#SASTRA / / / Panggung Dunia

Tuesday, 15 December 2015

Sejatinya, dunia ini hanyalah sebuah panggung raksasa, yang membentang dari timur dan bertemu di barat. Dan kita, manusia-manusia, jejelmaan hewan, tetumbuhan, saling terkait dalam sebuah rangkaian cerita drama yang tak kunjung habis-habisnya, kecuali, memang telah disampaikan pada penghabisannya.

*

Saya bertemu sebuah fragmen ini, di sebuah buku yang begitu tua, yang telah lama terbitnya, dengan sampul yang begitu sederhana tanpa ilustrasi. Sebuah buku, kumpulan bunga rampai sastra belanda tentang kehidupan di Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Djambatan pada tahun 1979, dan dicetak ulang pada tahun 1985. Sejatinya, Bianglala Sastra, ini adalah sebuah buku yang ditulis kembali oleh Dick hartoko berdasarkan Oost Indische Spiegel karya Rob Nieuwenhuys.

*

[ Sepenggal fragmen pada Bianglala Sastra halaman 234-236. ]

Kelir

Di layar putih yang disinari oleh hariMu bergeraklah bayangan Insan.

Kulihat mereka dan kutahu, bahwa mereka bukan mereka. Kulihat diriku sendiri, wajahku dan tanganku: dan kumaklumi, itu bukanlah aku. Pada kelir dunia yang hiruk pikuk ini bergeraklah manusia sebagai wayang-wayang: mereka mencintai dan mengasihi, mereka membenci dan meremehkan; tetapi segala daya upaya mereka hanya daya upaya bayangan dan kefanaan yang hampa. Kami adalah bayangan pada kelir waktuMu; kami Kaupegang dalam tanganMu di dalam cahaya KeabadianMu. Kami berbicara tentang perjuangan dan penderitaan, tentang kemenangan, tentang tamat dan duka cita. Tetapi, dalam terang cahayaMu semuanya bernama Cinta dan itulah sebabnya seluruh hidup ini merupakan satu rasa rindu dendam untuk digerakkan oleh tanganMu di dalam cahaya TerangMu yang bernyala-nyala, pada layar putih duniaMu yang hiruk pikuk ini.


Lampu Blencong

Bila Kaunyalakan lampu blencongMu, mulailah Misteri PertunjukanMu pada layar terang; sebidang penuh cahaya dalan Gelap GulitaMu yang tak ada dasarnya.

Puspa ragam diletakkan dalam bokor persembahan, semerbak kemenyan dan gong menjadikan pertunjukanMu pesta kehidupan yang kramat. Dila Launyalakan lampu blencongMu, dunia kami menjadi terang: dan akulah sebuah wayang pada layar alam ciptaanMu. Dan ketika tiba saatnya, aku Kauangkat dalam tanganMu dan dengan demikianlah aku muncul di muka layar duniaMu. Lampu blencongmu menyinari aku: badan ini adalah bayanganku, tetapi aku sendiri dipegang tanganMu. Ajarilah aku menyesuaikan diri pada tanganMu, karena aku tidak tahu bagaimana harus bergerak. Ajarilah aku mengerti suaraMu, sehingga aku tahu, bagaimana harus bertutur. Ajarilah aku mengetahui kehendakMu, sehingga aku tahu bagaimana berdiam diri. Waktu ini singkat ; hidupku ini hanya berlangsung selama beberapa detik di dalam cahaya blengcongMu yang bernyala penuh rahasia dari kekal sampai kekal. Katakanlah siapa dan apa aku ini, agar aku mengenal suka dan dukaku, cinta dan rasa benciku sebagai sesuatu dari diriku sendiri, sehingga sambil tertawa dan menangis kulakukan kehendakMu.


Wayang

Gusti, jadilah aku sebuah wayang dalam tanganMu.

