#JALAN-JALAN / / / Pantai Watu Kodok

Monday, 8 August 2011

Yang namanya liburan, ya berarti jalan-jalan, bukan begitu?

Karena liburan yang terlalu panjang, saya merasa sangat bosan di rumah. Tapi beberapa hari lalu, kakak dari teman baik saya, Mbak Anes, mengajak saya untuk jalan-jalan mencari pantai yang tersembunyi. Alhasil, kemarin saya bersama mbak Anes, Mega, dan seorang teman mbak anes, mbak tutut, pergi berpetualang untuk menemukan sebuah pantai yang belum terjamah.
Kami akhirnya berangkat sekitar pukul 10.00 untuk menuju wilayah pantai selatan gunungkidul. Perjalanan menuju area tersebut memakan waktu kurang lebih 1 jam dari pusat kota gunungkidul, Wonosari. Awalnya kami sempat tersasar karena terlalu mengemudi ke timur hingga hampir sampai kawasan pantai Drini, padahal, pantai tersebut berada diantara pantai Sepanjang dan pantai Drini. Karena ‘kebablasen’ akhirnya kami berbalik ke barat dan masuk ke sebuah jalan corblock.
Perjalanan melewati jalan itu begitu susah, karena jalan yang sudah rusak. Kami sempat mengira jalan itu jalan buntu karena seolah jalan itu tak berujung. Tapi kami terus mengikuti jalan tersebut hingga jalan tersebut habis dan disambung dengan jalan berbatu. Tak lama setelah itu, kami melihat pantai. Sebenarnya pantai tersebut bukannya belum terjamah, hanya saja masih jarang dikunjungi. Buktinya saja ada rumah penduduk yang berjualan makanan dan sekaligus merupakan tempat parkir.
Setelah parkir, kami beristirahat sejenak di sebuah gubuk tepi pantai. Setelahnya, ketiga orang teman seperjalanan saya itu pun minta difoto, karena hanya saya yang membawa kamera digital.  Dan berikut ini sekilas pemandangan di pantai yang penduduk sekitar juluki sebagai pantai Watu Kodok.



This is a beautiful blue ocean, right? I don't know why people don't know about this place.


Saya sendiri kurang mengerti mengapa di sebut sebagai pantai watu kodok. Kemungkinan, ditilik dari namanya, saya menduga bahwa di pantai itu ada sebuah batu yang bentuknya mirip dengan bentuk katak. Karena kalau Watu kodok diartikan ke dalam bahasa Indonesia, watu berarti batu, dan kodok berate katak. Jadi watu kodok berarti batu katak. Nah, setelah observasi di lapangan, entah mengapa saya tidak menemukan batu yang menyerupai katak. Malahan di sebelah timur pantai tersebut, ada sebuah bukit yang bentuknya menyerupai kura-kura. 
( mirip kura-kura ? )
Seperti kebanyakan pantai-pantai yang ada di pesisir selatan gunungkidul, pantai watu kodok memiliki pasir putih. Saya dan teman saya, mega, sempat bertanya-tanya, dari mana asal pasir putih itu. Kami sempat berdiskusi sejenak dan akhirnya berkesepakatan bahwa mungkin, pasir putih tersebut berasal dari kerang-kerang yang hancur dan setelah melalui proses yang panjang, akhirnya menjadi pasir putih.
Seperti halnya pantai sundak, kukup, krakal, drini, dan sepanjang, pantai Watu kodok ini memiliki barikade daratan terumbu karang sejauh (mungkin) 50 meter dari lepas pantai. Biasanya, saat laut sedang surut, kita dapat melihat daratan terumbu karang yang berwarna kehijauan. Sayangnya, ketika kami berkunjung kemarin, laut sedang pasang sehingga daratan terumbu karangnya tidak terlihat.



Adakalanya pada bulan-bulan tertentu, ombak di pantai selatan bisa menjadi sangat ganas. Sudah banyak kejadian yang terekan dikoran bahwa ombak pantai selatan sering membawa korban. Yah, bayangkan saja bila tersapu ombak di pantai ini dan tidak bisa berenang, kemudian terseret dan menabrak karang-karang yang tajam yang ada di sekitar pantai. Bukannya menakut-nakuti, tapi tersapu ombak di daerah pantai sepanjang wilayah gunungkidul bisa sangat mengerikan. Jadi, sebaiknya, pikir-pikir terlebih dahulu bilamana ingin bermain air di pantai sepanjang wilayah gunungkidul saat pasang sedang naik.

