#RANDOM / / / BANDARA DAN SAYONARA

Tuesday, 20 January 2015

A really sad moment when you realized that you couldn't give certain answer when you would come back. That moment struck and gave a small pang in my chest. Still fresh in my mind, when I walked along that alley, pushing my troll, heading to the bus which would send me to the kaikan. What a beautiful dream is it?! Then I would leave all of you without any trace. You, all of you who came to my life, let's meet again in the future. Promise me?

*

Pagi itu saya bangun cepat. Sanae masih tertidur di tempat tidurnya. Saya merapikan futon dan bersiap untuk mandi. Setelah selesai saya melihat Sanae masih tertidur nyenyak. Kasihan dia, beberapa hari ini kerja part time di pagi hari dan kurang tidur. Saya meninggalkan pesan agar ia segera menyusul. Saya menarik kopor dan tas yang cukup berat keluar dari apartemen, menuruni lift dan bergegas menuju ke kampus.

Sungguh sial. Cuaca begitu cerah. Ah, mengapa tak sedikit pun hari ini berduka saya kembali ke negara saya? Pikir saya, sedikit romantis ya kalau kepulangan saya diiringi rintik-rintik hujan. Tapi, saya lebih suka melihat langit yang begitu biru melepas saya. Saya tak ingin saya lebih sedih lagi daripada saat ini.

*

Semua teman-teman Lab yang ingin mengantar saya terpaksa bangun pagi demi saya. Saya dapat melihat gurat kantuk di wajah-wajah yang menatap saya dengan senyuman. Kami masih bercanda saat memasukkan kopor saya ke dalam mobil yang entah mengapa kami dapat dari senpai Lab sebelah yang hari itu membawa mobil. Tetapi, ketika semua orang masuk ke dalam mobil, semua hening entah tak tahu harus membicarakan apa.

Check in di bandara yang cepat setelah kopor saya harus dibongkar paksa karena ada korek api baru di dalamnya, dan tentu saja, sebisa mungkin memesan kursi di samping jendela. Saya tak ingin melepaskan kesempatan untuk duduk memandangi langit yang beberapa bulan ini menaungi saya, langit yang menyatukan saya dengan orang-orang yang akan mengantar saya ini.

Waktu masih lama menuju boarding dan kami pun sempatkan untuk makan siang. Mereka semua kelaparan ternyata. Tetapi saya sudah enek sekali rasanya melihat makanan. Mungkin karena sedikit grogi juga untuk pulang. Saya menantikan kepulangan ini. Tetapi sungguh, kalau saya punya kesempatan untuk memohon kepada Tuhan sekali lagi, saya ingin tetap tinggal di sini selama saya bisa.

*

Waktu tiba dan perpisahan rasa-rasanya begitu ganjil. Semua orang berdiri melingkar dan saya mengatakan kalimat terakhir ke masing-masing dari mereka. Tak ada jabat tangan, tak ada pelukan, tak ada kata-kata selamat tinggal, tak ada kesedihan. Kami semua tertawa untuk terakhir kalinya sebelum saya meninggalkan mereka di depan imkgrasi. Hari itu seolah saya hanya diantar pergi ke kota sebelah dan besok akan bertemu lagi. Lisa memberikan saya sepucuk surat yang harus saya baca ketika di pesawat.

*

Sore itu, menikmati senja di jendela, saya tak bisa menahan tangis yang saya tahan sedari tadi pagi. Surat dari Lisa membuat saya sadar, bahwa saya hanya mampir saja di kehidupan mereka. Mereka akan dengan mudah dan cepat melupakan momen-momen bersama saya. Sementara saya, betapa hari-hari bersama mereka adalah surga yang dulu hanya impian di mata.

*

Sa.yo.na.ra.



*


sayonara sotto sotto
omoi wo mune ni
mata koko de kitto kitto
deaeru hi made
onaji sora zutto zutto
yume oikakete
ima wa tada mabushikute


*



[ ]

No comments :

Post a Comment