#FIKSI / / / Hari Ini Kita Bertemu Pukul Tujuh

Saturday, 30 November 2013


"karena ada sesuatu yang pasti terlewatkan dan terlupakan pada pertemuan pertama, dan karena pada pertemuan kedua takdir dipertemukan."- MMF, 2013

*

Aku menatap pendar cahaya lampu belakang motor-motor yang menyalip mobil kami acuh tak acuh. Jendela mobil di sampingku bertopang dagu sedikit berembun karena udara malam ini yang sedikit lebih dingin dari biasanya. November akhir, tapi hujan masih saja belum turun dengan ajeg. Kebetulan malam ini langit cerah sedikit berawan memantulkan sinar kota. Si sopir yang memaksaku ikut dengannya malam ini tengah sibuk bercerita tentang pembukaan pameran yang hendak kami datangi, disela-sela sebuah lagu indie berjudul Perjumpaan - Mr. Sonjaya yang diputar dari radio lokal.

“Shifa, kok kamu diem aja sih? Kamu kan udah menyanggupi mau nemenin aku datang ke pameran seni rupa-nya temenku malam ini!.” Protesnya dengan nada merajuk.

“Iya, iya. Aku tahu.” Jawabku mengalah.

Sebenarnya aku agak enggan datang ke acara semacam ini. Aku merasa tak nyaman berada di antara orang-orang yang tak kukenal di sebuah tempat yang tak kukenal pula. Tapi ia merajuk minta ditemani datang karena malu datang sendirian, dan aku tak punya alibi untuk menolaknya. Jadi, di sini lah aku, duduk di kursi depan di samping supir, menatap jalanan yang cukup lengang di akhir pekan, sambil mendengarkannya berceloteh mengenai pameran ini. 

Ah, satu lagi, aku tak bisa memahami apa yang dipikirkan oleh seniman jaman sekarang. Karya-karya seni yang mereka hasilkan terlalu abstrak, terlalu sulit untuk dinikmati oleh orang awam. Niatnya mau sok-sok-an keren, memikat orang lewat pemikiran yang dalam, jero banget kalau istilah dalam bahasa jawa, memakai mix-media yang sifatnya kontemporer, atau pamer skill dan teknik gambar. Tapi kadang lupa, orang awam sepertiku akan susah menangkap maksud dari karya itu. Padahal, bukankah seni adalah media aspirasi karya cipta karsa dari si seniman? Ah, tau apa aku tentang seni? Orang awam sepertiku, memang tak tahu apa-apa. 

Setibanya di tempat pameran, parkir ramai dipenuli sepeda motor dan mobil. Kami buru-buru keluar dari mobil.

“Aduh, telat nih kita! Pembukaannya pasti sudah dimulai setengah jam lalu.” Katanya sedikit panik sambil berlari-lari kecil meninggalkanku agak ke belakang. Aku hanya mendengus geli karena salahnya sendiri lama berdandan di depan kaca. Aku melirik jam tanganku. Pukul 7 kurang seperempat.

Seperti yang kuduga, pameran ini ramai. Ramai sekali oleh anak-anak muda dengan dandanan yang, mulai dari yang paling biasa hingga yang paling nyentrik. Risa menarikku ke arah rombongan yang beberapa orang diantaranya aku kenal, teman-temannya. Seorang laki-laki tinggi kurus berkulit gelap dengan senyum yang manis dan rambut hitam lurus agak gondrong , tipikal anak ISI semester akhir, memperlihatkan mata yang berbinar ketika Risa menyapanya.

“Hai, bang! Selamat ya atas pamerannya!” ujar Risa kepadanya. Keduanya berjabat tangan erat sekali.

Teman-teman Risa menepuk pundaknya ketika kami bergabung dalang rombongan kecil itu. Ruangan seluas setengah lapangan sepak bola yang disekat-sekat sesuai kebutuhan pameran penuh oleh orang. Beberapa bergerombol di depan karya. Beberapa sendirian sambil memotret sana sini. Suara mereka dipadu langkah-langkah kaki seperti dengungan lebah, membuatku mengernyit tak suka. Teman-teman Risa yang beberapa kali kulihat main ke kosan kami mengendik sambil tersenyum kepadaku. Yang tentu saja, kubalas seadanya.

Laki-laki yang dipanggil Risa, abang itu, tertawa memperlihatkan deretan gigi yang rapi. Entah mengapa tawanya itu membuatku sebal. Lalu ia dan Risa tenggelam dalam obrolan yang tak kumengerti. Setelah pamit kepada gerombolan itu, aku beringsut ke sudut ruang pameran yang sepi oleh pengunjung yang sudah bergerak menjauh. Sekilas saja melihat, beberapa karya yang terpajang di dinding ruang pameran itu kulewati. Alasannya cuma satu, terlalu rumit, terlalu kontemporer, hingga pesannya tak tersampaikan. Lalu aku terhenti pada sebuah karya yang begitu aneh diantara lautan karya jero banget di ruang pameran ini. 