Dan hari itu berlalu dengan cepat membawa saya ke realita bahwa saya harus segera pulang.
Yap, see you to my next adventure!



#MUSIC / / / Screaming Bloody Murder

Saturday, 6 August 2011

Yeah, sepertinya sudah lama sekali saya tidak posting sejak Journey to the West I dan II.
Dan saya kembali untuk memromosikan sebuah album terbaru SUM 41, Screaming Bloody Murder.

Well, actually, I don't really like music. Because, basically, I like visual art, not audio art. But, some years ago, my friend introduced to me, one of Sum 41 song, Pieces, and the he gave me two Sum 41 albums. And after that, I like Sum 41 so much. And I really like With Me, Speak of the Devil, and Pieces so much. And this year, Sum 41 backs with his new album!!! Screaming Bloody Murder!!!!!

Screaming Bloody Murder terdiri dari 16 lagu. Ini dia daftar lagu beserta link untuk setiap lagunya, berhubung saya tidak punya link untuk mendownload sealbumnya.



01 - Reason to Believe
02 - Screaming Bloody Murder
03 - Skumfuk
04 - Time for You to Go
05 - Jessica Kill
06 - What Am I to Say
07 - Holy Image of Lies
08 - Sick of Everyone
09 - Happiness Machine
10 - Crash
11 - Blood In My Eyes
12 - Baby You Don't Wanna Know
13 - Back Where I Belong
14 - Exit Song
15 - Reason to Believe (Acoustic)
16 - We're the Same


If you want to download it, just click the tittle.
Menurut saya, yang merupakan orang awam di dunia permusikan, album Sum 41 kali ini adalah album yang paling keren dibandingkan dengan album-albumnya yang terdahulu. Kebanyakan lagunya memang bergenre Pop Punk Rock, tapi di album ini ada beberapa lagu yang menurut saya cukup slow untuk dinikmati. Saya merekomendasikan lagu What Am I to Say, karena menurut saya lagu ini paling slow dan bagus, secara musik dan lirik. Selain itu lagu Happiness Machine, Reason to Beleve, dan Sreaming Bloody Murder cukup wajib untuk didengarkan.

Nah, selamat mendengarkan!

#JALAN-JALAN / / / Journey to the West ( Part II )

Tuesday, 2 August 2011

Masih di Bandung!!

Hari ke tiga, hari terakhir! Kami berniat untuk pergi ke kebun teh. Mega pagi itu harus pulang duluan karena hari jumatnya ada mid SP, sehingga tatag harus mengantarkannya dan tak ikut. Deni tidak ikut karena harus perwalian. Yah, semacam KRSan kemudian ketemu dosen gitu. Hari itu puncak kekesalan saya kepada teman saya itu. Dari kemarin dia seperti tidak iklas menemani kami main, sehingga saya memilih untuk diam. Saya selalu mendiamkan seseorang kalau sedang marah kepada orang itu. Yak, lupakan orang satu itu lalu kita teruskan ke kebun teh.

Ternyata perjalanan dari Bandung ke Lembang sangat jauh. Kami harus 2 x naik angkot untuk menuju ke kebun teh. Kebetulan, ketika menuju kebun teh tinggal saya, dian, yayan, tyas, dan otok saya yang tertinggal di angkot, selain itu, kebetulan juga, sopirnya orang jawa, ditanyain, mau ke tangkuban perahu tidak? Walhasil, kami malah pergi ke tangkubanperahu. Perjalanannya begitu jauh, tapi kami nggak bosan karena di sekeliling kami pemandangannya begitu indah, yaitu hutan pinus. Sayangnya sepanjang perjalanan mini muntah-mutah hebat. Hahahahaha. Entah berapa lama kami berada di angkot, akhirnya kami sampai ke tangkuban perahu.

Satu kata yang ingin saya teriakan di sana, KEREN!!!!! Saya baru kali itu ke tangkuban perahu, jadi saya terkagum-kagum di sana. Dan saya bertanya-tanya, kalau gunung itu meletus hebat, mungkin abunya bisa sampai ke jogja. Hahahahaha, setelah itu kami jalan-jalan dan foto-foto di sana. Teman-teman saya membeli syal tetapi saya tidak, karena saya sudah punya, hehehehehe.

