#CULTURE / / / Workshop Keramik dan Batik, Tembi

Monday, 16 June 2014

Di awal minggu lalu saya tak sengaja nyasar di markas Dorx yang lama dan bertemu dosen saya. Saya diminta untuk ikut serta dalam sebuah acara berjudul [proto:type]Y2014 yang diadakan oleh HoFN bekerjasama dengan Cellsbutton (itu lho yang outletnya ada di Malioboro mall).



Saya nggak tahu ya, apa acara ini tahunan atau enggak, yang pasti tahu ini diadakan dan acaranya bermacam-macam dan menarik. Mulai dari seminar, workshop, touring, dll. Karena rangkaian acaranya panjang banget dan saya yang sibuk, akhirnya saya memutuskan saja untuk daftar workshop yang akan diadakan di daerah Tembi Bantul. Saya promote juga di facebook, seorang dosen muda juga ikut promote, pengajaran kampus juga promote, KMTA Wiswakharman juga udah ikut promote, tapi entah lah saya tak mengerti mengapa pas saya datang di workshop itu tak ada anak arsi UGM satu pun yang ikut kecuali saya. Kebetulan, temen sekantor juga ikut, nggak tau deh ikut-ikutan saya atau memang pengen ikut, hahahahaha. Padahal acaranya ini gratis dan jarang kan ke Tembi kalau bukan karena ada acara-acara macam ini.

Sebenernya, saya tahu sih, ini acara pasti hipster banget. Soalnya panitianya itu adalah anak HoNF (House of Natural Fiber FabLab) yang notabene orang-orang gaul yang super hipster gitu. Tapi memang di lapangan hipster banget lah.

*

Jadi sebenernya harusnya workshop dimulai hari sabtu, dan malamnya nginep di Omah Tembi, dilanjutkan dengan acara workshop lagi di hari minggu. Tapi, berhubung saya telat regristrasi ulang saya jadi nggak bisa ikut nginep. Akhirnya, minggu pagi itu saya naik motor boncengan bareng temen saya untuk ke Tembi yang ada di Jalan Parangtritis Bantul.

Sampai di sana? Sumpah, super nggak jelas. Saya kira ya, ini poster udah kemana-mana sampai di gang deket kosan saya, pasti pesertanya banyak dan bule-bule, eh, ternyata, ibu-ibu yang jadi tutor keramik malah sibuk bikin keramik sendirian. Aneh banget lah itu pokoknya. Tapi lumayan sih, jadi satu anak semacam bisa bareng satu ibu-ibu yang jago bikin keramik.



(siska, teman saya lagi nyobain bikin asbak)


(yang bikin udah pro, form awalnya aja udah bagus)

Nah, awalnya, saya ditutorin bareng satu ibu ini. Saya nggak tahu sih beliau namanya siapa. Tapi beliau ini ternyata tinggal di Pundong, desa pengrajin keramik tanah liat gitu. Jadi untuk workshop hari ini, mereka - si ibu ini beserta teman-temannya - diundang khusus untuk memberikan tutor pembuatan keramik. Beliau ini telah jadi pengrajin selama 20 tahun. Ibu dari ibu pengrajin keramik ini dulunya juga pengrajin keramik, keramik tanah liat perkakas dapur, macam anglo, tungku, kendil, dll. Dalam sehari, ibu ini bisa membuat 200-300 keramik tanah liat. Keramik tanah liat ini biasanya datang pesanan, untuk souvenir pernikahan. Coba tebak harganya berapa. Seribu rupiah hingga dua ribu rupiah! Bayangkan! Betapa susahnya membuat keramik tanak liat ini, prosesnya yang lama, tapi harganya begitu murah. Duh, nggak ngerti lagi deh.




