#JALAN-JALAN / / / Perjalanan Nekad ke Kawah Putih

Sunday, 18 August 2013

Mupung hari ini ada libur dari kantor di tengah hektik pengerjaan sayembara, seorang teman saya di Bandung mengajak saya untuk ke Kawah Putih. Sebenarnya saya sedikit malas karena mumpung minggu bisa tidur seharian sebelum lembur minggu depan, tapi pada akhirnya saya mengalah. Ah, sekali ini main nggak papa lah ya. Dan, perjalanan nekad ke Kawah Putih pun jadi dilaksanakan.


Janjian jam 10 berangkat tetapi pada akhirnya jam 11 baru berangkat. Personil perjalanan nekad ini ada 4 orang, yaitu teman-teman saya di SMA yang kuliah di Bandung, Tyas, Deni, Tatag, dan saya sendiri. Dengan 2 motor saling boncengan menempuh jarak kurang lebih 60 km selama kurang lebih 2 jam (catat : macet banget kalau weekend). Yah, bisa bayangin kan bagaimana keadaan pantat gimana, rasanya capek duduk man!

Dan, setelah perjalanan yang panjang, berliku, senam jantung dan sesak napas karena berkali-kali hampir nabrak mobil karena pak sopir selip kanan kiri langsung hajar, sampai juga. Bokong saya rasanya pegel banget. Saya saranin mending pakai mobil deh, walau udah pasti macet kalau weekend. Tapi setidaknya duduknya lebih nyaman dan lebih aman. Saya iseng deh meng-google kawah putih dari bandung, dan ternyata memang jauh. -_- Saya sempat menawari teman saya biar saya di depan karena ada yang bawa matik, sesekali lah nyetir motor di Bandung. Dan saya bersyukur saya nggak jadi di depan, kalau nggak pasti nyampainya besok karena nggak berani nyelip.



Sudah gitu ternyata saya pikir dari parkiran sudah dekat. Eh, ternyata masih harus naik semacam angkot namanya ontang anting untuk sampai ke kawah putih yang masih 10 menit naik kendaraan. Untuk harga tiketnya sendiri, Rp 12.000/orang kalau hari biasa, Rp 15.000/orang pas weekend dan Rp 30.000/orang untuk turis manca. Parkir motor Rp 3000/motor dan mobil Rp 5000/mobil. Penitipan Helm Rp 5000/2 helm. Naik ontang anting PP Rp 10.000/orang. Jadi paling tidak tiap orang Rp 30.000. Nah, sebenarnya mobil bisa langsung naik ke atas. Tapi harganya kurang tahu. Lagipula asyik naik ontang-anting. Karena jalannya yang belok-belok jadi semacam Tokyo Drift. hahahaha.


(A adalah gerbang masuk dan B adalah Kawah Putih)



Kawah Putih adalah sebuah temapt wisata di Jawa Barat, letaknya ada di kawasan Ciwidey. Kawah Putih ini adalah hasil dari letusan gunung Patuha. Jadi, dulu, Gunung Patuha adalah gunung berapi yang aktif dan meletus sekali, membentuk sebuah kawah. Pada tahun sekian, di sebelah selatah kawah meletus dan terciptalah sebuah ceruk raksasa di sisi gunung. Kini Gunung Patuha sudah tidak aktif lagi. Tetapi kawah tersebut masih terus beraktifitas mengeluarkan sulfur. Hujan selama puluhan tahun tertampung di ceruk ini dan membentuk sebuah danau. Karena aktivitas sulfur dari kawah, danau ini lama-lama menjadi danau sulfur. Menyebabkannya menjadi berwarna biru hijau keputihan akibat pengendapan sulfur.

Penemuan pertama kawah ini dilakukan oleh seorang Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) mengadakan perjalanan ke daerah Bandung Selatan pada tahun 1837. Ketika sampai di kawasan tersebut, Junghuhn merasakan suasana yang sangat sunyi dan sepi, tak seekor binatangpun yang melintasi daerah itu. Ia kemudian menanyakan masalah ini kepada masyarakat setempat, dan menurut masyarakat; kawasan Gunung Patuha sangat angker karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur serta merupakan pusat kerajaan bangsa jin. Karenanya bila ada burung yang lancang berani terbang di atas kawasan tersebut, akan jatuh dan mati.



