#ARCHITECTURE / / / Re-interpretasi Arsitektur Nusantara

Friday, 23 May 2014

Materi seminar Quo Vadis Arsitektur Nusantara - ARCHIPELAGO, sepekan arsitektur 2014 dalam tulisan berjudul 'Eksplorasi Arsitektur per-nusa-an di Nusantara' oleh Prof. Totok Roesmanto, Guru Besar Arsitektur Universitas Diponegoro yang diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

///

Arsitektur Nusantara tidak salah bila diartikan sebagai arsitektu yang berlaku (bacaL diterapkan) pada rancang-bangun bangunan yang ada di wilayah Nusantara. Nusantara tersebutkan pada Pararaton : "...Lamun huwus-kalah Nusantara isun amuktia palapa, lamun kalah ri Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik samana isun amukti palapa." [Brandes, 1920:36 dalam Nugroho, 2010:214]. Cakupan wilayah Nusantara tersebutkan dalam Negarakertagama [1365]. Dipastikan di Nusantara tidak hanya ada satu arsitektur. Bangunan serupa tongkonan Toraja tahap Banua Mellao Langi telah direliefkan pada Candi Borobudur [abad ke-8]. Belum ada kejelasan apakah arsitektur lokal tongkonan yang pernah ada di daerah Rantepao, dan daerah Toraja Barat. Berdasarkan pernyataan Gadjah Mada ber-sumpah palapa paling tidak di Nusantara terdapat 10 arsitektur lokal, dan menurut Mpu Prapanca di Nusantara terdapat 74 nusa [beserta arsitektur lokalnya].

Menurut pendapat Josef Prijotomo harus dipahami sebagai arsitektur lokal anak bangsa [di] Nusantara, yang memiliki kesamaan geo-klimatik dan tradisi tanpa-tulisan. Tradisi tanpa-tulisan dapat diartikan sebagai tradisi bertutur, tetapi juga sangat mungkin merupakan tradisi bertutur yang disertai tradisi menggambar [ pada material alam.

Mpu Prapanca dalan Negarakertagama menyebutkan tentang nusa [daerah] yang menajdi wilayah kerajaan Majapahit. Wilayah utaama Majapahit di Jawa Timur sendiri merupakannusa-nusa yang dapat dianalisis dari hasil penelitian geologis [Reinout Willem] Van Bemmelen [1949] terhadap kondisi struktur/lagpisan tanahnya. Wilayah Desyantara [yang emmiliki hubungan bertataran kachaya dengan Majapahit] seperti Syangka [Siam], Ayodhyapura [Ayutthia], Marutma [Mergui], Dhatmanagari [Ligor], Rajapura [Siam Selatan], Singhanagari [di cabang sungai Menam], juga Campa [Campa bagian dari Vietnam] memiliki kesamaan klimatologi tropis-lembab. Tetapi wilayah Dwipandata seperti Jambudwipa [India], Goda [India Timur], dan Karnataka [India Selatan] berklimatologi beda dengan nusa-nusa di Desyantara.

Arsitektur Nusantara berdasarkan pernyataan Mpu Prapanca berarti arsitektur yang berada di nusa-nusa [di sebelah barat dan timur pulau Jawa] yang tercakup dalam wilayah bekas kerajaan Majapahit [termasuk Jawa, Madura, dan Sunda], maka arsitektur yang ada di Semenanjung Malaya juga termasuk Arsitektur Nusantara.

Kesamaan tradisi tanpa-tulisan di bidang rancang bangun sejujurnya harus dikatakan tetap berlangsung hingga kini [pembelajaran proses merancang hingga kini berlangsung melalui transfer pengetahuan secara grafis dan tutur]. Membuat bangunan sebagai tempat menghuni yang menjasi penyelaras manusia dalam keluaranya ataupun dalam kebersamaan keluarga besar di komunalnya dengan lingkungan/alam sekitar tidak dimulai dari tradisi tulis tetapi dimulai dengan tradisi ketukangan. Ketersediaan bahan alami pada atau di sekitar lahan yang dipilih atau ditemukan dilakukan berdasarkan penugasan ataupun secara bersama menjadi bahan pembincangan utama dalam tradisi ketukangan. Dengan demikian, tradisi ketukangan yang berkembang secara uji-coba seharusnya lebih dahulu dikenal sebelum sistem pembangunan candi model India mengajarkan adanya pembagian tugas bagi sthapaka untuk menetapkan lahan, sthapati sebagai arsitek utama dibantu taksaka sebagai ahli pahat, vardhakin sebagai ahli seni hias dan dikoordinasikan dengan sutragrahin [Atmosudiro, 2008:52 dalam Roesmanto, 2013:128].\

. . .