Kata ibu ini, membuat keramik itu harus telaten, harus hati-hati, harus pakai perasaan. Papan di bawahnya harus diputar dengan kecepatan yang konstan. Jangan tersendal-sendal, tapi juga jangan terlalu pelan. Tanah liat diambil dan diletakkan di tengah-tengah. Harus di tengah-tengah dari piringan alasnya. Kalau tidak di tengah-tenah persis, pasti keramiknya akan penyol-penyol. Tangan harus selalu dibasahi agar licin dan tanah liat tidak menempel. Kalau tanah liat menempel, nanti keramik tanah liatnya jadi tidak halus. Tapi jangan terlalu banyak air, nanti malah jadi sangat lembek dan mudah penyok. Posisi tangan juga ada tekniknya sendiri. Jangan terlalu kuat, nanti penyok, jangan terlalu kendor, nanti nggak jadi-jadi. Beda piringan beda hasil. Ada yang terbuat dari besi, memutarnya lebih halus, lebih lancar, tapi kesenggol dikit pasti jatuh. Ada yang terbuat dari cor-coran beton, memutarnya berat, lebih susah daripada palai piringan besi, tapi antep. Saya sempat nyoba bikin keramik di tempat ibu-ibu pengrajin yang lain dan hasilnya jauh beda dengan ketika saya bersama ibu-ibu yang awal tadi. Ibu itu bilang, membikin keramik memang perlu belajar lama. Tidak bisa sehari langsung bisa -ya, kecuali orang itu prodigi sih ya-. Ibu itu dulu juga selama rentang waktu tertentu diworkshop dari lembaga pelatihan kerja untuk membikin keramik tanah liat ini. 



(si ibu lagi bikin vas)
(hasil keramik bikinan saya. Agak penyok karena ganti piringan alas)
(yang ini gagal juga karena tangan kurang dibasahi)
(terlihat jelas perbandingan antara pro dan amatir)
(yang vas terpancung itu punya siska)

Sayangnya keramik yang saya buat tidak bisa langsung saya bawa pulang. Karena proses yang akan dilaluinya ternyata masih panjang. Keramik-keramik yang telah dibuat ini kemudian harus di jemur sampai kering. Setelah kering, keramik tanah liat harus di oven. Ovennya tentusaja besar sekali, sebesar rumah. Tungku yang dipunyai ibu ini memiliki 3 tungku - tiga lubang memasukkan kayu maksudnya-. Sekali pembakaran bisa selama satu hari. Itupun sekali bakar bisa mencapai seribu keramik kecil-kecil. Ya, kalau untuk kejar setoran, kadang 500 keramik juga bisa. Tapi proses pembakaran juga cukup sulit. Api harus konstant. Panasnya harus merata kalau tidak keramik bisa retak pecah-pecah. Selain itu, bahan bakarnya masih kayu dan senantiasa harus ditunggui tak bisa ditinggal karena harus memasukkan kayu ketika nyala api berkurang. Tapi katanya, biasanay workshop di Tembi ini karya keramik bisa diperoleh setelah dibakarkan oleh ibu-ibu pengrajin ini. Entah kapan karya saya bisa saya bawa pulang.


Nah, setelah itu ada lagi workshop membatik. Membatik itu sulit sekali. Damn, sulit sekali. Meski di rumah pernah diajari bapak saya, tapi tetap saja membatik itu sulit sekali. Malam -wax- harus dipanaskan sampai encer betul dan terus dipanasi. Canting harus diisi, jangan terlalu penuh, jangan terlalu sedikit. Memegangnya pun ada caranya tersendiri. Setelah mengambil malam di canting, harus diteteskan dulu di tempat lain sebelum membatik. Kain yang akan dibatik harus dalam posisi miring. Posisi canting dan bibir canting harus agak naik agar malam tak langsung deras menetes. Canting itu dipakai menggambar secara simultan, terus menerus. Sebaiknya sebuah garis tidak terputus di tengah jalan, karena kalau terputus nanti tetesan pertama dari canting selanjutnya menjadikan pola tidak bagus. Orang yang punya tangan tremor agak kesusahan di motif panjang-panjangini. Juga harus hati-hati betul agar malam tak menetes ke kain, nanti pasti akan meninggalkan bintik. Malam di dalam canting juga harus dalam keadaan terus cair. Kalau sudah susah menetes celukan lagi canting agak lama baru mengambil lagi dan memulai menggambar lagi.