Meskipun demikian, orang Belanda yang satu ini tidak begitu percaya akan ucapan masyarakat. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menembus hutan belantara di gunung itu untuk membuktikan kejadian apa yang sebenarnya terjadi di kawasan tersebut. Namun sebelum sampai di puncak gunung, Junghuhn tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah di hadapannya, dimana terhampar sebuah danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehijauan. Dari dalam danau itu keluar semburan lava serta bau belerang yang menusuk hidung. Dan terjawablah sudah mengapa burung-burung tidak mau terbang melintasi kawasan tersebut.(sumber dari : http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/130)

 
Hari ini lumayan ramai, makhlum lah weekend, tapi nggak ramai-ramai banget. Udara dingin dan bau belerang memang tercium tajam. Mana kita kertiga, kecuali Tatag lupa bawa masker lagi. Tapi ya sudah, kita langsung jalan menuju Kawah Putih setelah turun dari ontang-anting. Dan, turun tangga untuk menuju Kawah Putih, danau berwarna hijau kebiruan dengan kabut lumayan pekat menyambut. Keren sih. Dan hal yang pertama yang saya pikirkan adalah, gimana ya rasanya naik perahu di Kawah Putih? Tapi, ternyata nggak bisa, karena ada larangan buat nyemplung ke air. Mungkin karena ada kemungkinan panas atau apa jadi nggak memungkinkan untuk dinikmati lewat perahu.

Teman saya Tyas langsung cerita mengenai film Heart yang katanya syuting di Kawah Putih, saya cuma bisa manggut-manggut. Rencananya kita langsung mau menuju ke pulau di tengah Kawah Putih. Dan dengan bodohnya Tyas terperosok ke dalam sulfur yang lembek menyebabkan kakinya belepotan semua. Kami bertiga menertawakannya sambil meneruskan perjalanan menuju ke tengah. Tyas, dia sibuk sendiri membersihkan kakinya tapi malah duduk di batu yang ada sulfurnya. Alhasil celananya yang hitam kentara banget belepotan sulfur yang langsung kering.

Sampai di tengah-tengah, kami ber-empat hanya terdiam melihat air sulfur di depan kami yang riaknya tenang. Di sekeliling kami orang-orang sibuk berfoto sana sini dan kami hanya diam, nggak melakukan percakapan Setelah keheningan yang cukup lama itu kami akhirnya ngobrol juga karena membicarakan orang-orang yang datang ke tempat itu. Nah, kan emang dasar tempat yang (sok) romantis ini, yang datang kebanyakan pasti pasangan, baik tua maupun muda. Kami berempat cuma bisa cengar-cengir ngeliatin aksi pasangan-pasangan (alay) yang berfoto dengan background air di belakang mereka. Makhlum, kami bertiga, kecuali Tatag memang lagi nggak berpasangan dengan siapa-siapa saat ini. Saya dan Tyas hanya bisa bertukar kode ketika melihat aksi-aksi pasangan itu yang membikin ketawa.

Setelah ada kali, 1,5 jam di tengah-tengah akhirnya memutuskan untuk foto berempat lalu jalan keliling ke sisi yang lain. Selama jalan yang diketemukan kalau bukan segeng anak-anak muda yang geje ya pasti pasangan-pasangan yang foto ala prewed (cuih). Tyas ngedumel kalau besok prewednya dia pengen di sini juga. Lalu saya ejek aja, karena kayaknya dia ngebet banget pengen segera berpasangan lalu nikah. Dan dia dengan bangga balik bilang kalau mau nikah 3 tahun lagi. Saya cuma bisa cengengesan aja mendengar omongannya itu.

(reflection)

(dari kiri : Tyas, Deni, Tatag. Thanks for today)





Nah, karena keterbatasan media, saya cuma bawa kamera saku jadul, foto berempat selanjutnya dilakukan dengan cara yang ngenes banget deh. Kamera saya gantung diranting dan menggunakan timer. Hasilnya lumayan sih. Sempat beberapa kali foto lalu jalan lagi. Nah, entah karena sial atau apa, atau kena karma karena ngetawain Tyas, saya menginjak lapisan sulfur dan kena sepatu saya. Alhasil saya mencucinya di genangan air karena parah banget kenanya. Tyas bilang pengen duduk aja nunggu kami bertiga keliling karena sesak. Dia punya asma dan kayaknya capek jalan. Jadinya kami bertiga menyusuri sisi Kawah Putih yang paling ujung. Entah mengapa si Deni tiba-tiba teriak-teriak kaya orang aneh ketika saya lagi ngefotoin Tatag yang memang pada dasarnya narsis abis. Emang sih, kadang dengan teriak-teriak macam gitu beban pikiran lumayan terangkat.



