#RANDOM / / / JEPANG DAN NATAL

# JALAN-JALAN / / / STUDY TRIP AROUND FUKUOKA

#JALAN-JALAN / / / Rush Morning

Tuesday, 9 December 2014


You felt at ease, watching the scenery moves outside the train windows. It was quite morning, yet so busy and hasty. The next day you would come back to the south, maybe farther than you thought the following weeks. How this dream would end up, was out of your mind. A hope grew, a worry dismissed. Maybe you'll find a way, traveling far to the north, once again. Someday. Perhaps.

#JALAN-JALAN / / / 8 jam di Tokyo

(Typically Tokyo suburb)

Pagi itu di pinggiran kota terasa tenteram. Saya dan Yaya berjalan menuju stasiun Aobadai melewati landskap perumahan di pinggiran Tokyo yang berbukit-bukit. Matahari Desember memang terik, tapi tanpa panas yang berarti. Kami berpisah di Shibuya setelah saya membeli tiket sekali jalan untuk hari itu. Teman saya yang saya tumpangi itu hendak pergi ke Kampus di hari Minggu. Sungguh sayang sekali tetapi bagi saya, jalan-jalan sendiri malah lebih menyenangkan dan tak menarik perhatian.
Tujuan pertama tentu saja Shibuya. Selfie dan berfoto sepuasnya di simpang paling terkenal di Jepang. Dulu saya cuman bisa membayangkan macam apa tempat ini lewat komik, tapi tiba-tiba rasanya semperti meloncati dimensi yang berbeda dan saya sudah ada di dalamnya.
(Ordinary Monday morning in Shibuya)

Bergegas dari Shibuya saya menuju Harajuku sembari berjalan kaki. Mampir sebentar di Yoyogi Park lalu menuju Takeshita-dori. Ada satu hal lucu yang saya sadari ketika memasuki kompleks Yoyogi Park. Pada semester 2 saya di jurusan Arsitektur UGM, saya masuk ke dalam kelompok studio arsitektur dari Pak Ikaputra yang waktu itu mengambil nama kelompok Kenzo Tange. Kami sempat membahas karya-karya Kenzo Tange yang salah satunya adalah Yoyogi Park Stadium. Sometimes it is funny, how universe connects the past and the future, right?





Setelah puas berkeliling Yoyogi Park, saya langsung menuju Takeshita-dori yang itu tuh Harajuku banget. Sepanjang jalan banyak orang-orang ber-cosplay. Banyak toko-toko menarik yang rasa-rasanya pengen masuk untuk lihat-lihat. Tapi mengingat waktu dan kantong yang cekak, saya cuman mampu membeli crepes yang saya nikmati sembari berjalan menuju omotesando-station dan drooling melihat bangunan-bangunan di sepanjang bukit yang foto-able banget.
(takeshita-dory at my first)

(Banana cream crepes)
Sebenarnya, ada banyak jalur menuju ke Tokyo Skytree dari omotesando. Tapi saya yang malas ini langsung deh naik satu jalur yang muter-muter dan lebih lama tetapi tak perlu ganti kereta dan langsung turun di stasiun Oshiage stasiun yang ada di bawah Tokyo Skytree. Malam memang turun terlalu cepat di bulan Desember dan sampai-sampai di Tokyo Skytree, saya melewatkan sunset. Padahal kayaknya bagus banget kalau bisa sunset-an di kompleks ini.

(One fine evening at Roppongi Hills)
(Just bellow Tokyo Sky tree)
(Strolling around Tokyo Sky tree and it was already night)
Tujuan selanjutnya setelah Tokyo Skytree adalah ke Nakagin Tower. Teman saya bersikeras saya harus ke Nakagin Tower karena ada isu beredar bahwa Nakagin Tower akan dihancurkan karena usianya yang lebih dari 20 tahun dan sudah tidak layak untuk ditinggali lagi. Itu berarti dari Oshiage saya harus menuju Ginza. Iya, Ginza yang terkenal banget karena glamor dan penuh Yakuza. But, it was not really something like that tho. Yang saya temui malah jalanan yang begitu lengang hampir tak ada orang satu pun yang berjalan kaki. Ya kalau dibandingkan dengan Tokyo Skytree yang ramai pengunjung.


(Ginza illumination)

Meski gelap-gelapan sampai di depan Nakagin Tower dan hanya foto sekiranya. Jujur saja. Saya agak paham manakala pemerintah Jepang mempunyai rencana untuk menghancurkan Nakagin Tower. Keadaannya yang begitu tak terawat menurut saya juga jadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan kualitas hidup yang ada di sana. Memang saya tidak masuk, tetapi dari luar terlihat masih ada beberapa kamar yang lampunya menyala menandakan bahwa ada orang yang menghuni salah satu ruangan diantaranya. Hanya saja, mungkin agak disayangkan bila rencana penghancuran Nakagin akan dilaksanakan tahun depan. Bagaimana pun, saya agak ngefans juga dengan gerakan Metabolisme arsitektur Jepang yang muncul bersamaan dengan gerakan Archigram di Eropa.
(Gloomy Nakagin)

(Just bellow Nakagin) Please pardon my bad quality camera.


Berjalan kaki dari Nakagin Tower, saya menyempatkan untuk jajan di kombini untuk sekedar beli onigiri sembari menuju Tokyo Tower yang kata peta, aksesibel dari Nakagin Tower berada. Well, di Jepang google maps sungguh sangat membantu. Bahkan jadwa kereta pun tepat dan akurat!

