#FIKSI / / / Gambyong

Saturday, 29 March 2014

Langit cerah sekali siang itu. Awan berarakan ke arah barat, samar-samat terlihat dari jendela tinggi di studio seni rupa. Sayup-sayup, terdengar suara gaduh murid-murid di luar studio. Aku bersandar pada kursi kayu lawas sambil menatap awan-awan itu dengan pandangan hampa. Kanvas berukuran 100 x 200 cm dihadapanku itu masih kosong, tak ada satu gores sketsa pun di sana. Benar-benar kosong, seperti pikiranku, seperti lamunanku.

"Surya, kamu belum mulai menggambar?" tiba-tiba guru seni rupaku telah berdiri di sampingku. Sekonyong-konyong aku tergagap dari lamunanku, dan refleks membenarkan dudukku yang serampangan.

"Anu, belum ada ide mau gambar apa, pak." kataku sambil nyengir dan garuk-garuk kepala.

Guru seni rupaku itu mendecak tak sabar.
"Ingat, minggu depan sudah harus mulai mewarnai, lho. Aku harap kau bisa selesaikan sketsamu sampai akhir minggu ini."

"Ba, baik, pak." jawabku gugup. Ia melenggang pergi menuju anak-anak yang lain, lalu melaju keluar studio seni rupa.

Kelas mulai ramai, anak-anak yang dari tadi tekun menghadapi kanvas mereka mulai jalan-jalan di dalam kelas, melihat kerjaan teman-teman yang lain. Aku menarik napas dan menghembuskannya cepat-cepat. Aku tak mungkin akan menyelesaikan sketsa hari ini. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Anggit sedang menggambarkan Janu seekor kuda, kepala hingga leher. Aku beranjak dari kursiku dan menghampiri mereka.

"Kalian gambar apa?" tanyaku sambil melongok ke kanvas Anggit dan Janu bergantian. Anggit masih diam, sepertinya berkonsentrasi menggambarkan Janu. Janu hanya nyengir dan tak menjawab. Kanvas Anggit sedikit sekali gambarnya, tipis saja. Ada seorang perempuan yang duduk di jendela yang besar, membelakangiku.

"Sketsamu gini doang?" tanyaku kepada Anggit yang beranjak kembali ke tempat duduknya. Dan ia hanya nyengir lebar tak menjawab pertanyaanku.

"Jan! Janu!" teriak Pram dari depan pintu. Serentak kami bertiga menoleh ke arah Pram. Ia tergesa-gesa sekali masuk ke dalam studio. Beberapa anak kelas menatapnya dengan tatapan penasaran.

"Gawat! Kamu harus ikut aku." katanya sambil menarik Janu berdiri dari duduknya. Tubuh Pram yang besar dengan mudah menarik Janu yang sama besarnya berdiri dari kursi. Tapi Janu sedikit mengelak dengan menarik kembali tangannya.

"Apaan sih?" tanya Janu penasaran.

"Pokoknya gawat! Kamu harus ikut."

"Apa? Ada yang berkelahi?"

"Udah, jangan banyak tanya, pokoknya kamu ikut saja!" kata Pram sambil kembali menyeret Janu untuk bergerak. Pram menatapku dan Anggit yang terpaku di tempat.

"Kalian berdua ikut juga."

Tanpa memberi penjelasan, ia menyeret Janu keluar. Aku dan Anggit saling mengerling satu sama lain lalu menyusul mereka. Di luar studio, beberapa anak berjalan menuju ke arah Hall, arah yang sepertinya dituju Pram dan Janu. Aku sebenarnya cukup heran. Memang ini jam pelajaran terakhir dan sebagian kelas pasti sudah selesai. Tapi mengapa banyak dari mereka berlarian menuju Hall seperti sebuah eksodus Musa dari tanak Mesir?

Di Hall, ramai sekali. Suaran gending dan lagu jawa terputar lewat speaker Hall. Pram dan Janu yang berbadan besar segera saja merangsek maju, membukakan jalan bagiku dan Anggit yang celingukan. Aku menemukan Jay berdiri di deretan depan sambil menatap ke tengah Hall.