Setelah itu, kami berempat memutuskan untuk balik ke bawah. Di dekat tempat nunggu ontang anting, ada bapak-bapak yang duduk di saung sambil main kecapi. Keren banget! Kecapi bro, kecapi! Saya dan Tyas nonton sebentar lalu buru-buru menuju halte ontang anting. Tyas sudah lemes karena pengen makan. Langsung deh makan. Di Kawah Putih susah nyari es euy, padahal pengen yang seger-seger setelah jalan-jalan gitu. Tapi ya sudah, nggak ada es air putih pun jadi. Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang ke Bandung. Tyas ada janji. Di jalan menuju parkiran saya dan Tatag patungan buat beli strowberi yang sekotak A5 harganya Rp 10.000. Ah, sekali-kali.



(the mist and the shine)

Pas pulang, saya dapat kesempatan nyobain naik motor di depan. Ah, enak sekali udaranya. Tapi jalanannya ekstrim dan saya tukeran dengan teman saya pas di pom bensin pertama. Hahahaha, well, hari ini menyenangkan sekali. Saya mengucapkan terimakash atas pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan perjalanan nekad ini. Bonus, saya bikin panorama untuk mereka bertiga.




Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.


#ESSAY / / / Cakrawala Mandala Dwipantara

Saturday, 17 August 2013

Dalam rangka, hari ulang jadi Indonesia yang ke-68, saya ingin mengulas sedikit tentang tanah air Indonesia tercinta yang meski banyak bobrok di sana-sini. Saya bukan orang yang nasionalis banget, bukan pula yang anti-nasionalis. Tapi sesekali, boleh dong bangga dikit dengan apa yang dimiliki. Setidaknya, kita meng-klain hak kita sebelum orang lain meng-klaim menjadi miliknya.

Nah, saat saya sedang mempersiapkan sebuah sayembara nasional di kantor tempat saya magang 2 bulan ini, saya berkenalan dengan istilah ini, Cakrawala Mandala Dwipantara. Wuis, keren banget kan istilahnya. Dan karena ke-keren-an istilah ini membuat saya kepikiran selama beberapa hari.

Indonesia (sumber : Universitas Texas)


Beberapa diantara kita familier dengan kata nusantara yang gagasannya pertama kali dilisankan oleh sang patih Majapahit, Gadjah Mada, dalam sumpah Palapa-nya. yang intinya tidak akan bersenang-senang sebelum menakhlukkan nusantara di bawah bendera Majapahit, pada tahun 1336. Nusantara ini, adalah istilah yang dipergunakan dalam geografis kerajaan Jawa kuno untuk menyebut pulau-pulau takhlukan yang ada di luar pulau Jawa, pusat kerajaan Majapahit. Nusantara berasal dari dua kata sansekerta yaitu nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti lain/sebrang. Secara harafiah, nusantara bermakna pulau sebrang.

Konsep kata 'nusantara' untuk menyebut kepulauan Hindia Belanda -baca: Indonesia-, yang dipakai oleh Ki Hajar Dewantara pada tahun 1920-an. Penggunaan istilah 'nusantara' ini dipergunakan untuk mengganti sebutan 'Oost-Indie' -baca: Hindia Belanda- karena dirasa penamaan oleh Belanda itu tidak sesuai dengan Indonesia saat itu. Penggunaan nama Indonesia, yang dipopulerkan oleh ahli etnologi Inggris, George Samuel Windsor Earl pada tahun 1849 dalam sebuah jurnal ilmiah, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Yang meski waktu itu 'nusantara' disebut sebagai 'Indunesia'. (selengkapnya bisa dibaca di link ini)

Terlepas dari perkembangan setelahnya, saya malah tertarik membahas sejarah sebelum kata 'nusantara' itu mulai dipergunakan. Karena, belakangan, para sejarawan mempercayai bahwa konsep 'nusantara' ini, bukannya pertama kali dicetuskan oleh patih Gadjah Mada. Tetapi, hampir setengah abad sebelumnya pernah dicetuskan oleh raja Kertanegara dari Singhasari, Kediri. Wacana ini diusung dalam rangka menanggapi gerakan akresif dari Kerajaan Mongol Dinasti Yuan yang ingin melakukan ekspansi ke selatan. Gagasan ini dipahatkan pada bagian belakang arca Camundi yang dikeluarkan oleh Maharaja Kertanagara pada tahun 1270 Masehi.

