#FILM / / / Lemantun, Makna Sebuah Warisan

Saturday, 5 November 2016

Saya habis pergi menonton pemutaran 5 film pendek karya Wregas Banutedja di FIB UGM yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Antropologi UGM kemarin malam. Sebenarnya, teman saya yang mengajak karena dia ingin menonton Prenjak yang katanya dapat penghargaan Leica Cine Discovery Prize  di Festival Film Cannes, 2016. Kabar ini sebenarnya hanya samar-samar saja saya lihat di social media saya. Saya penasaran tetapi rasa penasaran saya tidak hingga membuat saya ingin sekali melihatnya. Ya kalau ada kesempatan bisa nonton ya nonton, kalau enggak, ya sudah, mungkin cari lain waktu.

Tapi sebenarnya alasan saya menulis ini bukan karena film Prenjak itu. Melainkan disebabkan oleh impresi mendalam saya terhadap film garapan Wregas Banutedja sebagai tugas akhirnya di IKJ. Film ini berjudul Lemantun.


*


Lemari-lemari dan Kursi Jengki
(sumber gambar : https://www.insgy.com/tag/lemantun)

Suatu ketika saya dan keluarga saya sedang berkumpul dan makan malam bersama di meja ruang makan kami, ayah saya tiba-tiba berkata,

"Nak, sesungguhnya kelak aku tak bisa mewarisimu apa-apa. Hanya ilmu pengetahuan yang aku usaha untukmu yang akan jadi bekalmu di masa depan."

Langsung, saya jadi tak berniat meneruskan makan saya. Saya merasa tak nyaman terseret dalam melankoli yang tiba-tiba ayah saya hidangkan di atas meja. Saya sendiri lupa mengapa ayah saya berkata seperti itu, entah obrolan apa yang kami bicarakan sebelumnya hingga ia memutuskan menyelipkan kalimat yang menggerus perasaan saya. Setelahnya, seperti biasa, ayah saya langsung berkelakar menyemarakkan suasana lagi. Adik saya menyahuti kelakar itu dengan kelakarnya sendiri. Seperti biasa ibu saya yang pendiam itu tetap diam. Sementara, saya menelan susah payah sisa-sisa makanan yang ada di piring saya hingga tandas meski lezatnya berkurang setengah.

Malam itu, sebelum tidur sembari menatap usuk, reng, dan genteng rumah di kegelapan kamar, saya merasa seperti ada beban baru saja masuk dalam keranjang pikulan saya.


*


Menjadi sangat sensitif menurut saya, manakala selepas umur 20-an, kebanyakan orang mengusik tentang hal-hal yang berbau keluarga. Sensitif baik secara emosional dan personal. Lebih khususnya karena, ada semacam kewajiban moral yang terbangun dari hubungannya timbal balik terhadap diri anak dan keluarganya yang suatu ketika harus ditunaikan. Mungkin seperti itulah yang menyebabkan saya merasakan kedekatan emosional terhadap film Lemantun. Film yang berdurasi 20 menit ini mampu membuat saya kembali teringat-ingat pada keluarga besar saya di kampung halaman.

Mengisahkan, 5 orang anak yang mendapatkan warisan lemari (lemantun, dalam Bahasa Jawa Halus bermakna lemari) dari Ibunya. Dalam cerita itu, sang ibu yang selalu membeli satu lemari saat setelah melahirkan anak-anaknya, ingin mewariskan lemari-lemari tersebut, karena mungkin ia merasa sudah terlalu tua. Anak-anaknya diminta untuk mengambil undian untuk menentukan siapa mendapat lemari yang mana. Singkat cerita, masing-masing dari anak akhirnya menemukan lemari yang sesuai dengan nomor undian mereka. Menjadi menarik ketika sang ibu kemudian meminta masing-masing dari anaknya untuk membawa pulang lemari itu. Para anak itu pun akhirnya mengusahakan segala cara untuk bisa mengangkup pulang lemari warisan. Kecuali satu orang.

Ada satu adegan yang membekas dalam benak saya setelah menonton film ini. Sang anak tengah yang di dalam cerita tinggal bersama sang ibu, tidak dijelaskan apakah ia belum menikah atau sudah bercerai, merangkak masuk ke dalam lemari warisannya, seperti dulu ketika lima bersaudara itu masih kecil dan sering main petak umpet. Ia termenung, memikirkan 'rumah'nya sendiri.


*


Lemari dalam film ini dikatakan Wregas sebagai gambaran dari rahim ibu. Ibu mengandung anaknya selama 9 bulan di dalam rahimnya, dan membeli satu lemari sebagai penanda kelahiran anaknya. Lemari menjadi sebuah simbolik wujud fisik kasih sayang seorang ibu dan parameter kebendaan -bebondo-. Ketika seorang anak lahir, kasih sayang ibu selalu menyertainya sampai dengan waktu yang tak terbatas. Kasih sayang adalah bilangan infinitif. Di dalam film ini, ketika seorang ibu mewariskan lemarinya, mengambarkan restu dan kasih sayang Ibu yang diturunkan kepada anak-anaknya yang telah berkeluarga masing-masing.

