#ARCHITECTURE / / / Uma Bara

Friday, 1 November 2013

Bosan nulis essay terus yang meski kadang nggak penting-penting banget tetapi menguras pikiran saya, kini saya akan sedikit nyantai dan bercerita mengenai semester lalu. Jadi sebenarnya yang saya muat di sini adalah tulisan saya untuk tugas Teori Arsitektur 2 yang saya tempuh semester lalu.

Teori Arsitektur 2 sebenarnya diampu oleh 3 dosen. Sebenarnya karena hal tersebut rasanya Teori Arsitektur 2 jadi serasa kaya 2sks x 3. Tiap dosen memberi tugas masing-masing yang tingkat kesulitannya berbeda-beda. Salah satu dari tugas tersebut adalah untuk meneliti bangunan arsitektur suatu suku ada di Indonesia. Dan pilihan saya jatuh kepada rumah adat Sumba Barat NTT.

Selama hampir setengah semester saya mengumpulkan bahan dari berbagai sumber, menyusun makalah, dan tak lupa yang terakhir adalah membuat maket model rumah adat. (Eh, ingat, mata kuliah ini hanya 2 sks saja. Ya, hanya 2 sks saja. Tapi toh saya lewati dengan sukses).






Kajian terhadap rumah tradisional Sumba barat ini memberikan gambaran mengenai nilai-nilai sosial budaya tradisional yang sangat terkait erat dengan tatanan ruang arsitektur setempat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penulisan ini adalah sebagai berikut;

  1. Masyarakat Sumba adalah masyarakat yang homogen, masih memegang teguh tradisi nenek moyang terutama masyarakat di daerah Sumba barat karena daerah yang relatif jauh dari jangkauan dunia luar
  2. Masyarakat Sumba mengenal perbedaan kedudukan sosial berdasarkan pertalian darah dalam kehidupan masyarakatnya. Gologan paling tinggi adalah Maramba – Raja, yang kedua adalah Kabihu – penduduk biasa, dan Ata – budak. Maramba adalah keturunan langsung dari Marapu dan keturunannya yang akan menajdi saman/ketua adat.
  3. Masyarakat Sumba juga mengenal perbedaan gender dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki kedudukannya lebih tinggi dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Laki-laki juga yang ikut berperan aktif dalam kegiatan ritual desa. Kaum perempuan bertugas untuk mengurus rumah tangga dan anak.
  4. Seluruh kehidupan masyarakat Sumba barat berpatokan pada kepercayaan nenek moyang yaitu kepercayaan terhadap Marapu. Marapu adalah roh-roh nenek moyang yang tinggal di langit dan memperhatikan keturunannya. Segala kegiatan bermasyarakat mengacu kepada Marapu. Ritual-ritual adat masih dilaksanakan seperti ritual panen, pernikahan, sampai pemakaman.
  5. Tata ruang pemukiman adat dan rumah tradisional mengacu kepada kepercayaan terhadap Marapu dan juga sosial budaya yang berlaku di masyarakat.
  6. Pemukiman adat Sumba barat terletak di atas bukit hijau yang dikelilingi oleh hutan kecil. Tujuan pemilihan site ini adalah untuk keamanan dari serangan musuh.
  7. Pemukiman adat dibagi menjadi 4 zona. Pada bagian pusat pemukiman terdapat zona Natar yang menjadi pusat berlangsungnya ritual adat yang dilakukan masyarakat kepada Marapu. Setiap klan adat memiliki satu Natar di tengah pemukiman mereka. Semua rumah berorientasi pada Natar. Di bagian ini juga terdapat kubur batu bagi orang-orang yang telah meninggal. Zona selanjutnya adalah zona pemukiman dimana orang-orang mendirikan rumah. Zona selanjutnya adalah benteng. Dan zona selanjutnya adalah zona kekuasaan suku.
  8. Masyarakat Sumba barat mengenal aksis utara selatan sebagai aksis utama. Arah selatan menjadi arah yang disucikan, karena dari arah ini angin berhembus ketika musim bercocok tanam dan membawa kesuburan. Rumah ketua adat berada di arah selatan Natar. Wakil ketua adat –anak laki-laki pertama ketua adat- memiliki rumah di sebelah utara Natar. Rumah sebelah barat adalah untuk anak bernomor genap dan yang sebelah timur adalah untuk anak bernomor ganjil.
  9. Rumah tradisional Sumba barat merepresentasikan 3 dunia. Dunia bawah, tempat setan direpresentasikan sebagai kolong rumah tempat menyimpan hewan ternak. Dunia kehidupan tempat manusia hidup digambarkan sebagai bagian tengah yang dijadikan temapt beraktivitas sehari-hari. Dunia atas tempat Marapu tinggal direpresentasikan sebagai menara atap yang menjulang. Di bagian loteng, tinggallah Marapu.
  10. Pada bagian tengah rumah terdapat perapian sebagai jantung dari rumah. Perapian ini dikelilingi oleh 4 tiang utama yang merepresentasikan roh-roh nenek moyang yang membantu masyarakat Sumba sehari-hari. Perapian ini berfungsi sebagai tempat dilakukannya ritual yang dipimpin oleh saman. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa, perapian ini merupakan wahana untuk menghubungkan hubungan transcendental antara dunia bawah, dunia manusia, dan dunia atas.
  11. Masyarakat Sumba menerapkan pembagian gender pada pembagian ruang di dalam rumah. Jika dilihat dari depan, bagian sebelah kanan adalah area laki-laki, dan bagian sebelah kiri adalah area laki-laki. Anggota keluarga yang lebih tua tinggal di bagian depan rumah dan anggota yang lebih muda tingga di bagian belakang rumah
  12. Dalam konstruksi rumah adat, masyarakat Sumba memakai bahan-bahan dari alam yang sebelumnya dilakukan ritual terlebih dahulu. Bahan-bahan ini diambil dari hutan setempat. Dan pengerjaannya dilakukan secara gotong royong dengan menggunakan teknologi konstruksi sederhana.

