#JALAN-JALAN / / / NTT08

Saturday, 26 July 2014

Ada kepala anjing di atas batu besar.

*

Saya tak tahu apa yang membawa saya sampai ke tempat ini, ya, Atambua. Tak pernah terpikirkan dalam kepala saya saya akan sampai di perbatasan Indonesia, tinggal di sana selama 2 bulan bersama orang-orang yang baru saya kenal ketika saya sampai ke tempat ini, di lingkungan yang asing bersama orang-orang dari suku dan kebudayaan yang berbeda di Jawa. Ah tapi sudahlah, cerita ini akan menjadi sangat panjang mana kala saya menuliskan mengenai perjalanan saya dan ‘tim yang – selama ini saya pikir – agak nggak jelas’ hingga akhirnya disetujui oleh UGM untuk berangkat ke Atambua Selatan pada bulan Juli 2014.

(bandara eltani, kupang)


*

Saya rasa, tempat KKN saya ini tak jauh beda kondisi fisiknya dengan tanah kelahiran saya, Gunungkidul. Desa Fatukbot, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu ini memang kering seperti daratan NTT lainnya. Seperti halnya sebagian besar wilayah di Gunungkidul. Bedanya, ditempat ini banyak sekali lahan-lahan kosong yang benar-benar tak ditanami dan menjadi savanna kecil di lingkungan kampung. Ah, iya, di belakang pondokan saya juga ada savanna kecil, sawah tadah hujan yang ketika musim kering seperti bulan-bulan ini, tidak dipakai dan dibiarkan ditumbuhi rumput liar. Jikalau pagi datang dan ada sedikit kabut –karena di tempat saya ini, meski siang hari panas, tetapi kalau malam dingin sekali- dan cahaya matahari pagi yang menerobos lewat celah ranting pohon, membuat suasana yang melankolis. Para petani yang membiarkan sapi, babi, dan ternaknya menggembalkan dirinya sendiri di savanna kecil itu. Syahdu sekali.

(savana kecil di belakang pondokan)

Di tempat saya KKN ini, air susah sekali. Ibarat derah pesisir selatan di Gunungkidul. Setiap hari, saya harus menimba air di sumur, entah berapa puluh kali. Untuk mandi, butuh 2 ember hitam ukuran sedang. Satu ember kira-kira 3-4 kali timba. Belum lagi untuk buang air kecil, atau buang air besar. Untuk cuci baju, kami berjalan 200 meter turun ke sungai yang alirannya hanya seperdelapan dari lebar sungai yang sesungguhnya ketika musim penghujam. Untuk memasak, air juga diambil dari sungai, ada sebuah mata air kecil yang alirannya jernih sekali. Kami di sini terbiasa hidup keras, karena bantuan dari pemerintah yang sangat minim jika dibandingkan dengan kelompok KKN tetangga kami yang beda kecamatan. Ya, tapi masih saja ada yang manja dan minta dibantuin mengambil air untuk keperluannya ke kamar mandi.

(sungai tempat mandi dan mencuci)

Ah tapi, di tempat ini, bersama orang-orang yang di minggu pertama keluar sifat aselinya yang ini gokil, yang itu jaim, yang di sana asyik, yang di sini kocak, si anu yang nyebelin dan si anu ini itu, seperti bertemu keluarga dadakan. Seperti mie sedap cup, semua serba instant dekatnya, instant akrabnya, instant cinloknya, eh, ups. Meski, saya tahu dari cerita teman-teman seangkatan yang sudah KKN kemarin-kemarin, kebersamaan dan kedekatan ini mungkin hanya akan bertahan selama 50 hari masa KKN saja. Kami di sini yang jauh dari keluarga, secara otomatis mencari orang terdekat yang senasib dan mengangkatkan diri menjadi saudara.

*

Malam di Fatukbot terasa dingin. Dinginnya sampai ketika saya menghembuskan napas, uap putih muncul di depan mata. Hari itu ketika kami tiba di pondokan, malamnya purnama. Dan bulan yang bulat bersinar sangat cantik di ufuk timur. Bergantung rendah, menebarkan kesyahduan diantara kami yang belum saling mengenal ini, di perantauan ini, di lingkungan baru ini, di tempat kami akan menghabiskan 50 hari bersama hingga tiba waktunya penarikan kembali ke Jogjakarta.