Ketika melewati Higashishinbasi dan berbelok ke kanan (itu kalau kata peta lho) saya terkejut karena pemandangan ujung Tokyo Tower yang sudah terlihat. Setengah tergesa saya mempercepat langkah saya untuk menuju Tokyo Tower. Jantung saya berdebar. Entah mengapa soundtrack yang terputar adalah sountrack Ma-kun di dorama Jepang, Tokyo Tower.


(Tokyo Tower at its finest) *crying* *happiness overload*

Waktu itu, ketika memandangi lampu-lampu gedung yang ada di bawah menara pandang 1 Tokyo Tower, saya berpikir sembarangan, Oh, God, sekarang saya bisa mati dengan tenang. Tapi buru-buru saya membuang pikiran itu. Pemandangan seperti ini rasanya addicted sekali. Saya masih ingin berkeliling dunia melihat berbagai macam hal. Memang kata Soe Hok Gie, orang yang paling beruntung adalah orang yang mati muda. Tetapi, mati muda dan tak melihat apa-apa pasti akan sangat membosankan.


*

Extra from me.
OST of Tokyo Tower Drama.




[ ]

#JALAN-JALAN / / / Osaka Tower until a Smooth Landing in Tokyo

*a very late post*


Pagi setelah bersama-sama Tsias keluar dari Osaka Dormitory, saya berjalan sendiri menuju stasiun Suita. Mampir sebentar di kedai udon untuk sekedar sarapan. Saat menunggu di peron, saya iseng ambil brosur turis berbahasa inggris dan memutuskan untuk pergi ke Osaka Tower (Tsutenkaku). Dari Suita langsung menuju ke Ebisucho.

Keluar-keluar dari stasiun dan menuju permukaan kota, langsung saya ketemu Tsutenkaku. Sesaat rasanya saya tercekat melihatnya. Dan karena masih cukup pagi jadi tidak begitu ramai, dan cuaca yang sedang cerah-cerahnya (padahal saya bawa payung dari Fukuoka karena takut hujan), saya pun jalan-jalan di pertokoan sekitaran situ.




Sesudah bosan, akhirnya saya memutuskan untuk segera saja ke KIX untuk bersiap menuju Tokyo (yeah!). Setidaknya di bandara bisa duduk-duduk nyaman dan internetan gratis. Maklum lah saya buka sosmed cuman berbekal internet gratis yang enaknya di sediakan di beberapa public space di Jepang. Saat mau pulang, eh, ketemu deh mbak mbak kawaii yang meski angin dingin menusuk tulang dan membuat saya harus merapatkan coat tetap saja asyik ber-cosplay kostum santa. Saya jadi ingat teman saya yang rikues buat dikirimi mbak mbak Jepang kawaii dan akhirnya saya mita ijin ke mereka untuk memfoto mereka. Meski awalnya mereka enggan, tapi setelah saya jelaskan bahwa saya turis dan cuma di Osaka selama 2 hari, akhirnya mereka mau.



Perjalanan menuju KIX sungguh sangat lancar tanpa hambatan karena saya memilih jam penerbangan malam dan waktu itu masih begitu sore. Dari Ebisucho saya pun merunut jalur yang sama seperti saat saya datang di Osaka. Di stasiun Tengachaya, saya pun berganti kereta dan langsung mengambil kereta cepat menuju KIX.

(Good bye, Osaka! 'Till we meet again.)


*

Sampai di Narita saya pun segera beregas menuju stasiun untuk segera menuju ke tempat Yaya di Fujigaoka  yang sungguh sangat jauh. Perjalanan mungkin memakan waktu sampai 1 setengah jam. Karena takut hal serupa di Osaka terulang, saya tak banyak pikir langsung naik saja kereta pertama yang akan berangkat. Saya mengeluarkan buku catatan kecil saya dan mengulang-ngulang dimana dan kapan saya harus turun. Karena untuk menuju Fujigaoka yang ada di sebelah barat Tokyo, harus berganti kereta 2 kali, tidak cukup sulit. Tapi banyak sekali stasiun yang harus saya lewati.

Dari Narita menaiki jalur bandara langsung menuju pusat kota, gerbong yang saya naiki mulai bertambah penumpangnya. Sampai stasiun Nippori saya harus berganti kereta tetapi bingung kemana saya harus berjalan. Setelah bertanya ke petugas stasiun dengan bahasa isyarat, saya pun akhirnya naik JR menuju ke Shibuya.

(First Landing in Tokyo)

Karena sudah di Shibuya, saya nekad untuk menikmati simpang di Jepang yang terkenal banget. Ah, gila. Saya berdebar tidak karuhan. Tapi, kenikmatan sesaat itu terhenti karena saya yang harus mengejar kereta menuju ke Fujigaoka. Mudah sekali dari Shibuya menuju Fujigaoka. Tetapi perjalanan memang jauh dan saya pikir, 'Well, I think I can make it today!'. Dan benar! Saya bisa dengan selamat sampai Fujigaoka tanpa harus menggembel menunggu kereta pertama. Yah, saya nggak bisa ngebayangin deh, karena sungguh area Yayak tinggal sungguh pinggir kota dan begitu sepi.

Untungnya, saat saya bingung mau keluar ke arah mana, Yayak yang juga baru pulang dari kampus menyapa saya. Dan, akhirnya saya pun menuju asrama Yayak dengan perasaan tenang. Malam ini saya rasa saya bisa tidur. Esok petualangan di Tokyo menanti.


[ ]