#SASTRA / / / Panggung Dunia

Tuesday, 15 December 2015

Sejatinya, dunia ini hanyalah sebuah panggung raksasa, yang membentang dari timur dan bertemu di barat. Dan kita, manusia-manusia, jejelmaan hewan, tetumbuhan, saling terkait dalam sebuah rangkaian cerita drama yang tak kunjung habis-habisnya, kecuali, memang telah disampaikan pada penghabisannya.

*

Saya bertemu sebuah fragmen ini, di sebuah buku yang begitu tua, yang telah lama terbitnya, dengan sampul yang begitu sederhana tanpa ilustrasi. Sebuah buku, kumpulan bunga rampai sastra belanda tentang kehidupan di Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Djambatan pada tahun 1979, dan dicetak ulang pada tahun 1985. Sejatinya, Bianglala Sastra, ini adalah sebuah buku yang ditulis kembali oleh Dick hartoko berdasarkan Oost Indische Spiegel karya Rob Nieuwenhuys.

*

[ Sepenggal fragmen pada Bianglala Sastra halaman 234-236. ]

Kelir

Di layar putih yang disinari oleh hariMu bergeraklah bayangan Insan.

Kulihat mereka dan kutahu, bahwa mereka bukan mereka. Kulihat diriku sendiri, wajahku dan tanganku: dan kumaklumi, itu bukanlah aku. Pada kelir dunia yang hiruk pikuk ini bergeraklah manusia sebagai wayang-wayang: mereka mencintai dan mengasihi, mereka membenci dan meremehkan; tetapi segala daya upaya mereka hanya daya upaya bayangan dan kefanaan yang hampa. Kami adalah bayangan pada kelir waktuMu; kami Kaupegang dalam tanganMu di dalam cahaya KeabadianMu. Kami berbicara tentang perjuangan dan penderitaan, tentang kemenangan, tentang tamat dan duka cita. Tetapi, dalam terang cahayaMu semuanya bernama Cinta dan itulah sebabnya seluruh hidup ini merupakan satu rasa rindu dendam untuk digerakkan oleh tanganMu di dalam cahaya TerangMu yang bernyala-nyala, pada layar putih duniaMu yang hiruk pikuk ini.


Lampu Blencong

Bila Kaunyalakan lampu blencongMu, mulailah Misteri PertunjukanMu pada layar terang; sebidang penuh cahaya dalan Gelap GulitaMu yang tak ada dasarnya.

Puspa ragam diletakkan dalam bokor persembahan, semerbak kemenyan dan gong menjadikan pertunjukanMu pesta kehidupan yang kramat. Dila Launyalakan lampu blencongMu, dunia kami menjadi terang: dan akulah sebuah wayang pada layar alam ciptaanMu. Dan ketika tiba saatnya, aku Kauangkat dalam tanganMu dan dengan demikianlah aku muncul di muka layar duniaMu. Lampu blencongmu menyinari aku: badan ini adalah bayanganku, tetapi aku sendiri dipegang tanganMu. Ajarilah aku menyesuaikan diri pada tanganMu, karena aku tidak tahu bagaimana harus bergerak. Ajarilah aku mengerti suaraMu, sehingga aku tahu, bagaimana harus bertutur. Ajarilah aku mengetahui kehendakMu, sehingga aku tahu bagaimana berdiam diri. Waktu ini singkat ; hidupku ini hanya berlangsung selama beberapa detik di dalam cahaya blengcongMu yang bernyala penuh rahasia dari kekal sampai kekal. Katakanlah siapa dan apa aku ini, agar aku mengenal suka dan dukaku, cinta dan rasa benciku sebagai sesuatu dari diriku sendiri, sehingga sambil tertawa dan menangis kulakukan kehendakMu.


Wayang

Gusti, jadilah aku sebuah wayang dalam tanganMu.