Biarlah aku menjadis eorang ksatriya atau pun raksasa, saja atau orang hina, pohon, tumbuhan, binatang ………. asal aku menjadi sebuah wayang dalam tanganMu. Lalu, entah aku perkasa dalam perang, entah kecil bagaikan seorang kanak-kanak yang main-main di bawah pohon beringin, aku akan memakai bahasaMu. Hidupku di bumi ini penuh jerih payah dan perjuangan, dan aku ditertawakan oleh lawan-lawanku yang banyak itu. Ejekan mereka lebih cepat kena sasaran daripada anak panah berbulu ;  kata-kata mereka lebih tajam daripada mata keris. Perjuanganku belum selesai. Dan nanti aku Kausingkirkan dan aku berbaring bersama-sama wayang-wayang yang lain yang peranannya sudah selesai. Aku bersama dengan ribuan yang lain di dalam kelam. Dan perjuanganku belum selesai ; - lawan-lawanku masih menari-nari.

Duh, Gusti, jadilah aku sebuah wayang dalam tanganMu.

Lalu seratus atau seribu tahun lagi, tanganMu akan menggerakkan aku kembali. Lalu, pada suatu ketika, bila waktuku sampai pada KeabadianMu, aku Kauangkat kembali dan kembali aku berbicara dan berperang. Dan pada suatu ketika nanti, lawan-lawanku akan bungkam dan raksasa pun akan rebah.

Ya Tuhan, jadilah aku sebuah wayang dalan tanganMu.



*


Pada akhir fragmen ketiga, saya kembali teringat sebuah prosa lama yang bu Sarah sering ucapkan bertahun-tahun lalu.


All the world's a stage,
And all the men and women merely players



[ ]

#ARCHITECTURE / / / Workshop Bambu dan Permakultur di Soreang, Bandung, oleh ASF-ID

Sunday, 13 December 2015

Seorang teman saya yang, katakanlah, mendedikasikan dirinya untuk bekerja pada sebuah arsitek komunitas di Bandung, ASF-ID, mengabari saya di pertengahan  bulan November mengenai akan diadakannya workshop bambu di sebuah (cikal bakal) kampung permakultur di suatu tempat di Soreang, Bandung. Siska. Waktu itu saya ditawari untuk menjadi panitia bayangan sekaligus turut memeriahkan workshop bambu kecil-kecilan yang mereka adakan selama 2 hari 1 malam itu. Saya yang waktu itu sedang volunteering sebuah acara pameran seni di Jogja, Biennale Jogja XIII 2015 langsung mengiyakan dan tanpa banyak pikir segera memesan tiket kereta menuju Bandung. Lagipula, sudah lama sekali saya tidak pergi ke Bandung.


Padi itu ketika saya di jemput oleh Siska di Kiara Condong, adzan subuh baru saja dikumandangkan. Tetapi, pasar di sebelah telah ramai sekali oleh berbagai manusia, penjual dan pembeli, tukang becak, tukang angkot, tukang asongan, tukang apapun itu yang tumpah memenuhi jalan yang kami belah untuk mencari angkot menuju base-camp ASF-ID. Sesampainya di base-camp, beberapa orang yang akan ikut serta di workshop bambu itu sudah berdatangan, sebagian tidur. Beberapa diantaranya ternyata adalah anak arsitektur UII dan seorang adalah senior saya di kampus, tetapi saya tak sempat mengenal dia karena ketika saya masuk dia mungkin saja telah lulus. Sisanya, adalah teman-teman arsitek di Bandung, yang hari itu baru saya kenal.



Perjalanan menuju Soreang cukup jauh. Lebih tepatnya menuju ke arah Kawah Putih. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun sejak saya pertama kali pergi ke Kawah Putih bersama teman-teman Quartoz masa itu. Dari naik angkot akhirnya kami turun di pom bensin untuk menunggu mobil jemputan. Dan perjalanan ekstrim menanjaki perbukitan di Soreang itu kami lalui dengan perasaan ketar-ketir di dalam mobil Range-Rover pick up terbuka. Rasa-rasanya seperti sekelompok tentara yang sedang di kirim ke medan pertempuran di tengah hutan. Ah, mungkin terlalu berlebihan ya kalau dibilang seperti itu.


