#JALAN-JALAN / / / Kashiihama

Sunday, 28 September 2014

Baru juga beberapa hari saya di Jepang, tepatnya di kota Fukuoka distrik Kashiihama.

*

Fukuoka itu mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan. Kota ini tak semetropolitan Tokyo atau Osaka, juga tidak seetnik Kyoto. Fukuoka terletak di pulau Kyushu dan merupakan kota terbesar ke-10 di Jepang. Terletak di pinggir laut menjadikannya kota pelabuhan yang cukup sibuk. Sebenarnya kalau mau tahu lebih banyak tinggal serching di google aja sih. Saya kasih link-nya kota Fukuoka di wikipedia deh. Meski bagi beberapa orang wikipedia tidak begitu terpercaya, tapi menurut saya untuk ukuran cari info dasar, lumayan lah ya.

By the way, saya tinggal di asrama selama 3 bulan program pertukaran pelajar yang saya ambil. Asrama saya ada di daerah Kashiihama. Kashiihama ini ada di bagian paling utara dari kota Fukuoka. (cek wiki-nya kota Fukuoka deh). Di depan asrama saya ada sekolah dasar namanya Kōryō Elementary School. Dan kalau pagi waktu sekolah, pasti akan terdengar suara anak-anak yang menyapa Ohayo gozaimasu!. Saking kerasnya sampai terdengar ke kamar saya yang kebetulan dekat dengan jalan.



Sebagai murid internasional (eitseh, bahasanya), yang pertama kali harus dilakukan ketika sampai di Jepang adalah memastikan tempat tinggal. Asrama sangat recommended banget karena nyewa apartemen di Jepang itu mahal range-nya saya nggak tahu sih berapaan. Tapi bahkan diantara asrama lain pun, asrama Kyushu University yang di Kashiihama itu yang paling murah. Sebenarnya, dapat asrama pun juga tidak menyelesaikan masalah hidup di sini karena ternyata asrama ini nyewa dan harus membayar beberapa biaya tambahan seperti sewa kasur (ya, kasur di sini nyewa), uang air dan listrik, serta uang pemakaian gas.

Setelah itu, yang pasti saya harus ngurus-ngurus ini itu mengenai status saya sebagai mahasiswa di kampus. Kebetulan, memang untuk setiap mahasiswa internasional di Kyushu University akan dapat tutor sebaya yang akan membantu beberapa hal paska kedatangan di Jepang. Tutor sebaya saya ada dua yaitu Taiki Yamada dan Takashi Ogawa. Dua-duanya sangat baik meski bahasa Inggrisnya kadang nggak begitu jelas ngomong apa. Mereka berdua yang akan membantu saya dan dua orang teman se-tutor mengurus dokumen-dokumen di kantor Student Affair-nya Kyushu University. Kalau urusan ini seudah selesai nantinya saya akan dapat  student card. Setelah itu, saya harus pergi ke semacam kantor pencatatan sipil untuk mencatatkan diri bahwa saya akan tinggal di Jepang dalam kurun waktu tertentu. Nantinya, saya akan dapat KTP sementara dari pemerintah Jepang. Urusan di kantor itu selesai lalu kemudian saya balik sendiri bareng teman se-tutor.

Hari Sabtunya tanggal 27 September, seharian nganggur dan akhirnya sorenya saya mau jalan-jalan. Teman sekamar saya yang orang Indonesia juga ikutan. Rencananya kami mau muter muter sekeliling asrama. Ternyata pada akhirnya kami jalan jauh banget karena ketemu dengan teluk yang cuma 5 menit jalan kaki dari asrama. Kami berdua juga ketemu anak Indonesia, psikologi UGM yang lagi student exchange di Fukuoka Woman University. 




(It is my dormitory, very old building but comfy)

(Dedaunan pohon gingko sudah mulai menguning. Mungkin sebentar lagi akan rontok)

(Find both of them in my way back to dormitory. Kawaii ne?)
(Teluk Hakata, with 5 km jogging track)

(kayu beneran loh)







Hari Minggu tanggal 28 September, saya memutuskan untuk mencoba jalan kaki dari asrama menuju kampus. Dan wow, ternyata jauh, tapi nggak jauh-jauh amat lah. Ini kaki sudah terbiasa jalan kaki jauh ketika KKN. Jalan kaki dari asrama menuju kampus memakan waktu sekitar 1 jam. Karena saya berhenti-berhenti untuk foto ini itu jadi agak lebih lama. Setelah jalan-jalan di kampus itu saya pergi ke Hakozaki Shrine yang kalau di google maps itu nggak begitu jauh. Berbekal google maps itu akhirnya saya membolangkan diri menuju Hakozaki Shrine.

