Friday, 21 October 2011

" dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah"

#ARCHITECTURE / / / Code River Side

Sunday, 9 October 2011

Tak kenal maka tak sayang.




Sebagai seorang mahasiswa jurusan arsitektur, sungguh sangat memalukan kalau tidak mengenal siapa Romo Mangun. Beliau adalah seorang arsitek jogja yang terkenal di dunia lewat karyanya di bandaran kali Code sebelah barat McD jalan Sudirman, Jogja. Berkat beliau, perumahan kumuh di daerah itu dulu tak jadi digusur oleh pemerintah. Beliau membantu sekaligus mengajak penghuni bantaran kali Code itu untuk berbenah diri mnjadi perumahan yang sehat sehingga tak dipermasalahkan lagi oleh pemerintah kala itu. Dan usaha beliau berhasil, perumahan itu tidak jadi digusur dan pada tahun 1992, Romo Mangun mendapatkan penghargaan bergengsi di dunia arsitektural, Aga Khan atas karyanya itu. Ada dua karya di pinggir sungai yang menjadi trendmark tempat itu, yaitu museum Romo Mangun yan berupa rumah singgah dengan fasilitas ruang baca, serta sebuah banggunan multi fungsi sebagai tempat pertemuan warga setempat.


( sumber : www.indonesiadesign.com )

( sumber : uniekpratiningrum.blogspot.com )
( sumber : gelaranalmanak.com )

Well, saya sebelumnya memang belum pernah mengunjungi tempat itu juga. Dan setelah mendengar tentang hal itu dari dosen saya, saya jadi ingin sekali pergi ke tempa itu.Nah, kebetulan ada seorang teman yang mengajar anak-anak di sana dan tahu tempatnya. Alhasil sore yang aneh itu, saya memutuskan untuk ke sana, bersama teman saya, Riri.

Sampai di sana, kami malah membeli es krim ke pak penjual es krim yang ada di dekat kami parkir. Dulu waktu saya kecil, saya sering sekali makan es itu. Dan di daerah saya, es itu di sebut es dong dong, karena dulu saat lewat, penjual es krimnya selalu membunyikan seperti gamelan dan bunyinya dong dong. Lumayan mahal juga sih, tapi tak apalah untuk melapaskan rindu masa lalu.

( pak penjual es krim )

Kami lalu jalan terus ke bawah sampai pinggiran kali code dan menuju museum Romo Mangun yang entah sialnya saya waktu itu, museum sedang tutup. Dan akhirnya kami hanya menikmati suasana code sore itu.

( pemandangan jembatan dari samping museum )
( selasar depan museum Romo Mangun )
Setelah puas karena tak ada yang bisa di kerjakan di museum Romo Mangun, Riri mengajak saya untuk menuju tempat yang sering disebut sebagai balai dan temapt kumpul warga. Bangunan itulah tempat dimana piagamAga Khan di pajang. Hehehehe, keren sekali. Terpiikirkan oleh saya, apakah saya akan jadi arsitek seperti Romo Mangun? Ataukah saya akan jadi arsitek yang berkarya untuk uang? Dan sejak saat itu, terbesit di pikiran saya tentang architecture for humanity yang dibicarakan oleh seseorang bernama Reza Arlianda.

Well, saya tidak terlalu banyak engambil foto dengan kamera mainan saya, karena memang saat itu sudah sore dan kurang cahaya sehingga saya kurang yakin apakan foto yang akan dihasilkan baik atau tidak. Dan berikut ini adalah foto-foto yang saya ambil ketika berkunjung di Code sore itu.

( senja di atas Code )
( diorama warna )
 Nah, foto ini saya ambil di depan balai-balai tempat ngumpul-ngumpul warga.

( langit terakhir sore itu )

Well, sampai di sini akhir cerita saya mengenai kunjungan saya ke bangunan Romo Mangun. Sampai jumpa di jalan-jalan arsitektur lainnya.

#PHOTOGRAPHY / / / Architentografi

Saturday, 8 October 2011

Well, ternyata punya toy cam ada hikmahnya juga.

Sudah cukup lama juga sejak saya sering membawa kamera mainan saya ke kampus dan suatu hari saya minta tolong kepada teman saya, Fani, untuk memasangkan film di kamera saya. Saat itu beberapa teman saya bertanya-tanya mengenai kamera saya itu. Wal hasil architen penasaran dan minta difotoin dengan kamera saya itu. Dan ini lah hasilnya, hanya beberapa saja karena keburu masuk kuliah studio. hehehehe,

( jepretan pertama di roll kali ini )





Saya pribadi sih, cenderung suka jepretan yang pertama. Meski ada bekas kebakar, tapi bekas kebakarnya itu lumayan bagus ditimbang bekas kebakarnya yang dulu. Oh iya, awalnya yang minta foto beberapa anak saja. Tapi lama kelamaan yang minta foto jadi banyak dan mukanya jadi tak terlihat dengan jelas. Dan mereka malah menertawakan suara kamera saya yang memang aneh karena suara perputaran penutup lensa. Sialan, tapi tak apa lah.

Belakangan saya baru tahu kalau ternyata teman saya, Tirta, punya diana. Saya sendiri kurang tahu sih bentuknya seperti apa. Tapi dari penjelasannya, kameranya keren deh, gambar yang diambil bisa dibikin numpuk-numpuk gitu. Selain itu, saya baru tahu kemarin kalau ternyata Fika juga punya aquapic, kamera bawah air yang dia peroleh dari seseorang. Selain itu, suatu ketika Tami pernah cerita kalau dia ternyata punya kamera analog, dan Fani juga punya. Jadi saya berencana sih, mungkin architen bisa jalan-jalan sambil hunting pake kamera masing-masing.