#RANDOM / / / Si Pemberontak atau Si Kerupuk Mlempem [?]

Monday, 4 November 2013

Ini hanya tulisan unek-unek saya yang sebenarnya tak penting. Saya hanya butuh tempat bercerita secara non-verbal. Menulis ini pun dalam upaya meredam emosi.


*


Orang tua sering kali melarang anak-anak untuk bersinggungan dengan alam. Mereka terlalu takut anaknya tak akan bertahan karena anggapan mereka bahwa setua apapun anaknya, sedewasa apapun anaknya, anak tetap akan jadi anak-anak di mata mereka. Padahal, alam membesarkan anak-anak yang tangguh, yang tak kenal menyerah, para survivor di kehidupan yang bahkan lebih kejam daripada alam terliar manapun. Anak-anak yang 'dikurung' akan jadi pemberontak atau malah akan jadi bermental kerupuk mlempem dalam toples karena disimpan terlalu lama. Saya tak mau jadi sebuah kerupuk yang tertinggal dalam toples yang kemudian mlempem karena disimpan terlalu lama. Saya ingin jadi para survivor, seorang yang tangguh dan tak kenal menyerah. 

*

Kadang kala, saya merasa sangat nyaman berada di gunung, di ketinggian tertentu, menatap dunia di bawah sana dan garis batas cakrawala tempat matahari terbit dan tenggelam. Kadang juga duduk di tepi pantai, menatap awan mendung dan badai di laut lepas membuat pikiran saya lapang. Atau sekedar melamun di angkringan yang berjejal sepanjang kali Code di Kota Baru, menatap aliran sungai tenang atau berarus kuat. Dari kecil saya suka berpetualang, ya, saya suka ber.pe.tu.a.lang. Saya suka kegiatan outdoor. Saya suka pramuka. Saya suka hiking. Saya suka mendaki bukit kecil di dekat kampung saya. Saya suka menjelajah hutan wanagama waktu kecil, tak lama setelahnya kena deman berdarah, tapi saya tetap suka. Sekedar suka, tapi tak sampai membuat saya masuk mapala tertentu. Orang-orang mapala itu adalah orang-orang yang menyenangkan. Tetapi saya terlalu malas untuk mengikuti prosedur organisasinya. Ribet. Saya hanya suka kegiatan outdoor. Itu saja.

Tapi orang tua saya tak mengerti kesukaan saya itu. Bertahun-tahun lalu pun saya pernah memohon kepada ayah saya agar saya diperbolehkan ikut mapala di SMA saya. Waktu itu keinginan saya ditolak keras, saya sempat mendebat, tapi saya kalah, ah, lebih tepatnya mengalah karena modal untuk ikut mapala itu terlalu besar untuk saya tanggung tanpa meminta kepada orang tua saya. Saya cukup mengerti alasan orang tua saya yang mencemaskan saya yang masih SMA untuk di lepas di alam liar. Saya cukup mengerti keadaan keuangan keluarga saya. Alat-alat outdoor itu mahal sekali untuk ukuran saya yang anak SMA dengan uang saku 10.000 perhari. Saya memang bukan anak orang kaya dan saya cukup tahu diri untuk tahu batas sebanyak apa saya meminta uang kepada orang tua.

Orang tua saya tak tahu bahwa saya telah lama jatuh cinta pada alam liar, jauh sebelum saya mengenal apa itu cinta. Cinta itu diperkenalkan oleh Mochtar Lubis lewat novel Berkelana dalam Rimba (Ah, buku itu sudah hilang entah kemana) Dan mungkin mereka juga tak akan pernah mengerti mengapa. Saya juga tak tahu mengapa. Bukankah tak ada alasan untuk mencintai sesuatu? (Ah, ini kalimatnya Sinichi Kudo.) Mulai malam perdebatan dan kekalah saya itu, saya memendam keinginan saya dalam-dalam. Dalam hati saya bertekad, suatu ketika, ketika saya mampu membiayai keinginan saya itu, saya berjanji akan mewujudkannya dengan usaha saya sendiri. Tapi kali ini karena kecerobohan saya, orang tua saya akhirnya tahu saya kemarin naik gunung. Ah, cerita naik gunung Merbabu ini, biar besok saya ceritakan di-postingan berikutnya.