( kawah ratu )
( pemandangan yang terlihat dari puncak tangkuban perahu )
( jalan aspal dipinggir kawah )
( penjual angklung di tangkuban perahu )
( orang yang menawarkan jasa berkeliling dengan naik kuda)
( angkot yang kami naiki sampai ke tangkuban perahu )

Setelah itu kami melaju pulang dan mampir di kebun teh. Kebun tehnya luas sekali, kami hanya naik sebuah bukut dan berfoto-foto.

( kebun teh tempat kami foto-foto )
( dari kiri : mini, tyas, dian, yayan, otok, saya )

Setelah dari kebun teh, kami memutuskan untuk mencari oleh-oleh keripik setan di simpang dago. Tatag sudah menunggu kami di sana. Tapi sebelum itu kami makan di dekat ITB, bakso dan mie ayam menu siang itu. Karena sudah waktunya untuk sholat zhuhur, kami sholat dulu setelah bertemu tatak yang menyusul kami. Setelah itu, tyas mengajak kami jalan-jalan di lingkungan ITB.

ITB itu adalah kampus impianku dulu, tapi untuk sekarang sudah tidak. Kata tyas, ada beberapa keajaiban di itb, seperti titik pusat ITB dimana ketika ujian seperti SNMPTN di titik itu di letakkan sirine lalu dibunyikan, seluruh ITb bisa mendengarnya. Lalu ada kolam air yang di dasar kolamnya ada keramik yang ditata sedemikian sehingga yang katanya tatanan itu adalah lagu Indonesia raya. saya menduga itu adalah partitur untuk piano otomatis. Lalu ada kolam Indonesia tenggelam yang di dasar kolamnya ada relief indonesianya. 

( perpustakaan ITB )
( gedung yang saya masuki untuk sholat )
( gedung fisika )

 Setelah keliling-keliling ITB, masih tanpa di temani Deni, akhirnya, tyas dan otok memisahkan diri. Mereka hendak ke asramanya deni untuk mengambil barang-barangnya otok biar otok bisa langsung ke rumah tyas lalu sorenya kami bisa ke stasiun bareng. Kami, dipandu tatag, menuju simpang dago untuk mencari oleh-oleh, keripik setan. Saya beli keripik setan, basreng, dan keripik oncom tempe. Yang lain juga rata-rata beli keripik setan. Yayan memborong banyak sekali makanan, saya lupa apa aja, yang pasti habis paling banyak. Saat menyeberang jalan pas mau balik, saya sempat terjebak di tengah-tengah karena tak bisa menyeberang. Sedang teman-teman saya sudah menyeberang duluan.

( saya yang terjebak di tengah jalan )
 
Setelahnya, kami pulang ke rumah tyas untuk berkemas, dan deni belum juga datang sampai kami berangkat menuju stasiun setelah maghrib. Saat itu saya berharap, mungkin lebih baik dia tidak datang saja.  Namun di perjalanan, katanya deni sudah mengikuti di belakang kami. Yah, mau bagaimana lagi. Sesampainya di stasiun mini muntah lagi. Tyas pulang saat kami hendak masuk ke peron. Akhirnya tatag dan deni yang  mengantarkan kami ke peron. Saya mendiamkan dia dan memilih untuk tak mengajaknya ngobrol, saya terlalu kecewa dengan apa yang ia lakukan kepada kami, meski saya bisa memakluminya, tapi dia bahkan tak merasa bersalah karena perbuatannya.

Lalu akhirnya saya mengalah kepada marah saya dan menyampaikan salam dari andika untuknya. Saya menjotos lengannya dengan kencang. Dia sejenak kaget lalu membalas memukul lengan saya lalu bilang, ‘Salam balik untuk andika.’ Lalu kami percakap-cakap sejenak lalu diam, hening, sedikit kikuk, lagipula apa lagi yang hendak diobrolkan? Ah, sudahlah. Padahal kemarin saya begitu ingin ngobrol dengannya karena dulu semasa sma ngobrol dengannya begitu mengasyikkan, lantas mengapa sekarang tidak? Saya juga tidak tahu.