"Hoo, kalian sudah sampai." katanya sekilas lalu menatap ke tengah Hall lagi.

Aku lalu mengikuti pandangan Pram dan mendapati hal paling mengejutkan. Ada seseorang yang sedang menari di tengah sana. Tama. Ya, anak perempuan tomboy yang berada dalam lingkaran pertemanan Janu, Jay, Pram dan Anggit. Anak perempuan yang akhir-akhir ini ikut latihan 3 on 3 kami berlima di belakang rumah Janu. Anak perempuan yang berambut pendek bergelombang berkacamata yang tak pernah memperhatikan penampilannya itu kini sedang menarikan tari tradisional jawa, Tari Gambyong. Begitu luwes, begitu menjiwai, begitu memikat, begitu wanita, begitu cantik, begitu mempesona.

Aku terpana melihatnya menari. Aku memang mendengar dari Anggit kalau Tama memang menari sejak kecil. Tapi kupikir tak akan sepandai ini menari. Ingatanku kembali berputar ke saat aku masih kecil, umur 7 tahun mungkin. Pertama kali aku melihat kakak sepupuku yang waktu itu sedang lomba dan menarikan tarian ini. Waktu itu, untuk pertama kalinya aku melihat bahwa perempuan itu bisa secantik ini. Ya, secantik ini!

"Tama cantik ya, kalau sedang menari." kata Anggit entah kepada siapa. Dan aku hanya terdiam karena begitu terpesona.

Tangannya yang gemulai melakukan gerakan tari yang tak kumengerti bagaimana bisa ia lakukan. Ia begitu cantik. Apakah biasanya Tama secantik ini? Bergoyang kiri kanan, tangan kanan dan kirinya menekuk bergantian, lalu menyibakan selendang seperti membelai angin, lalu menggoyangkan tangannya bergantian. Ia begitu cantik. Apakah Tama memang secantik ini? Lalu kedua tangannya memegangi selendangnya, berjalan mundur maju mundur lalu berputar dua kali. Ia begitu cantik. Ia merunduk dengan sikap badan yang tegap, menekuk lututnya lalu naik lagi, menggoyangkan tangannya kiri dan kanan, memutar selendangnya. Lalu musik melambat dan tarian Gambyong itu selesai. Ya, Tama memang secantik ini. Gemuruh tepuk tangan di Hall membuyarkan lamunanku.

Tama yang berdiri di tengah Hall sepertinya juga tak sadar ia telah jadi tontonan anak-anak satu sekolah. Ia mengernyit heran sambil tersenyum lebar sekali. Ia menunduk sambil berputar di tempat, berterimakasih. Yang terakhir ia menghadap ke arah kami, ke arahku dan Janu, Jay, Pram dan Anggit.

"Tama, kamu keren banget!" teriak Janu sambil mengacunginya 2 jempol tangannya. Tama tertawa lepas sekali mendengar pujian dari Janu.

Lalu pandangan kami bertemu. Ia tersenyum penuh percaya diri sama seperti biasanya, seolah berkata, 'Aku keren kan!' Dan aku sama sekali tak bisa membalas senyuman itu. Kepalaku serasa melayang.

Barusan, ia menghempas sesuatu ke suatu tempat di dadaku. Dan diam-diam aku telah menemukan apa yang akan aku lukis di kanvasku.


[ ]

You want to see what is Tari Gambyong? Please check this link.
Or, see this video bellow.


#ART / / / Adoh Ratu Cedhak Watu

Sunday, 23 March 2014

Lama sekali saya tidak menulis di blog ini ya. Kali ini saya mau sedikit cerita mengenai sebuah pameran seni yang diadakan oleh ikatan seniman Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo tanggal 13-18 Maret 2014 lalu. Sebenarnya, teman satu kosan saya yang cerita kalau di Gunungkidul akan ada pameran seni rupa. Karena belum pernah sekalipun saya sempat lihat pameran seni di Gunungkidul, akhirnya saya bertekad untuk datang.

