#MUSIC / / / Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan - Payung Teduh

Sunday, 28 July 2013

Beberapa waktu lalu, di akhir semester yang penuh dengan tumpukan tugas pengganti UAS, saya dikenalkan oleh teman saya, Ni'mah, kepada grup band ini. Payung teduh. Di tengah malam yang hektik menyelesaikan those damn thing, dia mulai memutar lagu-lagu milik Payung Teduh. I'm not into this kind of music, but somehow, I like it. Yah, semua orang tahu ketika masuk arsitektur, selera musik jadi bisa berubah 180 derajat. Dan I didn't know why, tapi entah mengapa lagu yang biasanya saya komentari melow dan bikin ngantuk ini dengan mudah merasuki pikiran saya. Secara iseng, saya mulai mencari-cari lagu-lagu Payung Teduh di soundcloud karena gampang streaming kalau lagi internetan.



Saya nggak begitu tahu apa da siapa Payung Teduh. Hanya saja, ia adalah band Indie. Personilnya ada beberapa orang yang tak saya ketahui. Lagipula saya tak begitu peduli latar belakang mereka, walau sedikit penasaran juga. Saya suka musik yang mereka bawakan, cukup itu saja. Bagi saya, alasan ini sudah cukup kuat untuk memutar lagu-lagu mereka selama beberapa hari terakhir ini. Kalau kalian penasaran, kalian bisa aja buka blog mereka di payungteduh.blogspot.com. Meski mereka kurang update blog tersebut, kalian bisa mendapatkan baberapa lirik lagunya yang agak susah dicari.

Salah satu lagu favorit saya adalah Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan. Berikut ini adalah lirik lagunya,


Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan
Song & Lyric : Is

Kita tak semestinya berpijak diantara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri ditengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan abadi
Lagu ini dapat diakses lewat youtube mereka atau soundcloud.

 
Ketika mendengar lagu ini untuk pertama kali, saya menghela napas. Entah mengapa jadi ikut terlarut dalam lagu ini. Liriknya yang puitis, tidak lebay, tidak saru, tidak terlalu vulgar di telinga saya ketika menceritakan tentang kisah yang tak terungkapkan. Saya jadi penasaran, orang seperti apa yang menulis lagu ini? Apakah dia benar-benar menjadi sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan bersama seseorang yang benar-benar ia inginkan?

Bukannya saya jadi ikutan galau atau mellow, tapi entah mengapa saya suka cara ia menggambarkan bagaimana dirinya yang begitu desperate, seolah menyerah dan pasrah pada keadaannya. Seseorang yang memutuskan untuk mundur dan menghibur dirinya, 'Kalau sekarang di dunia ini kita tidak berjodoh, aku yakin Tuhan akan mempertemukan kita lagi di surgaNya kelak.' Pret sih. Gombal , cuman, kalimat itu diubah kedalam lirik yang nggak berlebihan, menurut saya.

"Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa

Kalau saya pikir-pikir lagi, ah, mungkin saja lagu ini bukan hanya bercerita tentang sepasang manusia yang saling berpisah, tapi mungkin juga bercerita tentang sebuah penolakan. Penolakan halus dengan alasan, seolah berkata 'Mungkin kau adalah orang yang tepat untukku, tapi aku tak cukup tepat untukmu.' Gombal alert!!!  Atau alasan semacam kalimat yang pernah saya temukan di film Finding Nemo, yang dikatakan oleh Marlin kepada Dorla. 'Of course I like you. Because I like you, I don't want to be with you. It's complicated emotion.'

"Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini

Oh, atau ini tentang kisah seseorang yang sama-sama berjuang untuk bersama tetapi terhalang oleh adat istiadat, agama, atau hukum yang berlaku dalam masyarakat. Kadang, ketika kita sudah berusaha sekeras mungkin untuk bersama, hasil yang kita peroleh belum tentu seperti yang kita inginkan. Kadang serasa, close enough, tapi kita tahu, 0,99 itu tidak sama dengan 1.

"Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana

Setelah pemikiran yang berlarian kesana kemari, saya sampai pada kalimat ini. kenapa disebutkan 2 cinta? mengapa tidak 1 cinta jika lagu ini merujuk pada sepasang manusia yang tidak bisa bersama? Lalu saya pikir, ah, mungkin saja lagu ini adalah lagu tentang persahabatan diantara 2 orang yang telah bersama-sama berjuang untuk mendapatkan masing-masing cintanya. But someone pissed them off.