(yang kain di bawah itu punya saya. Belepotan banget. >,<)
Memang benar-benar susah sih, harus teliti, harus telaten. Pun malam yang digambarkan itu harus merembes sampai ke belakang kain agar polanya bolak balik, kalau tidak, ya harus diulang lagi agar polanya tertutup semua. Setiap orang juga punya gaya sendiri-sendiri saat memegang canting. Saya diolok-olok kaya megang steples sama ibu-ibu yang mengajari membatik. Lucu juga sih, soalnya kalau agak ketengah nanti kena tetesan malam yang masih panas. >,< Dan saya paham betul sih betapa sungguh harga batik tulis asli pantas mahal. Yang bikin harus telaten dan rapi. Belum lagi kalau pewarnanya langka. Wuih, harga bisa selangit.

Tentang pewarnaan batik. Ada dua jenis pewarnaan, pewarnaan celup dingin dan pewarnaan celup panas. Pewarnaan dingin itu biasanya digunakan untuk pewarna-pewarna alami yang biasanya warnanya lebih awet. Sedang pewarnaan panas macam menaptol ulang jeans, itu agak kurang awet. Dan yang kami lakukan kali ini adalah pakai pewarnaan celup dingin. Jadi kain yang telah digambari motif batik itu yang tidak akan kena warna. Pertama-tama kain dimasukkan ke dalam larutan pengikat warna, beberapa kali celup, ditiriskan lalu masuk ke larutan pewarna. Kain yang awalnya berwarna kekuning-kuningan itu tiba-tiba menjadi berwarna merah. Seperti sulap, bukan main. Setelah dicelup beberapa kali proses diulangi sekali lagi agar warnanya tajam. Setelah dicelup warna lantas dimasukkan ke dalam air yang mendidih di atas kompor untuk melarutkan malamnya. Kain ditiriskan, lalu dijemur diangin-anginkan.





Dan jadilah kain batik. Kan tiba-tiba saya jadi kebayang bagaimana orang-orang ini membikin batis tulis yang kainnya panjang-panjang. Ah, pasti susah banget, ribet. Pantaslah, harga mahal batik saya rasa sedikit bisa membayar jerih payah sang pengrajin.

Sebenarnya setelah workshop batik ada workshop energi spiritual. Ah, tapi mungkin tidak akan saya ceritakan di sini karena bakalan absurb banget. Selain itu juga ada band performance yang hipster banget lah. Panggungnya benar-benar bergaya panggung dan tampil pas di samping sawah. Aneh banget lah itu acara. hahaha


Dan seharian itu berakhir dengan hujan yang mengguyur jogja dengan derasnya. Ya, udan salah mongso.

[ ]

#CULTURE / / / Grebeg Ruwah

Sunday, 15 June 2014

Entah, saya juga tak tahu mengapa tiba-tiba saya terdampar dan melihat grebeg ini berlangsung.

*

Sabtu 14 Juni harusnya saya ikut workshop di Tembi (read my related post), tapi ternyata gagal akrena harus ngurus regristasi ulang yang saya lewatkan di hari Kamis di Kampus Widya Mataram, Ngasem ke Barat. Sempat temangsang (lagi) di Seminar Culture and Future karena materinya yang lumayan bagus. EH, pas pulang entah mengapa tiba-tiba bapak tukang jga parkir kampus bilang kalau sebentar lagi akan ada grebeg apeman yang lewat di jalan depan kampus.

"Pasti ini ada artinya, bapak-bapak tukang parkir itu memberitahu kita tentang grebeg apeman. Kita harus melihat grebeg ini. Mungkin ini pertanda dari alam semesta." begitu kata teman saya. Eh, serius lhoh, dia memang berkata seperti itu kepada saya. Alhasil saya dan teman saya, berhenti sejenak untuk melihat grebeg apeman ini. Dan, setelah agaknya setengah jam, rombongan grebeg apeman ini akhirnya terlihat juga.

(pembersihan jalur parade)

(barisan awal mulai terlihat di belakang mobil patroli)

(barisan pembawa dupa)
(barisan penabuh gamelan)

(mungkin semacam tetua kaena pakaiannya beda sendiri)






Sayangnya, parade orang-orang yang mengarak gunungan apem ini tidak terlalu ramai. Jadi ya, sekitar sepuluh menit parade ini pun lewat begitu saja dari hadapan saya dan teman saya. Kami pun menertawakan hal konyol ini dan bergegas pergi ke TBY, untuk menikmati perhelatan seni di Jogja yang satu ini. Ah, tapi maaf, saya cuma posting dikit tentang ArtJog 2014 karena saya tak begitu menikmati pameran yang satu ini.