Cakrawala Mandala Dwipantara sendiri, berasal dari 3 kata dalam bahasa sansekerta. Kebetulan meski telah saya search diman-mana, dan saya tak ahli bahawa sansekerta dan jawa kuno, saya menggunakan KBBI untuk mencari arti kata cakrawala dan mandala. Saya yakin, kedua kata yang familier di telinga saya itu memang ada di KBBI dan arti dalam bahasa sansekerta serta arti dalam bahasa Indonesia tidak jauh berbeda.

Kosakata Cakrawala telah diserap dalam bahasa Indonesia yang memiliki beberapa arti. Dan dari beberapa arti tersebut, saya memilih arti ke-4 yaitu yaitu kaki langit, tepi langit, batas pemandangan, horizon, dan arti ke-5 jangkauan pandangan. Diantara kedua arti tersebut, kurang lebih saya simpulkan memiliki arti batas jangkauan. Kata Mandala dalam KBBI ada 2 pengertian, dan saya memilih yang pertama, yaitu bulatan; lingkungan (daerah).Dwipantara berasal dari 2 suku kata dwipa dan antara. Dwipa merupakan sinonim dari kata nusa. Jadi kurang kebih, dwipantara berarti kepulauan sebrang di luar Jawa. Nah, meski memakai bahasa yang sama, saya masih belum paham mengapa Raja Kertanegara menggunakan istilah Dwipantara dibandingkan dengan Nusantara, dan ini menjadi misteri bagi saya.

Nah, dari pemaknaan satu-persatu kata-kata diatas, saya menyimpulkan, secara harafiah, Cakrawala Mandala Dwipantara memiliki arti batas wilayah kekuasaan kepulauan sebrang di luar Jawa. Atau, dapat dimaksai sebagai wilayah kekuasaan yang meliputi kepulauan-kepulauan yang ada di seberang Jawa.


Sejarah membuktikan, selama berabad-abad lamanya, wilayah kepulauan Indonesia, yang hijau membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas sampai pulau Rote, bak sebuah kalung Zamrud yang dironce oleh Khalik. Coba deh, buka google earth atau google maps tapi versi yang satelite, trus cari Indonesia. Kekayaan alamnya tak terkira, baik yang sudah dieksplor dari jaman Kerajaan Kutai, ditambang nggak habis-habis oleh VOC di Sumatera dan diangkut ke Eropa, hingga yang sekarang masih ditambang Free Port di Papua. Lo pernah ngebayangin nggak sih men kalau Indonesia itu kaya banget! Saking tajirnya, sampai 7 turunan juga nggak bakal habis. Trus kita hitung deh, dari jaman kerajaan Kutai -yang sudah tercatat dalam sejarah- sampai era Free Port, udah berapa turunan? Trus udah habis belum? Kalau kau tahu jawabannya, maka kau tahu yang saya maksud, kan.


Sadly said, we know about it, and we don't care. Ibarat kalau pepatah lama, kita seperti tikus yang berada di lumbung padi. Saking banyaknya, kita nggak tahu seberapa banyak, dan kurang peduli dengan apa yang dimiliki. Ah, sedekah ke orang lain deh, kasihan mereka. Tapi, lama-lama kan yang namanya orang sudah dikasih hati masih aja mau ampela kan. Makanya, di warteg-warteg, ati-ampela jadi satu, biar orang nggak nanya, 'Bu, ampelanya mana ya?'. Lhoh, malah nglantur.

