#ESSAY / / / Proyeksi (impian masa lalu, saat ini, dan nanti)

Thursday, 24 January 2013

proyeksi.
masalalu, sekarang, dan nanti.

"kita lihat saja 12 tahun sejak saat itu."



Semacam kaget banget melihat gambar ini ketika seorang teman mengepost-nya di group kelas SMA. Gambar ini adalah gambar tangan saya saat kelas 3 SMA. Jadi saat itu, iseng banget guru mata pelajaran TIK saya menyuruh anak-anak sekelas buat menggambar proyeksi masa depannya dalam selembar kertas yang dibagikan oleh beliau. Karena saat itu saya sudah kepikiran untuk masuk ke arsitektur UGM maka (maaf, dengan lancang) saya (yang waktu itu baru daftar UGM dan belum pasti untuk lulus UM UGM) menulis dengan mantab dan yakin bahwa saya aku masuk di arsitektur UGM dan akan (bismillah, insyaallah, amin) menjadi seorang arsitek.

Karena waktu itu saya ingat betul bahwa waktu yang diberikan untuk menulis proyeksi itu adalah 1 jam pelajaran terakhir, maka di tengah deretan komputer, dan lahan menggambar yang sempit, saya pun mulai berandai-andai saya mau jadi apa. Saya memang ingin jadi seorang arsitek, tetapi tahap-tahap menuju ke sana belum terbayang. Saya terus melamun sambil berpikir sementara waktu terus berlalu. Teman-teman saya sudah mulai sibuk menuliskan entah apa.

Saya iseng browsing di internet, kata kuncinya apa ya waktu itu, arsitektur mungkin? Yang pasti saya lupa. Tapi waktu itu dalam pikiran saya karena kertasnya besar, A4 (yang sekarang saya rasa ternyata A4 itu kecil ya?) dan saya bingung mau menulis apa, maka saya putuskan, ah, di isi gambar yang gedhe trus tulisannya dikit aja. Lalu sembari memilah-milah gambar yang dimunculkan oleh google, saya akhirnya menemukan sebuah bangunan aneh. Aneh banget dalam pikiran saya dulu. Dari sudut itu bangunannya terlihat seperti sebuah topi besar yang mengkilap, mungkin karena efek dari material bangunan itu. Lalu saya pun mulai menggambar (dengan perubahan di sana sini) untuk mengisi kertas kosong saya. Kalau diingat-ingat, kok ya semacam plagiatisme ya? Ah, saya rasa tidak juga, toh saya tidak mengklaim bangunan itu milik saya. Bisa saja someday saya bekerja di biro arsitek yang membangun bangunan itu? Mungkin saja. Kan namanya juga kepepet, jadi ya saya terpaksa pakai bangunan itu sebagai pematik ide. 

Oh iya, dan saya ingat betul bangunan yang saya lihat di google waktu itu adalah bangunan apa. Semacam ketidak sengajaan atau mungkin (?) takdir, saya akhirnya bertemu dengan bangunan ini secara tidak langsung di mata kuliah Metode Transformasi Desain. Jadi saya lupa sebenarnya tugas itu kuis rutin atau apa, tapi yang pasti setiap siswa diundi untuk mengulas 1 bangunan yang ditentukan oleh bapak dosen. Dan saya, secara tidak sengaja mendapatkan bangunan tersebut untuk diulas. Awalnya saya tidak ingat, tetapi setelah mencari banyak gambar akhirnya bertemu dengan sudut bangunan yang familiar. Seperti tersambar petir, saya ingat, bahwa bangunan ini adalah yang saya gambar waktu SMA. Dan kalau kalian memang penasaran, bangunan tersebut adalah bangunan milik Frank Gehry, Guggenheim Museum Bilbao. Kalau diingat-ingat, kenapa ya saya memilih gambar dari bangunan Frank Gehry ini? Saya juga tidak tahu. Bahkan waktu itu saya tidak tahu Frank Gehry itu siapa! Hanya saja saya rasa mungkin karena aneh (?), unik, dan tidak biasa (?). Bisa jadi. Sampai sekarang pun mengapa saya memilih Guggenheim Museum Bilbao ini pun saya tidak tahu. Tapi waktu itu intuisi saya mengatakan bahwa bangunan ini pasti bangunan hebat.

Waktu tinggal 15 menit. Dengan sedikit timeline yang sebenarnya tak jelas tahun-nya itu (sebenarnya saya mengarangnya sih), saya menuliskan step by step menuju profesi arsitek itu sendiri. Yah, karena waktu itu saya juga tidak tahu untuk menjadi seorang arsitek itu sendiri harus melewati banyak hal, sekolah profesi, dan struggle dengan idealisme  anak muda yang terus berkembang dan berubah karena pengaruh orang tua, teman-teman, media informasi, dan pemikiran diri sendiri.

Saat ini?
Sedikit goyah dengan berbagai hal yang terjadi 2 tahun belakangan, tentang masalah akademis, masalah pertemanan dan pergaulan, kompetisi dengan sesama teman maupun calon arsitek di luar sana, melihat hal ini saya semakin disadarkan bahwa mengapa sekarang saya goyah? Apakah saya tak malu dengan diri saya sendiri di masa lalu yang dengan mantap menuliskan proyeksi ini?

Memang ada banyak hal yang terjadi dan terlewati. Tapi semua itu bukankah memang harus dilewati oleh semua orang termasuk saya? Ada waktu saat seseorang mencapai the greatest time in their life. Mungkin saya memang belum mencapainya, mungkin juga saya sedang goyah, mungkin juga saya akan mengalami dan melewati masa-masa sulit, mungkin juga proyeksi itu akan berubah di sana-sini seiring berjalannya waktu, tapi saat ini saya sedang merangkak untuk mencapainya.

Dan saya percaya, bahwa usaha ( + doa) = hasil.

No comments :

Post a Comment