Tradisi rancang bangun pada masa Majapahit, mengenal menggunakan replika-replika tanah liat berbentuk bangunan. Berarti berpikir secara trimatra dengan menggunakan model miniatur bangunan telah merakyat. Paling tidak, di wilayah Nusantara sejak 1365, apabila tradisi yang sama telah dikenalkan oleh orang-orang Majapahit, berarti di sebagian wilayah Nusantara juga telah dikenal penggunaan model miniatur bangunan rumah dari tanah liat atau menggambar rencana bangunan rumah pada permukaan tanah untuk mengajarkan tentang ketukangan.

Eksplorasi Arsitektur Nusantara harus di-representasikan tidak saj diartikan sebagai arsitektur yang dihasilkan dari eksplorasi terhadap wujud eksterior bangunan-bangunan yang pernah ditradisikan masyarakat di nusa-nusa bekas wilayah Majapahit tetapi juga dari eksplorasi terhadap interior [tata ruang] bangunannya.

[ ]

*


*) telah diketik ulang dari materi seminar.

#JALAN-JALAN / / / Damn, Prau is Super Cool Indeed!

Saturday, 17 May 2014

Entah rencana perjalanan ini sudah terlewati berapa bulan lamanya tak tersentuh sama sekali, tapi akhirnya tanggal 17.18.05.14 kemarin, terwujud juga.



*

Setelah semua orang yang memungkinkan diajak, yang kemudian memutuskan untuk nggak ikut karena seperti biasa, orang di dunia ini memang lamisnya tiada tara, setelah berdebat bagaimana cara sampai ke tempat ini, akhirnya dari sekian banyak orang yang diajak itu, hanya saya dan tiga orang teman saya yang jadi berangkat. Yah gimana lagi, pada manja minta nyewa mobil padahal tau sendiri mau backpakeran.

*

Jadi, pagi itu, tanggal 17, jam 9 sudah berkumpul di tempat teman saya. Partner saya backpackeran ini adalah Mega, Star, dan Desta. Mereka bertiga punya riwayat naik gunung yang lebih banyak dari saya. Jadi ya, aman lah bareng mereka (dalam artian banyak hal). Meski sudah kumpul dari pagi, teman saya Desta yang bakalan jadi seksi logistik dan keamanan, malah belum packing. Akhirnya, baru deh pukul sebelas itu kami berangkat ke terminal Jombor, karena pada akhirnya kami memutuskan untuk naik bus.

Kalau searching di internet, rute Jogja-Dieng itu nggak ada. Yang ada Jogja-Magelang-Wonosobo-Dieng. Jadi paling nggak harus 3 kali ganti kendaraan. Dari Jombor, kami langsung naik bus jurusan Magelang. Busnya yang ekonomi saja. Kalau yang AC lebih mahal. Di Magelang, turun di Terminal Tidar. Perjalanan lambat banget lah, biasa, bis ngetem sana sini. Sampai di Terminal Tidar, tas teman saya Desta langsung disambar dan dibawa ke bis yang katanya jurusan Wonosobo.  Agak deg-degan juga ketika naik bus itu, takut nyasar. Tapi untungnya sampai kok.

Di terminal Wonosobo akhirnya berhenti dulu buat makan karena laper banget. Ada soto yang enak, semacam soto betawi karena pakai santan tapi lebih manis. Harganya cuman 6000 saja. Setelah makan langsung mencari angkot menuju pasar Wonosobo, lalu ambil bis jurusan Dieng. Untungnya bapak angkot itu baik hati dan kami diturunkan di tempat langsung dapet bis jurusan Dieng. Ketika naik bus itu hujan mulai turun. Kami cuman bisa saling pandang sambil nyengir karena melihat hujan yang semakin lama semakin deres. Dan deresnya itu pake banget, sampai jalann itu tak kelihatan dari balik jendela dan kabut mulai turun. Harapan untuk dapat sunset pun kandas.

Kami turun di basecamp Pathak Banteng. Pas sampai berteduh dulu karena hujan masih gerimis. Eh, si Desta di sapa sama kenalannya yang ternyata adalah adik kelas saya SMA. Makhlum, dulu waktu SMA saya kuper banget. Kami akhirnya ikut anak itu ke masjid di samping basecamp dan ternyata di sana ada adik-adik kelas saya yang lain. Dari lima orang saya cuman tahu satu, karena dia tetangga teman saya. Ngobrol sana sini akhirnay kami memutuskan untuk naik bareng setelah terang.