Saya sangat terbantu sekali dengan data yang kebanyakan saya peroleh dari http://www.hpgrumpe.de/reisebilder/nusa_tenggara/Sumba, http://naked-Sumbatravel.blogspot.com, www.wdrs-fujilab.org/pic/IDN_graph/idn0010_0375_Sumba/, dan juga www.sumai.org/asia/Sumba.htm. Saya juga berterimakasih kepada penulis di www.sumai.org/asia/Sumba.htm bernama Sato Koji-san yang tulisannya sangat membantu meski saya kirimi email tetapi juga tidak dibalas. Tapi ya sudah lah, anda memang orang hebat. Saya sungguh berterimakasih. Meski dalam hati saya malu, karena saya harus mencari data rumah sendiri dari orang asing.

 
Sebenarnya, saya cukup bangga lho dengan karya maket saya. Karena saya mengerjakannya benar-benar niat dan saya usahakan semirip mungkin dengan konstruksi aslinya. Ya tentunya lihat di internet. Saya sampai beli tusuk sate banyak abnget dan sisa satu kerdus. Juga membeli sapi ijuk hanya untuk menyerupai atap alang-alang Uma Bara. Mengorbankan hidung saya yang pilek berhari-hari karena menciumi bau lem G. Meski pasrah dapat nilai berapa untuk makul satu ini, yang penting maket saya keren. Setelah dibalikin bakal saya pajang di kamar saya. Tapi ternyata, maket saya tidak dikembalikan. Kehormatan sih, tapi sedih, padahal mau saya pajang. Untungnya sudah saya dokumentasikan dulu.



[ ]

4 comments :

  1. semoga gak pernah bosan nulis... keren tuh tulisannya

    ReplyDelete
  2. keren dan sangat membantu .. teruskan karyanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih sudah mampir di postingan ini. ^^

      Delete