Tapi lukisan di depanku ini begitu sederhana, bergaya realistis, tekniknya sungguh mengagumkan, goresan kuasnya memiliki karakter yang tak kutemukan di karya-karya sebelumnya, dan yang lebih penting, dapat termaknai dengan lugas. 

Apel. Lukisan itu adalah lukisan tentang buah apel. Judulnya, ah ya, Sekumpulan Dosa-Dosa. Dalam sebuah bidang kanvas, yang kira-kira berukuran 80x120cm itu, berbagai jenis apel dengan berbagai bentuk dan warna terlukiskan dengan sangat indah dan nyata, tapi entah mengapa aku jadi mual dan merasa ngeri sendiri. Ditengah leherku yang meremang, tiba-tiba terdengar suara apel yang digigit.

Kraus!

Aku menoleh kaget sekaligus ngeri, tetapi aku malah mendapai seorang laki-laki bercelana jeans belel dengan kemeja flannel merah biru kotak-kotak bersepatu boots kulit sambil menyerempangkan tas punggung berwarna hijau army sedang berdiri menatap lukisan yang ada di hadapanku sambil menggigit sebuah apel hijau. Rasa-rasanya aku pernah melihatnya entah dimana.

Tiba-tiba ia menoleh kepadaku dan kami saling terdiam sambil bertukar tatapan. Rasa-rasanya aku bisa melihat ia juga sedang memutar memorinya sendiri. Lalu seperti tersengat listris berarus rendah, aku ingat sesuatu.

“Lhoh, kamu yang waktu itu, kan?” ujar kami bersamaan sambil saling tunjuk satu sama lain.


Hari sedang panas-panasnya di pertengahan Juni. Dan aku terjebak dalam sebuah antrian panjang di loket penukaran struk indomart untuk mendapatkan tiket keretaku. Aku meruntuki dalam hati mengapa tak dari pagi saja aku pergi ke stasiun untuk menukarkan tiketku. Tapi tadi pagi aku telalu malas untuk keluar kos-kos-an menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke stasiun hanya untuk menukarkan tiket pulang malam ini.

Antrian di depanku masih 4 orang. Entah apa yang orang di depan loket itu lakukan hingga memakan waktu yang lama. Aku bersedekap kesal sambil pura-pura tertarik pada jam dinding stasiun yang rasa-rasanya bergerak lambat sekali. Sekitar lima menit berikutnya orang itu baru selesai dan antrian maju. Cepat saja hingga aku ada di paling depan batas antrian menunggu orang di depanku yang sepertinya hendak membatalkan tiketnya.

Orang di depanku berbalik pergi dan aku hendak maju, tiba-tiba seorang pasangan suami istri datang terburu-buru dan berdiri di depan loket. Aku merasa sebal dan mengetuk-ngetukkan kakiku ke lantai sambil mengumpat dalam hati. Seseorang yang mengantri di belakangku beringsut maju ke depanku dan membuatku memaki-makinya dalam hati. Laki-laki itu beransel tinggi dengan kemeja franel kotak-kotak merah biru.

“Maaf, pak, bu, saya tahu mungkin anda berdua buru-buru. Tapi tolong antri. Coba anda lihat orang-orang yang sedari tadi mengantri. Apa anda tak tahu malu hingga menyerobot antrian?”

Aku melongo mendengar apa yang ia katakan barusan. Kupikir ia ikut-ikutan menyerobot antrianku. Suami istri itu bermuka sebal kepada si laki-laki itu.

“Silahkan antri. Kami semua sudah antri dari tadi.” Katanya tegas sambil membentangkan tangannya ke arah antrian yang sebenarnya tak cukup panjang, hanya ada 8 orang saja. Orang-orang di belakangku mulai ikut protes mendukung kata-kata laki-laki itu. Orang-orang yang mengantri membeli tiket di loket sebelah ikut-ikutan menoleh dan melihat apa yang sedang terjadi. Suami istri itu terlihat malu meski mukanya kesal sekali lalu berjalan menuju antrian paling belakang. Petugas di loket terlihat mengernyit tak mengerti.

Ketika ia hendak kembali ke antriannya, pandangan kami bertemu. Matanya yang hitam menatapku dengan tegas. Rambutnya yang terpotong rapi menyentuh telinganya. Aku mengendik kepadanya dan dibalas dengan sebuah gerakan memintaku untuk maju ke depan loket.

Setelah selesai menukarkan tiket itu, aku berbalik dan mendapatinya mengantri setelahku. Sejenak aku tercekat di tempat lalu menelan ludah susah payah.

“Terimakasih.” Kataku lirih. Hanya kami berdua yang dapat mendengarnya.

Ia tersenyum dan mengangguk kepadaku. Lalu aku buru-buru berjalan keluar antrian, menuju parkiran.

Hei, aku tak benci dengan senyumannya itu.


*

Apakah kau percaya bahwa kebetulan-kebetulan  yang terjadi beruntutan hanyalah kebetulan belaka? Kadang kita tak pernah sadar, diantara kebetulan-kebetulan yang terjadi, takdir sedang berusaha untuk merampungkan cerita yang tertunda.