Sebenarnya, ada yang lebih asyik lagi dan mungkin tak terlupakan dari KKN ini. Sumur satu-satunya milik mama pondokan, tiba-tiba mengering di hari kedua kami tinggal di lokasi. Otomatis semua hal dan kegiatan berbau air harus diminimalisir, termasuk untuk buang air dan mandi. Air menjadi begitu berharga di sini. Tapi, ada mama baik hari di depan rumah seberang jalan yang menawari kami mandi di sumurnya – yang konon kata penduduk di sini tidak pernah kering meski di musim kering sekalipun -. Suatu malam saya dan geng mandi dadakan, malam itu sekitar pukul 8 jalan mandi di sumur mama depan rumah. Saat itu terperanjatlan saya menyaksikan sabuk bintang yang membentang daru utara ke selatan begitu terlihat jelas seperti ketika saya mendaki gunung. Bahkan yang satu ini di tempat ini terlihat begitu spektakuler. Yang lebih asyiknya lagi adalah, menimba air untuk mandi di sumur yang remang-remang cahaya lampu dari rumah seberang sambil menikmati betapa indahnya malam yang Tuhan berikan kepada orang-ornag yang ada di sini. Saya dapat dengan jelas melihat rasi salib selatan dan rasi skorpio diantara entah jutaan bintang lain dan awan bima sakti yang luar biasa indahnya.

Yang lebih dahsyatnya lagi adalah, suatu ketika saya dan teman-teman saya mandi –baca:cuci muka gosok gigi- di sumur yang tak pernah kering ini, mendadak mati lampu. Yang belum selesai cuci muka gelagapan mencari air dan yang sudah selesai rebut berpegangan takut ilang atau ada ‘serangan dadakan’. Ketika jalan pulang, semakin lah itu kentara sabuk bintang yang sejajar dengan jalan di depan rumah pondokan kami, membentang utara selatan, jutaan bintang diantara kabut bima sakti. Ah, saya pamer satu saja foto dari pemandangan yang tiap hari saya lihat.

(bimasakti di atas pondokan. serasa berlayar di angkasa malam)


*

Ini baru sebagian saja cerita mengasyikan dari KKN ini. Lain kali, saya akan ceritakan lagi.

[ ]


#MYTH / / / Asal Muasal Desa Ngleri, Playen, Gunungkidul

Tuesday, 8 July 2014

Cerita ini adalah berupa penelusuran dari ingatan saya sewaktu diminta menuliskan cerita daerah sewaktu SMP, wawancara terhadap bapak, ibu, kakek, nenek, simbah buyut saya, dan para tetangga. Tulisan ini sepenuhnya belun teruji kebenarannya karena merupakan penggabungan dari hasil wawancara dari narasumber yang hidup berbeda generasi dan di-gothak-gathuk-kan dengan sejarah Indonesia modern yang saya pelajari di bangku sekolah.

Selamat menikmti.

*

Desa Ngleri adalah salah satu desa yang ada di kecamatan Playen, Gunungkidul. Menurut 'Kecamatan Playen Dalam Angka 2013' yang diterbitkan oleh BPS Gunungkidul (dapat di lihat di link berikut) memiliki luas 986,42 m persegi dan dihuni oleh 754 KK atau sekitar 2576 jiwa. Batas-batas wilayahnya meliputi, sebelah utara dan barat berbatasan dengan kecamatan Patuk yang dipisahkan oleh Kali Oya, sebelah timur dengan desa Banaran, sebelah selatan dengan desa Getas.



*

Dahulu kala, di saat Indonesia masih belum merdeka dan masih terdiri dari kerajaan-kerajaan nusantara, ada sebuah perkampungan kecil di perbatasan wilayah Kasultanan Mataram Islam Lama yang berpusat di Kota Gedhe dan Kerajaan Majapahit. Perkampungan tersebut adalaha sebuah kampung petani yang berada di tengah alas (baca : hutan yang belum terjamah). Rumah di kampung itu kecil-kecil, dengan persawahan yang sangat luas. Penduduknya hidup sederhana, dan berkecukupan lewat bercocok tanam di sawah mereka.

Suatu hari, datang lah serombongan orang berpakaian mencolok melewati daerah perkampungan petani tersebut. Konon katanya, serombongan orang itu adalah sekelompok prajurit yang sedang melarikan diri dari musuh. Yang kemudian saya duga, dari sinilah nama Playen berasal. Playen berasal dari kata playon, playu, mlayu, yang artinya berlari melarikan diri. Ah, soal asal muasal Playen kapan-kapan saya akan ceritakan lagi. Tapi kali ini saya mau cerita tentang desa saya. Kembali ke cerita.