Siang itu, para mamang-mamang ahli bambu lokal sudah memasang tenda untuk memulai pekerjaan. Dan kami yang begitu awam ini soal bambu, rasa-rasanya hanya ngerecokin mereka saja. Ah, tapi, sekali ini saya benar-benar belajar bagaimana meraut bambu, menggergaji (yang walaupun pada akhirnya menyerah karena bambunya keras dan super liat), dan membuat satu bagian saja. Bergiliran dengan teman-teman kelompok lain, siang hari itu saya sudah cukup puas dengan mencoba meraut bambu dan membuat pasak bambu sebanyak-banyaknya. Jelas saja, konstruksi bambu ini tak akan selesai hanya dalam waktu dua hari saja. Ah, ngana kira ini candi prambanan dan saya raden mas Bondowoso?






Malamnya, setelah selesai makan malam, kami bercengkrama sembari berdiskusi. Mang Gungun, selaku pemrakarsa kampung permakutur di Soreang itu mempresentasikan mengenai cita-citanya mengelola kawasan kebun sayur dan buah secara permakultur, sebuah kampung mandiri yang dapat mensuplai kebutuhan para anggota di dalamnya akan buah dan sayur, serta tempat para anak kota macam saya dan teman-teman lain belajar bercocok tanam. Siska dan Take mempresentasikan mengenai gagasan Fukuoka Masanobu mengenai natural-farming. Lalu dilanjutkan dengan menonton film yang diputar tak sampai selesai karena masing-masing orang yang telah mengantuk.



Paginya, pelajaran singkat mengenai permakultur dari mang Gungun dimulai sekitar pukul 8 pagi. Kami berjalan-jalan mengitari area permakultur yang baru dicobai beberapa tanaman saja, mengunjungi pengelolaan limbah kotoran yang diubah menjadi bio-gas dan digunakan untuk memasak di pondokan kami, dan menengok bagaimana mas Gungun bereksperimentasi dengan bedengan-bedengan tempat menanam buah dan sayur.




Siang itu kami melanjutkan membantu mamang-mamang ahli bambu membuat beberapa jenis bagian bambu. Saya menyaksikan bagaimana mereka menggunakan tulangan besi untuk menghubungkan potongan-potongan bambu yang kemarin kamu potong dan raut. Ujung dari tulangan besi itu dikunci dengan mur. Tidak banyak yang dapat kami lakukan karena kami harus segera beranjak dan berkemas untuk kembali ke Bandung. Para anak-anak UII itu mengejar kereta di Kiara Condong sebelum magrib.


*

Saya rasa, bukan hanya akhir-akhir ini, tetapi beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak sekali orang-orang kota yang mulai memiliki keinginan untuk kembali dan tinggal di desa. Bukan hanya sekedar memiliki rumah singgah saja di pedesaaan, tetapi benar-benar pindah ke desa untuk tinggal dan menghabiskan sisa kehidupannya untuk bercocok tanam. Memang, mungkin bagaimanapun juga dalam darah manusia Indonesia mengalir darah manusia bercocok tanam, yang memproduksi dan menghasilkan kebutuhan sehari-harinya sendiri, tidak seperti sekarang yang semua-mua serba beli. Ah, pantas lah itu banyak sekali produk-produk luar yang masuk ke Indonesia, karena betapa konsumtifnya manusia Indonesia akan segala jenis barang-barang.

Lalu, sejenak keluar dari aktivitas hiruk-pikuk kota yang serba tergesa dan basa-basi ini, saya tertegun mendapati betapa alam luar biasa penuh dengan sumber yang bisa diberdayakan ini, dan begitu menentramkan berada di antara hijaunya pemandangan yang menghampar ini.