Yang mana pun cerita yang benar, kita tak akan pernah tahu kalau tidak bertanya kepada sang penulis lagu. Jadi, tetaplah berkhayal bahwa seseorang daam lagu itu adalah kau dan sebua kisah cinta di masa lalumu yang tak berjalan lancar. Hahahahaha, saya jadi pengen ngakak benar. Well, but overall, I love his voice, the man who sing the song of Payung Teduh.

And the last word,
"Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan




*) Dan ketika kau mencoba mengiklaskanku, aku telah lama mengikhlaskanmu, mendoaakanmu pada setiap maghrib dan subuh, kelak kau akan segera bertemu dengan seseorang yang akan menerimamu tanpa menuntutmu lebih dari aku dulu

#SASTRA / / / Pierrot oh Pierrot *)

Tuesday, 23 July 2013

( Pierot und Columbine, oleh Jean-Antoine Watteau)
(gambar diambil dari wikipedia.org)


I wonder, why you did nothing for your love, Pierrot? When Columbine left you for Harlequin, why you still kept in silence? Pierrot oh Pierrot. Women is a women, Pierrot. If you have been fight Harlequin, may Columbine chose you.

Yes, you are right. And Harlequin is the best man who can make Columbine happy. And it was enough for me to know that my love, Columbine, is happy. Even it is without me.

You are miserable, Pierrot! How you can happy without your love?

Because I'm Pierrot, a miserable clown.




------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*) Harlequin, Columbine, and Pierrot adalah tokoh dalam pertunjukan pantomim dan teater Commedia dell'Arte. Ada banyak versi mengenai cerita mereka bertiga. Salah satu versinya adalah hubungan ketiganya yang terjebak dalam cinta segitiga yang rumit ala abad pertengahan. Untuk lebih jauhnya, silahkan cari di Go*gle.

#ESSAY / / / Lapangan Sejengkal Gang

Friday, 19 July 2013



Gang-gang yang sempit, rumah-rumah yang menjamur berjejalan berebut langit, celah-celah angkasa yang sempit, hiruk pikuk penghuni rimba belantara kampong urban, begitulah saya menyebut pemukiman padat penduduk yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia, bahkan di Negara-negara berkembang di dunia.



Diantara kehidupan yang keras di jalan raya dan persaingan untuk bertahan dalam aliran perekonomian yang makin lama makin tak stabil karena harga bensin yang melambung, diatara geliat subuh para bapak-bapak mencari nafkah untuk keluarga, diantara gegap gempita bisik kasak kusuk ibu-ibu rumah tangga tiap pukul 9 pagi, diantara remaja-remaja baru beranjak dewasa, ada bangsa anak-anak yang kehilangan tempat untuk berlarian, menghirup udara pagi, dede merasakan matahari pagi yang menghangatkan tubuh, dan juga lupa cara berkhayal awan langit. Ruang-ruang yang makin sempit, bangunan-bangunan tinggi tetangga yang kaya bak pinang tak terbantahkan menyilaukan mata, membuat anak-anak kecil maki kerdil dalam dunianya yang terpinggirka.

Permasalahan pemukiman padat penduduk di kota-kota besar di Negara berkembang, saya yakin, tak akan ada habisnya bila dikupas dari berbagai bidang pendidikan. Rumit, sungguh rumit, serumit memperbaiki benang kusut. Karena, meski sedemikian tak tertata, pemukiman pada itu telah memiliki system tersendiri yang menggerakkan rantai kehidupan masyarakat. Saya, yang selama hidup saya tinggal di desa, yang lahan masih luas, lapangan masih banyak, persawahan menghampar tak terlihat ujungnya, kadang berpikir, ‘Kok bisa ya mereka tinggal di tempat seperti ini, sesempit ini?’ orang dewasa aja susah sekali tinggal di tempat seperti ini, apalagi anak-anak, kaum minoritas yang jadi bakal calon penerus bangsa?!

Suatu pagi, saya berkesempatan untuk berkeliling di kampong-kampung di sekitar jalan Braga, Bandung dan di tepi Babakan Siliwangi, untuk materi sayembara. Keadaanya tidak jauh beda dengan kampong-kampung pinggir kali Code, Jogja. Hanya saj, keadaannya jauh lebih sempit, dan ruang untuk bermain anak hanyalah gang-gang sempit selebar 1,5 meter. Belum lagi berbagai harta benda sepeda motor tetangga yang diparkir, semakin mempersempit saja ruang gerak anak. Tapi apakah mereka tidak berhak, mendapatkan tempat tumbuh kembang dan bermain yang layak? Apakah mereka harus ikut-ikutan memikirkan nasib orang tua mereka yang banting tulang untuk beli susu UHT? Mereka masih kecil, masih polos, masih terlalu naïf untuk memikirkan keruwetan hiruk pikuk hidup.













