, more than one year after I came back to this place. Last year, I was still struggling with my graduation project. And now, I struggle with what I want to do. The Sakura blooms and falls. Last year, some friends graduated. This year also, next year also. People moves to other live in another city. Once Fukuoka is my home, the next, it is only a city once I lived. But this city, this two-hundred-something city, is home.


Why do I not feel it is my home anymore?

#PUISI / / / Balada Sebuah Bokong oleh Sindhunata

Thursday, 10 March 2016



Balada Sebuah Bokong
                                              Sindhunata


A girl with a breast
gadis dengan buah dada
itulah nama Inggris
bagi Inul Daratista

Semula Inul hanya pendangdut kampong
asalnya desa Kejapanan, Gempol Jawa Timur.
Kini Inul melambung di awal global
bahasanya bukan lagi Jawa tapi Inggris.
Pewawancaranya bukan lagi tabloid local
tapi Time, majalah International

Ketika ditanya, kenapa
sampai MUI berfatwa,
haramlah goyang ngebornya
Inul menjawab dengan cerdas, katanya:
The MUI should realize that Indonesia
It’s not a Moslem country, it’s a democratic country.
Ya, mengapa di Negara demokrasi ini
bergoyang mesti dilarang atas nama Negara?
Dari mana datangn kuasa yang memastikan
ngebor itu berdosa, hingga patut dilakuan
hanya oleh orang yang berdosa?
Inul bilang, meski ngebor ia tetap rajin bersalat doa
seperti wanita saleh layaknya.
Akan kesalehannya kiranya oleh orang boleh percaya;
dari namanya Inul adalah gadis yang bertakwa
pada kerahiman Allah
ya, sebelum beralih jadi Inul Daratista
namanya adalah Ainul Rokhimah.
Ainul itu sumber, Rokhimah itu rahmat
Ainul Rokhimah kaulah sumber kerahmatan Allah.

Lagi ia ditanya, mengapa orang meributkan bokongnya?
Jawabnya, “the real threats to Indonesias fragile morality,
Particularly corrupt officials, are too dangerous to attack”.
Memang di Negara ini lebih mudah ribut soal bokong ngebor
daripada memejahijaukan dan memenjarakan koruptor.
Goyang erotis dirazia, predator miliaran rupiah dibiarkan saja.
Waria jadi target operasi, legislator dibiarkan mandi
di kolam money politics dan korupsi.
Di Negara ini seks mudah jadi kambing hitam kemunafikan moral
semata-mata untuk menutupi kekotoran dan kebiadaban kekuasaan.

Dan apakah arti sebuah bolong di panggung
sampai ia dilihat seperti gunung
sementara uang yang bergulung-gulung
dalam prostitusi berselubung
dari mereka ang kaya, yang bertelanjang ria dalam pesta Caligula
yang bermain seks di Pajero Goyang sepanjang jalan Jakarta
yang ciak susu sebagai menu sarapan pagi di hotel mewah
dibiarkan merajalela?
Ya, apa arti goyang bokong seorang pedangdut desa
dibanding dengan segala sex undercover mereka yang berpunya?
Maka dengan bahasa keterbukaan globalnya
yang membongkar kedok kemunafikan manusia,
“Why should they care about me
When there are pornographic VCD
And prostitutes in the street?
They choose me because I am an easy target.”

Hidup Ratu Inul! Di Irak kata rakyat,
ada pasukan berani mati
di Indonesia ada pasukan birahi tinggi
dipimpin Ratu Inul, melemahkan rudal-rudal lelaki
melawan pasukan berani lari
pimpinan para politisi, pengusaha dan militari.
Ratu Inul, Bokongmu harus jadi abadi
tersimpan sebagai prasasti di museum MURI
untuk menandai, bahwa Negara ini pernah terjadi;
semua perkara besar tertunda hanya karena bokong
semua janji dan harapan sirna hanya karena bokong
negara yang tinggi dengan gunung-gemunung,
luas dengan samodra, membentang dengan daratannya
tiba-tiba menyusut menjadi sebuah bokong belaka.
Inul, republic kita memang hanya republic dangdut
kaulah ratunya, dan bukan lagi Rhoma Irama.

Terkurung dalam sebuah bokong inilah hubungan kita
yang terpenjara dalam belenggu zaman edan.
Menurut tembang Jawa, beginilah kata-katanya:

Sinome kang gara-gara
Nuswantara gonjang-ganjing
Panjerit ing pra kawula
Akeh kang samya ngungsi
Tawur bangsa pribadi
Ilang kamanungsanipun
Donga ora tumama
Dhikir ora maedahi
Apa itu kang sinebut zaman edan

Dosane zaman semana
Keh manungsa pada lali
Panguasa kanggo gadha
Politik kanggo ngapusi
Murka mring ekonomi
Hokum dadi ajur mumur
KaKaEn ngambra-ambra
During ana den adili
Wiwit mlethek zaman reformasi total.