Well, terlepas dari bagaimana Indonesia yang sudah-sudah, dan Indonesia yang juga kok malah jadi kaya sirkus keliling, kita perlu dong, mengetahui sejarah masa lalu. Memang benar, yang lalu biarlah berlalu. Tetapi alangkah baiknya kalau kita mampu mengambil pelajaran dan kesimpulan dari hal-hal buruk dan baik di masa lalu, sebagai pemicu untuk terus berprestasi tanpa pamrih, demi bangsa dan negara, demi para leluhur yang telah menumpahkan darah untuk menyatukan nusantara, demi nenek moyang yang telah memerdekakan Indonesia, demi pembangunan yang (diupayakan) ada di segala bidang, dan demi tanah air tumpah darah tempat kita berdiri jadi pandu ibu pertiwi.


Selamat merayakan 17 Agustus 2013!
Selamat semangat 68!
Merdeka!!




Selamat Ulang Tahun Indonesia
Selamat Berusia 68 Tahun
Semoga semakin tua semakin bijaksana

#MUSIC / / / Hail to The King - Avenged Sevenfold

Friday, 16 August 2013

Iseng, buka youtube dan menemukan video single dari album baru A7x sudah di-release secara resmi pada tanggal 15 Agustus 2013 waktu Amerika, kemarin, tetapi berarti hari ini di Indonesia. Saya seneng banget dan langsung buka video yang saya tunggu-tunggu dari pertengahan Juli lalu dan memuternya beberapa kali. Meski harus agak nunggu karena loading internet yang nggak lancar karena sinyalnya yang pas-pasan di kos saya, dan tak bisa download pake IDM karena official video dan belum benar-benar di-release sealbum. Jadi, saya cukup bersyukur bisa melihatnya.


Jadi, tahun ini A7x mengeluarkan album terbaru mereka dengan single perdana Hail to The King sebagai judul albumnya. Ada 10 lagu dalam album baru ini yaitu, Shepherd of Fire, Hail to The King, Doing Time, This Means Was, Requiem, Crimson Day, Heretic, Coming Home, Planets, dan Acid Rain. Kata vokalisnya, M. Shadows, album ini akan lebih nge-blues-rock dan seperti rock klasik dan metak klasik yang diusung oleh Black Sabbath dan Led Zeppelin. Saya nggak tahu sih nge-blues-rock-metal-classic tu seperti apa, tapi memang saat mendengar single yang satu ini, memang terasa beda. apa ya, saya tidak tahu pasti, tapi lebih menghentak, meski temponya rada lambat dibanding lagu-lagu sebelumnya, tapi terasa mantep. Yah, meski di video ini keliatan banget unjuk skill lewat jamming gitar yang keren banget. Entah, saya tidak tahu bagaimana menjabarkannya. Mungkin kau-kau sekalian bisa mendengarnya langsung dari link video di atas. Lalu coba bandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya.


Hail to The King
Avenged Sevenfold

Watch your tongue I'll have it cut from your head
Save your life by keeping whispers unsaid
Children roam the streets now orphans of war
Bodies hanging in the streets to adore


Royal fames will carve a path in chaos
Bringing daylight to the night
Death is riding in the town with armor
They've come to take all your rights


Hail to the King
Hail to the One
Kneel to the crown
Stand in the sun
Hail to the King


Blood is spilt while holding keys to the throne
Born again but it's too late to atone
No mercy from the edge of the blade
Dare escape and learn the price to be paid


Let the water flow with shades of red now
Arrows black out all the light
Death is riding in the town with armour
They've come to grant you your rights


Hail to the King
Hail to the One
Kneel to the crown
Stand in the sun
Hail to the King


(Guitar Solo)


There's a taste of fear
When the henchmen call
Iron fist to tame them
Iron fist to claim it all


Hail to the King
Hail to the One
Kneel to the crown
Stand in the sun


Hail to the King
Hail to the One
Kneel to the crown
Stand in the sun


Hail to the King




Nah, saya penasaran mengenai makna Hail to The King sebenarnya. Maksud saya begini, ketika banyak band nasional dan internasional yang mengangkat tema yang lagi ngetrend sekarang, tetapi kok A7x balik ke abad pertengahan ala kerajaan-kerajaan sih. Meskipun, terlintas dalam benak saya, mungkin Hail to the King hanyalah bentuk metafora dari pemikiran A7x tentang dunia ini. Atau, jangan-jangan memang naif hanya mengenai kerajaan-kerajaan abad pertengahan.