Biarlah aku menjadis eorang ksatriya atau pun raksasa, saja atau orang hina, pohon, tumbuhan, binatang ………. asal aku menjadi sebuah wayang dalam tanganMu. Lalu, entah aku perkasa dalam perang, entah kecil bagaikan seorang kanak-kanak yang main-main di bawah pohon beringin, aku akan memakai bahasaMu. Hidupku di bumi ini penuh jerih payah dan perjuangan, dan aku ditertawakan oleh lawan-lawanku yang banyak itu. Ejekan mereka lebih cepat kena sasaran daripada anak panah berbulu ;  kata-kata mereka lebih tajam daripada mata keris. Perjuanganku belum selesai. Dan nanti aku Kausingkirkan dan aku berbaring bersama-sama wayang-wayang yang lain yang peranannya sudah selesai. Aku bersama dengan ribuan yang lain di dalam kelam. Dan perjuanganku belum selesai ; - lawan-lawanku masih menari-nari.

Duh, Gusti, jadilah aku sebuah wayang dalam tanganMu.

Lalu seratus atau seribu tahun lagi, tanganMu akan menggerakkan aku kembali. Lalu, pada suatu ketika, bila waktuku sampai pada KeabadianMu, aku Kauangkat kembali dan kembali aku berbicara dan berperang. Dan pada suatu ketika nanti, lawan-lawanku akan bungkam dan raksasa pun akan rebah.

Ya Tuhan, jadilah aku sebuah wayang dalan tanganMu.



*


Pada akhir fragmen ketiga, saya kembali teringat sebuah prosa lama yang bu Sarah sering ucapkan bertahun-tahun lalu.


All the world's a stage,
And all the men and women merely players



[ ]

#ARCHITECTURE / / / Workshop Bambu dan Permakultur di Soreang, Bandung, oleh ASF-ID

Sunday, 13 December 2015

Seorang teman saya yang, katakanlah, mendedikasikan dirinya untuk bekerja pada sebuah arsitek komunitas di Bandung, ASF-ID, mengabari saya di pertengahan  bulan November mengenai akan diadakannya workshop bambu di sebuah (cikal bakal) kampung permakultur di suatu tempat di Soreang, Bandung. Siska. Waktu itu saya ditawari untuk menjadi panitia bayangan sekaligus turut memeriahkan workshop bambu kecil-kecilan yang mereka adakan selama 2 hari 1 malam itu. Saya yang waktu itu sedang volunteering sebuah acara pameran seni di Jogja, Biennale Jogja XIII 2015 langsung mengiyakan dan tanpa banyak pikir segera memesan tiket kereta menuju Bandung. Lagipula, sudah lama sekali saya tidak pergi ke Bandung.


Padi itu ketika saya di jemput oleh Siska di Kiara Condong, adzan subuh baru saja dikumandangkan. Tetapi, pasar di sebelah telah ramai sekali oleh berbagai manusia, penjual dan pembeli, tukang becak, tukang angkot, tukang asongan, tukang apapun itu yang tumpah memenuhi jalan yang kami belah untuk mencari angkot menuju base-camp ASF-ID. Sesampainya di base-camp, beberapa orang yang akan ikut serta di workshop bambu itu sudah berdatangan, sebagian tidur. Beberapa diantaranya ternyata adalah anak arsitektur UII dan seorang adalah senior saya di kampus, tetapi saya tak sempat mengenal dia karena ketika saya masuk dia mungkin saja telah lulus. Sisanya, adalah teman-teman arsitek di Bandung, yang hari itu baru saya kenal.



Perjalanan menuju Soreang cukup jauh. Lebih tepatnya menuju ke arah Kawah Putih. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun sejak saya pertama kali pergi ke Kawah Putih bersama teman-teman Quartoz masa itu. Dari naik angkot akhirnya kami turun di pom bensin untuk menunggu mobil jemputan. Dan perjalanan ekstrim menanjaki perbukitan di Soreang itu kami lalui dengan perasaan ketar-ketir di dalam mobil Range-Rover pick up terbuka. Rasa-rasanya seperti sekelompok tentara yang sedang di kirim ke medan pertempuran di tengah hutan. Ah, mungkin terlalu berlebihan ya kalau dibilang seperti itu.