[ ]



Sebuah fiksi diantara pembukaan pameran seni Pertemuan Kedua yang diselenggarakan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

#ART / / / Pertemuan Kedua

Tuesday, 26 November 2013

"karena ada sesuatu yang pasti terlewatkan dan terlupakan pada pertemuan pertama, dan karena pada pertemuan kedua takdir dipertemukan."- MMF, 2013




Jadi suatu ketika saya nemu poster di atas ini di timeline FB saya. Akhir-akhir ini saya gemar dan giat mengunjungi event-event seni di Jogja sebagai wahana pelepasan penat (padahal di kampus juga nggak ngapa-ngapain banget). Terakhir sebelum mengunjungi pameran ini saya mengunjungi Biennale Jogja di Jogja National Museum, tetapi tak akan saya bahas di sini. Oke, kembali ke topik.

Nah, kebetulan saya cukstau (cukup tahu) si artis yang berkontribusi dalam pameran ini. Gata Guruh Mahardika adalah kakak tingkat saya di kampus dan Timoteus Anggawan Kusno alias Dalijo ini saya kenal ketika saya membantu sebagai artistik panggung pementasan pantomim Trotoar oleh grup Malmime-Ja di TBY kira-kira bulan April lalu. Yah, berhubung kenal kedua artis jadi pengen lihat pamerannya kaya apa. Dan saya mengajak teman nyeni, Maya, meski awalnya rada ragu juga karena acaranya malam dan dia habis ada musibah sehingga rada cemas kalau jalan malam. Oke, tapi pada akhirnya saya berangkat juga dengannya. Tentu saja nyari tebengan mobil dan dapat juga! Nuci dan Tirta juga kenal mereka berdua dan pengen lihat. Yah, berangkatlah rombongan aneh itu ke Padepokan Seni Bagong Kussudiardja yang mana, tak kami ketahui lokasinya. (Bodoh banget kan, nggak bisa baca peta yang ada di poster saking kecilnya!)

Modal nekad akhirnya malah kesasar juga di jalan bantul. Setelah tanya orang yang mencurigakan dan mencermati peta via wikimapia akhirnya muter balik masuk ring road lagi. Jadi, kami berhenti di deket salon pijet (yang kata Tirta kayaknya salon pijat ++ gitu karena lampunya yang remang-remang dan 'gitu' banget mencurigakan), akhirnya tanya ke bapak-bapak yang ada di angkringan. Jadi, dimanakan Padepokan Seni Bagong Kusumadiardja itu? Dari jokteng barat kalau dari arah timur belok kiri masuk jalan Bantul. Ketemu ring road belok ke kanan arah UMY. Perempatan bangjo pertama yang ada toko baju Pudja harga mulai dari Rp 5.000 - Rp 35.000 belok ke kiri. Ketemu perempatan belok ke kanan, nurutin rel bekas kereta pengangkut tebu ke Madu Kismo lurus terus ketemu jembatan masih lurus, tapi jangan ngebut, agak pelan-pelan karena plang jalannya ada di sisi kiri dan agak ketutupan. Nah, ketemu plang itu masuk gang kecil ke kiri mentok masuk ke parkiran. Nanti pasti ada bapak-bapak yang mengarahkan. Dari parkiran jalan bentar deh ke barat lalu masuk gang ke selatan.

 
Nah, disana kami malah ketemu Pak Pradipto yang ternyata hendak menyaksikan anaknya yang ikut mentas teater untuk acara rutin PSBK yaitu Jagongan Wagen, judulnya Nang Ning Nung. Saya nggak nonton sih karena pada akhirnya buru-buru pulang jam setengah 9 itu. Yah, sampai di sana cukup ramai juga baik orang-orang yang mau lihat pameran dan juga mau lihat pertunjukan teater itu. Sebenarnya sampai sana sekitar jam 7 lebih masih ke kamar mandi dulu sebentar karena nahan pipis (oke, ini nggak penting sebenarnya, tapi ya sudah lah), pas naik ke lantai 2 Gedung Damar Wulan ternyata acaranya barusan dibuka dan lagi ada performen dari Arjuni Prasetyorini. Keadaan ramai banget, keblok juga oleh instalasi kaya kotak papan tulis, dan bikin saya mlipir ke area yang lebih luas sambil mulai menikmati pameran yang didominasi oleh karya Timoteus Anggawan Kusno alias Dalijo.