Lagu ini bercerita mengenai seorang raja yang memerintah secara tirani. Ia tak segan-segan membunuh siapa saja orang yang menentangnya, membuat anak-anak kehilangan orang tuanya, menumpahkan perang di sana sini, hanay demi untuk mempertahankan kekuasaannya. Meski di beberapa review lagu ini mengatakan, mungkin A7x ingin menyampaikan sesuatu lewat lagu ini secara tersirat. Mengkritik pemerintahan yang seperti jaman kerajaan abad pertengahan, perang tak ada ujung untuk memperebutkan kekuasaan, yang ada hanyalah kesengsaraan bagi anak-anak dan korban perang lainnya. Atau, memang seperti yang saya katakan sebelumnya, lagu ini memang tentang betapa tiraninya seorang raja.

Hail to the King, kalau saya cari di internet, adalah sebuah sebutan untuk raja, cara rakyat mengelu-elukan raja, memuja raja. Jadi semacam kita bilang, 'Hidup Raja! Hidup Raja dan Ratu! Hidup Pangeran dan Putri!' Yah, secara gampangannya seperti itu. Atau kalau kalian familiar, Hail to the King juga digunakan oleh prajurit-prajurit Nazi untuk mengagungkan Hitler. "Heil Hitler! Heil, mein F├╝hrer!"

But, overall, saya suka single dari album baru A7x ini! Nah, semoga lagu-lagu yang lain, yang akan saya tunggu biar bisa download gratis (huh, mental inlander), tidak mengecewakan.


#BOOK / / / Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Tuesday, 13 August 2013


"Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu."
Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya oleh Dewi Kharisma Michellia - cover belakang



Di hari yang naas itu ketika baru seminggu saya mulai KP di Bandung, yang tentunya tak akan saya ceritakan di sini, saya pergi ke Rumah Buku dengan perasaan malas keluar dari kos yang hari itu udaranya dingin banget. Setelah perjalanan naik angkot selama 15 menit akhirnya saya sampai juga. Saat itu tiada niatan dalam diri saya untuk membeli novel karena memang berniat hanya lihat-lihat komik baru dan siapa tahu tertarik untuk beli. Lalu tiba-tiba saya ingat novel ini dan mencarinya di deretan novel Indonesia. Dan akhirnya saya menemukannya.

Saya mengenal novel ini dari teman sekampus saya. Kebetulan, dia adalah orang yang menjajakan jasanya di bidang desain dan dia juga yang mendesainkan cover novel ini. Karena rasa penasaran ini, saya ingin tahu seperti apa desain covernya. Saya langsung mengenali novel ini tanpa melihat judulnya karena teringat desain cover yang dulu sempat saya lihat ia kerjakan. Dan tak memungkiri juga, saya tertarik pula dengan judulnya, yang seperti namanya, sangat panjang dan susah saya ingat dengan ingatan saya yang payah ini.


So, novel ini, yang biasa disingkat jadi Surat Panjang, adalah karya Dewi Kharisma Michellia, mahasiswi UGM yang entah dari jurusan apa, pemenang unggulan lomba menulis novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta 2012 lalu. Sekilas dari judulnya, dulu saya menebak bahwa novelnya pasti bercerita tentang kisah sedih cinta bertepuk sebelah tangan yang dialami oleh si tokoh utama pada seorang laki-laki pada masa lalunya, dan sekuat apa ia berusaha melupakan laki-laki itu, si tokoh utama tak berhasil melakukannya. Tapi, saya pikir, kok cerita secethek itu bisa menang? Berarti ada hal lain yang tidak hanya sekedar cerita cethek hingga membuatnya menjadi cerita unggulan dan diterbitkan.

Kisah novel ini dibuka oleh sebuah surat dari seseorang yang tak dikenal, yang mengirimkan buntalan surat yang tak ia kenal kepada seorang laki-laki, laki-laki yang dicintai si tokoh utama. Dan memang, seperti judulnya, novel ini berisi kisah-kisah yang ditulis si tokoh utama ala nulis surat.