Kuil Hakozaki ini adalah salah satu kuil Shinto yang ada di Fukuoka. Kuil ini dibangun untuk menghormati Hachiman, yang menurut mitologi Jepang adalah Dewa Perang. Hewan pertanda dari dewa ini adalah burung dara, dan memang, di pelataran kuil ini banyak sekali burung dara. Kuil ini juga didedikasikan untuk Emperor Oujin, Empress Jingu, dan Tamayorihime-no-mikoto. Dibangun sekitar tahun 923 dan pada abad ke 12 menjadi salai satu area pusat perdagangan di Jepang. Kuil ini menjadi salah satu gerbang masuk ke wilayah Kyushu Jepang karena dekat dengan pelabuhan perdagangan Jepang. Ada dua festival yang sangat tekenal dari kuil ini, Tamaseseri Festival (setiap3 januari) dan the Hojoya Festival (12-18 September, kata teman sekamar saya baru selesai seminggu sebelum saya datang dan ramai sekali). 



Keliling sekitaran kuil benar-benar sepi. Apalagi saya datang ketika sore waktu itu. Ternyata, kuil juga ada jam tutupnya. Beberapa orang laki-laki dan perempuan berpakaian ala shrine maiden tapi dia laki-laki. Yang perempuan dengan bawahan merah, yang laki-laki dengan bawahan biru muda terang. Ah, sayang tidak saya foto. Intinya mereka semacam penjaga kuil. Mereka membereskan kotak sumbangan, menutup kios tempat membeli merchandise, jimat, dll. 


(a ginkgo tree in Kaizuka-koen) 


(doves, doves every where)

(evening prayer)






Pulangnya, saya mampir dulu ke subway station karena katanya bisa akses wifi gratis. Ternyata mendaftarnya pun sangat gampang, tinggal bikin account email password dan kamu bisa internet sepuasnya. Setelah istirahat sebentar, jalan lagi. Saya lewat jalan yang berbeda dan ternyata, jalannya gampang sekali kalau lewat jalan utama. Padahal saya sudah muter-muter sampai Hakozaki Train Station yang agak jauh. Tapi ya sudah lah ya. Ketika pulang, semua berjalan lancar dan sampai di asrama rasanya capek sekali. Mungkin saya akan lebih sering jalan kaki biar lebih hemat, toh nggak jauh-jauh amat kok.





Baiklah, sampai jumpa di cerita petualangan saya minggu depan.


[ ]


* PS : maaf kalau saya sering nyampah foto di FB. Itu bukannya saya pamer atau apa, tapi diupload biar saya bisa hapus yang di laptop biar nggak menuh-menuhin memori laptop.

#RANDOM / / / (Still) Yume

#JALAN-JALAN / / / 3 Hour Free Tour in Incheon

Thursday, 25 September 2014

Apa yang akan kamu lakukan ketika harus menunggu 5 jam transit di bandara negara yang tak kau kenal sebelumnya?

(morning in Incheon)

*

Dalam perjalanan saya menuju ke Jepang, saya sempat harus menunggu di Incheon International Airport selama 5 jam sampai penerbangan selanjutnya ke Fukuoka. Sebenarnya saat pembelian tiket, saya memilih untuk beli tiket yang transit selama 5 jam di Korea, kan lumayan bisa jalan-jalan di bandara.

Sampai di Incheon hari masih pagi dan langit begitu bagus. Saya harus jalan menuju terminal lain untuk ganti pesawat. Di perjalanan seorang pemandu menyapa saya dan menanyakan apakah saya tersesat. Ya saya bilang saja tidak akrena memang saya tidak tersesat. Ngobrol ini itu akhirnya setelah tahu jam penerbangan saya, dia menawarkan saya free tour sekitaran Incheon. Saya tahu sih, ini strategi marketing, dan saya akhirnya mengiyakan saja untuk pergi ikut tour gratis ini. Lumayan dapat 3 jam free tour sekitaran Incheon.

Saya harus turun ke lantai satu dan menuju ke agak ujung bangunan untuk mendaftarkan diri. Di konternya sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk ikut tur gratis ini. Saya mendaftar dan teman serombongan lumayan banyak. Tour yang pertama adalah tour selama 1 jam dari jam 08.00-09.00, objeknya adalah Yonggungsa Temple yang ada di dekat Icheon International Airport. Jaraknya 20 menit naik bus. Sayangnya, diperjalanan bus yang kami naiki ada masalah dan tur dibatalkan.

Tour kedua adalah tur selama 2 jam dimulai dari 09.00-11.00. Objek yang didatangi adalah Heungryunsa Temple dan Incheon Landing Operation Memorial Hall. Objek ini cukup jauh dan harus naik bis selama kurang lebih 45 menit. Menuju kedua tempat ini kami harus menyeberangi Incheon Bridge (karena Incheon International Airport ada di pulau tersendiri) yang katanya adalah jembatan terpanjang di Korea Selatan.