Hari semakin sore saja. Hujan berhenti dan kami berkemas untuk naik. Setelah bayar pendaftaran administrasi di basecamp, kami langsung berangkat. Dan memang barengannya banyak banget. Meski nggak sampai macet juga sih. Baru jalan beberapa meter saya sudah kehabisan npas. Makhlum, jarang olahraga dan memang bawaan kalau naik gunung saya selalu seperti itu. Apa ya, mungkin paru-paru saya sempit. Akhirnya habis melewati ladang dan masuk track naik, saya yang di depan. Karena saya lambat dan nanti ketinggalan yang lain.

Jalanan becek parah, licin lagi. Kami gagal dapat sunset karena mulai naik mungkin 15 menit sebelum adzan magrib.Ya sudah. Headlamp dan senter mulai dinyalakan. Anak-anak rombongan adik kelasku - oke, sebut saja mereka rombongan boyband karena cowok semua - perlengkapannya nggak memadahi, yang bawa senter cuman 2 orang. Ya sudah, jadi kami selang seling dan saling membantu untuk memberikan pencahayaan terhadap satu sama lain. Jalan naik susah banget. Beberapa kali orang di belakang saya jatuh terpeleset. Dan saya melejit naik meninggalkan mereka bersama seorang anak SMP yang tertinggal di belakang karena nggak kuat hawa dingin, meski sesekali berhenti karena rombongan belakang jauh banget.

Dan akhirnya, setelah mendaki selama 2 jam, akhirnya kami sampai di puncak gunung prau, sabana yang menghampar indah sekali di kala golden hour di pagi hari. Malam itu, setelah sampai langsung buru-buru bikin tenda yang berhadap-hadapan dengan rombongan adik-adik kelas saya itu, lalu bikin kopi hangat lalu mie. Setelah makan, saya mengajak teman saya untuk mencoba memfoto bintang. Rombongan boyband itu akhirnya ikut saya seperti anak kecil menuju bagian terbuka yang menghadap ke daratan di bawah Prau, menghadap langsung ke Sindoro Sumbing.

Ah, sumpah. Dingin banget. Saya menggigil kedinginan meski sudah pakai baju flanel tebal dan sarung tangan. Sayangnya, malam itu purnma -2 hari, jadi ya, tak bisa melihat bintang. Ya sudah, akhirnay cuma foto-foto nggak jelas saja dengan background Sindoro Sumbing di bawah temaram cahaya bulan dan awan mendung. Sampai pukul 11 malam kami asyik foto-foto bergantian, untung saya bawa tripod, jadi fotonya lumayan lah. Rombongan boyband itu pamit untuk balik ke tenda karena ngantuk. Setelah mereka pergi, kami malah foto bulb yang kece, meski kami sudah gemeteran karena dingin dan angin yang kenceng sekali.


(dari kiri : Star, Desta, Mega)

Puas berfoto-foto, akhirnya kami balik ke tenda. Pas cari tempat untuk buang air kecil di puncak bukit yang lain bersama teman saya Mega, saya menemukan tempat yang bagus, di bawah terhampar dataran yang penuh kerlap kerlip dan sebercak telaga. Karena saya nggak bawa kamera, akhirnya saya balik lagi ke tenda untuk ambil kamera dan diganti ditemani Desta karena Mega yang sudah mengantuk. Star sudah mapan tidur duluan.
(pemandangan di sisi bukit yang lain, di bawah sana ada basecamp tempat kami start naik)

Tidur digunung selalu tak nyaman bagi saya. Apalagi suhunya dingin banget lah. Berkali-kali terbangun dan tertidur lagi. Belum lagi teman saya Desta yang tak bawa sleeping bag dan selalu bergerak-gerak karena tak bisa tidur. Akhirnya ketika pukul 4 itu alarm saya berbunyi dengan aras-arasen saya bangun juga, membangunkan Mega dan Star yang katanya mau sunrise-an. Desta bertahan tidur dengan tumpukan sleeping bag kami di atas tubuhnya.

Rombongan boyband di tenda sebelah juga ternyata sudah bangun. Meski menggigil kami berjalan juga untuk mencari tempat untuk menunggu sunrise. Mega dan Star bertahan untuk membuatkan kami minuman hangat. Dan saat itu terliahtlah betapa ramainya gunung Prau oleh banyak orang yang menunggu sunrise. Saya lagi-lagi jadi juru foto bagi semua orang. Hahahaha. Ah, tapi sayang, kami tak dapat sunrise yang bagus. Soalnya ada awan rendah di sisi timur yang jauh, jadi ya, pas-pasan saja sunrise-nya. Semakin terang semakin jelas lah penampakan Sindoro Sumbing. Jauh di timur terdapat Merapi Merbabu, dan yang paling jauh adalah Lawu. Sumpah keren banget!!!

