#FIKSI / / / Di Pernikahan Kedua

Wednesday, 1 March 2017

Di pernikahan kedua bulan ini, kita bertemu setelah sekian lama. Aku tak tahu kalau-kalau kau akan datang hari ini, padahal dua minggu lalu jelas kau tak mendatangi pernikahan salah satu teman kita itu. Ah, tapi jelas saja kau pastikan datang di acara ini. Bagaimana mungkin kau melewatkan pernikahan perempuan yang kau cintai begitu saja. Aku malah lebih menyukai pilihan yang lainnya, melewatkan kebahagiaan kedua mempelai dan memilih untuk mendekap kesedihan yang tidak ada habisnya ini. Coba terangkan padaku, bagaimana bisa wajahmu setenang malam? Meski aku tahu, pandanganmu berkabut, antara haru dan duka.

Seperti biasa, malam itu, kita saling menunggu teman-teman kita lainnya untuk masuk ke gedung resepsi. Ada yang membawa suami/istri mereka. Ada pula yang menggendong anak mereka yang masih balita. Sungguh hari ini pasti hari yang besar, reuni yang tak terduga, demi menghadiri pernikahan perempuan yang seumur hidupmu itu kau cintai. Ah, aku tak perlu menyebutkan, bukan, kalau ia cinta pertamamu dan, tentu selama ini kau belum bisa beranjak dari perempuan itu meski setiap hari berada di dalam perut bumi? Bah, tentu saja, dipertambangan tak mudah kau temukan perempuan macam dia. Tidak seperti kalau kau bekerja kantoran di Jakarta. Apa kataku padamu dulu ketika kau mengambil pekerjaan itu? Tapi kau sepertinya memilih mengubur diri di bawah tanah dan menampik fakta bahwa kau pun harus mengubur perasaanmu itu jauh-jauh, atau lebih tepatnya, dalam-dalam, lebih dalam daripada ujung mata bor tambang tempat kau bekerja itu.

Mengantri sambil bercanda, aku mengamatimu yang berdiri lebih depan daripadaku yang menggerombol bersama teman-teman perempuan kita. Kuakui, mungkin karena jarang melihat permukaan bumi, atau karena kau yang jauh dari peradaban  itu terlihat mengurus. Aku bisa melihat jelas pipimu yang menirus dan cekungan mata yang terlihat dalam. Ah, tak lupa aku sebutkan kantung mata yang kentara menghitamkan bawah kelopak matamu. Kau terlihat sangat lelah. Secara mental pun mungkin juga. Aku bisa merasakan kesedihan yang tersorot dalam tatapan matamu ketika sesekali kau mencuri-curi pandang ke arah mempelai wanita.

Dan lihatlah, perempuan yang kau cintai itu. Begitu mungil, begitu rapuh, dengan senyuman paling manis yang pernah aku lihat selama aku mengenalnya. Perempuan itu cantik sekali, sungguh cantik sekali. Semua orang memuji-mujinya ketika kita mengantri menyalaminya. Aku tidak heran, mengapa kau jatuh cinta padanya. Dan, tentu saja, kerling matanya yang memperlihatkan bahwa ia begitu cerdas dan mandiri. Jika aku pun seorang laki-laki, aku pasti akan jatuh cinta padanya.

Tibalah giliran kita menyalami kedua mempelai. Kau berbisik sesuatu pada perempuan itu dan membuat perempuan itu tersenyum sopan dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tahu arti tatapan itu. Ia pasti merasa sangat berterimakasih karena kau telah datang hari ini, melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu. Mungkin ia juga yakin, bahwa kau telah lama merelakan perempuan itu. Tetapi tidak, jelas sekali tidak. Aku melihatnya dari tatapan matamu pada perempuan itu. Tatapan yang dalam dan dipenuhi banyak hal. Keharuan, kesedihan, kekecewaan, kah itu? Kau menatap perempuan itu lebih lama daripada yang seharusnya, hingga akhirnya kau pun memalingkan wajahmu.

Setelah bersalaman, semua orang pun berpisah untuk memburu berbagai jenis makanan yang ada di ruang resepsi itu. Aku melihatmu berdiri di sisi yang paling jauh dari pelaminan. Sembari menyandarkan punggungmu pada dinding di belakang tubuhmu, kau hanya menggenggam segelas minuman honey lime with mint, tanpa berusaha meminumnya sedikit pun. Dan lihatlah, betapa aku yang paling tahu kau masih tidak terima perempuan itu akhirnya dipinang juga. Aku mengambil buah-buahan tak jauh dari kau berdiri lalu menyusulmu, berdiri sembari menyandarkan punggungku pada tembok dan mulai memakan buah-buahan itu.

"Kau tak makan?" tanyaku padamu.

"Tidak." jawabmu lalu menoleh ke arah piring kecil yang kubawa.

"Kau hanya makan itu?" tanyamu dengan nada heran sembari menunjuk ke arah piring buah di tanganku dengan kerlingannya.

"Diet." jawabku asal.

Kau pun mendengus geli.

"Apa?" tanyaku sambil memasukkan potongan buah terakhir di mulutku. Aku menoleh ke arahmu. Ternyata entah dari kapan, kau menatapku dengan tatapan geli dan tak percaya.

"Aku tak pernah menyangka kalau kau akan pernah bersikap seperti kebanyakan perempuan." jawabnya.

Aku mengangkat bahu. "Kuanggap itu sebuah pujian."

Kau menggeleng lemah sambil tersenyum kecil seolah barusan aku melontarkan candaan yang tidak lucu. Kau pun kembali menatap pelaminan. Aku pun mengikuti arah pandangmu.