(fotografer : Maya Meidita)
Instalasi pertama yang saya jumpai adalah karya Mas Dalijo yang kalau tidak salah (dan saya tak lupa) judulnya adalah Cintaku tak Semurni Bensin. Di tengah galeri, beralaskan karpet rug kecoklatan ada kursi lipat besi yang diatasnya terdapat mekanisme permainan yang dihubungkan dengan kabel listrik dan saklar tunggal. Mekanis yang ada di atas itu berupa susunan botol-botol jualan bensin yang diisi berbagai macam benda random mulai dari kembang nyekar kuburan, beras, meteran kuning khas penjahit, sereh (kalau tak salah lihat) dll yang diletakkan dalam kerangka besi yang melingkar dan digantung ke kuda-kuda kayu bercat putih terekspose. Di tengah lingkaran itu terdapat pemukul yang berhubungan dengan mekanis pemutar. Ketika saklar dinyalakan, mekanis itu memutar tuas pemukul yang menimbulkan bunyi karena ujung pemukul yang mengenai permukaan botol-botol kaca itu. (Gambarnya seperti di bawah)

Instalasi oleh Mas Dalijo (foto hasil unggahan Mas Dalijo dari account FBnya) (link)





Instalasi oleh Mas Dalijo (Nuci sedang mencoba instalasi) (fotografer : Maya Meidita)
Instalasi oleh Mas Dalijo (fotografer : Maya Meidita)


Instalasi oleh Mas Dalijo (fotografer: Maya Meidita)

Instalasi oleh Mas Dalijo
Saya ketemu mas Bram, teman dari Mas Dalijo dan Mas Gata yang juga anak Mahati yang juga nyeniman. Basa basi bertukar kabar lalalala, lalu melanjutkan perjalanan melihat-lihat. Instalasi kedua juga masih karya Mas Dalijo berupa pohon jambu yang dibakar lalu diletakkan di atas bangku kursi kecil. Di bawah bangku itu diletakkan soundsistem yang entah berbunyi apa saya tak begitu menangkap karena saking ramainya di galeri malam ini. Di bawahnya lagi, ada tunggu pembakaran yang di sana terdapat berhelai-helai kertas. Ternyata, memang instalasi itu dimainkan. Jadi orang-orang boleh menuliskan keresahan, protes, keluh kesahnya di kertas lalu meletakkannya di tungku itu lalu disilahkan untuk mengambil buntalan yang digatung di pohon jambu terbakar itu, yang mana buntalan itu digantungkan di tali merah. Saya diminta Maya untuk menulis sesuatu, yang, saya tak bisa katakan apa isinya. Lalu saya mengitari pohon itu untuk memilih buntalan manapun. Putar-putar pelah-pelan, saya pikir saya pengen mengambil buntalan yang letaknya paling tinggi. Tapi entah mengapa buntalan di tengah semacam jantung pohon itu (ceileh). Pas saya buka, isinya kunci. Di situ tertulis;


| Kunci ini berkhasiat untuk membuka kotak hitam berkaki

Dan membuat saya tertawa. Lelucon macam apa ini? Kok semacam rada nyambung nggak nyambung dengan keluhan saya itu. Karena saya pikir boleh dibawa pulang, saya masukin saja ke kantong, itung-itung buat kenang-kenangan datang ke pembukaan pameran.
 
Instalasi oleh Mas Dalijo
Instalasi oleh Mas Dalijo

Instalasi oleh Mas Dalijo (Fotografer : Maya Meidita)
Kunci ini berkhasiat untuk membuka kotak hitam berkaki (Fotografer : Maya Meidita)

Geser lagi ke karya selanjutnya, yang masih juga karya Mas Dalijo. Performa sudah selesai dan orang-orang berhamburan melihat pameran. Saya lirik Mas Dalijo dan Mas Gata sedang diwawancarai wartawam mungkin. Mau menyapa tapi segan juga. Ah, biar nanti saja. Saya belum menyelamati mereka atas pameran mereka yang super sekali ini. Dalam hati saya iri juga sih. Apa ya? Semacam iri karena seseorang yang kau kenal lebih dekat kepada apa yang dicita-citakannya. Semacam meruntuki diri sendiri atas apa yang telah saya perbuat selama ini dan tak menghasilkan apapun. Yah, memang sekarang ini semua orang sedang berjuang untuk menggapai cita-cita mereka. Sedang saya akhir-akhir ini kok malah semacam nggak ngapa-ngapain, nggak memiliki hasil. Saya merasa tertinggal jauh sekali dengan mereka. Yah, meski saya sadar mereka itu keren banget dan saya bukan apa-apa, mengingat sepak terjang mereka di dunia seni selama ini. Saya bukan siapa-siapa. Dan meski mengenal mereka, rasanya malam ini saya seperti orang lain, orang yang tak mengenal mereka, orang awam yang kebetulan datang ke pameran ini, seperti orang yang kebanyakan datang malam ini. Dimata saya mereka terlampau menyilaukan, terlalu keren, levernya sudah jauh beda.


Artwork oleh Mas Dalijo (Fotografer : Maya Meidita)

Saya pun melanjutkan karya Mas Dalijo selanjutnya, ada 3 karya dalam satu rangkaian cerita. Di frame pertama ada sesok serigala (atau anjing ya maksudnya?) hitam dengan background hutan berdaun merah. Entah judulnya apa saya lupa. Di frame kedua, judulnya (kalau nggak salah ingat) Adam and the rotten Apple. Sosok 'adam' dengan kepala corong TOA duduk di sofa dan menggenggam buah apel yang busuk, backgroundnya seperti rumah yang berantakan dan si buntut anjing (atau serigala ya maksudnya) coklat nampak ekornya saja. Di frame ke tiga entah judulnya apa karena panjang banget. Di situ ada seorang berkulit coklat sedang tenggelam dalam sumur berlumuran merah (mungkin maksudnya darah) yang matanya ditutupi oleh seseorang di belakangnya. Si orang di dalam sumur itu juga menutupi mata di orang yang menutupi matanya. jadi mereka berdua saling tutup menutupi mata masing-masing. Di depan mereka genangan merah itu meluber dan ada sesesok terbakar berkulit gosong di depan serigala hitam. Entah saya saja yang terlalu memikirkannya, tetapi sepertinya keberadaan serigala itu dalam tiap frame (yah, anggap saja di frame ke 2 memang serigala coklat!) saling berkaitan. Melihat lagi frame pertama, saya menangkapnya serigala itu jadi simbol kebinatangan, naluri hewan buas, lust, yang dimiliki oleh setiap orang, yang menjerumuskan orang-orang dalam rangkaian frame berikutnya.

Artwork oleh Mas Dalijo (Fotografer : Maya Meidita)
Artwork oleh Mas Dalijo (Fotografer : Maya Meidita)
Instalasi selanjutnya, adalah instalasi video performa tarian dari mbak Arjuni Prasetyorini yang katanya takut jeruk. Di lantai berserakan jeruk dan bungkus plastik. Jeruk itu ditata membentuk kata fear. Saya nggak paham artinya sebelum pada akhirnya dikasih tahu kalau mbak-mbak ini takut jeruk. Itu semacam menjelaskan kata fear di sana. Lalu teman saya Maya tiba-tiba random bilang begini, "Entah mengapa lihat jeruk aku jadi ingat blogmu, catatan si jeruk." Saya hanya menertawakan kata-katanya itu yang nanti kalau diteruskan bisa nggak jelas ujung-ujungnya karena menyangkut konspirasi dan lain lain.

Instalasi oleh Mas Dalijo dan Mbak Arjuni (Fotografer : Maya Meidita)
Artwork oleh Mas Dalijo (Fotografer : Maya Meidita)
Jalan lagi, lagi-lagi karya Mas Dalijo. Lhoh lhoh, ini pameran tunggal Mas Dalijo po? Lalu akhirnya ketemu instalasi karya artis lain pula. Karya milik Mas Gata yang berjudul (kalau tak salah ingat) Pagar. Instalasinya adalah kotak papan tulis tinggi yang digantung ke kuda-kuda bercat putih terekspose. Papan tulis itu semacam bergambarkan DED detail pintu jendela keramik dan lain lain khas arsitektural. Dari kotak papan tulis yang kira-kira diangkat 20 cm dari lantai itu ada sepatu boots terlihat. Saya pikir ada orang di dalamnya. Tapi ketika memutari kotak itu ternyata kotak itu tak berpintu dan entah mengapa kok saya agak takut dan deg-degan mengenai apa yang ada di dalamnya. Semacam agak menakutkan gitu melihat kaki. Saya pikir paling cuman sepatu saja. Tetapi ketika saya berjongkok dan mengintip kok ada kakinya. Tambah serem saja. Lalu ada lubang kecil di kotak itu dan saya berjinjit untuk melihat ke dalamnya tapi tak begitu jelas.

Instalasi oleh Mas Gata
Instalasi oleh Mas Gata
Ketika selesai memutari 180 derajat, Nuci menghampiri saya dan bilang, "Cil, kata Dalijo (atau mas Bram ya, kok saya lupa) cuma kamu yang bisa buka kotak ini" Saya mengernyit heran. Bagaimana saya bisa buka kotak ini. Oh, ternyata kunci yang saya dapat tadi itu buat membuka kotak ini! Agak deg-degan juga sih karena saya pikir ini pasti bercanda dan gurauan saja. Tapi tetap saja saya coba buka dan kuncinya nggak bisa masuk. Ah, ini bohong! Orang nggak masuk ini kok!

Lalu pemilik instalasi ini datang dan bilang kalau kuncinya memang beli murah dan bosok jadi perlu usaha ekstra untuk memasukkan kunci ke gemboknya. Dan, voila, gemboknya bisa dibuka dan yang ada di dalamnya adalah (maaf bagi yang belum datang saya jadi spoiler nih, hihihi) boneka berkostum satpam sedang memberi hormat. Saya tertawa senang karena entah mengapa seakan kebetulan banget kenapa kok saya bisa yang dapat ini gembok dan jadi orang pertama yang membuka si kotak ini malam ini. Dan Mas Gata menyalami saya, "Selamat ya nyil, kamu jadi orang yang beruntung malam ini. Tapi kuncinya ntar di balikin lagi ya, aku nggak punya kunci cadangannya." Dan saya cuma bisa tertawa karena ternyata kuncinya nggak bisa saya ambil bawa pulang. Yah, akhirnya saya serahkan lagi kunci itu ke Mas Dalijo biar di pasang di instalasinya sendiri. hehe,


Instalasi oleh Mas Gata (Fotografer : Maya Meidita)
Instalasi oleh Mas Gata (Fotografer : Maya Meidita)
Artwork oleh Mas Gata (Fotografer : Maya Meidita)
Artwork oleh Mas Gata (Fotografer : Maya Meidita)



Selesai muter-muter lihat semua karya yang setelah instalasi kotak hitam berkaki itu adalah karya mas Gata, saya mau minta foto bareng 2 artis yang telah berkontribusi untuk pameran ini. Sebenarnya juga mau bareng mbak Arjuni, tapi dia nggak ada, menghilang entah kemana setelah performen yang memakai acara banting-banting jeruk. Jangan-jangan dia pingsan karena jeruk-jeruk yang dipakai sebagai properti performen. Entah, tapi yang pasti saya dapat foto Mas Dalijo dan Mas Gata bareng Maya. Yah, siapa tahu setelah debut mereka ini mereka akan terkenal dan susah dihubungi. Hahahahahaha,

Entah mengapa, mesem, nyengir, mesem, nyengir (dari kiri : mas Dalijo, Maya Meidita, saya, Mas Gata) (Fotografer : Bramasta)

Well, selesailah sudah malam yang ganjil ini. Oh iya, saya ucapkan terimakasih kepada Maya Meidita F yang telah jadi kontributor fotografer saya, Nuci dan Tirta, duo yang nebengin saya malam ini, hehe. Sampai jumpa di acara nyeni lainnya!

Oh iya, ini bonus dari saya, hihihi.


1, 2 3, . . . .  (saya, Nuci, Tirta) (Fotografer : Maya Meidita)



[ ]

#BOOK / / / Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta

Tuesday, 19 November 2013


"Peristiwa adalah permainan layang-layang. Masa sekarang adalah benang-benang yang kita permainkan, dan masa lalu adalah layang-layang, masa lalu digerakkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Tujuan, tafsir, hasrat dari kesekarangan, campur menjadi satu pola untuk menggerakkan masa lalu. Dan karena itu, sejarah selalu diperebutkan, masa lalu senantiasa digunakan untuk memenangi sesuatu. Senantiasa masa lalu tidak akan pernah rampung." 
(Jam 9 Kita Bertemu. Hal 97. Puthut EA)


 
Saya lupa tepatnya kapan ya kemarin saya ke pameran buku yang diadakan di Gedung Wanitatama Jalan Solo. Ya, saya membeli buku ini di pameran kemarin. Memang karena cuman di sana saya bisa menemukan buku-buku random semacam ini.

Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta adalah sebuah buku yang berisi dua naskah drama tulisan Puthut EA. Ah, ya, memang saya sengaja mencari kaya Puthut EA yang lain karena saya suka terhadap caranya bercerita di dalam novelnya. Sebenarnya saya berharap lebih dari sekedar naskah drama dalam buku ini. Tetapi, memang begini lah adanya.

Tentang buku ini, di dalamnya memuat dua naskan drama yang berjudul Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta dan juga Jam 9 Kita Bertemu. Meski judul bukunya seperti di atas, tapi saya ingin bercerita tentang naskah drama Jam 9 Kita Bertemu. Ya, saya memang suka dua-duanyas setelah saya membaca buku ini, yang, cuma saya lakukan selama 1 jam! (Ya karena memang saking tipisnya) Tetapi saya lebih tertarik dengan naskah yang terakhir ini.

Ini adalah kisah cinta. Dengan 3 orang tokoh bernama Lisa, wartawan perempuan, Kenes aktivis wanita yang bekerja di sebuah LSM, dan Doni, laki-laki pembuat film yang telah beristri. Babag pertama dihadapkan pada sebuah adegan dimana Doni dan Kenes berdialog. Diam-diam, di belakang istrinya, Doni menjalin cinta gelap bersama Kenes. Babag kedua, giliran Doni dan Lisa bertemu. Dan ternyata memang Lisa juga pacar gelap Doni. Seperti jenis-jenis cinta segitiga lain, Kenes dan Lisa adalah sahabat baik sejak kuliah. Kenes tak tahu ternyata Doni juga berhubungan dengan Doni, dan begitu pula sebaliknya, Lisa. Yang pasti, Doni juga tak tahu Kenes dan Lisa itu berteman baik karena memang dulu mereka memang berbeda jurusan dan bertemu pula di tempat yang berbeda.

Cerita ini memang tidak digarapkan penulis untuk mencapai titik didih. Tetapi ingin menggambarkan suasana kemrengseng air yang dimasak. Ya, dan memang suasana tersebut tercermin benar pada alur cerita yang meski menye-menye khas FTV tapi tetap saja ditulis dengan sangat baik oleh Puthut EA. Ketiganya yang tak tahu-menahu soal hubungannya dengan yang lain. Hubungan tarik ulur antara Kenes dan Doni, Kenes yang minta kejelasan dan kepastian, Lisa yang berniat mengurangi perasaannya terhadap Doni tapi Doni malah menemui Lisa sehingga persaan Lisa semakin bertambah, Doni yang merasa bersalah terhadap istrinya karena istrinya yang sekarang sedang hamil anak pertama mereka Lisa dan Doni, dan membuatnya ingin mengakhiri semua hubungannya dengan semua pacar gelanya meski ia masih mencintai semua pacarnya itu.

Lalu suatu ketika Kenes pindah ke Jogja karena ingin dekat dengan Doni yang bertinggal di sana. Lalu Lisa ingin mengakhiri hubungannya Doni dan ingin bertemu Doni yang ada acara penghargaan film di Jogja. Doni memaksa untuk menjemput Lisa di bandara tapi Lisa diam-diam meminta Kenes untuk menjemputnya sehingga ia nanti bisa melarikan diri dari Doni. Dan, yah, cerita selesai.

Benar-benar sungguh kemrengseng kan. Tertarik untuk baca?



Ba dum . . .

[ ]

#JALAN-JALAN / / / Merbabu [a Late Escapism]

Tuesday, 12 November 2013

Akhirnya, setelah akhir Oktober lalu berniat mengadakan pendakian Merbabu hanya berempat, saya pun pergi juga bersama rombongan yang berbeda ke Merbabu. Gunung yang belum saya tuntaskan dua tahun lalu. (Ah, lihat tulisan saya di link ini)

Suasana di kampus yang sedang sumpek, pikiran saya yang akhir-akhir ini tak kalah sumpek karena berbagai hal, perasaan sedih, khawatir, galau akademik merambah membuat meriang selama satu minggu, akhirnya saya memaksa Mas Reja buat menjadikan rencana ke Merbabu pada akhir loong week end kemarin. Kebetulan di sana ada Pras, anak 2012, yang keliatan sumpek dan pengen naik gunung, juga ada Fariz, mantan ketua KM yang hobi goes, ingin ikut juga. Dan plus, saya ajakin Nuzuli partner naik gunung bersama dengan Temi, teman saya yang juga anak Satub kemarin Juli Agustus habis ekspedisi ke Maluku.

Baru H-1 akhirnya diputuskan mau bawa apa aja dan packing. Yah, biasalah anak arsi itu biasanya memang sering sekali berwacana tanpa akhirnya terealisasikan. Tapi kali ini memang jadi karena semua orang sepertinya ingin melarikan diri dari sesuatu, termasuk saya. Mengadu kepada Ibu Negeri lewat sebuah perjalanan ziarah mendaki perengan Gunung sepertinya jadi satu hal yang saya pilih. Ah, apalagi, long week end itu berakhir pada satu suro. Lengkap sudah sebuah perjalanan (baca: pilgrim) ini. Tapi sayang sekali, kelamisan memang tiada tara. Nuzuli berkelit dari rombongan karena ada urusan carrier days hari itu juga. Ah, ya sudah. Akhirnya kami berangkat lah berlima saja.

Dari kampus berangkat pukul 1. Di jembatan Kali Putih lewat dan mengagumi karya Pak Pradip yang sudah jadi, sekaligus nun jauh di utara sana, Merapi tampak manggrong-manggrong megah indah sekali. Kebetulan cuaca sangat cerah sekali. Tapi diperjalanan ban motor Fariz bocor dan kami harus berhenti sejenak menunggunya di bengkel. Setelah itu perjalanan menuju Selo dilanjutkan kembali. Jalan yang ngeri banget memang tak dapat dihindari tapi saya sekali lagi, takjub dengan Merapi yang begitu dekat, yang begitu cerah, yang begitu mempesona bak bunga yang mekar. Sedang, di sampingnya, Merbabu memancarkan aura mistis karena diselimuti awan dan kabut. Cukup khawatir juga nantinya hujan pas di jalan. Ah, semoga tidak.

Sampai di basecamp kira-kira jam 3. Tak lama setelah itu, mengurus administrasi dll, kami pun mulai naik. Ah, baru jalan setengah jam saya sudah kecapekan, paru-paru saya tak bisa mengikat oksigen dan rasa-rasanya dada saya sakit sekali. Setelah tiap 10 menit berhenti untuk mengatur napas, akhirnya saya menemukan ritme perjalanan. Naik naik dan naik terus hingga melewati tempat dulu saya ngecamp di pendakian Merbabu yang pertama pas kena serangan badai. Naik naik naik dan sampai di pos tiga lalu lanjut ke pos empat.

Menuju pos empat sungguh curam sekali. Karena saya takut ketinggian, saya takut saja terjengkang ke belakang karena jalanannya yang susah. Sempat salah jalur dan bertemu jurang lalu berkat hidayah Allah akhirnya kami kembali ke jalan yang benar. hehehehe. Nah, saya sempat jatuh lalu istirahat sebentar tapi malah kena kram dada karena bergerak tiba-tiba. Akhirnya tas saya dibawakan deh. Sungguh memalukan sekali. Tapi kami jalan terus dan ternyata tempat berhenti tadi sungguh dekat dengan pos 4. Di pos 4 yang disebut sebagai sabana 1 itu kami memutuskan untuk berkemah. Waktu itu jam tangan saya menunjukkan angka setengah 9 malam. Ternyata perjalanannya cukup lama juga mengingat saya banyak mengajak berhenti-berhenti. Yah, makhlum lama nggak olah raga trus tiba-tiba harus jalan jauh menanjak pula.

Setelah berkelahi melawan angin dan dingin akhirnya 2 tenda berdiri juga. Mas Reja langsung tidur di dalam tenda dan tinggal saya, Temi, dan Pras yang masih di luar untuk membuat sekedar minuman dan makanan sebelum tidur. Lalu sekitar pukul 12 kami berangkat tidur. Saya susah tidur karena dingin sekali. Selain itu muncul rombongan lain yang berisik sekali. Baru sekitar pukul 2 itu saya tidur dan terbangun lagi pukul 3 ketika orang-orang meneruskan perjalanan ke puncak.

Pukul 4 kami benar-benar bangun dengan susah payah dan mulai menempuh perjalanan menuju puncak. Rasa-rasanya saya tak kuat dan ingin menyerah. Tapi saya tetak berjalan mengikuti Fariz yang ada 10 meter di depan saya. Pras, ah, dia sungguh jago sekali dan berjalan duluan untuk menyambut kami di puncak. Berjalan dari pukul 4 akhirnya sampai juga di puncak Triangulasi pukul setengah 7 lebih. Wow, lama juga ternyata. Dan Pras sudah sampai puncak pukul 6 tadi. Ah, sial!





Di puncak ramai sekali oleh para pendaki. Di tengah kabut itu terlihat puncak seberang yang juga ada banya orang. Dan kami memutuskan untuk di puncak ini saja, tidak ke kenteng songo. Tentang puncak Triangulasi, adalah salah satu dari 7 puncak Gunung Merbabu dan merupakan salah satu puncak tertinggi. Puncak Triangulasi memiliki tinggi 3142 mdpl. Makin siang kabut makin tebal dan angin makin dahsyat. Kami memutuskan untuk menunggu matahari nampak dan baru mau turuh pukul 9. Dan mendapat tempat agak tertutup semak, tapi anginnya sungguh dahsyat menerbangkan debu dan pasir bikin mata kelilipan! Tapi matahari yang ditunggu-tunggu tidak juga nampak sedang puncak sudah sepi karena orang-orang yang sudah pada turun. Akhirnya pukul 8 itu kami bergegas untuk turun.



(dari kiri : Fariz, Mas Reja, Temi, Pras)
(dari kiri : Mas Reja, saya, Temi, Pras)

Di perjalanan sebelum sabana 2, kami berhenti untuk nderuki bunga edelweis yang kemarin bekas terbakar. Etika pendakian, kita tidak boleh secara sengaja memetik bunga edelweis karena nanti takut punah diakibatkan orang-orang yang pengen mengkoleksi. Bunga hasil patahan itupun saya hanya nemu dan saya sembunyikan di kantong meski akhirnya penyet juga.

(Mas Reja dan Fariz)
 

(Temi)
 





(Perkemahan kami. Tenda kami yang paling belakang warna orange)

Sesampai di perkemahan, kami memasak makanan yang sungguh enak sekali, bahkan lebih mewah dari menu saya makan di kosan. Hahahahaha. Ada nasi, ca kangkung, cheese nugget, telor dadar, dan pelengkap lainnya. Saya hanya makan secukupnya saja karena merasa agak nggak enak badan. Saya putuskan untuk tidur selama 30 menit lalu bangun dan berkemas. Ternyata Mas Reja dan Fariz juga sempet tidur 30 menit. Temi juga. Yah, memang pendakian ini sungguh melelahkan. Lalu sekitar pukul 1 lebih 15 menit kami mulai turun.









(Menu yang lezat melebih menu makan anak kos. :3 )
(Mas Reja)
(Pras)
(Fariz)
(Temi)


Gila ternyata jalanan yang ditempuh semalam benar-benar ekstrim. Saya sampai takut melangkah dan akhirnya prosotan meski bokong rasanya kebas dan kadang kebablasan dan tak bisa mengerem. Fariz dan Pras sudah duluan karena mereka sungguh lincah sekali. Hahahahaha. Saya yang takut ketinggian akhirnay berjalan pelan-pelan yang penting sampai. Malah ketika hampir sampai basecamp, hujan deras sekali dan harus pakai mantol. Sampai di basecamp bersih-bersih dulu dan pesen soto sambil menunggu hujan reda. Pas soto datang hujan sudah reda tapi malah turun kabut. Baru deh sekitar pukul setengah 6 itu kami mulai berjalan balik ke Jogja lagi.




(Pras yang keren banget di perjalanan ini)

Meski capek dan berniat tak akan ke sana lagi, saya senang telah mendaki Merbabu hingga tuntas. Rasa-rasanya beban pikiran saya tersedot di sana dan kini agak lebih fres. Tapi hidup terus berjalan, dan masih banyak hal besar yang menghadang. Hanya tinggal kau sendiri yang memutuskan, apakan akan melanjutkan perjalanan atau kabur. Memang, perlu tekad yang kuat untuk menempu perjalanan. Mendaki Gunung hanya sekelumit kecil citra kehidupan manusia. Yang asli, sepertinya lebih liar lagi.




Ada bonus dari saya.

(Puncak Triangulasi. 3142 mdpl)




[ ]