---

updated 27 Desember 2015

Sudah lebih dari 2 minggu sejak saya kembali ke Jogja. Semua bagian bale-bale itu telah dirakit dan dinaikkan. Para mamang ahli bambu itu bekerja keras ditengah hujan yang sepertinya tak henti-henti mengguyur Soreang.




---

update 1 Maret 2016

Sudah Dua bulan lebih sejak struktur didirikan. Mungkin hujan menajdi kendala yang utama. Tapi akhirnya, selesai juga pembuatan balai-balai di lereng bukit area permakultur yang dikelola oleh mas Gungun.




[ ]


Saya tidak memiliki hak cipta terhadap semua foto yang ada di dalam postingan ini, kecuali foto nomor empat dari yang terakhir. Semua foto diambil dan dimiliki oleh Andrea Fitrianto, Uzie Fauzia Anniza dan ASF-ID.



#FIKSI / / / Sebuah Pernikahan

Monday, 6 July 2015

Di sebuah pernikahan, aku termenung mendapati kamu duduk menunggu ijab dikabulkan. Hari ini, aku merasa sangat pangling melihatmu dalam baju kabaya putih yang sangat sederhana, sesederhana kehidupan kita selama ini. Aku tak tahu kalau kamu bisa jadi se-manglingi seperti ini, seperti saat ini. Kamu hanya tersenyum menunduk ketika aku menatapimu dari deretan bangku-bangku yang disusun di depan rumahmu. Menunggu ijab.

Ingatanku membawaku ketika pertama kali kita berkenalan. Kapan ya itu? Aku lupa! Tahu-tahu, setiap pagi kamu sering sekali menyapaku, kadang-kadang mengajak makan siang atau makan malam di warung makan rumahan yang tersebar di dekat kosanmu. Kalau ada uang lebih, kita kadang pergi ke restoran di dekat jalan raya, hanya untuk sekedar numpang ngobrol sambil memesan menu paling murah.

Seingatku, kita jarang sekali mengobrol mengenai diri kita masing-masing. Ah, iya, itu karena, aku bukan orang yang ada dalam lingkaran pertemananmu. Aku hanya orang yang kebetulan sering kau temui di sebuah tempat dalam jangka waktu yang cukup lama. Aku tak tahu kalau kamu tak bilang kau punya kakak perempuan, atau kau pernah berpacaran dengan adik kelasmu semasa SMA sampai kita semester dua, atau kau yang ikut teater di luar kegiatan kampus, atau kau yang suka sekali mendengarkan musik-musik orkestra sampai kadang-kadang dibela-belain beli tiket konser tugas akhir SMSR tiap tahunnya. Aku tidak tahu dimana tempat tinggalmu yang sebenarnya, kau bilang Semarang maka aku cukup puas dengan jawaban itu, meski saat kemarin aku hendak berangkat menuju upacara pernikahanmu, aku baru tahu kalau kau bilang Semarang itu adalah bohong. Rumahmu jelas-jelas saja jauh dari Semarang, menjelang perbatasan sepertinya. Kamu juga tak pernah bilang kapan hari ulang tahunmu yang ternyata berdekatan dengan hari ulang tahunku. Iya, kamu tak pernah bilang. Begitu pula aku.

Aku tergagap ketika semua orang-orang yang menghadiri ijab itu serentak mengatakan syah.
"Syah!"
"Syaaaahhhh!"
"SYAH!"

Aku kembali melemparkan pandanganku kearahmu yang tersenyum lebar dalam ketertundukanmu. Lalu aku melihat, juru rias mengajakmu bangkit dari dudukmu untuk menuju laki-laki yang telah syah menjadi suamimu. Lama aku pandangi adegan itu dalam diam. Hei, kau tahu? Bahkan aku tak kenal siapa lelaki yang duduk di sampingmu itu manakala seorang wanita bersanggul molek mengerukupkan kerudung berenda putih diatas kepalamu dan laki-laki itu.