Tokoh utama, aku, adalah seorang wanita karir, yang bekerja pada sebuah harian surat kabar. Kedudukannya mapan, memiliki banyak rekan, memiliki hobi membaca dengan kenalan seorang gay pemilik toko buku bekas. Sifatnya tertutup dan terkesan sini terhadap dunia, yang akhir-akhir ini saya sadari, bahwa untuk wanita berusia 40 tahun yang masih lajang, kesinisan terhadap dunia ini memang nyata adanya, saya kena; 2 orang wanita 40an yang masih melajang dan sinis terhadap dunia. Hidup si tokoh utama sangat membosankan, semembosankannya novel ini, karena saya sungguh membutuhkan waktu 3 minggu untuk menyelesaikan novel ringan setipis ini!

Pada bab pertama, konflik langsung dihadapkan dengan si tokoh utama, laki-laki dari masa lalunya, yang masih ia nanti setiap hari, yang membuatnya memutuskan untuk melajangkan diri, mengiriminya undangan pernikahan dan memintanya untuk datang. Konflik lama-lama menyurut diselingi oleh berbagai cerita tentang kehidupan yang dialami si tokoh utama, mulai dari kedekatannya dengan pemilik toko buku bekas yang ternayta gay, kehidupan karirnya, kehidupan keluarganya yang tak harmonis, hingga sampai di hari pernikahan laki-laki yang dicintainya, yang sangat cuek terhadapnya di hari pernikahan.

Sebenarnya saya sedikit kecewa dengan novel ini, karena latar cerita bagaimana kisah masa lalu si tokoh utama dan laki-laki yang dia cintai malah tidak diceritakan dengan jelas, hanya secuplik episode ketika si tokoh utama mengenalnya ketika kecil. Dan menurut saya, itu tak cukup menjelaskan bagaimana bisa, dan jika benar, mereka berdua saling mencintai tetapi memilih untuk berpisah menjalani kehidupan masing-masing. Mana, di bab-bab selanjutnya malah diceritakan tentang karirnya di masa lengsernya Soeharto, kisah-kisah keluarganya yang tidak harmonis karena perbedaan agama dan suku, pertemuannya dengan seorang seniman yan membuatnya nyaman hingga ia mau mencoba untuk menjalani sebuah hubungan, sampai di klimaksnya, ia divonis sakit yang membuatnya tak akan berusia lama. Klasik banget kalau boleh saya bilang, mengakhiri cerita dengan membunuh si tokoh utama menurut saya kurang bertanggung jawab.

Lalu saya berpikir, ah, jangan-jangan cerita ini sedikit mirip dengan film perancis berjudul A La Folie Pas Du Tout. Cerita yang diawali dari sisi si perempuan yang jatuh cinta dan dikisahkan seolah laki-laki yang diacintai sangat mencintainya meski telah memiliki istri, padahal, sebenrnya si perempuan itu saja yang menganggapnya demikian. Dan untuk novel Surat Panjang ini, saya pikir, jangan-jangan memang mirip. Karena, sampai akhir pun, bagaimana si laki-laki yang tokoh utama cintai juga tak muncul. Ya, saya seolah sedang membaca cerita bohong orang yang memiliki gangguan mental!

Apa memang demikian yang ingin penulis gambarkan kepada pembaca? Saya kurang tahu. Tetapi, untuk menemani liburan, membaca novel ini cukup menghibur, meski ada beberapa bagian yang saya lompati.

#MUSIC / / / Smaradhana - Guruh Gipsy

Sunday, 11 August 2013

Akhir-akhir ini saya punya cukup banyak waktu untuk mendengarkan lagu dan menikmatinya diam-diam. Kali ini saya ingin bercerita mengenai lagu Smaradhana milik Guruh Gipsy.

Dari judulnya, saya jadi teringat akan sekar macapat Asmaradana, yang saya kenal ketika masih kecil. Ada 13 macapat dan berisi mengenai tahapan kehidupan manusia. Asmaradana adalah salah satu diantaranya yang berisi mengenai tahap seorang manusia yang telah mengenal lawan jenis, dan perasaan cinta. Asmaradana berasal dari dua kosakata dalam bahasa jawa, asmara yang artinya tresna atau cinta dan dahana yang artinya api. Asmaradahana atau yang biasa dikenal sebagai asmaradana secara harafiah adalah cinta yang berapi-api atau saya lebih suka menyebutnya cinta gila.

