#PUISI / / / Balada Sebuah Bokong oleh Sindhunata

Thursday, 10 March 2016



Balada Sebuah Bokong
                                              Sindhunata


A girl with a breast
gadis dengan buah dada
itulah nama Inggris
bagi Inul Daratista

Semula Inul hanya pendangdut kampong
asalnya desa Kejapanan, Gempol Jawa Timur.
Kini Inul melambung di awal global
bahasanya bukan lagi Jawa tapi Inggris.
Pewawancaranya bukan lagi tabloid local
tapi Time, majalah International

Ketika ditanya, kenapa
sampai MUI berfatwa,
haramlah goyang ngebornya
Inul menjawab dengan cerdas, katanya:
The MUI should realize that Indonesia
It’s not a Moslem country, it’s a democratic country.
Ya, mengapa di Negara demokrasi ini
bergoyang mesti dilarang atas nama Negara?
Dari mana datangn kuasa yang memastikan
ngebor itu berdosa, hingga patut dilakuan
hanya oleh orang yang berdosa?
Inul bilang, meski ngebor ia tetap rajin bersalat doa
seperti wanita saleh layaknya.
Akan kesalehannya kiranya oleh orang boleh percaya;
dari namanya Inul adalah gadis yang bertakwa
pada kerahiman Allah
ya, sebelum beralih jadi Inul Daratista
namanya adalah Ainul Rokhimah.
Ainul itu sumber, Rokhimah itu rahmat
Ainul Rokhimah kaulah sumber kerahmatan Allah.

Lagi ia ditanya, mengapa orang meributkan bokongnya?
Jawabnya, “the real threats to Indonesias fragile morality,
Particularly corrupt officials, are too dangerous to attack”.
Memang di Negara ini lebih mudah ribut soal bokong ngebor
daripada memejahijaukan dan memenjarakan koruptor.
Goyang erotis dirazia, predator miliaran rupiah dibiarkan saja.
Waria jadi target operasi, legislator dibiarkan mandi
di kolam money politics dan korupsi.
Di Negara ini seks mudah jadi kambing hitam kemunafikan moral
semata-mata untuk menutupi kekotoran dan kebiadaban kekuasaan.

Dan apakah arti sebuah bolong di panggung
sampai ia dilihat seperti gunung
sementara uang yang bergulung-gulung
dalam prostitusi berselubung
dari mereka ang kaya, yang bertelanjang ria dalam pesta Caligula
yang bermain seks di Pajero Goyang sepanjang jalan Jakarta
yang ciak susu sebagai menu sarapan pagi di hotel mewah
dibiarkan merajalela?
Ya, apa arti goyang bokong seorang pedangdut desa
dibanding dengan segala sex undercover mereka yang berpunya?
Maka dengan bahasa keterbukaan globalnya
yang membongkar kedok kemunafikan manusia,
“Why should they care about me
When there are pornographic VCD
And prostitutes in the street?
They choose me because I am an easy target.”

Hidup Ratu Inul! Di Irak kata rakyat,
ada pasukan berani mati
di Indonesia ada pasukan birahi tinggi
dipimpin Ratu Inul, melemahkan rudal-rudal lelaki
melawan pasukan berani lari
pimpinan para politisi, pengusaha dan militari.
Ratu Inul, Bokongmu harus jadi abadi
tersimpan sebagai prasasti di museum MURI
untuk menandai, bahwa Negara ini pernah terjadi;
semua perkara besar tertunda hanya karena bokong
semua janji dan harapan sirna hanya karena bokong
negara yang tinggi dengan gunung-gemunung,
luas dengan samodra, membentang dengan daratannya
tiba-tiba menyusut menjadi sebuah bokong belaka.
Inul, republic kita memang hanya republic dangdut
kaulah ratunya, dan bukan lagi Rhoma Irama.

Terkurung dalam sebuah bokong inilah hubungan kita
yang terpenjara dalam belenggu zaman edan.
Menurut tembang Jawa, beginilah kata-katanya:

Sinome kang gara-gara
Nuswantara gonjang-ganjing
Panjerit ing pra kawula
Akeh kang samya ngungsi
Tawur bangsa pribadi
Ilang kamanungsanipun
Donga ora tumama
Dhikir ora maedahi
Apa itu kang sinebut zaman edan

Dosane zaman semana
Keh manungsa pada lali
Panguasa kanggo gadha
Politik kanggo ngapusi
Murka mring ekonomi
Hokum dadi ajur mumur
KaKaEn ngambra-ambra
During ana den adili
Wiwit mlethek zaman reformasi total.