Sebenarnya, beberapa minggu terakhir, di rumah, ayah saya sibuk sekali melukis. Sejak, em, mungkin ada sekitar 10 tahun lamanya, saya tak melihat ayah saya melukis lagi. Dulu saya sering diajak berkeliling Gunungkidul untuk mencari objek lukisan oleh ayah saya. Lalu suatu hari ketika pulang kerumah, saya lihat ia sedang duduk di depan kanvas seukuran jendela, melukis di teras depan rumah. Waktu itu, ayah saya bilang  mau diikutkan pameran. Tapi saya tak sempat berpikir kalau memang pameran yang hendak saya datangi beberapa minggu setelahnya itulah yang menjadi alasan ayah saya melukis.

*



Jadi, pameran babadseni #3 yang diselenggarakan di Bangsal Sewokoprojo 13-18 Maret 2014 di Gunungkidul ini berjudul Adoh Ratu Cedhak Watu. Kira-kira literatifnya adalah Jauh dari Ratu/Raja Dekat dengan Batu. Makna yang lebih mendalam adalah menggambarkan Gunungkidul sebagai daerah yang begitu jauh dari perhatian pemerintah dan pusat kepemimpinan di Kota Jogja yang menjadikan rakyatnya dekat sekali dengan kesengsaraan. Pameran ini adalah sebuah kritik kreatif yang dilakukan oleh para ikatan perupa Gunungkidul terhadap eksistensi masyarakat setempat yang berhasrat memperoleh peluang dan kesejahteraan yang sama dengan masyarakat yang berada di puat pemerintahan. Tentu saja hal ini menjadi fokus pemberdayaan masyarakat tanpa harus mempertimbangkan dan klasifikasi apakah kelompok masyarakat tertentu sebagai masyarakat terbelakang, masyarakat miskin kota, maupun masyarakat tertinggal atau masyarakat binaan.

Yah, jadi kira-kira seperti itu makna dari judul pameran yang tertuang di prakata dai bapak Netok Sawiji dan Rusnoto Susanto (Tau deh siapa mereka). Yang pasti saya hanya mengutip dari kalimat mereka yang saya baca di buku katalog pameran. Dijual hanya 5 ribu saja dan menurut saya itu murah sekali. Entah deh mereka dapat untung ngeprint katalog itu atau tidak.

Sayangnya, waktu berkunjung saya tak bawa kamera dan tak bisa mengabadikan suasana pameran. Waktu itu saya barusan sampai rumah dan mengajak ayah saya untuk nonton pameran. Dan, akhirnya, sekeluarga berangkat deh nonton pameran (lagi - ya, jadi malam sebelumnya ternyata mereka sudah nonton tanpa saya) sekalian makan malam di luar. Oleh karena itu, aku saya sertakan hasil scan-scan-an katalog yang saya beli dipameran.








Menurut saya, lumayan sih, cukup banyak karya yang keren-keren dan mengundak decak kagum, entah karena tekniknya, hasil gambarnya, atau makna di dalam lukisannya. Tapi karena kebanyakan anggota dari ikatan perupa gunungkidul ini adalah angkatan tua yang gaya lukisannya masih realis-surealis-abstrak dengan teknik cat minyak di atas kanvas, ya, jadi seperti itu lah kira-kira. Ada sih, 3 orang generasi muda, salah duanya seumuran saya. Lukisanya menggunakan media kertas concord dengan mix media cat air dan tinta (drawing pen), juga sculpture yang kontemporer ala generasi muda banget. Dari 26 perupa, hanya satu yang perempuan dan dua diantaranya adalah petani.

Meski sepi pengunjung (ya, karena memang masih sedikit sih penikmat seni di Gunungkidul) tapi pamerannya keren. Lain kali kalau ada pameran sejenis, saya akan berusaha untuk bawa kamera biar bisa diabadikan.


Sampai jumpa dikegiatan berseni lainnya.

[ ]