('kesepakatan dalam kepekatan' - cover album)

Guruh Gipsy adalah proyek kolaborasi antara Guruh Soekarnoputra dengan grup musik Gipsy. Meski cuma merilis satu album, proyek ini memiliki peranan penting di dunia musik Indonesia jaman dulu, begitulah kata wikipedia. Semua lagu-lagu Guruh Gipsy mengambil genre musik barat yang dipadu dengan musik gamelan tradisional Bali. Dalam satu-satunya album yang mereka rilis, terdapat 6 lagu yaitu Indonesia Mahardhika, Choping Larung, Barong Gundah, Geger Gelgel, Janger 1987 Saka, dan yang terakhir Smaradhana. Untuk informasi lain mengenai Guruh Gipsy, silahkan buka link ini.

(sumber gambar : http://dennysakrie63.wordpress.com/2011/01/30/guruh-gipsy-kesepakatan-dalam-kepekatan-2)


Dan, bagaimana bisa lagu dari jaman tahun 70-an ini nyangkut di playlist saya dan saya putar berulang kali? Well, saya sudah pernah mengatakan kepada kamu-kamu sekalian kalau saya sedang kerja praktek di Bandung. Jadi, saya mendapatkan lagu-lagu antik dari komputer kantor dan entah mengapa, mulai menggemarinya. Salah satunya dari grup Guruh Gipsy. Walau saya akui benar, bahwa saya tertarik dengan namanya. Guruh Gipsy is not usual, isn't it? Dan salah satu lagu yang saya sukai dari Guruh Gipsy adalah Smaradhana.

Smaradhana 
oleh Guruh Gipsy

Ratih dewi
citra khayalku, prana dalam hidupku
yang haus asmara
Hm…..nikmatnya bercinta


Andika dewa
Sirna duli Sang Smara, merasuk sukma
menyita heningnya cipta
Oh….resah ‘ku jadinya


Prahara nestapa seakan tak kuasa
membendung asmara Insan sedang bercinta
Gelora asmara di Samudra cita
melenakan daku dibuai cinta


lirik lagu dan video klip bisa didapatkan dari link ini.


Saya pikir, lagunya seperti halnya judulnya, akan menganut aturan-aturan macapat Asmaradana. Tetapi, seperti yang dapat dilihat dari lirik di atas, lagunya tidak demikian. Menurut saya lebih kepada persamaan akhir bunyi 'a' pada setiap barisnya. Tetapi isinya, well, bisa dibilang cinta gila banget. Meski isinya mengenai betapa besar gelora cinta (#ealah) yang (mungkin) dirasakan oleh sang penulis, tetapi dibawakan dalam bahasa yang sopan dan tidak berlebihan.

Kalau didengarkan, perpaduan musiknya asyik banget buat diajak ngalamun galau sambil menatap langit senja (#mulai ngelantur nih). Dan jika dibandingkan dengan lagu-lagu lain dalam sealbum, lagu ini yang paling slow dengan musik yang mendayu-dayu mengharu biru. Ya, mungkin karena lagunya adalah lagu cinta. Selain itu, dibawakan pula dengan suara berat yang terdengar resah ditelinga saya.

Dari lirik Smaradhana ini, yang paling saya sukai adalah dua baris pertama pada bait terakhir.

Prahara nestapa seakan tak kuasa
membendung asmara Insan sedang bercinta


Ya, nggak ada yang bisa menghalangi cinta. Kadang seseorang akan berbuat bodoh hanya karena cinta, melakukan hal-hal tak masuk akal, nyengir sendirian sepanjang hari, galau semalaman sambil ngobrol bersama rembulan, kadang senang tiba-tiba kadang sedih di kemudian, kadang terasa menyakitkan kadang terasa menyenangkan. Orang bilang, seseorang bisa mati tanpa mencintai, tetapi serasa bisa hidup selamanya jika cinta berbalas. Ya, saya lebih suka menyebutnya sebagai penyakit gila. Trust me! You will be mad man if you fall in love to someone!

Yah, begitulah ulasan lagu ini menurut saya, seorang amatir. Tak perlu pedulikan pendapat saya mengenai lagu ini. Tapi saya pastikan, kau kau sekalian perlu mendengarkan lagu ini.


Thursday, 8 August 2013

(Mudik, 5 Agustus 2013)




Selamat Hari Raya
Idul Fitri 1434 H
Minal Aidzin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin