#SASTRA / / / Pada Sebuah Pantai: Interlude

Friday, 21 February 2014

- Goenawan Mohamad



Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Yakni ketika pasang berakhir, dan aku
menggerutu, “masih tersisa harum lehermu”; dan kau tak
menyahutku.

     Di pantai, tepi memang tinggal terumbu,
     hijau (mungkin kelabu).
     Angin amis. Dan
     di laut susut itu, aku tahu,
     tak ada lagi jejakmu.

     Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari
sebuah dongeng tentang jin yang memperkosa putri yang
semalam mungkin kubayangkan untukmu, tanpa tercatat,
meskipun pada pasir gelap.

     Bukankah matahari telah bersalin dan
     melahirkan kenyataan yang agak lain?
     Dan sebuah jadwal lain?
     Dan sebuah ranjang & ruang rutin, yang
     setia, seperti sebuah gambar keluarga
     (di mana kita, berdua, tak pernah ada)?

     Tidak aneh.
     Tidak ada janji
     pada pantai
     yang kini tawar
     tanpa ombak
     (atau cinta yang bengal).

     Aku pun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,
berberes dalam sebuah garis, dan berkata: “Mungkin tak ada
dosa, tapi ada yang percuma saja.”

     Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Dan itulah soalnya.

     Di mana ada keluh ketika dari pohon itu
     mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan
     ketika kini tinggal panas & pasir yang
     bersetubuh.

     Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
     di mana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-
     kalimat biasa berlarat-larat (setelah semacam
     affair singkat), dan kita menelan ludah sembari
     berkata: “Wah, apa daya.”

     Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk
menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.

     Lagi pula dalam sebuah sajak yang sentimentil hanya ada satu
dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir!

     Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah
memberi tanda DILARANG NANGIS.

     Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang
padaku.

     Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
     mungkin pula tak kekal.
     Kita memang bersandar pada mungkin.
     Kita bersandar pada angin

     Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
     Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.

     Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga
pada sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut
pada lokan, mungkin akan tetap juga di sana – apa pun
maknanya.




(1973)

#RANDOM / / / Lupa

Monday, 3 February 2014

Lupa memang sesuatu hal yang wajar terjadi ketika sedang buru-buru. Lupa juga kadang jadi alasan yang dimakhlumi oleh orang banyak. 'Eh, kamu bawain bukuku nggak?' "Waduh, aku lupa!" 'Ya sudah lah kalau memang lupa. Besok saja ya.' Ya, sering kali lupa menjadi senjata ampuh.Tapi, menjadi pelupa itu tidak enak. Lupa meletakkan kunci motor padahal sedang buru-buru mau pergi, atau kadang lupa meletakkan HP dimana padahal mau segera dipakai, atau lupa membayar tagihan listrik sampai ditagih dan diancam listriknya mau diputus, dan lain-lain.

Ngomong-ngomong soal lupa dan pelupa, beberapa hari ini saya mengalami tingkat sakit lupa yang akut sekali. Memang, dari dulu saya sudah pelupa, kadang teman saya malah bilang saya kena alzeimer saking parahnya ingatan saya. Jadi begini ceritanya.

Kira-kira dua hari lalu saya sedang buru-buru mau mengirimkan paket. Waktu itu saya sedang tak punya amplop, kertas dan lakban, padahal siang itu juga harus mengirim dokumen dalam keping CD yang juga saya belum punya dan hardcopy-nya yang juga belum saya print. Intinya saya harus mengirimkan 2 paket tapi yang mau saya kirim itu semuanya belum siap.

Dari kosan menuju warung saya mengulang-ulang untuk jangan lupa membeli CD beserta wadahnya. Di sebuah tempat print-print-an, saya berhasil ngeprint file hardcopy sekalian beli amplop dan juga lakban. Sekembalinya di kos-an, saya baru sadar, saya lupa membeli keping CD dan wadahnya. Karena saya malas, saya mengacak-acak laci meja saya, siapa tahu menemukan CD kosong. Tapi memang sayang sekali, saya harus kembali ke tempat print-print-an itu untuk beli keping CD dan wadahnya. Sekembalinya di kos-an, lagi-lagi saya kelimpungan mencari lakban yang tadi saya beli. Padahal saya ingat tadi sudah saya masukin ke dalam tas tetapi tidak ada. Karena sudah benar-benar malas untuk kembali ke tempat print-print-an tadi, akhirnya saya pasrah. Dan pergi ke kantor pos untuk mengirip paket itu meski sebelumnya sempat meminta lakban kepada petugas. Kejadian semacam ini baru sekali itu saya alami, dan terjadi sekali lagi hari ini.