Di zaman edan ini
jauh sebelum Ainul Rokhimah
belajar menari
Di Solo mbah Ranto Gundel sudah menulis puisi
tentang Alengkadiraja yang dimakan api.
Oleh Rahwana Sinta dicolong
oleh seorang kera ia ditolong
dalam lakon Anoman Obong
yang membuat Alengka kobong.
Nyanyian mbah Ranto jadi ramalan di siang bolong
kobong menjadi bokong
bokong menjadi kobong
kobong ada di dalam bokong
bokong ada di dalam kobong.

























Maka bila Dewi Yahya, Eli Anggelina, NIning Arista
dan pedangdut lainnya di Purawisata atau Gembiraloka
menyanyikan Anoman Obong,
E la dhalah Ngalengka diobong
Togog Biling padha pating ndhomblong,
pada saati itu bergoyanglah bokong-bokong
malam penuh bokong
Tubuh-tubuh menyentuh bokong
peluh-peluh menetes bokong
dan rakyat pun berteriak bagai serigala melolong:
Kobong, kobong, kobong, kobong
Kobong, kobong, kobong, kobong
Lama-lama teriakan itu terpeleset menjadi bokong:
Dan kobong pun tenggelam dalam bokong
Kobong, kobong, bokong, bokong,
Kobong, kobong, bokong, bokong,
Bongkobongkobongkobongkobongkobongkobong,
Bokong, bokong, bokong, bokong, bokong, bokong
Bokong, bokong, bokong, bokong, bokong, bokong
Kobong menjadi bokong
Bokong sama dengan kobong
Tiada lagi beda antara kobong dari bokong
Bokong pun menjelma menjadi api
maka meletuslah Tragedi Mei.
Api padam setelah reformasi
namun sejak saat ibu, budi kita pun mati
bukan dengan pekerti kita berpikir
tapi dengan bokong kita menaksir
dan kita pun jadi bangsa yang pander

Anoman obong adalah ramalan
yang menjadi kenyataan.
Mei lima tahun lalu dari hari ini
Jakarta dan Solo kobong jadi lautan api.
Tapi ingatlah, zaman edan
telah juga membuat kobong menjadi bokong.
Kendati sudah lewat kobong,
masih juga kita hidup dari bokong,
berdebat denagn bokong
berkuasa dengan bokong
menutupi kemunafikan dengan alasa bokong
pura-pura suci anti bokong.
Syukur datang seorang gadis kampong
membuka kemunafikan kita yang terselubung.
Miyak warana, itulah berkah yang dibawa
oleh kelahiran Aiul Rokhimah
Dan tirai kepura-puraan kita pun dibuka
oleh bokong Inul Daratista:

Ya Allah, mengapa mesti bokong
yang menjadi cerminan hidup kami?
Dan bokong itu pun menjadi rembulan
lalu langit penuh dengan bokong berbintang,
terdengar di sana nyanyian Daratista
lirih seeperti suara Zarathustra,
katanya, “Bila keluhuran dan kemuliaan telah hilang,
kenistaan dan dosa pun mesti menjadi petunjuk dan jalan
menuju kesempurnaan dan kesucian.” ++




Karang Klethak, Kemis Pahing 5 Mei 2003


-----
 Sinom Gara-gara dikutip dari karya Ki Manteb Sudharsono



*


Tulisan Romo Sindhunata ini diketik ulang dari buku ‘BOROBUDUR AGITATAIF, Seni, Inter-Kosmologi, Magelang” diterbitkan oleh Gallery Langgeng Magelang.


*


Dalam hemat saya, Borobudur Agitatif (bersama beberapa program lain yang diselenggarakan oleh Gallery Langgeng Magelang) adalah sebuah proyek seni untuk menghidupkan kota Magelang menjadi salah satu kota seniman, bukan untuk menyaingi Jogjakarta tetap menjadi alternative referensi seni bagi seniman manca maupun dalam negeri serta turis, dan saling menguatkan kedua kota tersebut, seperti keberadaan Merapi Merbabu.


[ ]

#PUISI / / / Dongeng Sebelum Tidur oleh Goenawan Mohammad

Tuesday, 12 January 2016

Dongeng sebelum tidur          
Goenawan Mohammad


"Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsense."

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada
malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap
merayap antara sendi dan sprei.

"Mengapa tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi."

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan
kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin,
meskipun ia mengecup rambutnya.
Esokhari permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus
melarikan diri -- dengan pertolongan dewa-dewa entah dari
mana -- untuk tidak setia.

"Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku?
Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari

kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?"

#RANDOM / / / MY NEW BLOG ADDRESS

Tuesday, 5 January 2016

I've change my blog address, instead of catatansijeruk.blogspot.com, now it is cttnsjrk.blogspot.com.
Sorry for the inconvenience.