Di zaman edan ini
jauh sebelum Ainul Rokhimah
belajar menari
Di Solo mbah Ranto Gundel sudah menulis puisi
tentang Alengkadiraja yang dimakan api.
Oleh Rahwana Sinta dicolong
oleh seorang kera ia ditolong
dalam lakon Anoman Obong
yang membuat Alengka kobong.
Nyanyian mbah Ranto jadi ramalan di siang bolong
kobong menjadi bokong
bokong menjadi kobong
kobong ada di dalam bokong
bokong ada di dalam kobong.

























Maka bila Dewi Yahya, Eli Anggelina, NIning Arista
dan pedangdut lainnya di Purawisata atau Gembiraloka
menyanyikan Anoman Obong,
E la dhalah Ngalengka diobong
Togog Biling padha pating ndhomblong,
pada saati itu bergoyanglah bokong-bokong
malam penuh bokong
Tubuh-tubuh menyentuh bokong
peluh-peluh menetes bokong
dan rakyat pun berteriak bagai serigala melolong:
Kobong, kobong, kobong, kobong
Kobong, kobong, kobong, kobong
Lama-lama teriakan itu terpeleset menjadi bokong:
Dan kobong pun tenggelam dalam bokong
Kobong, kobong, bokong, bokong,
Kobong, kobong, bokong, bokong,
Bongkobongkobongkobongkobongkobongkobong,
Bokong, bokong, bokong, bokong, bokong, bokong
Bokong, bokong, bokong, bokong, bokong, bokong
Kobong menjadi bokong
Bokong sama dengan kobong
Tiada lagi beda antara kobong dari bokong
Bokong pun menjelma menjadi api
maka meletuslah Tragedi Mei.
Api padam setelah reformasi
namun sejak saat ibu, budi kita pun mati
bukan dengan pekerti kita berpikir
tapi dengan bokong kita menaksir
dan kita pun jadi bangsa yang pander

Anoman obong adalah ramalan
yang menjadi kenyataan.
Mei lima tahun lalu dari hari ini
Jakarta dan Solo kobong jadi lautan api.
Tapi ingatlah, zaman edan
telah juga membuat kobong menjadi bokong.
Kendati sudah lewat kobong,
masih juga kita hidup dari bokong,
berdebat denagn bokong
berkuasa dengan bokong
menutupi kemunafikan dengan alasa bokong
pura-pura suci anti bokong.
Syukur datang seorang gadis kampong
membuka kemunafikan kita yang terselubung.
Miyak warana, itulah berkah yang dibawa
oleh kelahiran Aiul Rokhimah
Dan tirai kepura-puraan kita pun dibuka
oleh bokong Inul Daratista:

Ya Allah, mengapa mesti bokong
yang menjadi cerminan hidup kami?
Dan bokong itu pun menjadi rembulan
lalu langit penuh dengan bokong berbintang,
terdengar di sana nyanyian Daratista
lirih seeperti suara Zarathustra,
katanya, “Bila keluhuran dan kemuliaan telah hilang,
kenistaan dan dosa pun mesti menjadi petunjuk dan jalan
menuju kesempurnaan dan kesucian.” ++




Karang Klethak, Kemis Pahing 5 Mei 2003


-----
 Sinom Gara-gara dikutip dari karya Ki Manteb Sudharsono



*


Tulisan Romo Sindhunata ini diketik ulang dari buku ‘BOROBUDUR AGITATAIF, Seni, Inter-Kosmologi, Magelang” diterbitkan oleh Gallery Langgeng Magelang.


*


Dalam hemat saya, Borobudur Agitatif (bersama beberapa program lain yang diselenggarakan oleh Gallery Langgeng Magelang) adalah sebuah proyek seni untuk menghidupkan kota Magelang menjadi salah satu kota seniman, bukan untuk menyaingi Jogjakarta tetap menjadi alternative referensi seni bagi seniman manca maupun dalam negeri serta turis, dan saling menguatkan kedua kota tersebut, seperti keberadaan Merapi Merbabu.


[ ]