(mengingatkan saya dengan kampung di bangkok)




(saya kaget sekaligus senang, ada pohon besar banget bertahan diantara perumahan padat itu.)




Jalan-jalan pagi itu mengingatkan saya tentang masa kecil saya. Saya dilahirkan di desa yang setiap rumah memiliki halaman yang luas. Halaman rumah saya ibarat lapangan, bisa bermain apa saja. Banyak pohon untuk dipanjat, banyak semak untuk bersembunyi, banyak rerumputan untuk sekedar tiduran dan bergelut, banyak batu untuk bemain gatheng dan bekel, banyak tanah untuk bermain masak-masakan, dan langit luas untuk bermain layangan. Dan ketika menyusuri gang-gang pagi itu, saya menatap langit yang hanya terlihat dari celah sempit antar atap lalu merasa prihatin.

| Who does respect?

Kalimat hasil vandalism anak-anak yang dibesarkan dilingkungan yang sempit itu saya temukan di sebuah emperan took. Pertanyaan itu menohok saya. Ya, siapa yang bertanggung jawab dengan kehidupan mereka yang ‘sempit’ dan ‘kurang’ itu? Pemerintah kah, yang rebut sana-sini cari popularitas lewat media, sibuk keruk mengeruk menimbun lembaran-lembaran uang dan hanya ‘bersimpati’ lewat kalimat keprihatinan terhadap keadaan rakyat jelata. Atau masyarakat itu sendiri yang karena berada dalam lingkungan yang bobrok hasil dari pembangunan paska proklamasi kemerdekaan yang gagal? Entah, yang mana saja pasti saling melengkapi , ibarat rantai makanan yang saling memakan satu sama lain, kanibalisme social.


Lalu, apakah anak cucu kita dimasa kini dan masa mendatang tidak berhak untuk bermain di ‘lahan lapang’ yang mungkin tinggal ‘sejengkal’?

#JALAN-JALAN / / / Good Evening, Bandung!

Sunday, 14 July 2013

Setelah entah yang kesekian kalinya saya ke Bandung, akhirnya ada kesempatan buat tinggal sementara di Kota Hujan ini. Kota yang membuat saya rindu dan menurut saya, entah mengapa auranya mirip-mirip Jogja, yah, kecuali ramenya ya.

Well, jadi kunjungan terakhir saya satu bulan lalu ke kota Bandung ini, adalah dalam rangka untuk melamar kerja praktek di tempat ibu Sarah Ginting. Saya nggak akan cerita banyak soal bagaimana saya akhirnya bisa keterima di sana. Tapi satu yang pasti, nasehat dari saya mengenai mencari tempat kerja praktek. Saya sarankan supaya kamu-kamu sekalian sudah mencari jauh-jauh hari. Kalau memang mau di tempat yang bergengsi, kebetulan tempat saya kata orang-orang cukup bergengsi, ya harus mulai nglamar 3 bulan sebelum berangkat. Karena biasanya, di tempat bergengsi itu banyak yang pengen magang, dan semacam kita harus rebutan buat bisa masuk, nge-booking tempat lah ya istilahnya. Nah, dan kalau bisa, kamu-kamu sekalian datang langsung ke tempat kamu-kamu mau magang itu. Karena, kalau kamu-kamu langsung datang sekalian ke tempatnya, bisa sekalian orientasi medan. Kan lumayan meski nggak keterima, tetapi pernah masuk ke studio yang bergengsi. Dan yang paling penting kalau langsung dateng, keliatan niat banget. Apalagi kalau dari jauh, niat baik kalian untuk daftar langsung ini bisa jadi nilai positif dan keterima. Kalian nggak perlu nunggu lama-lama karena mungkin juga hari itu kalian bisa tahu keterima atau nggak. Kalau pun nggak keterima kan bisa langsung daftar di tempat lain. Nggak di-pe-ha-pe-in gitu.

Nah, saya belum bisa cerita banyak tentang Bandung karena ini baru hari kedua saya tinggal di sini. Saya menantikan juga petualangan yang mungkin saja bisa terjadi tiba-tiba. Oh iya, dapat bonus dari saya, foto belakang kos-kosan saya. Lumayan bagus.


( malam ini, para manusia urban itu sedang menyalakan 'bintang' di belakang kos saya)



Good Evening!
Salam dingin dari Bandung!