#SASTRA / / / PERTAPA - Sapardi Djoko Damono

Friday, 24 February 2012

( wajah pertapa )


PERTAPA


Sapardi Djoko Damono
dalam Perahu Kertas, Kumpulan Sajak,1982.





Jangan mengganggu:

aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata -- ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna -- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?



#BOOK / / / Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Saturday, 4 February 2012

“ ..... Aku ingin kursimu yang tenang itu. Kalau kau mau, tukarlah dengan kursimu yang sekarang sedang kududuki. Jangan biarkan aku membenci diriku terus-menerus. Jangan biarkan. Aku hanya ingin sedikit sembuh, dari dunia yang sakit ini. Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya. Sesungguhnya, aku hanya ingin kebahagiaan yang sederhana. Sesederhana membangunkan seseorang dari tidurnya di pagi hari, dan kemudian bercinta. ....”
 ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’ by Puthut EA page 6-7.




Beberapa hari lalu saya pergi ke pameran buku terbesar se Jogja yang diselenggarakan di Gedung Mandala Bakti Wanitatama dari tanggal 2 Februari – 7 Februari 2012. Well, sebenarnya saya hanya iseng saja mampir sepulang dari Kampus karena hendak pulang ke Gunungkidul. Karena kebetulan searah, jadi saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat mesti tidak membawa uang yang cukup untuk berbelanja buku. Tapi dalam hati saya bertekad untuk membeli barang sebuah buku saja.

Saat sampai, saya dikenakan biaya parkir sebesar 1000 ribu. Standar lah. Setelah parkir, saya berjalan menuju gedung sebelah timur dan melihat-lihat ke dalam setiap stand buku yang ada di sana. Yang bisa saya komentari adalah, kecil. Nggak sebesar yang saya bayangkan. Biasanya, pameran buku sejenis akan dilaksanakan di JEC, tetapi karena di JEC ternyata dipake untuk pameran komputer, maka mungkin pameran buku tahun ini diadakan di Gedung Mandala Bakti Wanitatama. Karena kecil dan penerbit yang ikut tidak terlalu banyak, maka cepat saja saya berkeliling. Saya cukup lama terhenti di sebuah stan yang saya lupa namanya tetapi terletak di bagian timur dari keseluruhan. Mata saya terpaku pada sebuah buku berjudul ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’. Sesaat terpikirkan oleh saya untuk membeli buku yang harganya Rp. 15.000,00. Tetapi saya memilih untuk berkeliling lagi dan ‘nyangkut’ di sebuah stan milik gagasmedia. Disana ada banyak novel yang menurut saya bagus dan ingin saya beli. Tapi mengingat saya tak bawa uang dan waktu yang saya miliki tak banyak, saya memutuskan untuk bergegas kembali ke stan awal tadi dan membeli ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’.



‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’ adalah salah satu novel karangan Puthut EA yang diterbitkan oleh penerbit lokal bernama Insist Press. Hal yang pertama membaut saya tertarik dengan novel ini adalah judul dan cover-nya. Karena merasa penasaran dengan isinya, akhirnya saya membeli. Sekilas dari review di halaman belakang buku ini, novel ini berkisah tentang pergolakan oemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama. Ia terus pergi dan melangkah, berharap semua luka yang dideritanya dapat kering oleh jarak yang tertempuh dan sembuh karena waktu.
Novel ini berkisah tentang seorang tokoh bernama ‘aku’, yang sampai akhir pun tak saya ketahui siapa namanya. Kisah ini dimulai dengan pengenalan masalah utama. Tokoh ‘aku’ ini adalah seorang laki-laki yang memiliki masa lalu cinta yang mengekangnya hingga saat ini. Suatu ketika ia bertemu dengan wanita, yang sangat ia cintai hingga saat ini,  pada sebuah pesta. Wanita ini ternyata sudah menikah dan si tokoh ‘aku’ ini masih mencintainya.

Pada bab-bab selanjutnya, diceritakan bahwa ‘aku’ terlah berusaha mencari pengganti si wanita itu, hingga berulang kali putus nyambung putus nyambung dan meninggalkan banyak ‘mantan’ pacar. Belum lagi masalah ibu ‘aku’ yang terus saja mendesak ‘aku’ untuk segera menikah dan terus berusaha menjodoh-jodohkan ‘aku’ dengan wanita pilihan ibunya. Masalah muncul ketika ‘aku’ sering terpancing untuk mencoba-coba peruntungan dengan menjajal berhubungan dengan seorang wanita yang pada akhirnya ‘aku’ malah merasa malas untuk bersungguh-sungguh dalam hubungan tersebut.

Masalah mulai meninggi ketika wanita masa lalu si ‘aku’ ini kembali menghubungi. ‘Aku’ mulai resah, disatu sisi ia ingin melupakan wanita itu di satu sisi ia masih begitu mencintai wanita itu tetapi tak mau mengakui. Ia terus mengabaikan wanita itu hingga suatu ketika ia mau menerima telepon itu. Di saat itulah wanita itu mengungkapkan kepada ‘aku’ bahwa ada hal yang mengganjal dalam kehidupannya meski ia merasa bahagia dengan pernikahannya saat itu. Hal itu adalah perasaanya kepada ‘aku’ dan saat itu lah terungkap bahwa wanita itu mencintai si  ‘aku’ dan begitu pula lah ‘aku’ kepada wanita itu. Di akhir telepon itu si wanita meminta ‘aku’ untuk tak menghubunginya lagi, sudah cukup semua hal itu jadi masa lalu saja. Tokoh ‘aku’ itu juga menyanggupi dan juga berkata ‘Aku akan mencintaimu dengan cara yang paling sunyi.’ Saat itu ‘aku’ mulai runtuh, dunianya menjadi kacau. Satu-satunya hal yang mungkin ia lakukan adalah lari, lari sekuat tenaga dari mimpi buruknya itu.

Mungkin banyak bagian-bagian yang monoton dalam novel ini, tetapi menurut saya novel ini cukup pantas untuk dibaca. Apalagi novel ini mengajarkan kepada pembaca bahwa kadang hidup ini bukan hanya mengenai pencarian, tetapi tentang apa yang kita miliki saat ini.





Hentikan larimu, tarik nafasmu, lalu menolehlah. Mungkin kau akan melihatnya, dia.
Cinta.