Karena tak ada jatah makan siang di kantor temapt saya bekerja selama 2 bulan ini, saya selalu menyempatkan diri untuk membeli roti 2 buah dan juga air mineral. Kebetulan saya mampir di Indomart dekat yang sejalan menuju tempat saya bekerja. Hari itu entah mengapa tiba-tiba saya ingin beli coki-coki. Setelah membayar semuanya, saya berangkat ke kantor. Siangnya, pas jam makan siang, saya bermasuk nyemil coki-coki yang tadi saya beli. Setelah saya cari di kantorng palstik maupun di tas -yah, jaga-jaga kalau-kalau jatuh di dalam tas-, ternyata tak ada. Saya ingat-ingat, sepertinya tadi petugasnya sudah memasukkan ke kantong plastik. Saya cek nota juga sudah terhitung biaya yang harus saya bayar. Tapi tetap saja tidak ada. Saya ingat-ingat lagi kok tapi saya nggak ingat apa tadi memang sudah dimasukkan atau belum.


Penyakit lupa saya ini sepertinya akut sekali. Dan menjadi pelupa itu sulit. Salah satu kerugiannya ya seperti cerita saya di atas. Satu hal yang saya pelajari dari dua kejadian di atas adalah bahwa kita harus mengecek dulu belanjaan sebelum meninggalkan toko. Kalau ada yang ketinggalan, kan nggak malas balik lagi ke toko tersebut. hehe.



[ ]

#BOOK / / / Lukisan Neraka

Sunday, 2 February 2014

dan cerpen pilihan lainnya.



Di akhir bulan Januari lalu saya kembali mendapati sebuah iklan oleh page Penerbit Mahda di home FB saya. Berisi penawaran beli buku satu akan dapat gratisan satu buku yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Saya lirik, ada satu buku yang menarik perhatian saya dan memang saya targetkan untuk membelinya dalam waktu dekat. Lukisan Neraka karya  Ryunosuke Akutagawa. Lirik lagi, harganya menggiurkan, dalam hal ini termasuk murah karena hampir selirih sepuluh ribu dengan beli di Gramed. Tapi sekarang saya pikir-pikir, kok beli online sama saja dengan beli di Gramed. Ya sudah lah. Tapi kan gratis satu buku lain.

Pada akhirnya saya tak jadi beli Lukisan Neraka dan membeli buku berjudul Botchan karya Natsume Soseki, walau pada akhirnya juga digratisi Lukisan Neraka dari si penerbit itu. Hahahahaha, licik sih karena memang beli Botchan gratis Lukisan Neraka dan kebalikannya. Berhubung Botchan lebih murah, saya pikir, ya sama saja, ongkos kirimnya juga lumayan. Lalu pada akhirnya paket itu sampai juga setelah 3 hari menunggu (kena hari sabtu minggu soalnya).



Yah, tapi disini saya baru akan cerita tentang buku Lukisan Neraka. (Yang Botchan menyusul ya, belum saya tamatin). Awal ketertarikan saya untuk beli buku ini adalah saat melihatnya di Togamas. Saya jarang sih baca novel-novel dari penulis Jepang. Biasanya novel-novel terjemahan barat karena genre-nya. Paling baru baca karya Haruki Murakami saja. Ketertarikan saya semakin timbul ketika lihat judul dan keterangan di belakang novel, ya kebetulan nggak ada yang bukaan jadi saya nggak bisa nebeng baca, hehe. Saya bertekad suatu ketika saya akan beli buku aneh ini.


Buku ini terdiri dari 6 cerpen karya Ryunosuke Akutagawa. Cerita pertamanya adalah Lukisan Neraka. Cerita pendek ini berkisah mengenai seorang pelukis bernama Yoshihide yang memiliki perilaku yang eksentrik tetapi sangat menyebalkan, angkuh dan sombong karena kemampuannya dalam menciptakan karya seni lukisan pada jamannya. Lukisannya selalu menjadi kontroversi, meski begitu sering juga membuat orang tercengang dan berdecak kagum mengakui kehebatannya. Meski demikian, ia memiliki seorang putri kesayangan yang masih muda, yang amat ia cintai.

Pada saat itu, tinggallah seorang pangeran benteng yang terkenal akan kebaikan hatinya sehingga dipanggil sebagai Pangeran Besar. Putrinya ini, bekerja sebagai pembantu pengurus rumah Pangeran Besar dan menjadi salah satu pegawai yang dicintai oleh para penghuni kastil seperti permaisuri, anak pangeran, dan selir istana serta pekerja lainnya. Orang-orang ini malah merasa kasihan karena si putri pelukis harus memiliki ayah yang benar-benar tak normal itu. Yoshihide dipercaya menggunakan kekuatan hitam untuk menyelesaikan semua lukisannya.

Pada suatu kesempatan, Yoshihide ini diminta oleh Pangeran Besar untuk melukiskan penyekat ruangan dengan tema Neraka. Yoshihide ini melakukan segala cara untuk dapat menggambarkan siksa neraka yang ingin ia gambarkan dalam penyekat ruangan permintaan Pangeran Besar. Segala cara yang dilakukan Yoshihide ini sangat absurb, aneh, dan membuat saya yang baca saya membayangkan betapa ngerinya. Yah, sebaiknya kamu baca sendiri karena nanti kalau saya beri tahu malah nggak asyik.

Yang pasti, pada suatu ketika, Yoshihide menghadap kepada Pangeran Besar karena memiliki satu kendala dalam menggambar Lukisan Neraka ini. Kendala itu adalah ia ingin melihat api neraka. Tapi tak mungkin, Yoshihide ini pergi ke neraka dulu baru kemudian kembali dan meneruskan lukisannya. Oleh karena itu, ia meminta kepada Pangeran Besar untuk bersedia membakar sebuah kereta yang berisi seorang pendosa. Ia ingin menyaksikan bagaimana kobaran api melahap kereta berisi seorang berdosa itu untuk digambarnya dan menyelesaikan Lukisan Neraka pada penyekat yang Pangeran Besar inginkan.

Anehnya, Pangeran Besar ini mengabulkan permintaan aneh Yoshihide. Malahan ikut menonton pembakaran kereta berisi pendosa itu. Gila, kan! Ya, saya saja yang hanya membaca dan berkhayal mengenai cerita ini saja ngeri. Ah, apalagi kalau kau baca bagaimana detail yang Akutagawa-san ini deskripsikan. Hiiiii....

Ngomong-ngomong soal cerpennya yang lain, menarik. Kalau selain Lukisan Neraka saya paling suka cerpennya dalam buku itu yang berjudul Jeruk. Kisah tentang seorang biasa yang bertemu dengan anak perempuan di kereta yang kemudian melemparkan jeruk ke luar jendela kepada adik-adiknya yang berdiri di samping rel kereta, menghantarkan si kakak perempuan untuk pergi entah ke mana.

Saya baru baca dua  -tiga jalan- cerita dengan pengarang orang jepang, satu yang dapat saya simpulkan adalah ceritanya itu simpel. Kadang diambil dari kehidupan si pengarang sendiri, atau memang seolah-olah nyata banget. Saking nyata-nya si cerita ini malah kerasa datar. Tapi bukan datar trus membosankan, tapi apa ya, semacam mengalir lancar begitu sampai pada akhirnya tuntas diankhir cerita. Mungkin karena hal ini ya,  ceritanya jadi terasa dekat sekali dengan pembaca.



Yah, begitulah kira-kira yang bisa saya ceritakan. Btw, saya ingat saya tenyata masih punya buku dengan pengarang jepang lain. Judulnya Silence -Hening- karya Shusaku Endo. Entah kapan itu saya beli tapi belum juga saya baca. hehehe



Liburan ini, sudah baca berapa buku?

[ ]

#SASTRA / / / Kelahiran

24. Kelahiran*

Sambil tetap berdiri di samping penyekat, ia memandang seorang bidan dengan pakaian operasi putih sedang memandikan bayi. Setiap air sabun meresap ke matanya, setiap kali itu pula bayi itu mengerutkan wajahnya dengan memelas. Selain itu, dia menangis dengan suara tinggi melengking. Sambil mencium aroma bayi yang seperti anak tikus itu, mau tak mau ia harus memikirkan hal seperti ini dengan penuh keseriusan.

"Untuk apa pula anak ini lahir? Ke dunia yang penuh dengan kesengsaraan ini-Dan mengapa pula dia harus memikul nasib dengan takdir memiliki ayah seperti diriku?"

Lagi pula, anak ini merupakan anak laki-laki yang dilahirkan istrinya untuk pertama kalinya.




*) cuplikan sepenggal cerita dari cerpen Kehidupan Seorang Bebal - Ryunosuke Akutagawa