Ya, intinya saya ketahuan naik gunung. Itu pun karena kecerobohan saya. Saya dengan sembrono mengepost rencana itu di FB dan dibaca oleh adik saya yang baru beberapa hari saya jadikan teman di FB (Kali ini sudah tidak karena saya unfriend). Dia terlalu ember untuk bercerita kepada orang tua saya. Ya, selama ini saya tak pernah bilang kepada orang tua saya kalau saya tak hanya satu kali ini naik gunung. Saya tahu ini salah saya karena saya tak minta ijin. Tapi saya tahu, seberapa saya memohon dan menjabarkan mengapa saya naik gunung mereka tak akan mengerti, tak akan pernah mengerti. Sore ini, sebelum magrib ayah saya menelepon. Dari nadanya yang keras ketika bilang 'ya sudah, yang penting kau baik-baik saja' saya tahu saya tak akan pernah diijinkan naik gunung lagi sekalipun saya menjabarkan alasan ilmiah mengapa saya ingin naik gunung.

Apa yang orang tua risaukan dari kabut, hujan, angin, pepohonan, rerumputan, awan mendung, dan juga bintang-bintang? Mereka terlalu membesar-besarkan segala sesuatu. Di gunung ada kabut, bahaya! Ah, tak digunung pun kabut ada. Di gunung ada awan mendung, nanti turun hujan dan ada petir, bahaya! Di gunung nanti ada angin badai, bahaya! Nanti kamu tersasar di hutan, bahaya! nanti kamu ketemu binatang buas, bahaya! Hei, dimana-mana bahaya itu ada, mengendap-endap menunggu kelalaian manusia lalu datang menyergap!

*

Hukum alam mengatakan, siapa yang kuat maka dia yang menang. Teori seleksi alam itu benar. Seleksi alam itu ada dimana-mana. Tak di hutan, di gunung, di padang pasir, di kehidupan manusia yang nyaman pun ada. Kau hanya tak sadar. Berhasil masuk universitas pilihan itu juga melalui seleksi alam. Jadi juara kelas juga seleksi alam. Berhasil membeli makan dengan lauk ayam dan sayur di kantin arsi juga seleksi alam (Di atas jam 1 siang jangan harap lauk masih lengkap. Paling-paling kebagian telor ceplok dan kuah sayur!) Berhasil naik gunung sampai puncak juga seleksi alam. Kehidupan ini penuh dengan seleksi alam. Yang tak berhasil melewati, ia tak akan bertahan.

Alam itu tempat paling strategis untuk belajar melampaui seleksi alam. Kau belajar mempertahankan diri dari angin, badai, kabut, hujan, longsor, kebakaran, dan serangan hewan buas. Kau berlajar mencari makan, di alam semuanya tersedia. Kau belajar bagaimana bersahaja dan bersikap sederhana, di alam kau hanyalah satu dari sekian jenis makhluk hidup yang membentuk suatu ekosistem. Kau belajar beradaptasi dengan lingkungan yang apa adanya, yang sederhana dan tak menuntutmu lebih, tak seperti kehidupan manusia yang pelik oleh sistem-sistem, ekonomi, politik, dan hal-hal ruwet lain yang diciptakan manusia. Kau bisa menjadi dirimu sendiri di alam tanpa adanya tuntutan sosial yang mengharuskanmu ini itu. Tak ada yang melarangmu untuk 'telanjang' di alam, tak akan ada yang ngisin-isin. Alam dan isinya hadir dalam ketelanjangan. Dan manusia terlalu ribet untuk memakai topeng-topeng.

Spesies yang mampu bertahan dari seleksi alam, adalah individu yang kuat dan tangguh, begitu pula anak-anak yang dibesarkan di alam. Anak-anak yang bertahan di alam, akan tumbuh jadi individu yang tangguh seperti rumput, yang bermental tebing karang, berhati sehalus kabut, cerdas cemerlang seperti bintang, liat seperti akar pepohonan, tak kenal menyerah seperti air yang mengalir di celah bebatuan, bertangan sedingin angin, berhati sengangat matahari pagi. Anak-anak yang bertahan hidup, para survivor. Dan saya ingin jadi salah satu dari para survivor itu, bukan kerupuk mlempem, meski saya harus jadi pemberontak sekali pun.

Karena saya sudah terlanjut jatuh cinta, jatuh cinta kepada alam.
tapi sepertinya orang tua saya tak akan (mau) mengerti dan tak akan (pernah) mengerti.


[ ]

No comments :

Post a Comment