Aku selalu bertanya tanya pada diriku sendiri tanpa mau mengatakannya padamu. Dari sekian banyak laki-laki yang mendekatimu, yang sebagian besar aku tahu mereka dengan baik, mengapa laki-laki yang tak kukenal ini yang menjadi pilihanmu? Aku tak pernah mempertanyakan keputusanmu, atau hal-hal yang kau percayai, atau tindakan-tindakan yang tak kuketahui. Tidak pula aku meragukan hal-hal yang menrut hematmu, adalah hal-hal yang baik untuk dirimu. Bagiku, aku tak cukup dekat bila dibandingkan dengan teman-teman dalam lingkarmu itu, untuk mempertanyakan dan menuntut jawaban atas semua hal yang kau lakukan tanpa aku pahami alasan dan tujuan yang ingin kau capai.

Semua orang berdiri ketika prosesi itu selesai. Aku membeo dengan ikut berdiri sementara kau dan laki-laki itu digiring untuk masuk lagi ke dalam rumah. Sejenak, pandanganku bersitatap denganmu. Dan kau hanya tersenyum anggun lalu kemudian tertunduk dengan senyuman yang tiada habis-habisnya.

Pesta pernikahanmu siang itu begitu ramai, oleh orang-orang yang tak aku kenal yang berpakaian sederhana, kadang beberapa terlihat mencolok dengan padu padan warna yang norak, kerabat-kerabatmu mungkin, atau kerabatnya kerabatmu. Aku bosan sembari hilir duduk di dereta kursi yang paling dekat dengan kipas angin dan melihat orang-orang mengantri tak rapi di deretan bangku makanan. Orang-orang yang lapar dan jarang makan makanan kondangan. Membuatku malas untuk mengambil jatahku.

Akhirnya aku harus pulang tanpa sempat mengucapkan selamat atas pernikahanmu karena waktu yang sudah mepet. Besok aku ada meeting pagi bersama tim proyek. Sementara, orang-orang yang tak kukenal memenuhi antrian untuk bersamalan denganmu, menyelamatimu lalu berfoto bersama. Untungnya, kamu tak sengaja mengarahkan pandanganmu kepadaku dan aku hanya memberimu isyarat aku harus segera pulang sembari menunjuk jam tanganku dan mengatakan bahwa aku akan meneleponmu segera. Kamu hanya mengangguk kecil sembari tersenyum dan mata yang berkaca-kaca, berbinar karena haru dan senang.

Aku bohong ketika aku bilang aku akan menghubungimu segera. Yang ada, aku begitu menikmati kesibukanku dan terus menunda-nunda untuk berkabar denganmu.


*


Tahu-tahu, beberapa bulan pun berlalu dan aku menemukan pesan singkatmu lewat email yang terdampar di folder spam. Kita memang lebih sering bertukar kabar lewat email dibanding melalui media lain. Kau bilang, email memang kalah romantis dibanding dengan surat. Tetapi, lewat tulisan-tulisan yang panjang kita lebih leluasa bertukar rindu melalui kata-kata yang telah terseleksi.

Tapi emailmu itu email seminggu lalu.

Aditya,
Aku ingin berpamitan denganmu. Minggu ini aku akan pindah ke suatu tempat yang tak akan kamu ketahui. Aku tak mau bilang dimana, gimana dan mengapa. Dan, aku sangat menyesal tidak akan bisa datang ke acara pernikahanmu bulan depan. Maaf ya, setelah ini, pun sepertinya aku akan jadi teman yang sangat tidak baik. I miss you, and I will always miss you.
See you again when I see you.
Salam,
Aria

Aku terdiam. Sejenak tidak ada hal-hal aneh yang hinggap di pikiranku. Aku langsung mengambil handphone-ku dan mengetikkan sms ke nomormu bertanya mengenai emailmu. Pesan singkat itu terkirim. Tapi kamu memang tidak langsung membalas sms itu. Aku tahu kamu jarang sekali membuka handphone-mu. Jadi, aku pun menunggu.