*

Grebeng adalah prosesi adat sebagai simbol sedekah dari pihak Kraton Yogyakarta kepada masyarakat berupa gunungan. (sumber: link ini). Di Jogja sendiri, grebeg dilakukan 3 kali dalam setahun, grebeg mulud (awal bulan Maulud) atau terkenal sebagai grebeg Sekaten, grebeg Syawal (ketika menjelang Idul Fitri) dan grebeg Besar (ketika menjelang Idul Adha). Kata grebeg berasal dari kata gumrebeg yang memiliki filosofi sifat riuh, ribut dan ramai.

Untuk grebeg Ruwah ini sebenarnya dulu sekali pernah diadakan. Tetapi kemudian terhenti dan mulai tahun ini katanya akan mulai dilaksanakan kembali. Saya kurang tahu sih mekanismenya gimana. Tetapi, yang saya tangkap, grebeg ini dilakukan oleh semua desa yang ada di dalam jeron benteng kraton. Prosesi ini dilakukan sendiri-sendiri oleh tiap desa. Padahal kalau dikoordinasikan dengan baik antar satu desa dengan desa lain, grebeg ini pasti akan ramai dan meriah sekali.

[ ]

#ART / / / ARTJOG 2014




Seorang bapak tua, duduk sendirian di sebuah ruang gelap. Ia bercerita tentang si Joko. Si Joko yang umunya 4-5 tahun lebih dari 60. Si Joko yang sudah tua dengan muka bergelambir dan suka merokok - bisa habis 1-2 bungkus tiap hari. Si Joko yang ditinggal istri dan anaknya. Si Joko dapat warisan kotak kayu dari canggahnya. Canggah itu setingkat diatas buyut. Jadi, kotak kayu itu milik bapaknya bapaknya bapaknya bapaknya si Joko. Kotak kayu itu tidak terlihat terlalu tua. Isinya adalah satu set wayang. Dulu Canggahnya itu adalah seorang dalang. Bukan dalang gaya Jogja atau Solo. Tapi dalang pesisisan. Kalau tidak salah, Canggahnya itu dari daerah Tegal atau mana gitu.


Temukan dia, bapak yang bercerita tentang si Joko di ArtJog 2014.

*

Biar nggak mainstream, post tentang artjog 2014 ini saja. Soalnya artjog sekarang malah jadi ruame banget dan orang-orang yang datang ke sana nggak banget lah pokoknya.

[ ]

#ART / / / OHD Museum lalu ke SaRanG Building

Sunday, 8 June 2014

Tiba-tiba jumat sore itu Mbak Russel, bos tempat saya kerja sambilan, randomly, mengajak saya dan teman kerja saya untuk pergi ke OHD Museum yang letaknya di Magelang. Berbekal internet, akhirnya alamatnya pun dapat juga.

*

Kami berangkat dari Jogja kira-kira pukul 10.00. Rencananya memang, mbak Russel ini akan bertemu dengan teman kerjanya pas di Jakarta yang kebetulan sedang main ke Jogja bersama rombongan kantornya. Perjalanan menuju OHD Museum yanga da di tengah kota Magelang cukup lengang. Tapi ketika masuk area Grand Aeros, macetnya, parah. Kami sampai dapat 3 kali lampu merah. Dari perempatan itu ambil jalan lurus dan melewati hutan cemara super keren yang katanya di dalamnya ada semacam seminari. Melihat hutan cemara itu rasanya ingin sekali masuk berpetualang mendaki bukit itu. Melewati bukit itu, entah lewat jalan apa, akhirnya kami sampai juga di OHD Museum yang ternyata agak masuk-masuk dari jalan utama. Sampai di sana langsung terkagum-kagum dengan fasad bangunan yang super keci abis. Lorong masuk ke area Museum juga kece. Ngarsitek banget lah pokoknya, nanti bisa di lihat di foto-foto yang terlampir.