"Cantik, ya?" tanyamu dengan suara yang belum pernah aku dengar sebelumnya, seperti tercekat dan sedih. Kau menatap perempuan itu dengan tatapan mendamba dan penuh kerinduan. Seperti seorang prajurit sehabis pulang dari perang menatap istrinya. Tetapi, di sini perempuan yang kau tatap itu adalah istri orang lain!

"Sangat. Sangat cantik. Aku tak heran mengapa ia," aku menunjuk laki-laki di samping perempuan itu dengan daguku, "jatuh cinta kepadanya."

Kau pun diam. Diammu itu lah yang membuatku jadi memandangi laki-laki yang berdiri di samping perempuan. Aku mengutukmu dalam hatiku yang paling dalam karena kau membuatku memandang laki-laki itu. Ya, laki-laki itu, laki-laki sialan yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam sudut hatiku yang tak pernah orang lain ketahui!

Dan di sanalah ia pada akhirnya, bersanding dengan perempuan yang ia cintai, bukan diriku. Ia masih terlihat sama di mataku. Senyum itu, kerling matanya ketika aku menyalaminya, dan, Tuhan, suaranya yang membisikkan ucapan terimakasih di telingaku saat aku menyalaminya tadi. Kupikir waktu dan jarak adalah obat yang paling mujarab untuk pesakitan yang aku idab bertahun-tahun lamanya. Tetapi, bagaimana bisa setelah sekian lama aku berjalan di kehidupanku yang tak bersinggungan lagi dengannya setelah kelulusan waktu itu, laki-laki itu dengan mudahnya membuat hatiku bergetar oleh tatapannya dan senyumannya yang membuat seolah-olah ada sekian puluh gelombang ombak menghempas perutku? Aku jatuh cinta lagi padanya di hari pernikahannya setelah sekian lama tak bertemu! Sepertinya Tuhan memang sangat suka bercanda padaku.

"Ku pikir kau tak akan datang hari ini." ujarku setelah menemukan kata-kata yang sedari tadi terkubur oleh kesedihan kami berdua.

"Bagaimana mungkin, aku tidak datang di pernikahan kedua sahabat baik kita itu?" jawabmu dengan sebuah pertanyaan retoris.

Kau benar. Kita berempat dulu bersahabat baik, sangat baik, malah, hingga kita selalu pergi bersama-sama. Selalu bersama-sama. Lalu, kau pun tahu bagaimana semua ini berlanjut. Tapi tentu kau tak tahu satu rahasia lain yang aku tutupi. Tak seorang pun tahu.

"Kau bisa saja tidak datang, kalau kau mau. Kau punya alasan itu. Kau punya hak untuk tidak berada di sini." ujarku lemah.

Aku tak mengarahkan kalimatku itu kepadamu. Kalimatku itu sebenarnya adalah untuk diriku sendiri. Ya, aku punya hak untuk tidak berada di sini. Aku bisa membuat beribu alasan untuk tidak berada di sini. Tetapi, bagaimana bisa aku tidak datang kalau laki-laki yang berdiri bersama perempuan yang kau cintai itu memintaku langsung untuk datang? Bagaimana aku bisa menolak ketika laki-laki itu meneleponku setelah RSVP undangan yang kukembalikan itu kutulis tidak bisa hadir tanpa alasan yang kucantumkan?

"Aku tidak sepengecut itu." jawabmu menimpali pendapatku.

Kau benar. Aku sudah lama berhenti mengutuk diriku sendiri yang mengutuk kebahagiaan mereka. Aku sudah menyerah dan ingin melihat kedua sahabatku itu bahagia bersama. Toh, mereka tidak tahu apa-apa mengenai perasaan yang aku simpan. Kau juga tak tahu perasaan yang aku simpan. Semuanya aman dalam sudut hatiku yang paling dalam.

Lalu, di sinilah kita berdua, berdiri bersisihan di sudut paling jauh dari pelaminan, menyaksikan orang yang kita cintai ada akhirnya menikahi satu sama lain. Betapa menyedihkan apabila pasangan itu tahu apa yang sedang kita lakukan, mengagumi orang yang pernah mereka cintai dari jauh, sembari membagi kesedihan dengan satu sama lain. Dan kita pun melihat bagaimana kedua orang itu saling berpandangan. Tentu laki-laki itu memandangi perempuan itu seperti aku memandangi laki-laki itu. Dan perempuan itu pun demikian, memandangi laki-laki itu seperti kau memandangi sang perempuan. Sekarang pun, entah berapa lama lagi kita akan keluar dari ruangan ini. Kau dan aku pun memutuskan untuk memandangi orang yang seumur hidup kita cintai itu selama mungkin yang kita bisa, merekam sebanyak mungkin ekspresi wajah mereka, memandangi mereka untuk yang terakhir kalinya, mungkin.

Setelah keheningan yang entah berapa lama, aku pun berbicara.

"Dan, sekarang pun tinggal kita berdua. Apakah kau mau menghabiskan sisa hidupmu membagi kesedihan akan kehilangan orang yang kita cintai seumur hidup, bersamaku?"

Seolah salah dengar, kau menoleh perlahan untuk menatapku dengan tatapan kebingungan dan keseriusan yang kentara sekali. Sementara aku hanya menatapmu dengan ekspresi paling tenang yang pernah aku lakukan. Tenang, tenang sekali hingga aku tak sadar apakah aku serius atau tidak.

[ ]

No comments :

Post a Comment