(cuman dapat tali jembatannya saja)
Heungryunsa Temple adalah kuil budha. Dan bangunannya sungguh tradisional dan penuh dengan ornamen-ornamen yang memukai. Bangunan kayu yang entah umurnya sudah berapa lama dengan segala detail ukiran dan lukisan yang memukai. Usuk atapnya dilukis dengan sangat detail dan ini sungguh menakjubkan. Sebenernya, kalau masalah detail bangunan kayu, saya rasa, di Kraton Jogja tak kalah keren kok. Ya, mungkin tinggal bedanya bagaimana perawatan dari bangunan tersebut hingga terlihat cling-cling  seperti baru kemarin di bangun. Ada satu bangunan yang di khususkan untuk lonceng yang hanya boleh di bunyikan oleh biksu. Kata pemandunya, pernah salah seorang peserta dari tur membunyikan lonceng ini dan biksunya menjadi marah banget hingga tur agen mereka di tandai sebagai tur agen yang kurang oke. Hehehe


(stairs way to heaven (?) eh )


(eh, ada Yabi (?) )

(gebyog-nya nggak kalah lah sama gebyog jepara)
(you hang the paper wish in the ceiling. Does it look nice, doesn't it?)




(pagoda yang ada loncengnya)




(detail ornamennya itu lho, nggak nguatin)
(ikutan, lagi ngetren tutup got)

Untuk Incheon Landing Operation Memorial Hall-nya, memang dibuat masif dengan material batu yang dominan. Incheon Landing Operation Memorial Hall ini terdiri dari dua bagian yaitu Museum yang memuat cerita mengenai operasi militer di Incheon dan juga terdapat monumen perjuangan tentara Korea Selatan. Di sini juga terdapat banyak bendera dari beberapa negara yang membantu operasi militer ini.



(materials, texture, and shadow)


(membingkai kota)
(dua orang siswa sedang membaca tulisan di dinding Monume)

Kami harus kembali sampai di bandara pukul 11.00 jadi perjalanan singgah ke kedua tempat ini tidak terlalu lama. Kami harus mengejar jadwal agar peserta lain tidak telat di penerbangan mereka. Sebenarnya, waktu saya boarding itu sekitar pukul 13.45, jadi saya memutuskan untuk ikut tour 1 jam yang semapt terlewat gara-gara kendala di perjalanan. Seorang pemandu tur satu jam menanyakan kepada saya apakah oke bila saya ikut tur ini karena imigrasi yang ketat di saat-saat seperti sekarang. Saya bilang saya akan baik-baik saja karena waktu boarding saya masih lama. Dan, akhirnya ikut deh tur selama 1 jam selanjutnya.

Objek yang dituju masih saya, yaitu Yonggungsa Temple. Sebenernya kuil budha ini tidak jauh berbeda dengan Heungryunsa Temple. Hanya saja ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan Heungryunsa Temple. Ornamen-ornamen yang detail banyak saya temukan di pagoda dan juga tempat sembahyang. Yang menarik di kuil ini, biksu-biksu terlihat beraktifitas di semacam pondokan kecil di sekitaran kuil. Lantunan seorang biksu yang melantunkan sutra dengan suara dalam dan dengan irama tertentu memenuli suasana siang di sekitaran kuil tersebut. Ada sebuah pohon besar sekali yang cabang cabang batangnya sampai disangga dengan penopang. Di bawahnya ada semacam genteng hitam yang ditulisi (mungkin semacam) permohonan.





(like this combination, flowers and the small stones)

(cat, cat everywhere)

Setelah tur singkat ini, kami kembali ke bandara dan saya harus buru-buru untuk masuk ke imigrasi. Dan memang benar, seperti yang dikatakan pemandu tur, imigrasi sangat ramai. Orang mengantri panjang sekali. Alasannya adalah karena di Incheon ini akan diadakan Asean Games sehingga keamaan pun diperketat. Saya menghabiskan waktu satu jam lebih untuk melewati pengamanan sebelum masuk ke bagian imigrasi.




Akhirnya saya pun sampai di Gate 16 tempat saya akan menaiki pesawat kira-kira 15 menit sebelum gerbang dibuka. Benar-benar mendebarkan sekali karena saya takut ketinggalan pesawat. Kan nggak lucu banget ketinggalan pesawat dan nggak jadi ke Fukuoka. Well, tapi untungnya semua berjalan lancar dan saya sampai di Fukuoka dengan selamat. Di bandara Fukuoka, bis jemputan sudah menunggu untuk mengantarakan saya menuju ke asrama di daerah Kashiihama.

*

Mungkin saya tak akan setiap hari cerita mengenai kehidupan saya di Fukuoka. Mungkin hanya akan saya lakukan 1 minggu sekali, jika kalian ingin tahu apa yang saya lakukan di Fukuoka selama 3 bulan ini. Saya rasa, bercerita setiap hari akan menjadi too much for me dan pasti kalian juga bosan. Dan sebenarnya foto-fotonya sudah saya upload, tapi ya sudahlah.

Baiklah, sampai jumpa di cerita saya selanjutnya.



[ ]