Sekitar pukul 6, Mega dan Star bergabung bersama kami membawakan minuman hangat. Desta masih tidur di tenda. Matahari semakin naik dan semua daratan tersapu cahaya kuning yang keren banget. Foto-foto semakin menggila. Entah berapa ratus jepretan yang telah saya habiskan untuk foto pagi itu. Lalu kami pun memutuskan untuk mencari tempat foto-foto yang lebih sepi, yang lebih tinggi. Kami berjalan agak jauh ke arah timur dan menemukan bukit yang sepi. Di sepanjang hamparan rumput itu, terdapatlah bunga-bunga putih ungu kecil-kecil. Keren banget! Tempat ini begitu fotogenik, hingga dari sudut manapun akan menghasilkan foto yang keren sekali. Belum lagi Sindoro Sumbing yang terlihat wow banget. Ah, speechles saya dibuatnya. Saya mau deh kesana lagi, hehehehehe. Si Desta akhirnya mau juga ikut foto setelah saya hampiri ke tenda.

(dari kanan, Sindoro-Sumbing, Merbabu, Merapi)



(rombongan boyband. dari kiri : Galang, Ridik, Yudha, Beni, Toni)
We are lucky enough to meet them.


(Dihamparan bukit teletubis itu ada banyak bunga berwarna putih dan merah muda
(matahari semakin tinggi)

(katanya mereka mau bikin foto cover album mereka, :p)
(saya dapat bunga dari toni. :v :3 )
(perjalanan ini tak akan terjadi tanpa mereka bertiga.
Thanks a lot, guys! ; ))  )
Rombongan Ekamas 46, 47, 48



(super banget. Saya mau kesini lagi)








Setelah puas foto-foto akhirnya balik ke tenda untuk packing dan masak sarapan. Sarapannya cukup mewah lho untuk ukuran naik gunung. Ada nasi, ada sayur orak arik, ada mie. Yah, memang nggak sekece pas naik ke Merbabu terakhir kemarin. Tapi cukuplah. Dan itu juga dimakan bareng-bareng jadi tambah nikmat.


(Star lagi motongin sayur)
(Desta sedang nungguin nasi tanak)
(Mega - nggak tahu dia lagi ngapain)
(Yudha, duh, dia tu dandanannya paling kece coba.
Skinny jeans, boots kulit, dan Jaket bulu. Gilak!)
(Ridik)
(Beni)
(Toni, btw, dia ini pemain bola lho.
Pemain utama dari PSIM - Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram- Jogja!)

Turun menuju basecamp kira-kira satu setengah jam lebih. Yang cowok-cowok sudah duluan aja. Sampai di bawah, kami istirahat sejenak dan beli carica. Berapa ya kemarin, tiga puluh ribu dapat sekerdus isi 12, tapi cup kecil. Setelah itu, kami langsung naik bis. Yah, perjalanan pulang tak begitu berkesan karena saya tidur terus. Sampai di Jogja sudah sore. Begitulah.

*

Rincian biaya
Bis Jogja  (terminal Jombor) -Magelang (terminal Tidar) : 10.000
Bis Magelang (terminal Tidar) -Wonosobo (terminal Wonosobo) : 20.000
Angkot (terminal Wonosobo) - Pasar : 2.500
Pasar - basecamp Prau (Pathak Banteng) : 10.000
Daftar di basecamp : 4.000
basecamp Prau (Pathak Banteng) - Pasar : 10.000
Pasar - Angkot (terminal Wonosobo) : 2.500
Wonosobo (terminal Wonosobo) - Bis Magelang (terminal Tidar) : 20.000
Magelang (terminal Tidar) - Bis Jogja  (terminal Jombor) : 10.000
Total : 89.000 (   mahal ya ternyata :(   )

*

Sampai jumpa di jalan-jalan lain.

(Prau, 180 derajat)

[ ]

#ART / / / 15 Tahun Romo Mangun

Friday, 16 May 2014

Ibadah seni lagi. Kali ini memang sejak jauh-jauh hari saya merencanakan untuk datang ke pameran 15 tahun mengenang Romo Mangun.



