#CULTURE / / / Kyudai-sai Autumn 2014

Sunday, 23 November 2014

Masih kelanjutan dari kelas Japanese Tea Ceremony.

Tahun ini, di festival kampus, anak-anak Suehiro-sensei laboratorium berniat untuk membuat sebuah paviliun yang digunakan untuk menampilkan Japanese Tea Ceremony yang ditujukan keapda mahasiswa interansional di lingkungan Kyushu University. Dan saya beserta teman-teman yang ikut kelas Japanese Tea Ceremony harus perform untuk Kyudai-sai. Benar-benar pengalaman yang berarti bagi saya.

Selama dua hari festival, cuaca sungguh sangat cerah. Untuk ukuran akhir bulan November di Jepang, dua hari itu sangat cerah, dan sedikit panas. Saya rasa, festival sunggul sangat sukses. Apalagi pavilion kami yang bentuk dan strukturnya unik sekali itu mengundang banyak orang. Yah, meski di hari pertama tim bambu mengalami permasalahan, tetapi di hari kedua, paviliun untuk Shado ini berhasil didirikan dengan sukses.












#CULTURE / / / Japanese Tea Ceremony

Saturday, 22 November 2014

Beberapa hari setelah tiba di Fukuoka dan mulai aktif di Lab, salah satu teman mengajak saya untuk ikut kelas Japanese Tea Ceremony yang diadakan tiap hari Jumat di lingkungan asrama saya.

*

(Bukan ini sih, tapi saya suka gambar ini)
(Cha-do)

Japanese tea ceremony, atau cha-do adalah sebuah pertunjukan seni meracik matcha (green tea powder) oleh host kepada guest. Biasanya Japanese tea ceremony ini diadakan di ruangan tradisional Jepang (ruangan bertatami) yang diluarnya terdapat Japanese garden. Seni meracik teh ini banyak dipengaruhi oleh aliran Zen Budhism yang dibawa dari Cina. Yeah, since the original tea is from China so that is why. Ah, jaman dulu, menikmati teh ini sangat mewah karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membeli teh.

*

Kebetulan, memang kelas  ini dipergunakan untuk mengenalkan budaya Jepang kepada anak-anak mahasiswa asing yang ada di Kyushu University. Tapi anak-anak Lab yang orang Jepang juga ikut karena persiapan untuk festival kampus di minggu ke tiga November.

Sebenarnya tata cara-nya tidak lah begitu rumit. Cuman harus duduk bersimpuh dan tulang belakang tegak. Ini sungguh sangat menyiksa karena sekali latihan bisa sampai berjam-jam dan kaki kram. Ada sensei yang mengajari kami mulai dari menjadi guest hingga menjadi seorang host yang meracik dan menyajikan matcha. Ingatan yang tajam untuk mengingat langkah-langkah dari ceremony sangat diperlukan. Selain itu, gerakan harus luwes dan anggun, tenang tetapi tegas. Sungguh susah sekali. Tapi, kegiatan ini selalu saya tunggu kedatangannya tiap akhir pekan.

Yak, karena kelasnya ketat banget, saya hanya punya sedikit foto kegiatan kami.








Sekarang, saya boleh lah katakan kalau saya sudah bisa melakukan tea ceremony, meracik dan menyajikan matcha. Pengalaman ini sungguh berarti bagi saya.

[ ]



#JALAN-JALAN / / / Gunkanjima - Battleship Island, Nagasaki

Friday, 21 November 2014

Only once in your live, a chance in a million.

Mungkin itu yang saya rasakan ketika menjejakkan kaki untuk pertama kali di Gunkanjima di siang yang mendung itu.

*

Jadi, suatu ketika, teman lab saya bilang kalau Ghali, anak lab studio desain di Kyudai Ohashi Campus mengajaknya untuk ikut tour ke Gunkanjima. Kali itu sebenernya dia telat memberi tahu saya. Tapi pun kemudian saya bertanya ke Ghali semisal saya bisa ikut atau tidak. Dan ketika akhirnya boleh, saya pun seneng banget rasanya bisa ikut ke sana. Sebenarnya biayanya lumayan banyak, 5000 yen. But, since it was in Nagasaki and we should take a boat to this island, 5000 yen was worth to.


(Tenki ga ii ne?)
(Koyo atmosphere in Ohashi)
(Ginko tree next to Ohashi Campus)
Pagi itu cerah banget ketika saya jalan dari stasiun Takeshita menuju Ohashi Campus yang agak jauh dari asrama. Padahal prakiraan cuaca mengatakan kalau akan hujan seharian. Hm, dan di sepanjang jalan menuju ke Ohashi Campus, musim gugur rasa-rasa-nya kental sekali. Well, pagi itu saya kecepetan 15 menit. Karena saya takut telat dan ditinggal, jadi saya memang jalan dari asrama 1 jam sebelum jam janjian. In time lah ya. Tapi, teman saya yang bilang mau ikut itu malah pas mau berangkat belum datang juga. Dan jadinya kami harus menunggunya selama 15 menit dan baru jalan. Tapi lupakan aja lah dia, saya mau cerita tentang Gunkanjima saja di sini.

*

Sedikit tentang Gunkanjima. Nama asli dari pulau ini adalah Hashima Island, tetapi populer dengan julukan Gunkanjima yang artinya Battleship Island. Pulau ini terletak di sebelah selatan Kyushu, tepatnya selatan semenanjung Nagasaki. Ya, Nagasaki yang dulu di bom atom di akhir Perang Dunia ke 2 itu.