Di dalam kajian pewarisan budaya di dalam masyarakat, mewariskan benda kepada anak cucunya adalah bagian dari usaha untuk mewariskan masa lalu. Di dalam masyarakan Jawa di tempat saya dibesarkan, memberikan lemari kepada anaknya sesaat setelah pernikahan adalah hal yang wajar. Lemari-lemari yang diwariskan ini kadang memang sengaja dibuat dari kayu jati kualitas tinggi. Atau kadang malah diberikanlah lemari tua yang tak kalah antep -besar dan berat karena materialnya yang berkualitas-. Itulah mengapa, kebanyakan lemari tua dibuat dengan kayu kualitas paling bagus sehingga mampu diberikan turun-temurun selama beberapa generasi. Budaya ini sering dilakukan oleh keluarga anak perempuan. Sang ibu akan memberikan lemari dan set alat makan kepada anak perempuannya yang barusan menikah.

Menurut saya, terlepas dari pemaknaan Wregas Banutedja yang menganggap lemari adalah gambaran simbolis dari rahim ibu, jelas ada makna lain yang lebih besar mengenai posisi lemari dalam sebuah rumah yang menggambarkan hubungan antara orang tua dan anak, posisi ibu dalam keluarga. Sejak dulu, lemari digunakan sebagai tempat penyimpanan. Kita menyimpan baju-baju bagus di dalam almari, perkakas-perkakas yang jarang dipakai dan bahan makanan yang tahan lama persedian hari depan, berkas-berkas, uang maupun barang-barang berharga kalung, gelang, dan pusaka keluarga. Lemari menyimpan apa-apa yang penting dan berharga, yang tak perlu lah tetangga  melihatnya.

Lemari yang paling terpercaya menyimpan rahasia. Lalu, bagaimana bisa sebuah rumah tanpa lemari-lemari?

Sosok ibu dalam keluarga mungkin ibarat lemari. Ketika sang anak gadis rewel minta baju baru, ia bisa saja mengeluarkan bajunya yang jarang sekali ia pakai dan berikan kepada anaknya, mengaku kalau itu baju baru. Ketika si anak pertama memelas minta uang untuk membayar keperluan sekolah, ia akan berlari ke lemari dan berharap selembar uang merah yang ia selipkan di bawah tumpukan bajunya masih utuh. Ketika si bungsu merengek masih lapar, ia menyelinap mengambil kue bolu di dalam almari dan diam-diam memberikannya ke anaknya. Ia jarang memakai gelang dan kalungnya, tetapi ketika diperlukan, ia siap mengeluarkannya untuk digadaikan sementara. Di dalam lemari itu pula lah, pusaka keluarga di simpan, simbol kelaki-lakian suaminya. Ia pula yang merawat pusaka itu, seperti ia merawat suami dan anak-anaknya. Perempuan menyimpan segala sesuatu, menjaganya agar tetangga tak perlu tahu keluarganya kurang atau berlebihan sesuatu.

Mungkin itulah mengapa, ibu memberikan lemarinya kepada anak perempuannya yang barusan menikah. Ia ingin mewariskan pengetahuannya.


*


Pagi setelahnya, saya terbangun dengan perasaan biasa saja. Seperti biasanya, pagi itu ibu saya sudah pergi ke pasar, ayah saya sudah berangkat kerja bakti dengan warga, dan adik saya sudah pergi bermain. Saya beranjak menuju kamar mandi dan setelahnya mendapati sepochi teh hangat siap tuang dan sedikit gorengan ada di meja makan. Sambil membawa secangkir teh hangat dan menggigit bakwan saya kembali ke kamar, memilih-milih buku yang hendak saya baca sembari duduk di kursi rotan di samping jendela.

Saat itu, pandangan mata saya tertuju pada sebuah lemari tua besar berwarna kopi gelap bergaya sederhana yang saya ingat-ingat lagi entah kapan mulai ada di kamar saya. Dua, tiga tahun barang kali? Lemari saya sudah berpindah ke kamar adik saya, entah siapa yang memindahkan lemari ini masuk ke kamar saya setelah perbaikan rumah beberapa tahun lalu. Lalu saya ingat, lemari besar ini dulu dipakai oleh ibu saya untuk menyimpan berbagai barang pecah belah miliknya yang jarang dipakai. Lemari besar ini diperolehnya dari nenek buyut saya, ibu dari ibunya ibu saya. Terlepas dari besarnya, pemberian itu rahasia karena langsung diberikan ke ibu saya tanpa melewati nenek saya. Kata nenek buyut saya itu, ia sudah membagikan semua harta ke anak-anaknya dan baginya itu sudah cukup. Tetapi lemari itu ingin ia berikan ke cucu kesayangannya, ibu saya.

Lalu lemari itu kini ada di kamar saya, secara tidak sengaja.

[ ]