Tak lama setelah itu kereta datang, dan kami segera masuk kereta. Lagi-lagi salah masuk gerbong gara-gara panduan tatag yang salah. Parah anak satu itu. Yah, setelah mencapai tempat duduk kami, tatag dan deni melambai dari luar jendela, kami melambai balik. Tak lama setelah itu kereta berjalan dan kami sempat main poker satu kali lalu tidur. Tau-tau kami sudah sampai Wates, dan sebentar lagi sampai ke Lempuyangan. Setelah keluar dari kereta, kami menikmati matahari terbenam sejenak lalu bergegas menuju peron.

 


Setelah mengambil motor otok yang ada di stasiun tugu, kami berlima memisahkan diri, pulang ke tempat kami masing-masing. Yah, begitulah perjalanan saya ke Bandung. Lain kali saya akan berpetualangan lagi ke tempat lain.
 

#JALAN-JALAN / / / Journey to the West ( Part I )

Monday, 1 August 2011


Yeiyo!!!!
Yester week, my friend and I went to Bandung. Yes, Bandung. Who don’t know about Bandung? Salah satu kota terbesar di Indonesia yang merupakan tempat yang penuh dengan sejarah dan tempat wisata itu. Saya dan teman-teman saya telah merencanakan perjalanan kecil ini sejak hampir satu semester yang lalu. Dan sampai sekarang saya masih heran bahwa rencana tersebut bisa terlaksana dengan cukup baik.
Kami mempersiapkan keberangkatan dengan cepat setelah terkumpul 7 peserta yang hendak ikut. Setelah mempersiapkan tiket seminggu sebelumnya, serta menentukan kemana saja kami akan berangkat, akhirnya kamipun berangkat pada tanggal 25 Juli kemarin. Kami pun berkumpul di Stasiun Tugu pada pukul 11 pm. Rombongan pertama tiba pukul 10 pm dan mengurusi berbagai penitipan motor dan yang lainnya. Setelah itu, 2 orang teman saya yang lain datang dan akhirnya kami pun masuk ke peron untuk menunggu kereta.

(peserta yang akan berangkat malam itu. Dari kiri; tatag, otok, mini, mega, dian, saya, yayan)
Tak seberapa lama kereta datang dan kami segera masuk ke dalam gerbong setelah keretanya berhenti. Sialnya, Tatag, teman saya yang suda berpengalaman naik kereta ke Bandung, salah memimpin kami masuk gerbong. Mini, teman saya yang paling ribut karena takut tak dapat tempat duduk. Setelah berusaha berjalan menentang arus manusia menuju gerbong kami, kami tiba di tempat duduk kami. Setelah duduk, yang lain kemudian memilih posisi untuk tidur.
Selama perjalanan, saya kedinginan karena berada di paling pinggir, di dekat lorong. Yang secara teori, angin lebih suka lorong sempit dan saya tepat di samping jalan aliran angin. Alhasil, saya tepar, alias masuk angin dan demam hebat. Kami sampai di Bandung pukul 9 am, meski sempat berhenti cukup lama di Nagrek. 

( foto yang diambil oleh Mega sesampainya di stasiun Bandung)
(dari kiri; yayan, dian, tatag, mini, otok)
 Setelah dilarikan dengan menggunakan taksi ke rumah teman saya yang tinggal di Bandung, Tyas, saya akhirnya bisa minum obat dan mendingan, meski masih cukup pusing. Setelah itu kami semu pindah ke kamar tyas dan saya pun memutuskan untuk tidur. Dian dan yayan juga ikut tidur. Tyas dan mini nonton film dari laptop tyas. Otok pergi ke asramanya Deni, teman saya yang juga kuliah di ITB. Mega menemani Tatag, pacarnya, untuk regristrasi ulang. Yang saya lakukan sampai malam hanyalah makan, minum obat, sholat, dan tidur, hingga Tyas membelikan saya Bye Bye Fever. Setelah dibelikan, langsung saya temple di kening saya lalu saya tidur lagi. Malam itu, otok, deni, tatag, dan mega datang karena mega mau menginap di tempat tyas. Tapi saya tidak tahu, karena saya tepar hingga bangun keesokan harinya.
Hari kedua di Bandung, saya sudah sembuh, meski sedikit pusing, akhirnya kami pun memutuskan untuk jalan-jalan ke Ciwalk, Cihampelas Walk. Diberi nama demikian karena terletak di daerah Cihampelas dan karena mal tersebut bertemakan ‘walk’. Jadi setiap pengunjung harus berjalan kaki untuk menuju retail-retailnya. Kalo Amplas itu sebuah bangunan yang menjadi Mall, tapi kalo Ciwalk adalah gabungan beberapa bangunan yang menjadi Mall. Kalau tidak salah andalan dari Ciwalk adalah ‘Sky walk’nya. Maksudnya adalah jalan yang menggantung di udara yang menghubungkan antara retail yang satu dengan yang lain.

