#FIKSI / / / Hari Ini Kita Bertemu Pukul Tujuh

Saturday, 30 November 2013


"karena ada sesuatu yang pasti terlewatkan dan terlupakan pada pertemuan pertama, dan karena pada pertemuan kedua takdir dipertemukan."- MMF, 2013

*

Aku menatap pendar cahaya lampu belakang motor-motor yang menyalip mobil kami acuh tak acuh. Jendela mobil di sampingku bertopang dagu sedikit berembun karena udara malam ini yang sedikit lebih dingin dari biasanya. November akhir, tapi hujan masih saja belum turun dengan ajeg. Kebetulan malam ini langit cerah sedikit berawan memantulkan sinar kota. Si sopir yang memaksaku ikut dengannya malam ini tengah sibuk bercerita tentang pembukaan pameran yang hendak kami datangi, disela-sela sebuah lagu indie berjudul Perjumpaan - Mr. Sonjaya yang diputar dari radio lokal.

“Shifa, kok kamu diem aja sih? Kamu kan udah menyanggupi mau nemenin aku datang ke pameran seni rupa-nya temenku malam ini!.” Protesnya dengan nada merajuk.

“Iya, iya. Aku tahu.” Jawabku mengalah.

Sebenarnya aku agak enggan datang ke acara semacam ini. Aku merasa tak nyaman berada di antara orang-orang yang tak kukenal di sebuah tempat yang tak kukenal pula. Tapi ia merajuk minta ditemani datang karena malu datang sendirian, dan aku tak punya alibi untuk menolaknya. Jadi, di sini lah aku, duduk di kursi depan di samping supir, menatap jalanan yang cukup lengang di akhir pekan, sambil mendengarkannya berceloteh mengenai pameran ini. 

Ah, satu lagi, aku tak bisa memahami apa yang dipikirkan oleh seniman jaman sekarang. Karya-karya seni yang mereka hasilkan terlalu abstrak, terlalu sulit untuk dinikmati oleh orang awam. Niatnya mau sok-sok-an keren, memikat orang lewat pemikiran yang dalam, jero banget kalau istilah dalam bahasa jawa, memakai mix-media yang sifatnya kontemporer, atau pamer skill dan teknik gambar. Tapi kadang lupa, orang awam sepertiku akan susah menangkap maksud dari karya itu. Padahal, bukankah seni adalah media aspirasi karya cipta karsa dari si seniman? Ah, tau apa aku tentang seni? Orang awam sepertiku, memang tak tahu apa-apa. 

Setibanya di tempat pameran, parkir ramai dipenuli sepeda motor dan mobil. Kami buru-buru keluar dari mobil.

“Aduh, telat nih kita! Pembukaannya pasti sudah dimulai setengah jam lalu.” Katanya sedikit panik sambil berlari-lari kecil meninggalkanku agak ke belakang. Aku hanya mendengus geli karena salahnya sendiri lama berdandan di depan kaca. Aku melirik jam tanganku. Pukul 7 kurang seperempat.

Seperti yang kuduga, pameran ini ramai. Ramai sekali oleh anak-anak muda dengan dandanan yang, mulai dari yang paling biasa hingga yang paling nyentrik. Risa menarikku ke arah rombongan yang beberapa orang diantaranya aku kenal, teman-temannya. Seorang laki-laki tinggi kurus berkulit gelap dengan senyum yang manis dan rambut hitam lurus agak gondrong , tipikal anak ISI semester akhir, memperlihatkan mata yang berbinar ketika Risa menyapanya.

“Hai, bang! Selamat ya atas pamerannya!” ujar Risa kepadanya. Keduanya berjabat tangan erat sekali.

Teman-teman Risa menepuk pundaknya ketika kami bergabung dalang rombongan kecil itu. Ruangan seluas setengah lapangan sepak bola yang disekat-sekat sesuai kebutuhan pameran penuh oleh orang. Beberapa bergerombol di depan karya. Beberapa sendirian sambil memotret sana sini. Suara mereka dipadu langkah-langkah kaki seperti dengungan lebah, membuatku mengernyit tak suka. Teman-teman Risa yang beberapa kali kulihat main ke kosan kami mengendik sambil tersenyum kepadaku. Yang tentu saja, kubalas seadanya.

Laki-laki yang dipanggil Risa, abang itu, tertawa memperlihatkan deretan gigi yang rapi. Entah mengapa tawanya itu membuatku sebal. Lalu ia dan Risa tenggelam dalam obrolan yang tak kumengerti. Setelah pamit kepada gerombolan itu, aku beringsut ke sudut ruang pameran yang sepi oleh pengunjung yang sudah bergerak menjauh. Sekilas saja melihat, beberapa karya yang terpajang di dinding ruang pameran itu kulewati. Alasannya cuma satu, terlalu rumit, terlalu kontemporer, hingga pesannya tak tersampaikan. Lalu aku terhenti pada sebuah karya yang begitu aneh diantara lautan karya jero banget di ruang pameran ini. 

Tapi lukisan di depanku ini begitu sederhana, bergaya realistis, tekniknya sungguh mengagumkan, goresan kuasnya memiliki karakter yang tak kutemukan di karya-karya sebelumnya, dan yang lebih penting, dapat termaknai dengan lugas. 