*

Tapi, sejak smsku itu tidak kau balas selama berhari-hari, aku mulai cemas. Ah, mungkin juga beban kerja dan pernikahan yang sebentar lagi membuatku sedikit stress. Hingga aku memutuskan untuk menelepon nomormu. Berkali-kali panggilanku tidak tersambungkan, nomormu tidak aktif katanya. Lalu timbul prasangka mengenai emailmu itu. Apa memang benar, kamu berpamitan padaku seperti ini?

Berhari-hari, aku menghubungi teman-temanmu. Sebagian dari mereka bilang, mereka tidak tahu mengenai perihal kepindahanmu entah kemana itu, lebih tepatnya, kamu tidak memberi tahu mereka. Ada beberapa orang yang kamu pamiti, tapi lagi lagi mengatakan bahwa mereka tidak tahu. Hanya satu orang yang bersikap aneh ketika aku bertanya kamu pindah kemana. Ia hanya bilang bahwa kamu pindah untuk selamanya.



*

"See you again when the blue sky collapses."

[ ]



# ART / / / Gramophone Exhibition, Bentara Budaya Yogyakarta

Monday, 30 March 2015

(Girl with emerald)

“Maybe, we were born in the wrong era.” Quotes by MMF, 20150327.

*


Suatu petang di hari Kamis terakhir di bulan Maret, saya melintasi kompleks Kota Baru dari arah Kridosono ke utara. Sejenak menoleh ke arah timur, menatapi bangunan di sebelah utara Telkom. Gedung itu di atas pintu masuknya terdapat sebuah banner mengenai pameran yang berlangsung di sana. Gerimis kecil-kecil membuat saya enggak untuk mampir dan memilih bablas saja, dalam hati membuat catatan kecil untuk datang lagi ke sana esok.

Berjanjian bersama seorang teman, saya akhirnya datang ke Bentara Budaya Yogyakarta untuk menyaksikan pameran Gramophone yang ternyata telah berakhir kemarin sore. Petugas berkumpul di depan pintu masuk, sepertinya menunggu mobil angkutan untuk membawa kembali materi pameran ke rumah pemiliknya. Saya bertanya apakah masih boleh masuk meski saya telah melihat teman saya yang bersama teman saya yang lain telah masuk terlebih dahulu. Seorang wanita, kemungkinan besar adalah panitia, mempersilahkan saya untuk masuk melihat-lihat.

Ternyata, ada dua orang pengunjung lainnya, selain saya dan kedua teman saya itu.


Suasana ruang pamer lengang, bersamaan dengan beberapa materi yang telah diturunkan dari posisi pajangnya. Tetapi, ada sebuah gramophone yang masih berdiri di tempatnya, dan diletakkan paling jauh dari pintu masuk. Ah, pasti ini primadona dari pameran ini.




Sebuah gramophone tua yang telah dimodifikasi dengan penambahan motif bulu merah hijau. Kebetulan, teman saya yang lainnya, yang ikut datang, memakai terusan yang begitu matching ketika disandingkan dengan gramophone yang satu ini. Tetiba saya jadi ingat dengan sosok Nyi Ratu Kidul yang begitu khas dengan warna hijau emerald, seperti halnya color of the day-nya teman saya yang satu ini. Ah, tapi saya tak hendak membahas soal Nyi Roro Kidul di sini, mungkin juga tidak dalam waktu dekat.






Setelah puas berfoto, kamu bertiga mohon pamit dan mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang menunda pekerjaan beres-beres pameran dan membiarkan kami untuk masuk. Sore masih jauh. Tetapi langit mendung, mungkin semesta mendukung kami agar larut dalam suasana nyaman ini.


Secangkir kopi, gerimis, dan cerita-cerita. 

#JALAN-JALAN / / / Kulari ke Pantai

Saturday, 24 January 2015

(Ngetun)

Rather than the sea, I like the mountain the more. Because for me, the sea is full of melancholy. And the mountain, is full of myth and mystery. I like myth and mystery the more than melancholy. 
But, sometime I go to the sea, to re-memory.
That once you said to me, "Perhaps, currently,  we are seeing the same sea."

