#ART / / / 15 Tahun Romo Mangun

Friday, 16 May 2014

Ibadah seni lagi. Kali ini memang sejak jauh-jauh hari saya merencanakan untuk datang ke pameran 15 tahun mengenang Romo Mangun.



Kalau berbicara tentang Romo Mangun, saya akan selalu ingat pada sebuah novel berjudul Burung-Burung Manyar (yang dicetak ulang dan diluncurkan bertepatan dengan 15 tahun menganang Romo Mangun). Ketika saya masih SMA (meski saya sendiri juga belum pernah membacanya), bagi saya,  Romo Mangun adalah seorang sastrawan, budayawan. Perkenalan saya dengannya yang seorang arsitek adalah ketika saya masuk ke Jurusan Arsitektur UGM. Ternyata beliau itu adalah dosen pengajar di jurusan Arsitektur UGM, dulu, dulu sekali. Beberapa muridnya yang sekarang menjadi dosen saya, terpengaruh oleh pola pikir dan gaya arsitektur yang ia populerkan. Arsitektur tukang. Karyanya yang saya kenal betul adalah revitalisasi pemukiman kali Code, yang entah sudah berapa kali saya keluar masuk ke sana untuk memotret, bikin film, cari inspirasi, atau sekedar hanya jalan-jalan sore belaka. Bukunya Wastu Citra seolah jadi kitab wajib bagi semua arsitek di Indonesia untuk menganal lebih mendalam apa itu hakikat arsitektur.

Ah, sudah. Saya tak akan ngobrol panjang lebar tentang romantisme saya terhadap tokoh yang satu ini. Saya akan bercerita mengenai pameran yang saya datangi di Bentara Budaya dalam rangka mengenang 15 tahun wafatnya Romo Mangun.

*

Jadi hari itu hari sabtu siang dan saya datang ke Bentara Budaya bersama dua orang teman saya yang lagi nganggur di kos. Sebenarnya hari itu H-1 penutupan. Jadi ya, lumayan sepi. Hanya ada saya dan teman saya, seorang perempuan, dan sekelompok anak muda. Saya hanya foto-foto sedikit saja.




Foto yang nge-hits banget di pameran ini dan jadi objek foto-foto. Yang ngelukis keren sih menurut saya. Keren banget. 

Saya rasa, ini karya paling mahal ya. Paling mahal secara harafiah dan sesungguhnya. 

Ini detal dari karya di atas. Sekarang kamu tahu kan maksud saya mahal dalam artian apa. 

Pisang!!!! Kece banget ini lukisan. By the way, saya juga lihat karya pisang di pamerannya anak SMSR di TBY kemarin.



*

Begitulah. Sebenarnya ada seminarnya di hari Jumat. Tapi saya lupa sih itu kenapa saya nggak nonton. Sekian. Sampai jumpa di ibadah seni selanjutnya.

No comments :

Post a Comment