(pohon besar di entrance Ciwalk)

(bangunan yang langsung menarik perhatian saya)

(salah satu bangunan yang ada di ciwalk)

(bangunan KFC, merah seperti biasanya)

(nah, ini salah satu sky walk yang ada di ciwalk. 
Sky walk ini menghubungkan KFC dan Crocs)
 Pagi itu kami makan di KFC, sarapan yang mewah menurut saya. Kami cukup lama di McD karena menunggu otok dan deni. Karena mereka tak kunjung datang, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan duluan. Kami masuk lebih dalam lagi dan saya menemukan bahwa ciwalk begitu hijau. Banyak pohon di area pejalan kaki, membuat udara begitu sejuk dan nyaman untuk berjalan-jalan.
 

(salah satu bangunan di area ciwalk )

( saya menduga ini adalah bangunan utama dari ciwalk. 
Di dalamnya terdapat retail-retail berbagai aksesoris dan baju)

(dalam perjalanan saya, saya menemukan papan iklan ini. 
Dan saya suka kalimatnya. My own party in Ciwalk. Hahahahahah, just a dream)

Kami masuk ke bangunan utama ciwalk dan jalan-jalan di sana. Lalu kami tak sengaja masuk ke salah satu pameran lukisan yang ada di lantai ke-4. Saya menduga temanya bayi, karena hampir semua lukisannya adalah bayi-bayi. Saya tidak memfoto lukisan tersebut sebagai rasa hormat saya kepada si pelukis yang telah bekerja keras melukis lukisan-lukisan yang ada di pameran itu. Setelah itu, kami masuk ke salah satu retail aksesoris dan teman-teman saya sibuk memilih aksesoris. Karena saya tak suka aksesoris, akhirnya saya hanya berjalan-jalan keliling retail itu lalu keluar, menunggu mereka di luar.

 

(Dari kiri; tyas, sibuk memilih earphone, tatag dan mega, sibuk memilih gelang )
Setelah itu kami karaokean di NAV. Tak lama setelah itu, otok dan deni datang. Dan kami menghabiskan siang itu hingga suara kami serak. Setelahnya, kami pergi ke pasar baru. Beuh, ternyata pasar baru itu tidak seperti yang saya pikirkan. Yang namanya pasar memang pasar. Ibarat kata, dibanding dengan Bringhardjo, Pasar Baru lebih chaos lagi. Dian, yayan, dan mini memisah dari rombongan karena insting berbelaja mereka. Biasa lah, cewek. Saya memilih menemani mega dan tatag, yang entah kenapa setelah msuk ke pasar baru, mega menangis. Katanya sih, perasaannya nggak enak hingga ia menangis. Karena tyas, deni, dan otok sudah sampai (mereka pakai motor, kami ngangkot), saya menutuskan untuk nyamperin mereka. Tatag menemani mega yang sudah agak baikan untuk mencari oleh-oleh, kaos. Saya? saya pikir, saya akan beli kaos di luar pasar baru karena sebelum masuk tadi, saya lihat ada orang yang jualan kaos di pinggir jalan.
Karena sudah sore, akhirnya kami balik dan berkumpul di pintu masuk pasar baru. Rencananya hendak beli oleh-oleh camilan dan saya ingin membeli kaos. Yayan, dian , dan mini mencari makanan, sedangkan saya, tatag, dan mega mencari kaos. Tak jauh dari pasar baru, ada sejenis malioboro kecil dan di sana ada orang jualan kaos. Karena buru-buru, akhirnya saya menutuskan untuk beli di tempat itu, pak pedagangnya juga udah mau tutup. Setelah menawar dan memilih, akhirnya saya sudah mengantongi oleh-oleh. Setelah itu pulang menuju rumah tyas dengan ojek. Eh, taunya, saya dan teman saya, mini, nyasar. Tapi untungnya saya segera tahu alamat tyas dan bisa sampai dengan selamat. Mini sepertinya trauma dan dia berkata tak mau lagi naik ojek Bandung. Hahahahahahah, dasar bocah!