Kalau berbicara tentang Romo Mangun, saya akan selalu ingat pada sebuah novel berjudul Burung-Burung Manyar (yang dicetak ulang dan diluncurkan bertepatan dengan 15 tahun menganang Romo Mangun). Ketika saya masih SMA (meski saya sendiri juga belum pernah membacanya), bagi saya,  Romo Mangun adalah seorang sastrawan, budayawan. Perkenalan saya dengannya yang seorang arsitek adalah ketika saya masuk ke Jurusan Arsitektur UGM. Ternyata beliau itu adalah dosen pengajar di jurusan Arsitektur UGM, dulu, dulu sekali. Beberapa muridnya yang sekarang menjadi dosen saya, terpengaruh oleh pola pikir dan gaya arsitektur yang ia populerkan. Arsitektur tukang. Karyanya yang saya kenal betul adalah revitalisasi pemukiman kali Code, yang entah sudah berapa kali saya keluar masuk ke sana untuk memotret, bikin film, cari inspirasi, atau sekedar hanya jalan-jalan sore belaka. Bukunya Wastu Citra seolah jadi kitab wajib bagi semua arsitek di Indonesia untuk menganal lebih mendalam apa itu hakikat arsitektur.

Ah, sudah. Saya tak akan ngobrol panjang lebar tentang romantisme saya terhadap tokoh yang satu ini. Saya akan bercerita mengenai pameran yang saya datangi di Bentara Budaya dalam rangka mengenang 15 tahun wafatnya Romo Mangun.

*

Jadi hari itu hari sabtu siang dan saya datang ke Bentara Budaya bersama dua orang teman saya yang lagi nganggur di kos. Sebenarnya hari itu H-1 penutupan. Jadi ya, lumayan sepi. Hanya ada saya dan teman saya, seorang perempuan, dan sekelompok anak muda. Saya hanya foto-foto sedikit saja.




Foto yang nge-hits banget di pameran ini dan jadi objek foto-foto. Yang ngelukis keren sih menurut saya. Keren banget. 

Saya rasa, ini karya paling mahal ya. Paling mahal secara harafiah dan sesungguhnya. 

Ini detal dari karya di atas. Sekarang kamu tahu kan maksud saya mahal dalam artian apa. 

Pisang!!!! Kece banget ini lukisan. By the way, saya juga lihat karya pisang di pamerannya anak SMSR di TBY kemarin.



*

Begitulah. Sebenarnya ada seminarnya di hari Jumat. Tapi saya lupa sih itu kenapa saya nggak nonton. Sekian. Sampai jumpa di ibadah seni selanjutnya.

#ART / / / Sanding Gending

Para tanggal 9 Mei kemarin, setelah sekian lama akhirnya saya melaksanakan ibadah seni yang satu ini.



Biasanya, saya sering berburu kegiatan berkesenian di TBY. Entah itu nonton sendratari, pertunjukan teater, atau resital musik. Kegiatan ini sebenernya iseng saja untuk mengisi kekosongan kegiatan saya ketika semester lalu dan terbawa hingga semester ini. Tapi ya, tidak sesering dulu. Kali ini saya menonton pertunjukan musik tradisional 'Sanding Gending' yang diadakan dalam rangka festival musik di Jogja kali ya, karena pesertanya masing-masing satu dari tiap kabupaten. Kebetulan, saya tahu kegiatan ini juga dari forum SMA saya. Ada adik tingkat yang ngeshare dan ah, boleh lah ya lihat.

Dan seperti kegiatan seni gratis lainnya yang diadakan di TBY, penontonnya memang luar biasa banyak. Belum lagi jam 7 TBY sudah ramai. Kebetulan juga hari itu ada pembukaan pameran tugas akhir dari SMSR Jogja di galeri bawah, ada band-band-an juga. Jadi ya, memang ramai sekali. Kira-kira pukul setengah delapan itu pintu dibuka dan berbondong-bondonglah orang-orang untuk berebut masuk. Untung akhirnya saya dan teman saya dapat tempat duduk yang lumayan bagus.

Dimulailah gending gamelan dan tetabuhan itu mengisi ruang teater atas TBY. Sebenarnya saya bertanya-tanya yang mana yang dari Gunungkidul yang memang isi-isinya anak SMA 1 Wonosari, dari sekolah saya dulu. Pas baca flayernya, ternyata ada 2 teman saya yang ikutan juga acara ini sebagai personil kontingen Gunungkidul. Yang satu memang jago, dia itu dalang muda dan jago sekali tembang jawa dan gamelan, yang satunya, hanya ikut-ikutan latihan gamelan di pendopo Sewokoprojo dan jadi lumayan jago juga. Sampai akhir saya masih tak tahu yang mana anak-anak SMA saya. Saya juga tidak melihat kedua teman saya itu.

Ketika pulang, saya sempatkan dulu melihat pameran anak SMSR di galeri bawah TBY.

[ ]