#RANDOM / / / BANDARA DAN SAYONARA

Tuesday, 20 January 2015

A really sad moment when you realized that you couldn't give certain answer when you would come back. That moment struck and gave a small pang in my chest. Still fresh in my mind, when I walked along that alley, pushing my troll, heading to the bus which would send me to the kaikan. What a beautiful dream is it?! Then I would leave all of you without any trace. You, all of you who came to my life, let's meet again in the future. Promise me?

*

Pagi itu saya bangun cepat. Sanae masih tertidur di tempat tidurnya. Saya merapikan futon dan bersiap untuk mandi. Setelah selesai saya melihat Sanae masih tertidur nyenyak. Kasihan dia, beberapa hari ini kerja part time di pagi hari dan kurang tidur. Saya meninggalkan pesan agar ia segera menyusul. Saya menarik kopor dan tas yang cukup berat keluar dari apartemen, menuruni lift dan bergegas menuju ke kampus.

Sungguh sial. Cuaca begitu cerah. Ah, mengapa tak sedikit pun hari ini berduka saya kembali ke negara saya? Pikir saya, sedikit romantis ya kalau kepulangan saya diiringi rintik-rintik hujan. Tapi, saya lebih suka melihat langit yang begitu biru melepas saya. Saya tak ingin saya lebih sedih lagi daripada saat ini.

*

Semua teman-teman Lab yang ingin mengantar saya terpaksa bangun pagi demi saya. Saya dapat melihat gurat kantuk di wajah-wajah yang menatap saya dengan senyuman. Kami masih bercanda saat memasukkan kopor saya ke dalam mobil yang entah mengapa kami dapat dari senpai Lab sebelah yang hari itu membawa mobil. Tetapi, ketika semua orang masuk ke dalam mobil, semua hening entah tak tahu harus membicarakan apa.

Check in di bandara yang cepat setelah kopor saya harus dibongkar paksa karena ada korek api baru di dalamnya, dan tentu saja, sebisa mungkin memesan kursi di samping jendela. Saya tak ingin melepaskan kesempatan untuk duduk memandangi langit yang beberapa bulan ini menaungi saya, langit yang menyatukan saya dengan orang-orang yang akan mengantar saya ini.

Waktu masih lama menuju boarding dan kami pun sempatkan untuk makan siang. Mereka semua kelaparan ternyata. Tetapi saya sudah enek sekali rasanya melihat makanan. Mungkin karena sedikit grogi juga untuk pulang. Saya menantikan kepulangan ini. Tetapi sungguh, kalau saya punya kesempatan untuk memohon kepada Tuhan sekali lagi, saya ingin tetap tinggal di sini selama saya bisa.

*

Waktu tiba dan perpisahan rasa-rasanya begitu ganjil. Semua orang berdiri melingkar dan saya mengatakan kalimat terakhir ke masing-masing dari mereka. Tak ada jabat tangan, tak ada pelukan, tak ada kata-kata selamat tinggal, tak ada kesedihan. Kami semua tertawa untuk terakhir kalinya sebelum saya meninggalkan mereka di depan imkgrasi. Hari itu seolah saya hanya diantar pergi ke kota sebelah dan besok akan bertemu lagi. Lisa memberikan saya sepucuk surat yang harus saya baca ketika di pesawat.

*

Sore itu, menikmati senja di jendela, saya tak bisa menahan tangis yang saya tahan sedari tadi pagi. Surat dari Lisa membuat saya sadar, bahwa saya hanya mampir saja di kehidupan mereka. Mereka akan dengan mudah dan cepat melupakan momen-momen bersama saya. Sementara saya, betapa hari-hari bersama mereka adalah surga yang dulu hanya impian di mata.

*

Sa.yo.na.ra.



*


sayonara sotto sotto
omoi wo mune ni
mata koko de kitto kitto
deaeru hi made
onaji sora zutto zutto
yume oikakete
ima wa tada mabushikute


*



[ ]