Siang itu, para mamang-mamang ahli bambu lokal sudah memasang tenda untuk memulai pekerjaan. Dan kami yang begitu awam ini soal bambu, rasa-rasanya hanya ngerecokin mereka saja. Ah, tapi, sekali ini saya benar-benar belajar bagaimana meraut bambu, menggergaji (yang walaupun pada akhirnya menyerah karena bambunya keras dan super liat), dan membuat satu bagian saja. Bergiliran dengan teman-teman kelompok lain, siang hari itu saya sudah cukup puas dengan mencoba meraut bambu dan membuat pasak bambu sebanyak-banyaknya. Jelas saja, konstruksi bambu ini tak akan selesai hanya dalam waktu dua hari saja. Ah, ngana kira ini candi prambanan dan saya raden mas Bondowoso?






Malamnya, setelah selesai makan malam, kami bercengkrama sembari berdiskusi. Mang Gungun, selaku pemrakarsa kampung permakutur di Soreang itu mempresentasikan mengenai cita-citanya mengelola kawasan kebun sayur dan buah secara permakultur, sebuah kampung mandiri yang dapat mensuplai kebutuhan para anggota di dalamnya akan buah dan sayur, serta tempat para anak kota macam saya dan teman-teman lain belajar bercocok tanam. Siska dan Take mempresentasikan mengenai gagasan Fukuoka Masanobu mengenai natural-farming. Lalu dilanjutkan dengan menonton film yang diputar tak sampai selesai karena masing-masing orang yang telah mengantuk.



Paginya, pelajaran singkat mengenai permakultur dari mang Gungun dimulai sekitar pukul 8 pagi. Kami berjalan-jalan mengitari area permakultur yang baru dicobai beberapa tanaman saja, mengunjungi pengelolaan limbah kotoran yang diubah menjadi bio-gas dan digunakan untuk memasak di pondokan kami, dan menengok bagaimana mas Gungun bereksperimentasi dengan bedengan-bedengan tempat menanam buah dan sayur.




Siang itu kami melanjutkan membantu mamang-mamang ahli bambu membuat beberapa jenis bagian bambu. Saya menyaksikan bagaimana mereka menggunakan tulangan besi untuk menghubungkan potongan-potongan bambu yang kemarin kamu potong dan raut. Ujung dari tulangan besi itu dikunci dengan mur. Tidak banyak yang dapat kami lakukan karena kami harus segera beranjak dan berkemas untuk kembali ke Bandung. Para anak-anak UII itu mengejar kereta di Kiara Condong sebelum magrib.


*

Saya rasa, bukan hanya akhir-akhir ini, tetapi beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak sekali orang-orang kota yang mulai memiliki keinginan untuk kembali dan tinggal di desa. Bukan hanya sekedar memiliki rumah singgah saja di pedesaaan, tetapi benar-benar pindah ke desa untuk tinggal dan menghabiskan sisa kehidupannya untuk bercocok tanam. Memang, mungkin bagaimanapun juga dalam darah manusia Indonesia mengalir darah manusia bercocok tanam, yang memproduksi dan menghasilkan kebutuhan sehari-harinya sendiri, tidak seperti sekarang yang semua-mua serba beli. Ah, pantas lah itu banyak sekali produk-produk luar yang masuk ke Indonesia, karena betapa konsumtifnya manusia Indonesia akan segala jenis barang-barang.

Lalu, sejenak keluar dari aktivitas hiruk-pikuk kota yang serba tergesa dan basa-basi ini, saya tertegun mendapati betapa alam luar biasa penuh dengan sumber yang bisa diberdayakan ini, dan begitu menentramkan berada di antara hijaunya pemandangan yang menghampar ini.


---

updated 27 Desember 2015

Sudah lebih dari 2 minggu sejak saya kembali ke Jogja. Semua bagian bale-bale itu telah dirakit dan dinaikkan. Para mamang ahli bambu itu bekerja keras ditengah hujan yang sepertinya tak henti-henti mengguyur Soreang.




---

update 1 Maret 2016

Sudah Dua bulan lebih sejak struktur didirikan. Mungkin hujan menajdi kendala yang utama. Tapi akhirnya, selesai juga pembuatan balai-balai di lereng bukit area permakultur yang dikelola oleh mas Gungun.




[ ]


Saya tidak memiliki hak cipta terhadap semua foto yang ada di dalam postingan ini, kecuali foto nomor empat dari yang terakhir. Semua foto diambil dan dimiliki oleh Andrea Fitrianto, Uzie Fauzia Anniza dan ASF-ID.