Pulau ini dulunya dibuka oleh pemerintah sebagai salah satu tambang batu bara di daerah Nagasaki. Pulau ini lalu dibeli oleh perusahaan Mitsubishi dan mulai diperlebar serta dibangunlan berbagai fasilitas tempat tinggal bagi para pekerja. Pulau ini dihuni hampir selama 1 dekade, tepatnya dari tahun 1887-1974. Dulu, pulau ini salah satu area terpadat penduduk di Jepang karena dengan kepadatan penduduk 835 orang perhektar dan 1391 orang perhektar pada wilayah pemukiman. Perumahan, sekolah dari SD sampai dengan SMA, pemandian umum, pusar perbelanjaan, bioskop bahkan pacinko juga dibangun di tempat ini sebagai penunjang kebutuhan para pekerja. Dan ketika negara api menyerang, eh, ketika batu bara tidak populer lagi, tahun 1974, Gunkanjima pun resmi ditutup.

Sekarang, pulau ini kosong. Bangunannya rusak berat. Konstruksinya tua dan mungkin suatu ketika akan runtuh. Semacam sampah arsitektur yang berukuran besar tersangkut di laut. Hm, tapi, dengar-dengar, di pulau ini James Bond - Skyfall syuting di sini. Tapi saya nggak tahu pakai yang sebelah mananya. Lalu juga ada film horor Thailand tentang 5 siswa yang memfilmkan pulau ini lalu terjadi sesuatu. Dan yang paling terakhir juga, katanya dipakai buat syuting Attack of Titan, film adaptasi dari komik.

*

Menjejakkan kaki di Gunkanjima, rasanya sampai ke sebuah tempat yang benar-benar antah berantah. Di tengah laut, di pulau yang tak berpenghuni dengan kota mati di atasnya, awan mendung dan sedikit gerimis, serta burung-burung hitam beterbangan bebas. Rasanya, seperti jadi sekelompok orang yang survive setelah kehancuran dunia.



(first landing)






Kami menyusuri Gunkanjima. Melihat bangunan bertingkat banyak dengan langgam arsitektur modern pertama yang dibangun di Jepang. Tidak hanya melihat puing-puing bangunan itu dari luar, tetapi juga masuk ke dalam menyusuri lorong bangunan-bangunan tersebut. Sebenarnya, tour biasa tidak akan memperbolehkan orang buat masuk ke area dalam bangunan. Karena bangunannya tua dan sangat berbahaya sekali kalau terjadi sesuatu, runtuh misalnya. Dan kami memang telah menyetujui kalau kamu tahu hal itu dan tetap ingin masuk. Yah, makanya saya bilang ini mungkin once in a life time kan.


(Kami turun di Sport Ground di depan Elementary and Junior High School, menyusuri jalan kecil antara Kindergarten dan Hospital menju Welfare Company Cafeteria Housing dan Mountain St untuk memandang Gunkanjima dari titik tertinggi pulau itu. Kami lalu masuk ke Welfare Company Cafeteria Housing dari lantai teratas lalu turun menuju ke lantai bawah, menuju Cinema dan berjalan ke sisi antara Children's Park dan Sea Barrier. Lalu jalan menuju Steel Pole Plant dan jalan melewati rute tur yang sebenernya. Di dekat Dolpin pier, kami lanjut memutari pulau untuk balik lagi ke Sport Ground.)

















Saya sendiri merasa kalau puing-puing ini sebenarnya tak akan ada maknanya kalau orang tidak tahu bahwa dulu itu adalah pulau tambang batu bara berpenghuni terpadat di dunia pada masanya. Ya, karena memang yang kita lihat adalah puing-puing saja. Mungkin bagi saya, dan kamu-kamu, dan sebagian orang tempat ini menarik. Sisanya, mungkin merasa kalau tempat ini adalah sebuah sampah arsitektur yang benar-benar susah untuk dikelola.
















Pemerintah Nagasaki juga agaknya bingung mau diapakan bangunan ini. Mau dihancurkan tetapi terlalu sayang karena sejarah bangunan ini. Mau dipertahanin tapi bangunan ini setiap tahun diterjang topan badai karena berada di tengah lautan. Kadang kalau badai parah banget, ombak setinggi 9 meter menyapu bangunan ini. Sungguh sulit sekali untuk dikelola. Kabarnya, pemerintah bersama pihak Universitas - Senseinya Ghali yang mengadakan acara ini- akan mengajukan Gunkanjima sebagai salah satu kandidat warisan budaya dunia ke UNESCO bersama dengan beberapa bangunan di Nagasaki lainnya.

(Good bye, Gunkanjima. See you, after I get a miracle to meet you, in the future, maybe)


Pas balik, kami mampir ke Mitsubishi Museum. Yah, nggak begitu berminat sih, karena gitu-gitu aja. Cuman perahu pajangan di dalam kacanya kece banget! Selebihnya, isinya biasa aja. Pas pulangnya, tiba-tiba langit mendung sedikit lebih cerah. Senja warnanya aneh, eh, ternyata ada pelangi kecil. Lumayan. Tapi rasanya komplit sekali hari ini. Saya jadi tak sabar buat hari Sabtu-Minggu Kyudai-sai.









*

Btw, tahu manga judulnya Air Gear nggak? Sesaat, saya jadi ingat pulau tempat geng-nya Totemkin kalau melihat Gunkanjima.

*

Related nice article you should read also about this island.
Gunkanjima Island in BLDGBLOG.
Ghosts of Gunkanjima in JPGMAG.

[ ]