Serombongan pelarian yang entah datangnya dari mana - saya duga, mereka adalah pelarian dari sisa-sisa kerajaan Majapahit, karena cerita ini mirip dengan cerita mengenai pelarian keturunan Majapahit yang melarikan diri ke Gunungkidul. Teman-teman ada baiknya membaca tulisan Bapak Deddy (link) agar dapat mengerti apa kaitan yang saya maksud di sini-, itu sedang mencari tempat untuk berlindung. Sebenarnya salah seorang dari rombongan tersebut mengalami luka yang cukup parah. Oleh penduduk setempat, rombongan tersebut diminta untuk pergi ke sebuah mata air yang ada di sebelah barat wilayah tersebut.

Di wilayah barat daerah tersebut, tepatnya di dekat Kali Oya - kali terbesar yang ada di Gunungkidul -, terdapat sebuah mata air. Mata ait tersebut merupakan hulu dari sebuah sungai kecil yang kemudian menyatu dengan Kali Oya. Penduduk sekitar menamakan sungai kecil itu sebagai Kali Loro. Kali yang berarti sungai dan Loro yang berarti sakit. Penduduk setempat percaya, barang siapa orang yang minum air dari sumber mata air tersebut, maka semua penyakitnya akan disembuhkan. Sumber mata air itu, sesungguhnya dijaga oleh seorang Nyai -saya lupa namanya siapa-. Nyai tersebut yang menjaga mata air tersebut agar tidak sembarangan orang dapat mengambilnya.

Singkat kata, rombongan itu akhirnya mendatangi mata air tersebut dan dicegat oleh si Nyai. si Nyai menanyakan maksud kedatangan orang-orang yang belum pernah ia kenal itu. Rombongan itu pun mengutarakan maksudnya untuk datang menyembuhkan salah satu diantaranya karena diberitahu oleh penduduk setempat mengenai Kali Loro. Si Nyai pun akhirnya menyanggupi untuk mengijinkan rombongan itu untuk menyembuhkan anggota mereka yang terluka dan memerbolehkan anggota lain untuk meminum air dari aliran mata air yang ia jaga.

Anggota yang terluka itu pun sembuh setelah meminum air dari mata air itu, begitu pula  anggota lain yang merasa hilang rasa lelah akibat perjalanan berhari-hari yang mereka tempuh. Karena merasa berhutang kepadang si Nyai, rombongan itu menawarkan untuk membayar si Nyai dengan uang emas. Tetapi si Nyai menolak, ia memberikan syarat. Sebelum rombongan itu pergi, mereka harus membuat hajatan yang ramai dan mengundangnya. Rombongan itu menyanggupinya dan kembali ke wilayah perkampungan.

Di kampung itu, rombongan pelarian itu membeli semua hasil panen padi yang ada. Dan dengan padi itu mereka membuat hajatan yang luar biasa mewahnya. Semua penduduk kampung itu diundang, beserta si Nyai. Konon katanya, di hajatan yang sungguh mewah dan baru sekali itu dilakukan di kampung tersebut, padi yang dimasak menghasilkan nasi yang begitu banyak. Nasi-nasi itu diletakkan di atas daun-daun pisang yang sangat panjang, cukup banyak untuk setiap orang yang datang.

Dari sinilah nama Ngleri berasal. Nasi yang diletakkan di atas daun-daun pisang mirip dengan apa yang orang Jawa lakukan untuk mendinginkan nasi yang baru masak. Dalam bahasa Jawa disebut, ngeler sega, ngeler - meletakkan/meratakan nasi di atas tempat yang lebar agar cepat dingin. Karena dilakukan berulang-ulang, maka ngeler mendapat imbuhan -i, menjadi ngeleri, ngleri. NGLERI.

Setelah hajatan itu berakhir, ada yang mengatakan bahwa rombongan itu pun pamit pergi untuk meneruskan pelarian mereka. Ada juga yang bilang bahwa si Nyai kemudian menikah dengan anggota yang terluka dan sembuh, dan mereka menetap di wilayah Kali Loro sementara rombongan lainnya meneruskan perjalanan.



[ ]