Apel. Lukisan itu adalah lukisan tentang buah apel. Judulnya, ah ya, Sekumpulan Dosa-Dosa. Dalam sebuah bidang kanvas, yang kira-kira berukuran 80x120cm itu, berbagai jenis apel dengan berbagai bentuk dan warna terlukiskan dengan sangat indah dan nyata, tapi entah mengapa aku jadi mual dan merasa ngeri sendiri. Ditengah leherku yang meremang, tiba-tiba terdengar suara apel yang digigit.

Kraus!

Aku menoleh kaget sekaligus ngeri, tetapi aku malah mendapai seorang laki-laki bercelana jeans belel dengan kemeja flannel merah biru kotak-kotak bersepatu boots kulit sambil menyerempangkan tas punggung berwarna hijau army sedang berdiri menatap lukisan yang ada di hadapanku sambil menggigit sebuah apel hijau. Rasa-rasanya aku pernah melihatnya entah dimana.

Tiba-tiba ia menoleh kepadaku dan kami saling terdiam sambil bertukar tatapan. Rasa-rasanya aku bisa melihat ia juga sedang memutar memorinya sendiri. Lalu seperti tersengat listris berarus rendah, aku ingat sesuatu.

“Lhoh, kamu yang waktu itu, kan?” ujar kami bersamaan sambil saling tunjuk satu sama lain.


Hari sedang panas-panasnya di pertengahan Juni. Dan aku terjebak dalam sebuah antrian panjang di loket penukaran struk indomart untuk mendapatkan tiket keretaku. Aku meruntuki dalam hati mengapa tak dari pagi saja aku pergi ke stasiun untuk menukarkan tiketku. Tapi tadi pagi aku telalu malas untuk keluar kos-kos-an menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke stasiun hanya untuk menukarkan tiket pulang malam ini.

Antrian di depanku masih 4 orang. Entah apa yang orang di depan loket itu lakukan hingga memakan waktu yang lama. Aku bersedekap kesal sambil pura-pura tertarik pada jam dinding stasiun yang rasa-rasanya bergerak lambat sekali. Sekitar lima menit berikutnya orang itu baru selesai dan antrian maju. Cepat saja hingga aku ada di paling depan batas antrian menunggu orang di depanku yang sepertinya hendak membatalkan tiketnya.

Orang di depanku berbalik pergi dan aku hendak maju, tiba-tiba seorang pasangan suami istri datang terburu-buru dan berdiri di depan loket. Aku merasa sebal dan mengetuk-ngetukkan kakiku ke lantai sambil mengumpat dalam hati. Seseorang yang mengantri di belakangku beringsut maju ke depanku dan membuatku memaki-makinya dalam hati. Laki-laki itu beransel tinggi dengan kemeja franel kotak-kotak merah biru.

“Maaf, pak, bu, saya tahu mungkin anda berdua buru-buru. Tapi tolong antri. Coba anda lihat orang-orang yang sedari tadi mengantri. Apa anda tak tahu malu hingga menyerobot antrian?”

Aku melongo mendengar apa yang ia katakan barusan. Kupikir ia ikut-ikutan menyerobot antrianku. Suami istri itu bermuka sebal kepada si laki-laki itu.

“Silahkan antri. Kami semua sudah antri dari tadi.” Katanya tegas sambil membentangkan tangannya ke arah antrian yang sebenarnya tak cukup panjang, hanya ada 8 orang saja. Orang-orang di belakangku mulai ikut protes mendukung kata-kata laki-laki itu. Orang-orang yang mengantri membeli tiket di loket sebelah ikut-ikutan menoleh dan melihat apa yang sedang terjadi. Suami istri itu terlihat malu meski mukanya kesal sekali lalu berjalan menuju antrian paling belakang. Petugas di loket terlihat mengernyit tak mengerti.

Ketika ia hendak kembali ke antriannya, pandangan kami bertemu. Matanya yang hitam menatapku dengan tegas. Rambutnya yang terpotong rapi menyentuh telinganya. Aku mengendik kepadanya dan dibalas dengan sebuah gerakan memintaku untuk maju ke depan loket.

Setelah selesai menukarkan tiket itu, aku berbalik dan mendapatinya mengantri setelahku. Sejenak aku tercekat di tempat lalu menelan ludah susah payah.

“Terimakasih.” Kataku lirih. Hanya kami berdua yang dapat mendengarnya.

Ia tersenyum dan mengangguk kepadaku. Lalu aku buru-buru berjalan keluar antrian, menuju parkiran.

Hei, aku tak benci dengan senyumannya itu.


*

Apakah kau percaya bahwa kebetulan-kebetulan  yang terjadi beruntutan hanyalah kebetulan belaka? Kadang kita tak pernah sadar, diantara kebetulan-kebetulan yang terjadi, takdir sedang berusaha untuk merampungkan cerita yang tertunda.




[ ]



Sebuah fiksi diantara pembukaan pameran seni Pertemuan Kedua yang diselenggarakan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

1 comment :