#ART / / / Adoh Ratu Cedhak Watu

Sunday, 23 March 2014

Lama sekali saya tidak menulis di blog ini ya. Kali ini saya mau sedikit cerita mengenai sebuah pameran seni yang diadakan oleh ikatan seniman Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo tanggal 13-18 Maret 2014 lalu. Sebenarnya, teman satu kosan saya yang cerita kalau di Gunungkidul akan ada pameran seni rupa. Karena belum pernah sekalipun saya sempat lihat pameran seni di Gunungkidul, akhirnya saya bertekad untuk datang.

Sebenarnya, beberapa minggu terakhir, di rumah, ayah saya sibuk sekali melukis. Sejak, em, mungkin ada sekitar 10 tahun lamanya, saya tak melihat ayah saya melukis lagi. Dulu saya sering diajak berkeliling Gunungkidul untuk mencari objek lukisan oleh ayah saya. Lalu suatu hari ketika pulang kerumah, saya lihat ia sedang duduk di depan kanvas seukuran jendela, melukis di teras depan rumah. Waktu itu, ayah saya bilang  mau diikutkan pameran. Tapi saya tak sempat berpikir kalau memang pameran yang hendak saya datangi beberapa minggu setelahnya itulah yang menjadi alasan ayah saya melukis.

*



Jadi, pameran babadseni #3 yang diselenggarakan di Bangsal Sewokoprojo 13-18 Maret 2014 di Gunungkidul ini berjudul Adoh Ratu Cedhak Watu. Kira-kira literatifnya adalah Jauh dari Ratu/Raja Dekat dengan Batu. Makna yang lebih mendalam adalah menggambarkan Gunungkidul sebagai daerah yang begitu jauh dari perhatian pemerintah dan pusat kepemimpinan di Kota Jogja yang menjadikan rakyatnya dekat sekali dengan kesengsaraan. Pameran ini adalah sebuah kritik kreatif yang dilakukan oleh para ikatan perupa Gunungkidul terhadap eksistensi masyarakat setempat yang berhasrat memperoleh peluang dan kesejahteraan yang sama dengan masyarakat yang berada di puat pemerintahan. Tentu saja hal ini menjadi fokus pemberdayaan masyarakat tanpa harus mempertimbangkan dan klasifikasi apakah kelompok masyarakat tertentu sebagai masyarakat terbelakang, masyarakat miskin kota, maupun masyarakat tertinggal atau masyarakat binaan.

Yah, jadi kira-kira seperti itu makna dari judul pameran yang tertuang di prakata dai bapak Netok Sawiji dan Rusnoto Susanto (Tau deh siapa mereka). Yang pasti saya hanya mengutip dari kalimat mereka yang saya baca di buku katalog pameran. Dijual hanya 5 ribu saja dan menurut saya itu murah sekali. Entah deh mereka dapat untung ngeprint katalog itu atau tidak.

Sayangnya, waktu berkunjung saya tak bawa kamera dan tak bisa mengabadikan suasana pameran. Waktu itu saya barusan sampai rumah dan mengajak ayah saya untuk nonton pameran. Dan, akhirnya, sekeluarga berangkat deh nonton pameran (lagi - ya, jadi malam sebelumnya ternyata mereka sudah nonton tanpa saya) sekalian makan malam di luar. Oleh karena itu, aku saya sertakan hasil scan-scan-an katalog yang saya beli dipameran.








Menurut saya, lumayan sih, cukup banyak karya yang keren-keren dan mengundak decak kagum, entah karena tekniknya, hasil gambarnya, atau makna di dalam lukisannya. Tapi karena kebanyakan anggota dari ikatan perupa gunungkidul ini adalah angkatan tua yang gaya lukisannya masih realis-surealis-abstrak dengan teknik cat minyak di atas kanvas, ya, jadi seperti itu lah kira-kira. Ada sih, 3 orang generasi muda, salah duanya seumuran saya. Lukisanya menggunakan media kertas concord dengan mix media cat air dan tinta (drawing pen), juga sculpture yang kontemporer ala generasi muda banget. Dari 26 perupa, hanya satu yang perempuan dan dua diantaranya adalah petani.

Meski sepi pengunjung (ya, karena memang masih sedikit sih penikmat seni di Gunungkidul) tapi pamerannya keren. Lain kali kalau ada pameran sejenis, saya akan berusaha untuk bawa kamera biar bisa diabadikan.


Sampai jumpa dikegiatan berseni lainnya.

[ ]

No comments :

Post a Comment