(OHD Museum - Oie Hong Djien Museum.
Alamat Jl. Jenggala No 14 Magelang)

Setelah beli tiket, akhirnya masuk. Tiketnya 25.000 bagi pelajar/mahasiswa. Mbak Russel pun ketemu temannya yang dari Jakarta itu lalu ngobrol sendiri. Kami masuk dan melihat isi pamerannya. Kebetulan, waktu itu lagi ada pameran tunggal H. Widayat -ah, yang ternyata juga masuk bagian dari rentetan acara artjog 2014 -. Sebenarnya tujuan kami ke museum ini adalah untuk melihat bangunannya yang kece sekaligus belajar arsitektur museum. Kan kebetulan memang Mbak Russel dulu tugas akhirnya juga galeri, sedang saya dan teman saya juga bikin museum, saya museum hutan dan teman saya museum batik.











Setelah puas lihat dalamnya langsung ke luar. Eh, ternyata di pintu ada tanda dilarang foto. Padahal saya udah foto banyak banget di dalam. Ah, ya sudah, maafkan saya ya, hehehehe. Sampai di luar, langsung deh foto-foto dengan background dinding beton dengan motif bekisting kayunya yang super kece. Tapi karena mau mengejar makan siang dan sholat, akhirnya buru-buru juga. Eh, tapi malah temangsang lagi di lorong masuknya yang ah, sudah lah, saya capek bilang keren terus.


(background foto kece)


(partner kunjungan kali ini, Siska)
(mbak kantor alias bos saya, mbak Russel)
(dari kiri: saya, siska, mbak Russel)







*

Setelah makan, dan sholat, langsung deh mau jemput temannya Mbak Russel yang nginep di hotel Tentrem. Yap, hotel Tentrem yang itu tuh. Sekali ini deh saya masuk ke sana. Gilak, udah itu bangunan gedhe banget, interiornya juga keliatan mahal. Metal laser cut coba, betapa mahalnya itu saya tak bisa membayangkan. Belum lagi fasadenya yang pakai trampertin, lantainya yang homogeneous tile marmer. Ah, mboh neh. Hotel itu pokoknya gilak lah. Dan meski sudah ditanyain ke resepsionis ternyata temennya Mbak Russel nggak ada, atau pihak hotelnya yang nggak mau ngasih tahu (?) entah. Yang pasti akhirnya kami berangkat ke SaRang Building tanpa temannya Mbak Russel itu.

Sampai di SaRang sudah sore dan cahaya mataharinya lagi nggak cerah. Padahal kalau cerah akan ada efek keren gitu kata Mbak Russel. Masuklah ke SaRang yang sekali lagi, bangunannya kece abis. Dinding bata susun eksposnya kece abis. Naik ke galeri yang di atas, lagi ada pameran, nggak tahu apa, (hahahahaha), eh, malah takjub dengan jendela putar dan lorong berisi penuh tanaman. Ah, denger-denger, ini bangunan dirancang oleh arsitek Malaysia, begitu penuturan yang punya galery ketika kami nggak sengaja bersisipan dengan beliau yang sedang tour bareng tamunya. Foto sana sini, kalap sudah.









Lalu kami pindah ke bangunan di depan SaRang. Entah apa itu namanya, tadi bapak pemilik SaRang yang baik hati merekomendasikan kami untuk melihat pameran di bangunan seberang. Oh, ternyata memang lagi ada pameran, 'Memajang Boleh Saja, Asal Ada Artinya', kira-kira begitu tagline-nya (atau ini judul pamerannya ya?). Jalan masuk, bangunannya biasa, masuk lagi, langsung tercengang dengan galeri berbentuk gudang yang disulap jadi ruang pamer. Kece. Mana semuanya dicat monolit jadi serasa solid. Detail bangunannya, materialnya, finishingnya, rapi banget. Maaf kalau pembaca tak bisa membayangkan, mending datang langsung deh biar tahu apa yang saya maksud (hehehe). Yang dipamerin juga keren-keren.








*

Ah, sungguhlah ini weekend lengkap sudah kegembiraan saya.

[ ]